Friday, February 09, 2007

Letih Hilang Lihat Peninggalan Mesir Kuno

Memori Rihlah Luxor-Aswan (5)

Setelah kembali fresh usai makan siang di restoran hotel, peserta rihlah langsung menuju bus yang sedari awal menunggu di depan hotel. Bus yang sama saat mengantar mereka dari stasiun ke hotel, tidak terlalu mewah tapi terasa masih cukup nyaman dikendarai.


Dari depan hotel (karena hotel tak memiliki parkiran khusus), bus berjalan menuju Karnak Temple. Tak sampai 15 menit ternyata sudah sampai. Sebelum turun bus, Ustad Majdi mengingatkan bahwa tidak terlalu banyak waktu yang dapat dihabiskan di Karnak Temple, karena setelah itu akan menuju Luxor Temple.

Setelah Ustad Majdi menunjukkan tasrih (izin masuk), satu per satu peserta rihlah Nadi Wafidin melalui pintu pemeriksaan, beberapa puluh meter di depan gerbang utama Karnak Temple. Dengan area cukup luas, Karnak Temple merupakan tempat ibadah di jaman Mesir kuno. Dalam bahasa Arab disebut sebagai Ma'bad Karnak (ma'bad=tempat ibadah), atau jika diindonesiakan barangkali menjadi Kuil Karnak.

Dalam Karnak Temple ini, berdiri cukup banyak patung dewa-dewa yang dipuja oleh Mesir kuno (sekitar 1000-2000 tahun sebelum Masehi). Banyak juga patung raja-raja dan para istrinya. Selain itu, tampak menjulang tinggi 2 obelisk (semacam tugu atau menara). Konon, obelisk menunjukkan lambang kejantanan, digunakan sebagai monumen untuk pemujaan dewa-dewa yang tidak diketahui.


Dalam wilayah Karnak Temple, juga terdapat kolam cukup luas, dinamakan sebagai Buhairah Muqaddasah (danau suci). Danau (atau lebih tepat disebut sebagai kolam besar) ini, meski berada di tengah-tengah daerah yang tandus, kanan-kiri lebih banyak gurun dan bebatuan, tapi airnya tetap jernih. Saat ditanyakan pada Ustad Majdi, darimana air dalam danau suci itu berasal, dijawab bahwa di bawahnya ada saluran yang tersambung ke sungai Nil.

Tapi jawaban ini disanggah oleh Miss Najla. Sementara Madam Ikhlas juga tak memiliki jawaban yang sama dengan keduanya. Kami sendiri jadi bingung mana yang benar. Yang pasti, sebuah kekaguman sendiri melihat kolam sebesar itu dengan air begitu jernih berada di tengah gurun dan bebatuan.


Berada di area paling belakang Karnak Temple, sebuah bangunan menyerupai asrama, tapi berdiri kokoh dengan bebatuan kotak-kotak yang ditata sedemikian rupa seperti rumah pada umumnya. Tapi tentu saja tanpa atap yang rapat layaknya rumah masa kini. Tapi bangunan ini terlihat sangat kokoh dan memang terbukti masih kuat meski telah berumur ribuan tahun.

Setelah sekitar 1,5 jam berada di Karnak Temple, semua kembali ke bus. Sempat ada beberapa orang yang terlambat, tapi tidak langsung dimarahi, hanya diingatkan saja. Perjalanan selanjutnya menuju Luxor Temple, langit sudah mulai gelap. Terdengar sayup-sayup adzan magrib.


Saat sampai di Luxor Temple, langit benar-benar sudah gelap gulita. Tapi Luxor Temple yang terletak tak jauh dari aliran sungai Nil, dipenuhi cahaya lampu-lampu ribuan watt. Sejak sebelum melalui gerbang pemeriksaan keamanan, Luxor Temple sudah tampak jelas sangat indah.

Di bagian paling depan, berdiri 2 patung besar dan di sampingnya sebuah obelisk amat tinggi, melebihi tingginya gerbang utama di sisi kanan-kiri. Agak jauh di depan gerbang Luxor Temple ini, sebenarnya berjajar puluhan patung singa duduk. Sayang karena tak ada cukup penerangan, peserta rihlah tak bisa berfoto memperlihatkan patung-patung singa berjajar rapi itu.


Saat masuk ke dalam Luxor Temple, suasana tak jauh berbeda dengan Karnak Temple. Di kanan-kiri jalan dalam are Luxor Temple ini, berdiri dengan kokoh tiang-tiang besar. Kalau jaman sekarang barangkali untuk membuatnya harus dengan teknologi beton atau cor. Tapi orang Mesir kuno hanya membuatnya dengan batu-batu besar, keras dan amat kuat. Berat juga tentunya. Entah bagaimana orang Mesir kuno menata batu-batu berat itu sampai menjadi bangunan yang sedemikian tinggi dan kokoh.

Lebih jauh ke dalam area Luxor Temple ini, ada sebuah kubah selayaknya kubah masjid. Di luar itu, dinding-dinding dan tiang-tiang banyak menghiasi dalaman Luxor Temple. Tak terlalu lama berada di Luxor Temple, peserta rihlah lalu menuju bus untuk kembali ke hotel. Perjalanan yang semestinya melelahkan, malah terasa cukup mengasyikkan, menikmati pesona peninggalan Mesir kuno yang sudah didirikan sekian ribu tahun itu.[]

Tengkar Dulu Sebelum Masuk Hotel

Memori Rihlah Luxor-Aswan (4)

Bagaimana rasanya jenuh dalam kereta, harus dilalui selama kurang lebih 14 jam. Sebenarnya tidak terlalu jenuh, apalagi semua anggota geng hampir selalu punya obat untuk membuat tertawa. Ada saja alasan atau permainan yang membuat rasa kantuk menghilang. Soal mengganggu penumpang lain, terpaksa dikesampingkan dulu. Praktis selama hampir 14 jam itu dalam kereta, kami berenam tidur kurang lebih 2-3 jam, itupun terputus-putus.


Saat dalam kereta, Ustad Majdi yang ditemani 2 orang perempuan Mesir, Madam Ikhlas dan Miss Najla --sama-sama staf Nadi Wafidin-- memberitahukan pembagian kamar ketika sampai hotel kelak. Setiap kamar terdiri antara 2-3 orang. Ini pun masih sempat bisa dinegosiasikan, jika ingin tukar teman sekamar --asal bisa meluluhkan hati para musyrif tentunya.

Kereta jurusan Aswan (210 km selatan Luxor), berhenti di stasiun Luxor sekitar pukul 13.30. Peserta rihlah Nadi Wafidin pun berhamburan keluar, seakan harus balapan untuk mendapatkan kursi di bus yang akan membawa mereka ke hotel.Ternyata sampai di luar stasiun bus yang dicarter belum tampak. Semua pun bengong dulu beberapa saat, beberapa di antaranya terlihat menguap tanda kurang tidur saat di perjalanan.

Baru sekitar 5 menit kemudian, bus yang dinanti tiba. Di bawah terik matahari yang cukup panas, semua peserta bergegas memasukkan koper dan tas bawaannya ke dalam bagasi bus. Sementara peserta perempuan banyak yang berlarian berebut naik bus lebih dulu. Sayang saat merasakan hawa dalam bus, seperti tak ada udara ber-AC terasa. Maklum, bus yang ada tidak bisa dikatakan "cling", kelihatan sudah cukup berumur, bersaing dengan sopir yang mengemudikannya yang ditaksir berusia sekitar 55-an tahun.

Meski hanya sedikit efek AC yang terasa, udara dalam bus cukup terbantu oleh angin yang cukup sejuk. Apalagi saat bus berjalan, terasa hawa segar masuk melalui jendela-jendela bus yang sengaja dibuka. Di saat musim dingin seperti ini, Luxor memang masih panas --terbukti dengan masih muncul dan perkasanya sinar matahari di waktu siang--, tapi tetap saja udara sejuk musim dingin terasa.

Tidak sampai 30 menit perjalanan dari stasiun, bus sudah berhenti di depan sebuah hotel. Tertulis dengan jelas nama hotel itu, Karnak Hotel. Dilihat dari luar, tidak terlalu megah sebenarnya. Tapi melihat tanda yang ada di bagian resepsionis, hotel itu termasuk level bintang tiga. Lumayan, hawa AC cukup terasa di lobi hotel, dimana kami menunggu pembagian kunci kamar.

Saat menunggu itulah, terdengar suara keras seperti orang bertengkar. Rupanya Ustad Majdi sedang berselisih dengan pihak hotel. Setelah disimak lebih jauh, rupanya ada beberapa kamar yang sebelumnya telah dibooking Nadi Wafidin, terpaksa diserahkan kepada orang lain karena pihak hotel menganggap kami datang terlambat. Adu mulut pun tak dapat dihindarkan.

Tapi seperti biasanya orang Mesir, bertengkar dengan suara keras belum tentu dengan emosi. Begitu juga pertengkaran ini terjadi. Setelah beberapa saat saling adu argumen, dicari solusi win-win solution. Akhirnya pihak hotel tetap mencarikan kamar kosong, meski tak sesuai dengan bookingan semula. Walhasil, pembagian kamar peserta rihlah seperti yang telah tertuang dalam perjanjian di kereta, berubah lagi. Beruntung, geng kami tidak terpencar. Tiga cowok berada pada satu kamar, sementara 3 cewek sedikit terpisah, karena Yayah harus tergabung di kamar lain, berpisah dengan Meri dan Alfi yang memiliki kamar sendiri.

Meski demikian, tak menghalangi kekompakan kami berenam. Sebelum membawa barang ke kamar masing-masing, semua berkumpul dulu agar tahu dimana letak masing-masing kamar. Kamar cowok dan Yayah ada di lantai 3, sementara Meri dan Alfi ternyata ada di lantai 4.

Setelah berpencar ke kamar masing-masing untuk istirahat sejenak dan menunaikan shalat, peserta rihlah dipersilakan langsung menuju restoran di lantai dasar. Makan siang dengan menu ayam panggang terasa begitu nikmat, apalagi karena dalam perjalanan sebelumnya yang melelahkan itu praktis tidak makan berat, hanya cemilan makanan kecil. Porsi makan siang ini sebenarnya pas di waktu normal. Namun karena merasa letih dan lelah, banyak yang minta tambah nasi dan sayurnya.

Setelah itu, semua peserta berkumpul di lobi hotel untuk memulai lawatannya. Ustad Majdi pun mengumumkan bahwa pada hari pertama di Luxor, akan ada dua tempat tujuan, yaitu Karnak Temple dan Luxor Temple.[]

Thursday, February 08, 2007

Jenuh di Kereta, Main Poker Solusinya

Memori Rihlah Luxor-Aswan (3)

Menaiki tramco --angkutan umum sejenis angkot di Jakarta-- dari H10 hingga Ramses tak sampai 45 menit. Apalagi, kami berlima sengaja membayar semua kursi yang ada, sehingga dari awal hingga tujuan tak menaik-turunkan penumpang di tengah jalan. Selain itu, sang sopir juga rada ugal-ugalan mengemudikan tramco, sampai-sampai kami harus berteriak agar dikurangi kecepatannya.


Sesampainya di stasiun Ramses, sekitar pukul 20.30, Meri sudah menunggu. Di depan gerbang utama stasiun, Meri berdiri melambaikan tangan didampingi sang arjunanya yang masih bau tanah suci. Masih kangen-kangenan rupanya.

Di dalam stasiun, cukup ramai hiruk-pikuk orang Mesir penumpang yang hendak atau sudah naik kereta api. Sementara orang asing --yang bisa ditebak sebagai sesama anggota Nadi Wafidin-- belum tampak satupun. Setelah tengok kanan-kiri, rupanya di salah satu sudut tampak gerombolan wajah Melayu.Hanya saat didekati, mereka banyak bercakap dengan logat Malaysia. Sedangkan jamak diketahui orang Melayu yang doyan ikut Nadi Wafidin hanya orang Indonesia dan sebagian kecil Thailand. Benar saja, saat ditanya mereka memang bukan hendak ikut rihlah Luxor-Aswan.

Tidak jauh dari mereka, tampak wajah yang lumayan familiar di antara mahasiswa Indonesia. Yakin mereka juga mau ikut rihlah Luxor-Aswan, kami mendekat. Melihat barang bawaan mereka yang cukup banyak, keyakinan kami tak salah. Mereka adalah 9 orang dari geng DN (alumni Darun Najah Jakarta).

Salah seorang di antaranya malah mengakui mereka sudah datang sejak pukul 18.00, padahal sama-sama tahu instruksi kumpul paling lambat pukul 21.00. Barangkali untuk jaga-jaga, karena tahun lalu sempat juga ada yang terlambat datang beberapa detik, terpaksa ditinggal. Sedangkan untuk mengejarnya harus menunggu kereta berikutnya dan tentu saja membayar lagi, dengan ongkos yang tak terlalu murah.

Setelah beberapa saat kami bercengkerama, ada usulan untuk menelpon Ustad Majdi, staf Nadi Wafidin yang dijadwalkan berangkat bersama kami sebagai musyrif/pendamping. Saat ditelpon, dirinya mengaku sudah di jalan, dan bakal sampai sebelum pukul 21.00.

Saat menunggu Ustad Majdi, tampaklah muka-muka orang asing yang beberapa di antaranya sudah sempat bertemu di Nadi Wafidin. Ada yang dari China, Rumania, Bosnia, Ukraina juga Afghanistan. Sementara beberapa wajah yang lain belum pernah terlihat sebelumnya, namun diyakini juga anggota Nadi Wafidin.

Tepat pukul 21.00, Ustad Majdi tiba dengan senyum ramahnya yang khas. Geng kami yang memang sudah kenal dengan Ustad Majdi dengan senang hati ikut menarikkan kopernya yang besar, disatukan dengan barang-barang bawaan kami. Lalu mulailah Ustad Majdi mengabsen satu persatu anggotanya. Masih ada beberapa yang nampak terlambat, tapi tetap ditunggu.

Setelah lengkap semua, diberitahukan bahwa kereta akan datang pada pukul 22.30. Semua calon peserta rihlah lalu digiring ke jalur rel dimana kereta akan datang. Sayangnya saat jam menunjukkan pukul 22.30, kereta yang ditunggu belum tampak juga. Baru sekitar pukul 22.50 kereta itu muncul. Itupun masih harus stand by beberapa saat lamanya entah untuk apa.

Baru sekitar pukul 23.15, suara keras menandai kereta mulai berjalan. Semua pun tampak riang, melihat perjalanan jauh nan menyenangkan akan dimulai. Mahasiswa Indonesia yang berjumlah 24 orang (dari total seluruh peserta sejumlah 46 orang) bergabung di satu gerbong, bersama beberapa orang berwajah China.

Di awal-awal perjalanan, masing-masing sibuk menata barang bawaan sendiri. Setelah terlihat rapi, baru duduk manis di kursinya sendiri-sendiri. Enaknya, kursi bisa diputar-putar, sehingga jika ada 4 orang berada pada 2 kursi yang sejajar, dapat dihadap-hadapkan. Geng kami yang berjumlah 6 orang terpaksa sedikit pecah. Empat orang bisa duduk berhadapan, sementara 2 lainnya terpisah. Tidak apa-apa, toh prakteknya juga tetap sering duduk seperti melingkar, menggunakan koper yang dijadikan tempat duduk.

Sayang sekali, jalannya kereta jauh dari bayangan semula. Dilihat dari bodi kereta, sebenarnya cukup meyakinkan. Tapi herannya tiap halte (stasiun kecil) kereta harus berhenti, baik menaik-turunkan penumpang atau tidak. Melihat gelagat tidak menyenangkan seperti itu, tentu saja semua gerah. Jenuh pun tak terhindarkan. Optimisme bahwa kereta akan sampai Luxor pada pagi hari, kian lama kian luntur, melihat larinya kereta yang hanya seperti itu.


Demi menghilangkan perasaan jenuh dan tidak menyenangkan itu, geng kami membuat permainan. Mula-mula saling cerita hal-hal yang lucu, seru atau bahkan harus agak saru. Lalu main tunjuk jari, dihitung dengan huruf dan berebut menyebutkan nama iklan --atau apa saja sesuai kesepakatan-- dimulai dari huruf terakhir yang disebut dari penghitungan jari.

Setelah cukup bosan dengan permainan itu, kartu poker pun dikeluarkan. Karena poker maksimal dilakukan oleh 4 orang, 2 orang pun terpaksa hanya jadi penonton. Apalagi, memang tak semua anggota geng kami bisa bermain poker.

Selain mengisi waktu-waktu di kereta dengan permainan-permainan tadi, Adon yang membawa laptop juga menunjukkan film kocak, Boboho. Hingga film ini pun jadi trademark geng kami selama rihlah, dengan menirukan beberapa adegan atau kalimat-kalimat yang dirasa seru. Suara tawa pun terus memenuhi tiap sudut gerbong kereta, meski beberapa orang di gerbong kami juga banyak yang sudah tampak terbuai mimpi di balik selimut (atau jaket atau sekadar sarung).[]

Berangkat Rihlah Laksana Berangkat Haji

Memori Rihlah Luxor-Aswan (2)

Sebagaimana yang sudah ditentukan sebelumnya, Senin (29/1/2007) petang rombongan bersiap menuju stasiun utama kereta api Ramses. Segala hal yang sudah dipersiapkan usai selesainya ujian pada Kamis (25/1/2007), dikumpulkan dan dicek lagi sebelum mengunci koper dan tas-tas besar.


Lima orang yang tinggal di Nasr City sepakat berangkat bersama dari rumah Aghi di Bawabah 3, H10, usai shalat magrib. Sementara Meri berangkat sendiri dari Asrama Buuts, yang lebih dekat ke stasiun Ramses.

Sebelum adzan magrib, Ulya datang pertama kali di rumah Aghi. Disusul kemudian Yayah yang sudah shalat magrib di rumahnya. Adon dan Alfi, kemudian ditelpon agar segera datang. Ternyata keduanya makan malam atau buka puasa dulu di sekretariat NU, tempat tinggal Adon yang hanya selisih 5 gedung dari rumah Aghi.

Saat datang, Ulya sendirian menenteng tas besar berisi pakaian dan segala bekal untuk seminggu berada di perjalanan. Sementara Yayah yang membawa sebuah koper, diantar 2 orang temannya. Aghi, Ulya dan Yayah cukup lama menunggu Adon dan Alfi. Setelah sekitar 15 menit menunggu, Adon dan Alfi pun muncul.

Karena Adon adalah sekretaris tanfidziyah dan Alfi merupakan aktifis Fatayat NU Mesir, ternyata cukup banyak yang mengantar kepergian mereka berdua. Teman-teman Adon dan beberapa pengurus teras Fatayat NU pun tampak membawakan tas dan koper keduanya yang cukup banyak.


Saat melihat hal demikian, salah seorang teman serumah Aghi pun nyeletuk, mau berangkat rihlah saja yang megnantar seperti orang mau berangkat haji. Tawa pun pecah di tempat tinggal Aghi yang berupa flat dengan 3 kamar tidur itu.

Setelah 5 orang berkumpul semua, mereka hendak segera pamit. Namun mengingat sebentar lagi adzan isya, disepakati perjalanan dimulai usai shalat isya saja. Daripada harus shalat di stasiun, repot menjaga barang bawaan, semua memandang sebaiknya shalat dulu sebelum jalan.

Menunggu shalat isya, pengecekan barang bawaan kembali dilakukan. semua saling mengingatkan kalau-kalau ada hal yang belum terbawa. Benar saja, Ulya rupanya belum memegang paspor. Padahal yang namanya di negeri orang, perjalanan jauh tentu saja lebih aman membawa paspor. Maka terpaksa larilah Ulya kembali ke rumahnya dulu yang berjarak sekitar 700 meter.


Tepat usai shalat isya, rombongan rihlah pamitan. Karena kebetulan ada Bapak Fadlolan, MA. (Wakil Rais Syuriah NU Mesir) yang sedang berkunjung ke rumah itu, pelepasan pun dilakukan dengan membaca doa bersama-sama.

Setelah keluar rumah, demi menjaga kesejahteraan dan ketentraman di perjalanan nanti, semua menyempatkan mampir ke supermarket untuk membeli beberapa makanan lagi. Setelah itu, Aghi ditugaskan mencari mobil angkutan umum untuk dicarter menuju stasiun Ramses. Hal ini jelas lebih baik daripada harus mengambil 2 taksi, karena harus terpisah sementara harga tidak lebih murah.[]

Jauh Hari Sudah Pesan Tempat

Memori Rihlah Luxor-Aswan (1)

Berawal dari keisengan pernyataan yang terlontar saat rihlah ke Alexandria. Saat itu, nampak beberapa peserta rihlah yang diselenggarakan oleh Informatika sudah menginjak tingkat 3. Salah seorang di antara mereka pun, di tengah ramainya rihlah "ngeteng" itu, mengajak agar para kru dan keluarga Informatika mau rihlah bersama ke tempat yang lebih jauh, Luxor-Aswan.


Konon, Luxor-Aswan merupakan tujuan utama para turis yang ingin menyelami kebudayaan Mesir kuno. Maka pada rihlah Alexandria yang diselenggarakan sekitar pertengahan Maret 2006 itu, salah seorang kru yang sudah mau naik tingkat 4 dan membayangkan bakal segera pulang ke tanah air, mengingatkan supaya dapat travelling ke Luxor-Aswan sebelum lulus di Al-Azhar.

Dengan senang hati, beberapa rekan, terutama yang sudah tingkat 3 dan akan segera naik tingkat 4, menyambut ajakan itu. Sudah jamak diketahui, bahwa rihlah Luxor-Aswan yang terhitung murah-meriah adalah yang diselenggarakan Nadi Wafidin. Maka, Nadi Wafidin yang merupakan lembaga resmi pemerintah Mesir yang menangani pelajar/mahasiswa asing, menjadi tujuan yang disepakati.

Karena lewat Nadi Wafidin, semua keperluan transportasi, akomodasi, penginapan dan konsumsi lebih terjamin. Selain itu, biaya yang diperlukan lebih murah dari penyelenggara rihlah Luxor-Aswan swasta.

Setelah turun pengumuman kenaikan tingkat sekitar Agustus 2006, yang tadinya sepakat rihlah bersama menuju Luxor-Aswan pun berkonsolidasi lagi. Hanya saja, kemudian hanya nampak 2 orang yang benar-benar sepakat.

Mengetahui jumlah yang terlalu sedikit, gerilya mengajak rekan yang lain pun dilakukan. Di saat cukup mepetnya mulai pendaftaran anggota baru Nadi Wafidin, 1 orang berhasil dibujuk. Maka, sekitar pertengahan September 2006, 3 orang pun mendaftar, meski di saat bersamaan juga tetap mengajak dan mengompori orang lain agar dapat bergabung.

Akhir September 2006, 3 orang lagi mendaftar ke Nadi Wafidin. Jadilah geng berjumlah 6 orang sepakat untuk bertsama-sama menuju Luxor-Aswan. Saat mendaftar, diketahui sebenarnya cukup banyak mahasiswa Indonesia yang juga mendaftar ke Nadi Wafidin. Hanya saja, 6 orang yang sudah sepakat untuk berangkat bersama itulah yang kemudian menjadi satu geng khusus.

Melihat rihlah Luxor-Aswan tahun-tahun sebelumnya yang selalu ramai peminat, geng ini pun secara aktif menanyakan kapan dibuka pendaftaran rihlah Luxor-Aswan. Karena kalau kalah cepat, bisa-bisa tidak mendapatkan kursi yang memang terbatas sekitar 190 untuk seluruh anggota Nadi Wafidin dari semua negara.

Beruntung, saat pendaftaran rihlah Luxor-Aswan sekitar akhir November, 6 anggota geng mendapatkan nomor cukup atas, meski di atas 20. Itupun sudah kalah cepat dibanding beberapa nama yang juga berasal dari Indonesia.

Kejadian cukup mendebarkan terjadi saat penentuan gelombang pemberangkatan rihlah Luxor-Aswan. Apalagi penentuan yang dilakukan secara acak oleh pihak Nadi Wafidin ini dilakukan di tengah-tengah masa ujian. Sekitar pertengahan Januari 2007, semua yang telah mendaftar rihlah Luxor-Aswan diminta datang untuk melihat namanya berada di gelombang berapa.

Dibagi menjadi 4 gelombang, mahasiswa Indonesia kebanyakan ketar-ketir berharap namanya menyatu dengan anggota gengnya masing-masing. Dan, mungkin karena doa dan sedikit pendekatan kepada Direktur Nadi Wafidin yang terlihat selalu cool, 6 orang anggota geng yang sudah sepakat sebelumnya tetap berada di satu gelombang, yaitu pemberangkatan ke-3 pada 29 Januari 2007.

Jadilah Adon (Arif Ramdhan), Aghi (Agus Hidayatulloh), Ulya (Dulyamani), Alfi (Alfiyah Sari), Meri (Maria Ulfa) dan Yayah (Yayah Fajriyah) tetap tersenyum berada di 1 geng.[]