Monday, April 09, 2007

Indomie Seleraku


Masih kental rasanya ingatan, di awal tahun 2000-an, setiap jamaah haji Masisir saat kembali dari tanah suci tak lupa membawa oleh-oleh khas makanan Indonesia. Yang paling laris tentu saja kerupuk, kecap, saos dan mi instan. Meski banyak macam dan mereknya, tapi yang paling mudah ditemukan tetap saja produk keluaran Indofood dengan mi instan Indomie menempati peringkat teratas most wanted.

Barangkali karena harganya lebih terjangkau sekaligus terlihat murah meriah, Indomie selalu jadi primadona. Baik jamaah haji Masisir maupun para "penunggu"-nya yang senantiasa berharap banyak buah tangan, sama-sama memandang Indomie-lah barang yang "wajib" dibawa. Maka tak mengherankan jika beberapa jamaah haji Masisir malah sebagian membawa sampai 3-4 kardus Indomie sebagai oleh-oleh andalan. Apalagi yang memiliki banyak teman, atau tinggal bersama banyak orang, tentu saja Indomie menjadi pilihan tepat agar semua dapat mencicipi secara lebih merata dan terasa.

Tidak hanya jamaah haji, bahkan mahasiswa yang liburan ke Indonesia, tak jarang yang kembali ke Cairo membawa 1-2 karton Indomie. Ya karena alasan murah meriah dan juga mudah dibagi secara merata itu. Selain itu, timbangan Indomie yang tak terlalu berat juga menjadi pertimbangan kuat mahasiswa yang balik dari mudik.

Itu di awal tahun 2000-an. Kini, seiring berjalannya waktu, Indomie rupanya tidak termasuk hal paling banyak dibawa jamaah haji ataupun mereka yang baru datang dari tanah air. Tak lain dan tak bukan karena memang sekarang Indomie sudah teramat mudah dijumpai di banyak supermarket maupun toko Mesir.

Sebagai makanan instan, Indomie memang benar-benar amat membantu mereka yang terlanjur kelaparan atau sekadar sedang malas masak. Saat tidak ada apapun di dapur, sementara perut mulai keroncongan dan anggaran belanja menipis, Indomie jadi sasaran utama. Cukup dengan modal satu seperempat pound sudah bisa memenuhi rongga perut. Atau kalau masih terlalu lapar, Indomie juga bisa dimasak sebagai lauk agar lebih mudah melarutkan nasi melewati mulut dan kerongkongan.

Di lain kesempatan, ketika jadwal piket masak tiba, sementara hati dan pikiran sedang tidak mood dibawa ke dapur, Indomie juga bisa jadi solusi. Daripada mengolah bahan mahal —mahal menurut ukuran mahasiswa tentunya— semisal daging, ikan dan semacamnya, lalu tidak "jadi" (baca: tidak enak), tentu sayang. Karenanya, mengolah Indomie yang sudah pas takaran bumbunya, kiranya tak perlu mengorbankan selera makan teman serumah.

Bahkan saat ini, di beberapa sekretariat organisasi, Indomie menjadi menu "wajib" saat makan bersama. Apalagi jika kantor sekretariat sering dihampiri banyak anggota, tinggal beli 2-3 bungkus Indomie, dihiasi aneka macam sayur, ditambah telur dadar —kalau perlu—campur tepung, dijamin tetap dapat menjangkau semua perut sekian banyak aktifis yang ada.

Selain amat menguntungkan dari sisi cepat sajinya, harga Indomie juga sangat pas di kantong mahasiswa. Meski Indomie yang tersedia di Cairo dan Mesir pada umumnya adalah merupakan impor dari Arab Saudi, tapi bandrolnya amat terjangkau. Dan lagi, sebagai warga negara Indonesia di luar negeri, tentu bangga dapat membeli barang hasil kerja keras bangsa sendiri. Karena meski diproduksi di Arab Saudi, tetap saja perusahaan asing di sana berada di bawah lisensi dan pengawasan PT Indofood Sukses Makmur dalam memproduksi merek Indomie. Semua juga pantas menepuk dada melihat hasil karya anak bangsanya diakui dan dijual bebas di negeri orang.

Bahkan menurut kabar yang ada, kini sedang dijajaki kemungkinan membuat pabrik Indomie di Mesir. Jika berita ini benar, pendirian pabrik Indomie tentu bukan karena hanya ingin memenuhi keinginan mahasiswa Indonesia dalam mengobati rasa rindu makanan tanah air. Apalagi jumlah komunitas mahasiswa dan masyarakat Indonesia yang tak bisa dibilang besar untuk ukuran bisnis pembuatan pabrik.

Karenanya, akan adanya produksi besar-besaran Indomie di Mesir, pastilah karena pasar di Mesir juga terbuka dan tertarik dengan mi instan khas Indonesia itu. Atau barangkali selain Indomie, banyak juga makanan dan bahan makanan dari PT. Indofood Sukses Makmur yang mampu merebut hati konsumen Mesir. Karena bagaimanapun juga, kecap dan saos Indofood juga laku keras di kalangan orang pribumi. Maka adanya produksi besar-besaran Indomie di Mesir, pastilah karena pasar di Mesir sudah kepincut dengan mi instan khas Indonesia itu.

Kalau sekarang ini yang banyak dikenal adalah mi instan Indomie, kecap dan saos Indofood, bukan tidak mungkin di masa mendatang akan semakin banyak produk Indonesia menjadi pajangan utama supermarket Mesir. Yang pasti, pekerjaan besar selalu dimulai dari hal terkecil. Di awal pengenalan Indomie, siapa yang akan menyangka produk makanan andalan PT. Indofood itu bakal melanglangbuana hingga ke negeri padang pasir seperti Mesir dan Arab Saudi? Bahkan mungkin dulu angan bisa menyaingi Sarimi (pioneer mi instan sekaligus merek paling dikenal di tahun 1990-an) saja sudah dianggap tinggi.

Peran setiap warga negara Indonesia di luar negeri dalam mempromosikan produk tanah air, tentu sangat membantu kampanye menghadapi era perdagangan bebas. Awalnya mungkin satu bungkus makanan sampai ke suatu negara, tapi jika respon penduduk setempat baik, "serangan" bergelombang membawa makanan berjenis sama dapat membuat ketagihan para penikmatnya. Berikutnya, produk jenis lain bisa menyusul belakangan.

Demikian juga dengan masuknya Indomie ke Arab Saudi dan Mesir, pastilah dimulai dari sedikit demi sedikit. Melihat Indomie sebagai produk paling mencolok dan paling sering ditemui di supermarket tanah Arab, maka mi instan itulah yang diyakini paling awal masuk. Bahkan karena cerita suksesnya, Indomie lantas dapat "mengajak" kecap, saos juga beragam produk lainnya menembus pasar mancanegara. Imbasnya, jika pasar benar-benar amat membutuhkan produk-produk dimaksud, ekspor besar-besaran tentu dapat menjadi salah satu penyumbang utama devisa negara. Atau kalau sudah dalam skala tinggi, pembuatan pabrik dengan lisensi perusahan asal di Indonesia juga terlihat lebih gagah membawa nama harum Indonesia.

Ekspor atau pembuatan pabrik, sama-sama menarik keuntungan bagi negara Indonesia baik secara materi maupun non-materi. Maka tak salah nyanyian dalam iklan yang sering kita dengar di televisi, "Indomie Indomie seleraku, Indomie dari dan bagi Indonesia".[]

PKS FC Tahan Walisongo 1-1

Usai menjadi juara Java Cup 2007, Walisongo untuk pertama kalinya turun dalam partai persahabatan memenuhi undangan tim sepakbola PIP-PKS Mesir. Bermain di lapangan Fakultas Kedokteran, Walisongo tidak turun dengan kekuatan penuh. Sementara tim PKS yang dikoordinir oleh Bidang Kepanduan PIP-PKS Mesir mengandalkan beberapa talenta dari lintas kekeluargaan.

Molor setengah jam dari jadwal semula, acara yang digelar pada Jumat (6/4/2007) kemarin itu didahului dengan upacara pembukaan layaknya turnamen resmi. Tim Walisongo yang hanya terdiri dari para pemain tanpa membawa suporter, berjumlah tak lebih dari 16 orang, berdiri membentuk satu baris. Sementara tim PKS yang memang terbiasa berolahraga di tempat yang sama setiap Jumatnya, berjumlah lebih dari 3 kali lipatnya.

Dalam upacara pembukaan, masing-masing pimpinan delegasi memberikan kata sambutan. Oni Sahroni, Ketua PIP-PKS Mesir mendapat kesempatan lebih dahulu untuk menyampaikan kalimat sambutan, lalu disusul Alek Mahya Shofa, Ketua KSW Mesir. Di penghujung acara pembukaan, Oni Sahroni memberikan plakat sebagai ucapan terima kasih atas kesediaan tim sepakbola Walisongo memenuhi undangan tim PKS.

Pukul 08.30, wasit Muhammad Sami meniup peluit tanda dimulainya pertandingan. PKS FC yang mendapat kesempatan menendang bola terlebih dahulu, langsung berusaha menekan pertahanan Walisongo. Namun karena lapangan becek, permainan terpaksa tak bisa dikendalikan secara cepat. Kedua tim tampak bermain hati-hati, bahkan harus menahan tenaga saat mengayunkan langkah, menghindari beberapa bagian lapangan yang tergenang air.

Bola pun lebih banyak bergulir di daerah yang tampak lebih kering. Saat memasuki area basah, para pemain kedua tim juga menurunkan kecepatan lari. Meski begitu, permainan tetap enak ditonton dengan kedua tim silih berganti mencoba menekan pertahanan lawannnya. Sayangnya hingga babak pertama usai, tak ada gol tercipta.

Di babak kedua, Walisongo baru memainkan lebih banyak para pemain intinya yang sudah makan banyak asam garam. Tercatat Kholid, Shofa dan Hartono baru masuk di babak kedua, itupun dengan posisi yang selama ini jarang mereka tempati saat berlangsungnya turnamen-turnamen resmi. Sementara tim PKS yang memiliki stok pemain lebih banyak, juga mengganti beberapa pemainnya.

Tidak sampai sepuluh menit babak kedua dimulai, PKS melalui Syafruddin Umar berhasil menjebol gawang Walisongo yang dijaga kiper Ulum. Mengandalkan otak serangan Isa Anshori, pemain yang pernah diandalkan Walisongo saat awal-awal Java Cup dulu, PKS terus mencoba menambah gol. Namun justru saat asyik menyerang, giliran Walisongo melakukan serangan balik.

Melalui Shofa yang membawa bola di sayap kanan, menusuk kotak penalti sebelah kiri lalu mengirimkan umpan silang. Miko yang mencoba menyundul bola kalah cepat dengan pemain belakang PKS. Hanya saja, karena menyerobot bola dengan mengangkat kaki terlalu tinggi, justru wasit menunjuk titik putih memberikan hukuman penalti pada PKS. Shofa yang menjadi algojo tak menyia-nyiakan kesempatan untuk menyamakan kedudukan.

Beberapa menit kemudian, pelatih Walisongo yang merangkap striker veteran, Ulin, mendapat kesempatan emas saat mendapat umpan matang di tengah kotak penalti. Hanya saja tendangannya masih membentur badan pemain lawan. Pun saat mendapatkan kembali bola muntah, justru tendangannnya malah melintas jauh di atas gawang. Hingga berakhirnya babak kedua, skor tetap imbang 1-1.[]

Bawabah Tiga, 9 April 2007

Saturday, March 31, 2007

Bermain Ofensif, Walisongo Gagal Bendung All-KKS Final


Meski lebih banyak menguasai jalannya pertandingan dan bermain terus menyerang terutama di akhir-akhir pertandingan, Walisongo harus mengakui keunggulan Angin Mamiri A. Dengan penampilan gemilang kipernya dalam menjaga kemenangan, Angin Mamiri A dapat menyusul langkah Angin Mamiri B yang pada partai sebelumnya menghempaskan Airlangga.

Dengan demikian, partai final cabang sepakbola Piala Masisir mempertemukan 2 tim dari satu payung, KKS Sulawesi. Kejelian pelatih mereka, Ali Ghana, dapat kembali mempertemukan sesama tim dari pulau Celebes di partai puncak sebuah turnamen. Tahun lalu, final turnamen segitiga yang diselenggarakan oleh 3 kekeluargaan, KMA (Aceh), HMM (Sumatra Utara) dan KKS (Sulawesi) juga dikuasai 2 tim Angin Mamiri.

Semifinal yang digelar Sabtu (31/3/2007) kemarin, rupanya menjadi harinya Angin Mamiri. Di pertandingan pertama, Angin Mamiri B yang kembali ke lapangan dengan kekuatan terbaiknya menyudahi perlawanan Airlangga melalui skor 3-1. Sudah unggul 2-0 di babak pertama, Angin Mamiri B tetap rajin melakukan serangan di awal babak kedua. Bahkan untuk beberapa menit, Airlangga dipaksa tak dapat mengembangkan permainan.

Namun dengan usaha keras, Airlangga akhirnya dapat mengimbangi permainan Angin Mamiri B. Bahkan melalui sebuah serangan balik, Airlangga dapat mempertipis ketinggalan. Mendapat umpan dari lapangan tengah, penyerang Airlangga, Izul, dengan cerdik kembali mengirimkan bola kepada Indra yang berdiri lebih bebas di sayap kanan. Umpan lambung itupun dicocor dengan keras oleh Indra tanpa bisa dicegah kiper Angin Mamiri B untuk menjadikan skor 1-2.

Pertandingan tetap terlihat berjalan seimbang. Serangan demi serangan terus dilakukan secara bergantian oleh kedua tim. Hingga di menit ke-67, penyerang Angin Mamiri B dapat menusuk hingga ke dalam kotak penalti. Stopper Airlangga, Eko, pun terpaksa melakukan tackling untuk menghentikan langkahnya. Wasit yang melihat pelanggaran tak ragu menunjuk titik putih. Tendangan penalti yang dieksekusi oleh salah seorang pemain paling senior Angin Mamiri B itupun membuat selisih gol menjadi 2 lagi. Skor 3-1 untuk Angin Mamiri B bertahan hingga laga usai.

Partai semifinal kedua antara Walisongo vs Angin Mamiri A sementara ini dapat disebut sebagai partai paling menarik dalam turnamen Piala Masisir. Kedua tim sejak awal memperagakan permainan menyerang. Babak pertama baru berjalan 2 menit, Conte yang tetap menjadi andalan Walisongo berhasil lolos dari jebakan off-side. Saat tinggal berhadap-hadapan dengan kiper, Conte mencoba mencongkel bola. Namun berkat antisipasi yang sempurna, kiper Angin Mamiri A dapat menepis bola sehingga gawangnya aman dari kebobolan.

Tak berselang lama, giliran Royan berhasil menusuk dari sayap kiri. Setelah beberapa kali mengolah kulit bundar di sisi kanan kotak penalti melewati hadangan para defender Angin Mamiri A, Royan juga tinggal berhadap-hadapan dengan kiper. Sayangnya di sudut sempit, Royan justru memaksakan diri melakukan tendangan ke gawang. Tetap mendapat pengawalan ketat dari lawan, tendangan Royan pun masih meleset di kanan gawang Angin Mamiri A.

Beberapa saat kemudian, Angin Mamiri A giliran menyerang. Mengandalkan kecepatan penyerang bernomor punggung 17, Angin Mamiri A cukup merepotkan barisan pertahanan Walisongo. Bahkan karena kurangnya koordinasi lini tengah dalam membantu lini belakang, bek kiri Walisongo, Abdul Qodir terpaksa jungkir balik mempertahankan areanya.

Meski Qodir tampil cukup baik, namun karena sering terlihat sendirian di sisi kiri pertahanan Walisongo, dia terlihat kerepotan. Melihat celah demikian, bek kanan Angin Mamiri A dengan berani overlapping ke depan. Harus menjaga dua orang sekaligus, tentu Qodir kelabakan. Sayangnya, lini belakang maupun barisan tengah Walisongo tak menyadari hal ini.


Maka saat sisi kiri wilayah kekuasaan Walisongo hanya ditunggui Qodir seorang diri, serangan Angin Mamiri A lebih banyak melalui sayap kanannya. Benar saja, di menit ke-22, melalui umpan silang cantik yang dioperasikan dari sayap kanan, Angin Mamiri A akhirnya dapat mencetak gol. Meski terdengar teriakan telah terjadi off-side, namun wasit tetap mengesahkan gol itu.

Tak lebih dari 4 menit kemudian, Angin Mamiri A kembali memaksa Habib memungut bola dari gawangnya. Kali ini berawal dari serangan di sisi kanan pertahanan Walisongo, seorang midfielder Angin Mamiri A melakukan tendangan spekulasi jarak jauh. Berada pada posisi aman untuk menangkap bola, Habib justru hanya menepisnya. Apes, bola pantulan yang dibuangnya justru mendekati pemain Angin Mamiri A yang tanpa ampun menendang keras bola rebound itu tanpa bisa dihalau Habib.

Tertinggal 2 gol, Walisongo tetap tak putus asa. Serangan demi serangan terus dibangun, mencoba melewati para pemain bertahan Angin Mamiri A yang bermain amat disiplin. Sadar motor serangan ada pada Conte, maka pergerakan top scorer Java Cup lalu itu selalu diawasi bahkan ditempel super disiplin kemanapun berjalan.

Dengan penjagaan seketat itu, namun Conte berhasil mengulang kejadian di awal babak pertama. Setelah dapat meloloskan diri dari kawalan lawan untuk menjemput umpan terobosan, Conte kembali tinggal melewati hadangan kiper untuk mencetak gol. Lagi-lagi dewi fortuna rupanya masih melekat pada gawang Angin Mamiri A, sehingga tendangan Conte berhasil digagalkan oleh sang kiper.

Demikian juga usaha Royan saat menerima umpan terobosan dari Shofa. Persis dengan dua kali upaya Conte sebelumnya, Royan juga tinggal satu lawan satu dengan kiper, namun tendangannya dapat dibaca dengan baik oleh penjaga gawang. Tendangan bebas Conte dari sisi kanan pertahanan Angin Mamiri A juga lagi-lagi ditips dengan gemilang. Sebelumnya, tendangan bebas Shofa setelah dilanggar di dekat kotak penalti juga dapat dihalau kiper. Walhasil hingga babak pertama usai, kedudukan tetap 2-0 untuk Angin Mamiri A.

Memasuki babak kedua, pemain Walisongo makin mengetatkan pertahanan. Qodir terlihat tidak terlalu pontang-panting sendirian di sisi kiri. Meski memperkuat pertahanan, serangan Walisongo juga terus mengalir menuju daerah kekuasaan Angin Mamiri A. Namun dengan keunggulan 2 gol, Angin Mamiri A tentu saja bermain lebih save untuk mengamankan kemenangan.


Barisan pertahanan mereka pun terasa lebih rapat dibanding pada babak pertama. Setiap bola yang mendekat ke arah kotak terlarang, dibuang jauh-jauh ke depan untuk melakukan serangan balik cepat ke pertahanan Walisongo. Hanya mengandalkan serangan balik dan lebih banyak bertahan, Angin Mamiri A akhirnya jusru kebobolan.

Di menit ke-61, serangan balik Angin Mamiri A dapat dipotong oleh libero sekaligus kapten Walisongo, Buya. Melihat lapangan tengah yang kosong Buya pun menggiring bola agak ke depan. Bahkan karena melihat celah kosong di sisi dalam pertahanan Angin Mamiri A, Buya berani melakukan tusukan sendirian setelah melakukan umpan satu-dua dengan Shofa.

Saat berdiri agak bebas, Buya pun melakukan tendangan ke arah gawang. Kiper Angin Mamiri A dengan sigap meninju bola agar menjauh. Namun naas karena bola malah menuju Royan yang kemudian melakukan tendangan setengah voli. Kiper yang sudah terlanjur maju pun tak mampu mencegah tinggi datangnya bola. Seorang bek Angin Mamiri A juga sempat menghalangi dengan mencoba menyundulnya, namun karena lebih dekat ke mistar atas, bola dapat merobek gawang Angin Mamiri A.

Kedudukan 2-1 membuat pertandingan semakin seru. Angin Mamiri A yang lebih memperkuat barisan tengah, sempat berhasil membuat spot jantung para pendukung Walisongo. Pada menit ke-69, pemain pengganti Mansur berhasil lepas dari kawalan Qodir di sayap kanan. Tahu ada temannya di kotak penalti Walisongo, Mansur mengirimkan umpan silang. Beruntung Habib dapat mencegah bola masuk ke gawangnya kembali. Meski sempat terjadi sedikit kemelut di muka gawang, akhirnya Habib dapat menangkap bola secara sempurna.

Di sepuluh menit akhir babak kedua, serangan makin sering dilakukan para pemain Walisongo. Bahkan bisa dikatakan bola hanya bergerak di setengah lapangan area kekuasaan Angin Mamiri A. Meski diserang habis-habisan, namun pertahanan Angin Mamiri A bak tembok kokoh, belum lagi kiper mereka yang tampil amat gemilang. Hingga usai 40 menit babak kedua, kedudukan 2-1 dapat dipertahankan Angin Mamiri A.[]

Bawabah Tiga, 31 Maret 2007

Thursday, March 29, 2007

Khatami Sampaikan Kuliah di Universitas Al-Azhar


Di tengah ramainya polemik ancaman sanksi PBB untuk Iran, Dr. Muhammad Khatami, mantan presiden republik Islam itu menyempatkan diri mengunjungi Universitas Al-Azhar. Bahkan pada Kamis (29/3/3007) kemarin, mantan presiden Iran 2 periode antara tahun 1997-2001 itu memberikan kuliah umum di depan para mahasiswa universitas Islam tertua di dunia.

Ceramah sengaja dibuka untuk umum dan digelar di Aula Syaikh Muhammad Abduh, kampus Universitas Al-Azhar kawasan Darrasa, dekat Masjid dan Makam Sayyidina Husein. Dimulai pada pukul 10.30, acara didahului dengan sambutan Rektor Universitas Al-Azhar oleh Prof. Dr. Ahmad Thoyyib. Sambutan yang hanya sekitar 10 menit, lebih banyak menyampaikan peran pentingnya Al-Azhar dalam menjaga dan mengembangkan ilmu pengetahuan tentang Islam.

Sementara setelah rektor, sambutan Syaikh Agung Al-Azhar Prof. Dr. Sayyid Muhammad Thonthowi berjalan tak lebih dari 3 menit. Setelah menyampaikan terima kasih atas kehadiran mantan pemimpin negara yang berani lantang menentang hegemoni AS itu, Syaikh Agung langsung mempersilakan Dr. Khatami untuk memberikan pencerahan pada anak didik Al-Azhar.

Selama sekitar 30 menit, Dr. Khatami memberikan ceramah pada lebih dari 1000 audien yang memenuhi Aula Syaikh Muhammad Abduh. Bahkan saking berjubelnya mahasiswa yang ingin mendengarkan langsung ceramah Dr. Khatami, banyak yang rela duduk di anak tangga koridor atau bahkan berdiri dan berdesak-desakan.

Dalam kuliahnya, Dr. Khatami lebih banyak menyoroti masalah perdamaian dunia. Selain itu, mantan presiden yang meneruskan era Rafsanjani itu mengingatkan pentingnya dunia Islam untuk banyak melakukan inovasi dalam ilmu pengetahuan. Hal ini agar tidak terlalu jauh tertinggal dari peradaban Barat. Menurutnya, berpegang pada Al-Quran dan sunah sangat penting, tapi pengembangan-pengembangan teknologi juga mutlak dilakukan agar dapat eksis secara seimbang.


Di sisi lain, harapan banyak mahasiswa untuk mendengarkan secara langsung isu nuklir Iran dari mantan presidennya, terpaksa hanya jadi angan. Hal ini karena sampai akhir ceramahnya, Dr. Khatami sama sekali tak menyinggung tentang program nuklir yang selalu ditentang AS dan para sekutunya itu.

Meski begitu, saat menyelesaikan pidatonya, applaus panjang dari audien terus menggema. Sebagai salah seorang pemimpin reformis sekaligus intelek dunia Islam, Dr. Khatami tentunya digemari banyak orang, tak terkecuali para mahasiswa Al-Azhar.

Selesai acara, Dr. Khatami langsung mendapat pengawalan ketat dari pihak keamanan Mesir layaknya tamu kenegaraan. Apalagi selain didampingi Syaikh Agung dan Rektor Universitas Al-Azhar, Dr. Khatami juga selalu tampak akrab bercengkerama dengan Menteri Wakaf Mesir, Prof. Dr. Hamdi Zaqzuq. Saat keluar gedung, masih banyak mahasiswa yang mencoba mendekat, namun oleh pihak keamanan dihalau agar tak mengganggu perjalanan karena masih banyaknya agenda yang harus dijalani Dr. Khatami.[]

Bawabah Tiga, 29 Maret 2007

Tuesday, March 27, 2007

Angin Mamiri Terhindar dari Perang Saudara di Semifinal


Penyelenggaraan Piala Masisir cabang sepakbola sudah menatap babak semifinal. Pada penyisihan putaran terakhir, tidak semua tim mengerahkan kekuatan terbaiknya karena berjaga-jaga sebagai persiapan menghadapi babak 4 besar.

Pada Senin (26/3/2007) sore, juara Sumatra Cup Iskandar Muda terpaksa gigit jari. Meski meraih kemenangan 2-0 atas KMKM, anak-anak KMA harus rela masuk kotak. Dengan raihan 4 poin, sebenarnya Iskandar Muda masih punya peluang lolos ke babak berikutnya, dengan syarat Angin Mamiri A kalah dari Airlangga dengan selisih minimal 2 gol.

Sedangkan di sisi lain, dengan dipastikannya Airlangga melangkah ke semifinal, tentu pelatih Anung tak mau mengambil resiko cedera pemain. Karenanya, di pertandingan terakhir Airlangga menyimpan kekuatan terbaiknya. Menghadapi Angin Mamiri A yang hanya membutuhkan hasil seri untuk mendampingi, Airlangga terlihat bermain "save" untuk menjaga kebugaran pemain.

Benar saja, tanpa adu kekuatan sebenarnya di kedua belah pihak, pertandingan berakhir seri 1-1. Dengan demikian, Airlangga dan Angin Mamiri A mewakili Grup A melaju ke semifinal. Sedangkan wakil Grup B yang baru memainkan pertandingan Selasa (27/3/2007) kemarin, adalah Walisongo sebagai pemuncak klasemen didampingi runner up Angin Mamiri B. Hal ini setelah kedua tim mencetak hasil berbeda di laga terakhir Grup B.

Walisongo yang bermain di partai pertama, berhasil menghentikan perlawanan Lancang Kuning. Meski menguasai penuh jalannya pertandingan, Walisongo sempat dikejutkan gol cepat tim kebanggaan KSMR (Riau) itu. Belum genap 2 menit babak pertama dimulai, kiper ketiga Walisongo yang baru melakukan debutnya, Ulum, terpaksa memungut bola dari gawang.

Gol pertama dalam pertandingan itu dicetak melalui tendangan bebas. Bermula dari gagalnya libero gaek Walisongo Babeh yang gagal membuang bola, ia terpaksa melanggar pemain lawan. Wasit pun memberikan hadiah tendangan bebas untuk Lancang Kuning sedikit di luar area penalti. Kiper Ulum yang berdiri melawan arah sinar matahari, tak kuasa menahan bola yang meluncur di atas kepalanya.

Tertinggal satu gol membuat anak-anak Walisongo cepat "panas". Pelan tapi pasti, lapangan tengah mulai dikuasai para pemain dari KSW itu. Meski lebih banyak memegang bola, tapi hampir tak ada peluang emas untuk menyamakan kedudukan. Hal ini tak terlepas dari belum rapinya ritme serangan yang dibangun.

Bahkan melalui serangan balik, berkali-kali pemain depan Lancang Kuning merepotkan barisan pertahanan Walisongo. Beruntung ada Ayik di posisi bek kiri yang bermain cemerlang selalu tanggap dan cepat membuang bola ke depan. Walhasil hingga babak pertama selesai, kedudukan masih 1-0 untuk keunggulan Lancang Kuning.

Memasuki babak kedua, para pemain Walisongo mulai menyadari kelemahannya. Umpan-umpan lebih terarah dan terukur kemudian diperagakan di tengah lapangan. Para suporter pun makin semangat memberikan dukungan. Hanya saja, kuatnya lini pertahanan Lancang Kuning yang dibantu para pemain tengahnya membuat Miko maupun Conte susah menembus.

Praktis di babak kedua ini, bola hanya dimainkan setengah lapangan di daerah kekuasaan Lancang Kuning. Tahu lebih sering tersudut serta dalam keadaan memimpin, Lancang Kuning makin merapatkan barisan pertahanan. Namun Walisongo yang sukses menjadi tim paling subur di Java Cup lalu, secara terus-menerus juga sabar membongkar pertahanan lawan.


Setelah berkali-kali serangan menuju area penalti Lancang Kuning gagal, para pemain Walisongo mencoba melepaskan tendangan spekulasi dari jarak jauh. Meski bukan usaha yang pertama, di menit ke-51 akhirnya Shofa dapat menyamakan kedudukan.

Mendapat umpan dari sayap kanan, Shofa yang terhindar dari kawalan pemain lawan dapat melepaskan tendangan voli ke arah gawang Lancang Kuning. Meski tak terlalu keras, tapi karena arahnya tepat di bawah mistar, kiper Lancang Kuning tak dapat menjangkau bola. Kedudukan pun imbang 1-1.

Meski cukup dengan hasil seri untuk melaju ke semifinal, Walisongo tak mengendurkan irama permainan. Serangan demi serangan pun dibangun, bahkan para pemain belakang sering ikut overlapping membantu penyerangan. Lebih unggul secara teknik maupun fisik, para pemain Walisongo terlihat leluasa mengobrak-abrik daerah kekuasaan lawan.

Namun gol berikutnya baru tercipta menjelang berakhirnya pertandingan. Di menit ke-75, Miko mencetak gol pertamanya di turnamen yang diselenggarakan PPMI ini. Berawal dari serangan di sayap kanan, Royan berhasil melepaskan umpan ke depan gawang Lancang Kuning. Dikepung 3 pemain lawan, Miko berhasil memenangkan perebutan bola. Saat lepas dari penjagaan, Miko pun melepaskan tendangan mendatar. Kiper Lancang Kuning yang terkecoh pergerakan lincah Miko harus rela kembali memungut bola dari gawangnya.

Meski kendali permainan tetap terus dipegang Walisongo, tapi Miko cs tak dapat mencetak gol tambahan. Umpan lambung Kholid untuk Miko berhasil direbut pemain lawan, sementara tendangan spekulasi Conte masih melenceng dari sasaran. Skor pun bertahan hingga akhir pertandingan dengan keunggulan Walisongo 2-1.

Partai kedua yang menampilkan Angin Mamiri B vs Rinjani, berjalan lebih enjoy. Hal ini karena tim favorit Angin Mamiri B sengaja menyimpan tenaga para pemain andalannya. Maklum, dengan kemenangan Walisongo itu, hanya kekalahan lebih dari 7 gol yang dapat menggagalkan laju Angin Mamiri B ke semifinal. Sementara Rinjani serasa harus menyelesaikan mission impossible untuk menjegal langkah lawan guna merajut jalan menuju 4 besar.

Sejak awal, Rinjani yang kali ini tak diperkuat pemain andalannya Masehi, dapat mengimbangi permainan Angin Mamiri B. Tapi justru karena asyik mengikuti irama permainan lawan, Rinjani harus kebobolan terlebih dahulu. Beruntung para pemain depan Rinjani bersemangat untuk mencetak gol balasan. Namun hingga babak pertama usai, Rinjani masih takluk 1-2.

Di babak kedua, permainan berjalan lebih berimbang. Kedua tim silih berganti menyerang lawannya. Hanya saja karena rapatnya lini pertahanan kedua tim, sedikit peluang tercipta di kedua kubu. Dari sedikit peluang tercipta, Rinjani berhasil memaksimalkan 2 di antaranya. Sementara Angin Mamiri B gagal menambah gol. Walhasil, Angin Mamiri B terpaksa mengakui keunggulan Rinjani 3-2. Kemenangan 3-2 Rinjani ini langsung mendapat sambutan luar biasa dari para pendukungnya. Sayangnya meski menang, Rinjani gagal melaju ke babak berikutnya karena kalah selisih gol.

Dengan demikian, pada semifinal Sabtu (31/3/2007) nanti, di partai pertama yang dimulai pukul 14.00, Airlangga (juara Grup A) akan menjajal kekuatan Angin Mamiri B (runner up Grup B). Sementara partai kedua yang mempertemukan Walisongo (juara Grup B) vs Angin Mamiri A (runner up Grup A) digelar pada pukul 15.35. Babak semifinal tetap dilakukan di lapangan Fakultas Kedokteran, baru saat final nanti laga digelar di lapangan Nadi Abbsea yang lebih berkelas.[]

Bawabah Tiga, 27 Maret 2007