Monday, June 22, 2009

Andai Saya Ketua NU

Andai saya sedang menjabat sebagai Ketua NU, saya akan bayar stasiun televisi untuk menyampaikan pidato sebagai berikut.

“Kaum nahdliyyin di mana pun berada, sekarang ini sedang ramai-ramainya kampanye pilpres. Sudah ada tiga pasangan capres-cawapres berknjung ke Kramat Raya meminta restu. Semuanya saya restui. Semuanya saya yakin bertujuan baik.

Namun, karena saya tahu bahwa orang-orang NU pasti memiliki pilihan berbeda-beda, saya tidak akan memaksakan diri untuk menyebut salah satu pasangan capres-cawapres itu lebih baik daripada yang lain. Atau salah satu dari mereka memiliki kelebihan yang tidak dimiliki yang lain.

Meski saya pribadi sudah punya pilihan di antara ketiga pasangan itu, saya tetap akan berusaha menjunjung tinggi asas pemilu yang LUBER, terutama RAHASIA itu. Karena saya tahu, betapa mudahnya ucapan saya ditafsirkan. Sekali saja saya memuji salah satu capres-cawapres di depan umum, hampir pasti itu menjadi makanan empuk bagi tim sukses pilpres. Saya tidak ingin terjadi kesalahpahaman di kalangan nahdliyyin. Mari kita fokus membangun bangsa dengan peran kita masing-masing.

Namun, saya mengimbau warga nahdliyyin di mana pun berada, agar memanfaatkan sebaik mungkin kesempatan memilih pemimpin yang dianggap terbaik menurut diri masing-masing. Bukan karena tim sukses si X membayar lebih tinggi, bukan karena tim sukses si Y melakukan intimidasi, juga bukan karena tim sukses si Z mau membangunkan jalan, jembatan, atau mushola.

Jika ada tim sukses yang datang menawarkan bantuan, terima saja. Tentu dengan embel-embel tanpa syarat. Mari kita dakwahkan bekerja dengan ikhlas, tidak hanya pada masa tertentu, mau kampanye atau tidak, mari bekerja dengan ikhlas. Setelah menerima bantuan, jangan sampai kita memilih pihak yang membantu itu karena bantuan terakhir itu. Jangan sampai! Kalau memang ingin memilih dia, yakinlah bahwa karena capres-cawapresnya punya kelebihan untuk memajukan bangsa Indonesia.

Perlu juga saya tegaskan di sini, bahwa ketiga pasangan capres-cawapres sudah sama-sama menjamin di hadapan saya, akan tetap mendukung NU. Akan tetap bersama NU yang memang dari zaman awal kemerdekaan Republik Indonesia menjadi salah satu pilar negeri ini.

Jadi siapa pun presiden-wapres terpilih, saya jamin kepentingan NU juga tidak akan terusik. NU akan tetap jalan, siapa pun presidennya. NU akan tetap kritis, jika memang pemimpin kita khilaf.

Mari pergunakan hak pilih kita sebaik-baiknya!”


Pujut, 21 Juni 2009

Tuesday, May 26, 2009

Hijau Desaku

Ini dia benar-benar hijau! Paling kiri adalah rumah kakakku yang nomer dua. Paling kanan adalah, rumah belakang rumahku. Hehe, sayang rumahku tidak terlihat.



Hampir sama dengan gambar sebelumnya, tetapi dilengkapi dengan jalanan.

Barat desa juga. Tampak tiga tower operator seluler, kalau tidak salah Telkomsel, Indosat, dan Excelmindo. Ada juga tower kecil (paling kanan) milik Pak Camat.


Barat desa, beberapa puluh meter di depan pengambil gambar, terdapat sawah milik orang tua yang tidak terlalu luas. Itupun belakangan selalu kalah cepat dari tikus dalam memanen. Hiks hiks...


Karena efek mentari pagi, nyaris ada pelangi di atas lapangan dan Bon Gedhe (dari kebun gede atau kebun besar; semacam hutan kecil gitu lah).



Lapangan tampak dari arah barat daya. Hmmm, mentari mulai mengintip. Sinarnya begitu sehat!



Lapangan sepak bola tampak dari barat. Rumputnya bersaing dengan rumput Gelora Bung Karno.


Berjalan sedikit ke utara desa, inilah aspal desa yang hampir setiap pagi jadi alas kakiku.



Pujut, Mei 2009



Monday, April 27, 2009

Cara Legalisasi Ijazah di Depdiknas

Mau nulis ini, jadi inget beberapa bulan lalu saat masih di Pena. “Sarjana internasional,” begitu kira-kira aku bangga menyebut diri. Narsis memang, tapi toh itu diiyakan oleh “sarjana-sarjana lokal” semacam Nung dan Fahri yang “hanya” jebolan IPB dan UI. Padahal, kalau mau jujur, orang-orang kampung kiranya masih nganggep lulusan Universitas Indonesia yang di Jakarta itu tetep lebih “wah” yah. Apalagi diriku yang kuliahnya di Al-Azhar, ah... palingan juga sama kayak lulusan pesantren. Tapi demi meramaikan kantor n bikin kerjaan lebih seru, tentu saja aku makin bangga menyebut-nyebut diri (sering sih!) sebagai sarjana internasional itu. Tentu dengan nada guyon, atau nada serius tapi pasti dianggep guyon.

Kembali ke judul tulisan. Buat sarjana lulusan universitas luar negeri, gelar akademik dan profesional yang disandangnya memang harus terlebih dahulu disahkan oleh Departemen Pendidikan Nasional. Ini memang kalau pada mau ndaftar PNS tingkat pusat; biasanya yang diincer Deplu.

Selain di Depdiknas, sebenarnya ijazah Al-Azhar juga bisa dilegalisasi di Depag. Hanya saja, untuk ndaftar jadi diplomat ke Deplu, atau mungkin departemen bidang “umum” lainnya, memang disarankan atau malah diharuskan dilegalisasi oleh Depdiknas. Apalagi, konon pengurusan di Depdiknas lebih “diuwongke”, tidak ditinggal kondangan (jadi inget kisah Wira ama Najib yang mau legalisasi di deket Istiqlal itu), juga tidak di-bukroh (besok, besok, lusa, atau bulan depan sekalian), dan yang pasti graris tis tis tissss ga butuh suap apa pun.

Di Depdiknas, menurut pengalaman pribadi, memang tampak profesional. Dari pintu masuk dan bertemu resepsionis, sudah disuguhi menu utama: senyum. Tentu saja melangkah jadi lebih mudah, apalagi harum wangi ruangan setiap lantai gedung Depdiknas begitu menggoda.

Jika datang ke kantor Depdiknas, disarankan untuk masuk melalui gerbang sisi utara, bukan sisi timur (Jl. Jenderal Soedirman). Kemarin pas ke situ lewat timur sih, motor diparkir dekat pintu masuk timur, jadinya jalan kakinya jauh banget. Maklum, kan emang belum tahu gedung tempat legalisasi itu sebelah mana. Kalau lewat sisi utara, pas banget tuh langsung ke gedung D yang tinggi menjulang, keliatan paling baru, dengan dominasi warna biru.

Masuk ke gedung itu, bisa langsung ke lantai 7. Baiknya tanya resepsionis yang geulis-geulis itu lah mana lift, sayang kalau ga punya kesempatan lagi bertegur sapa sama mereka, siapa tau juga nanti pas pulang bisa nebeng atau ngasih tebengan. Nah loh, cut! (Just intermezzo)

Di lantai 7 itu, lapor ama satpam, biasanya atau udah seharusnya emang ngisi formulir semacam buku tamu. Ada nomer urut juga, jadi bener-bener tertib tuh. Cuman pas ke sana ada kesalahan satpam sih, kok bisa-bisanya nomer 24 ada 2 orang, untung mereka ga tengkar. Atau bisa jadi hal itu terjadi karena satpam lagi di-switch ama penggantinya karena dekat-dekat waktu istirahat sih, kurang koordinasi gitu.

Kalau ditanya, bilang aja mau legalisasi ijazah luar negeri, ketemu Pak Nyoman atau Bu Wiwik (kalau dua orang itu belum diganti). Menurut saran seorang teman, lebih baik temui Ibu Wiwik, entah karena si teman itu laki-laki atau karena hal lain. Yang pasti, kemarin ketemu Ibu Wiwik emang orangnya enak banget, enak diajak ngobrol, enak diajak dialog, komunikatif gitu lah plus mau ngasih saran kalau ada masalah.

Sebelum itu, buat lulusan S1 Azhar ni ya, siapkan dulu:
1. Fotokopi ijazah terakhir di Indonesia (tidak harus yang sudah dilegalisasi)
2. Fotokopi ijazah luar negeri yang akan dilegalisasi (plus terjemahan bahasa Inggris)
3. Fotokopi transkrip nilai ijazah luar negeri yang akan dilegalisasi (plus terjemahan bahasa Inggris)
4. Fotokopi paspor lengkap seluruh halaman yang tercantum visa.
5. Katalog tentang universitas Al-Azhar plus fakultas-fakultas n kurikulumnya; bisa memfotokopi buku Ke-Azhar-an keluaran KMA atau Mardhati itu. Atau bisa juga hubungi nomer telpon 08154246***5 kalau mau katalog Azhar berbahasa Inggris yang udah terbukti diterima di situ.
6. Pasfoto (diminta hitam putih, tapi berwarna juga boleh kok) ukuran 4X6 sebanyak tiga lembar.
7. Map. Hehe, kemarin ke sana lupa bawa map coba!

Semua berkas itu, JANGAN LUPA, bawa ASLInya! Karena bakal diliatin n dicocokin sama Bu Wiwik itu, juga Pak Nyoman kali ya, terus distempel khusus. Makanya tadi dibilang tidak harus yang sudah dilegalisasi.

Kan disuruh ngisi formulir tuh (atau bisa juga didownload sebelumnya melalui www.evaluasi.or.id), disarankan untuk menulis sebagai BIAYA SENDIRI aja yah, jadi lebih mudah urusannya, cukup dengan bawa fotokopi paspor. Kecuali kalau memang masih nyimpen surat penunjukan beasiswa, baik dari Depag maupun instansi lainnya.

Terus, menurut pengalaman seorang teman, dia nulis terjemahan ijazah dengan nama sendiri dan nama bapak ditulis sebaris. Ternyata itu dipermasalahin Pak Nyoman (barangkali itu alasannya menyarankan untuk ketemu Bu Wiwik aja).

Setelah berkas masuk, tingal nunggu aja tuh, kira-kira sebulan. Katanya sih ga bakalan lebih dari 21 hari. Wallahu a’lam mana yang bener. Kalau liat selebaran dari sana, evaluasi ijazah dilakukan 6 kali dalam setahun, yaitu tiap bulan genap. Kalau liat papan pengumuman di sana, dilakukan 10 kali dalam tahun 2009 ini, kalau ga salah yang ga ada tu bulan Januari ama Maret gitu. Jadi ke depan setiap bulan sampai akhir 2009 selalu ada evaluasi ijazah, rata-rata dilaksanakan pekan ketiga gitu deh.

Oia, ruangan itu namanya DIREKTORAT AKADEMIK, termasuk bagian dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Depdiknas. So, jangan salah masuk ya. Selamat menikmati layanan Depdiknas!

Pujut, 13 Juni 2009

Wednesday, March 25, 2009

Pemilu Siapa Peduli



Mungkin upah untuk para penyelenggara pemilu kurang. Oh, pemilu termahal sepanjang sejarah.

Friday, February 27, 2009

Buku Baru: Ensiklopedia Akhlak Muhammad


Judul Asli: Mausû’ah Min Akhlâqir-Rasûl saw.
Judul Terjemah: Ensiklopedi Akhlak Nabi Muhammad saw.
Penulis: Mahmud al-Mishri Abu Ammar
Penerbit: Darut-Taqwa Kairo, Mesir
Halaman Asli: 1102
Halaman Terjemahan: 1064
Harga: Rp450.000,- (sebelum diskon)

Seorang muslim pasti berharap selalu dapat hidup bahagia di dunia dan akhirat. Sayangnya di zaman yang sudah amat jauh dari zaman hidup Rasulullah saw. sekarang ini terdapat begitu banyak tantangan. Krisis moral adalah sesuatu yang sudah biasa terjadi dan bahkan terkadang dianggap sebagai hal yang lumrah.

Bukan suatu hal yang mudah untuk menghadapi krisis moral yang sudah sangat rumit. Oleh karena itu, Mahmud al-Mishri yang sadar akan pentingnya menjaga generasi mendatang dari kebobrokan moral, mencoba mengumpulkan berbagai referensi tentang teladan moral yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah saw.

Melalui buku ini, Mahmud al-Mishri menyusun tata moral yang kiranya dapat dijadikan tuntunan untuk mengarungi kehidupan pribadi maupun bermasyarakat. Selain itu, buku ini juga memuat banyak teladan yang diajarkan tidak hanya oleh Nabi Muhammad saw., tapi juga oleh para nabi dan rasul sebelumnya. Ada juga beberapa kisah kontemprorer yang berkaitan dengan tata moral dicantumkan dalam beberapa bab tertentu. Hal ini membuat buku ini terasa lebih dekat dengan masa kini.

Secara umum, semua teladan baik yang telah dilaksanakan oleh para nabi, rasul maupun para sahabat dan tabi’in, sebenarnya berkiblat kepada ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad saw. Karenanya, hampir semua nilai moral yang ada dalam buku ini bersumber dari Al-Qur`an dan Al-Hadits.

Nilai moral yang tercantum dalam buku ini diperinci dalam 29 bab. Dalam bab tertentu, terkadang ada dua poin moral yang disampaikan. Barangkali karena ada kemiripan di antara keduanya sehingga digabung dalam satu bab. Tidak terlalu sulit mencerna isi buku ini karena poin moral yang disampaikan diurutkan dimulai dari tata cara mengatur diri sendiri dan hubungannya dengan Allah, baru kemudian mengulas akhlak-akhlak yang mengatur interaksi dengan orang lain.

Dalam pengantarnya, Mahmud al-Mishri mengakui bahwasanya nilai moral yang sebenarnya ada dan telah diajarkan Nabi saw. jauh lebih banyak dan lebih luas dari yang tertulis dalam buku itu. Namun untuk membentengi diri dari dekadensi moral, buku ini sangatlah layak untuk dijadikan pegangan.[]


Ruang Produksi, 27 Feb 2009