Monday, October 04, 2010

Lebaran Kelas Berat

Hari Raya Idul Fitri selalu disambut dengan suka cita dan kemeriahan. Sesuai umur, berarti sudah dua puluh delapan kali saya melewati hari yang biasa disebut juga sebagai hari raya kemenangan itu. Saya pun menikmati datangnya hari yang oleh Upin dan Ipin disebut hari raye itu. Bahkan selama enam kali merayakan Hari Raya Idul di negeri nan jauh, negeri Firaun, rasanya juga fine-fine saja. Dalam artian, meski jauh dari keluarga, tetap saja bisa melewati raya id dengan riang gembira.

Namun, berbeda sekali dengan Idul Fitri 1430 yang baru lewat ini. Hari raya yang seharusnya bisa disambut dengan begitu bahagia, kali ini rasanya begitu getir. Ya, ada cukup banyak alasan yang bisa membuat kegetiran rasanya tidak mau menjauh dari hati ini. Memang harus bersabar, dan karenanya muncul tulisan ini, sekadar untuk curhat sehingga saya berharap dapat sedikit lega mengeluarkan uneg-uneg yang melanda kalbu.

Alasan pertama dan utama adalah tentu karena lebaran kali ini merupakan lebaran paling awal tanpa ada orang yang sangat saya—dan keluarga—cintai dan butuhkan di tengah kami: Bapak. Saya pribadi mungkin bisa tidak terlalu merasakan kekurangan itu karena saya berlebaran di rumah mertua, yang masih lengkap bahkan dengan jumlah keluarga besar yang jauh lebih banyak dibanding keluarga saya.

Namun, bagaimana dengan Ibu yang untuk pertama kalinya setelah berpuluh-puluh tahun berlebaran tidak ditemani belahan hati? Memang sudah hampir setengah tahun Ibu tidak didampingi Bapak dalam keseharian. Duka mendalam yang dirasakan saat kehilangan Bapak mungkin sudah bisa dilupakan sedikit demi sedikit. Hanya saja, rupanya ujian memang harus terjadi jika memang sudah "dijadwalkan" oleh-Nya.

Hari pertama Idul Fitri, masih seperti tahun-tahun sebelumnya, meski tidak seramai tahun-tahun yang lalu, rumah kami tetap didatangi orang-orang sekampung. Begitulah jika rumah masih ditinggali orang yang sudah tua atau dituakan; senantiasa didatangi banyak orang. Ibu yang pada hari-hari akhir bulan puasa mengerahkan tenaga lebih banyak untuk bersiap berlebaran, kondisi fisiknya menurun, meriang dan batuk-batuk. Alhamdulillah masih kuat menunaikan shalat id, tetapi setelah itu ngedrop.

Di luar itu, sempat ada beberapa orang yang datang, saat bersalaman dengan Ibu, tiba-tiba menangis tersedu-sedu. Apalagi jika yang datang masih sanak keluarga, menangis lebih menjadi-jadi dan tanpa sadar terkadang menyebut atau mengingatkan agar Ibu tabah. Tentu hal ini makin mendekatkan lagi Ibu pada bayang-bayang Bapak. Ibu pun menjadi ikut-ikutan menangis tak bisa menahan sedih ataupun haru. Walhasil, sampai hari kelima lebaran, Ibu masih belum sehat betul. Bahkan pada hari kedua hingga keempat, Ibu menemui tamu dengan tiduran di kamar.

Selain Ibu, rupanya Mas Luqman (kakak ketiga saya) dan Kaisa (2 tahun, putri Mas Luq) juga sakit. Mas Luqman terkena gejala typhus, sementara Kaisa sepertinya gejala demam berdarah. Ada pula Dayat (8 tahun, anak ketiga Mba Anis [kakak pertama saya]) yang terkena radang tenggorokan. Mas Luqman tidak fit dari sekitar dua hari sebelum lebaran sehingga hari pertama lebaran pun tidak bisa keliling kampung bermaaf-maafan.

Kaisa malahan sampai harus dirawat di Puskesmas Rawat Inap Limpung pada siang hari kedua lebaran. Malam harinya, Dayat yang tak kunjung membaik juga akhirnya dibawa ke tempat perawatan yang sama. Awalnya Mba Anis sekadar mau menjenguk Kaisa, tetapi kemudian ditelpon orang rumah bahwa Dayat makin rewel. Mbak Anis pun berinisiatif membawa Dayat ke Puskesmas Rawat Inap pula, paling tidak untuk menemani Kaisa.

Ternyata sore keesokan harinya, Kaisa sudah membaik dan diperbolehkan pulang, sedangkan Dayat justru belum sehat juga. Kaisa pun dibawa pulang sehingga terpaksa Dayat sendirian. Malahan, Dayat sampai tiga hari harus dirawat di Puskesmas. Itupun sebenarnya belum terlalu sehat, tetapi karena Dayat sendiri yang selalu minta dibawa pulang. Begitu pula dengan Kaisa, sesungguhnya sama belum terlalu sehat, karenanya saat dibawa ke rumah masih rewel-rewel saja.

Di permukaan bumi yang lain, tepatnya Nganjuk, Mas Hakim (kakak kedua saya), Mbak Hikmah (kakak keempat saya) dan Mas Malik (suami Mbak Hikmah) beserta kedua anak, hendak sungkem pada Ibu, berangkat pada hari kedua malam sekitar pukul 23.00. Baru sekitar lima kilometer perjalanan, rupanya ada pula ujian yang harus mereka lalui. Zebra milik Mas Malik yang mereka tumpangi harus mogok. Mereka pun tidak bisa melanjutkan perjalanan.

Selalu ada solusi dalam setiap permasalahan. Mereka pun memilih kembali dan menyervis mobil di rumah daripada kelak dalam perjalanan harus mogok lagi. Setelah itu, Mas Malik dan Mas Hakim terpaksa ke Jombang untuk mengambil Super Carry milik Mas Hakim. Keesokan paginya, mereka baru bisa melakukan perjalanan lagi. Itupun bukan perjalanan yang mulus-mulus saja karena macet mengadang di mana-mana. Perjalanan yang biasanya dapat ditempuh dalam 7-8 jam, kali ini memakan waktu 15 jam lebih.

Memang lebaran yang berat untuk kami. Ya Allah, kuatkan hati kami dan seluruh kaum muslimin.[]

Demblaksari, 1 Oktober 2010


Khasiat Shalawat

Tadi subuh serasa ada yang menggerakkan tangan untuk memencet remot TV, rupanya menuju SCTV, sebuah film komedi produksi Hongkong. Genre favorit nih. Namun, baru sekian adegan tiba-tiba beralih menuju siaran SCTV lokal Yogyakarta. Hmm... bakal ada siaran yang sedikit amatiran pastinya, pikirku. Remot pun dipencet-pencet lagi berubah-ubah saluran.

Tidak ada juga acara yang cocok hingga akhirnya kembali ke SCTV. Tampak seorang yang memakai blangkon tengah ceramah, menerangkan tentang... shalawat. Tentu shalawat kepada Baginda Rasul Muhammad. Hmm, asyik juga cara SCTV Jogja menunjukkan identitas daerah. Pakaian yang njawani, tetap isi ceramahnya sungguh universal, untuk kalangan penganut agama Islam tentunya.

Dengan bahasa yang renyah dan diselingi candaan-candaan yang rada garing, dipikir-pikir sayang nih tidak mengikuti dari awal sehingga tidak tahu siapa nama penceramahnya. Guyonan yang dimunculkan sebenarnya asyik juga, tetapi karena tidak dihadapi audiens langsung sehingga tidak ada yang tertawa, menjadikan suasana garing. Saya mau tertawa sendiri tentu juga tidak lucu karena hari masih benar-benar sepi.

Saat mendengar ceramah ustadz (demikian ia mengidentifikasi dirinya sendiri) ini, saya mendapatinya tengah menerangkan bahwa seseorang kelak akan bersama orang yang dicintainya. Ia lalu menafsirkan bahwa jika seseorang mencintai artis maka kelak di akhirat orang itu akan bersama artis. Hubungannya dengan shalawat, sang ustadz melanjutkan, jika seseorang kelak ingin berada di surga, ditemani Rasulullah, maka tentu harus mencintai beliau. Nah, salah satu cara yang paling mudah sebagai implementasi mencintai Rasulullah adalah sering-sering membaca shalawat.

Sang ustadz juga mendakwahkan bahwa shalawat memiliki banyak manfaat. Di antaranya sebagai "pengabul" doa, dalam artian dengan diiringi shalawat maka doa tidak akan ditolak oleh Allah swt. Hal ini sudah banyak contohnya. Sebut saja kisah manusia pertama, Nabi Adam, yang dahulu dikeluarkan dari surga dan diturunkan ke bumi, demikian halnya sang istri, Siti Hawa, tetapi keduanya dipisahkan jauh-jauh.

Begitu kangennya Nabi Adam kepada sang istri sehingga selalu berdoa, meminta kepada Allah agar ia dipertemukan lagi dengan Siti Hawa. Bertahun-tahun Nabi Adam berjalan sendirian menyusuri permukaan bumi untuk mencari sang istri tercinta. Selama itu pula ia selalu berdoa memohon bantuan Allah agar segera bisa bertemu Siti Hawa; dan selama itu pula doanya tidak juga dikabulkan Allah.

Hingga suatu ketika Nabi Adam teringat sebuah tulisan di salah satu pintu surga: Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Ia pun kembali memanjatkan doa: Ya Allah, atas kemuliaan asma Muhammad yang tertera di pintu surga, pertemukanlah aku dengan istriku. Tidak lama setelah itu, benar saja, di jabal Rahmah, keduanya bertemu kembali.

Dalam kisah lain, sang ustadz menukil dari kitab Durratun Nashihin, ada seorang yang ketika hidup berkulit putih dan wajahnya pun senantiasa berseri-seri. Namun, saat ajal menjemput, setelah dikafani dan dishalati, ternyata wajahnya berubah menjadi berwarna hitam. Keluarganya yang melihat pun menangis. Apalagi setelah itu muncul sas-sus yang menyebutkan bahwa orang itu berarti mati dalam keadaan su`ul khatimah.

Saat tidur, anak orang yang meninggal itu bermimpi. Dalam mimpinya, ia melihat Rasulullah saw. mendatangi jenazah ayahnya. Beliau terlihat membuka kain kafan sang ayah, lalu mengusap wajahnya dengan tangan beliau yang mulia. Ajaib, seketika itu pula wajah jenazah itu berubah menjadi putih berseri lagi. Sang anak pun heran, bagaimana mungkin Baginda Rasul mau mendatangi ayahnya yang menurut banyak orang dianggap STMJ: shalat terus maksiat jalan.

Sang anak pun bertanya kepada Rasulullah mengapa beliau mau mendatangi ayahnya dan memberikan syafaat beliau kepadanya. Rasulullah menjawab bahwa beliau mendatangi ayahnya karena ayahnya itu rajin membaca shalawat kepada beliau. Setiap kali ada waktu senggang, rupanya sang ayah selalu membacakan shalawat kepada Rasulullah.

Saat terbangun dari tidurnya, sang anak pun segera mendatangi jenazah ayahnya yang memang belum dikuburkan. Ia membuka kain kafan yang menutupi wajah ayahnya. Masyaallah, rupanya apa yang ada dalam mimpinya benar-benar nyata; wajah ayahnya kembali terlihat cerah berseri-seri.

Ada pula cerita lain dari Turki. Alkisah, ada seorang yang begitu mencintai Rasulullah hingga ia menciptakan beberapa bait syair khusus yang berisi shalawat untuk beliau. Bait yang dirangkai nan indah itu pun senantiasa ia panjatkan kepada Rasulullah. Dalam bait itu ia juga mengungkapkan betapa ia sangat merindukan Tanah Suci. Namun, apa daya, ia bukanlah orang yang cukup mampu untuk pergi haji.

Pada saat yang lain, ia juga menulis Alquran secara lengkap dengan tangannya sendiri. Setelah selesai menulis Alquran itu, ia berwasiat kepada anaknya bahwa kelak jika ia meninggal dunia, Alquran hasil tulisan tangan sendiri itu ikut dikuburkan bersama jasadnya. Ketika ia wafat, sang anak pun melaksanakan wasiat ayahnya itu.

Sekitar sepuluh tahun kemudian, sang anak ditakdirkan menjadi orang berada dan memiliki cukup bekal untuk menunaikan ibadah haji. Ia pun berangkat ke Tanah Suci untuk melaksanakan rukun Islam kelima. Di Tanah Suci, selain beribadah, ia menyempatkan diri untuk mampir ke sebuah toko membeli sesuatu. Di toko itu, rupanya ia melihat sebuah Alquran yang menurutnya sangat familiar biasa ia lihat. Saat Alquran itu ia buka, ia sangat takjub, sepertinya Alquran itu persis sekali dengan Alquran hasil tulisan tangan ayahnya.

Ia pun bertanya kepada penjaga toko dari mana mendapatkan Alquran tersebut. Penjaga toko menjawab bahwa Alquran itu didapatkan dari seorang penggali kubur. Sang anak pun meminta dipertemukan dengan penggali kubur dimaksud. Saat bertemu, sang anak bertanya dari mana si penggali kubur menemukan Alquran itu. Si penggali kubur bercerita bahwa saat menggali kubur di Madinah, ia mendapati Alquran tersebut di dalam liang lahat. Sang anak pun meminta diantar ke kuburan dimaksud.

Penggali kubur mengantarkan sang anak ke Madinah tepat di mana ia menemukan Alquran. Sang anak lalu meminta penggali kubur untuk membuka kembali liang lahat tempat ditemukannya Alquran tadi. Luar biasa, saat digali, kain kafan yang menyelimuti jasad itu masih utuh, demikian juga dengan tubuh yang dikubur. Saat melihat jasad itu secara lengkap, sang anak kaget bukan main karena jasad itu adalah jasad ayahnya. Karena syafaat Rasulullah, jasad sang ayah rupanya berpindah dari Turki ke Tanah Suci.[]

Demblaksari, 1 Oktober 2010

Wednesday, September 29, 2010

Syafaat Alquran

Sudah sangat banyak cerita betapa Alquran bisa membantu orang yang "memegang"nya. Kali ini pun ada satu cerita lagi tentang syafaat yang didapatkan dari Alquran. Cerita ini saya dapat saat buka puasa bersama tanggal 27 Ramadhan kemarin bersama alumni almamater MAK TBS Kudus.

Salah seorang adik kelas jauh saya memang seorang hafidz. Kebetulan dia juga seorang gus, putra kiai pengasuh pesantren. Dia yang sejak lulus aliyah dua tahun lalu begitu bersemangat ingin melanjutkan kuliah di Tanah Suci, tahun ini mendapatkan kelempangan jalan.

Beberapa waktu yang lalu, dia ikut tes muqabalah (penerimaan) masuk Universitas Islam Madinah. Tes yang ia ikuti di Pondok Modern Gontor, Ponorogo, Jatim, diikuti ratusan peserta. Ia begitu bersyukur karena dari hampir 90-an peserta yang akhirnya diumumkan diterima untuk kuliah di Kota Suci, posisinya cukup bagus, di angka 20-an. Walaupun sebelumnya ia sangat berhasrat untuk bisa kuliah di Mekah, tetapi diterima di Madinah baginya juga patut disyukuri.

Kali ini bukan dia yang mendapatkan syafaat Alquran, tetapi seorang teman yang baru ia kenal saat masa-masa tes di Gontor itu. Saya sendiri lupa siapa nama temannya itu, tetapi sebut saja Manan, misalnya. Manan ini berasal jauh dari luar Jawa, Ambon kalau tidak salah. Kulitnya yang tidak secerah orang Indonesia bagian barat menarik si gus untuk menyapa.

Saat ditanya, ternyata si Manan sudah tiga hari berada di Gontor. Manan yang menghafal Alquran di sebuah pesantren di daerah Solo mengaku tidak berani maju mengikuti tes wawancara. Karena itu, selama tiga hari pula ia hanya mondar-mandir berusaha mengumpulkan keberanian untuk maju tes. Kepada si gus, Manan beralasan takut mengikuti tes wawancara karena sama sekali tidak bisa bahasa Arab. Untuk membesarkan hati Manan, si gus pun mengaku ia hanya sedikit-sedikit bisa berbahasa Arab, tetapi karena keinginan yang begitu kuat untuk kuliah di Tanah Suci, ia bertekad untuk maju mengikuti tes.

Demi menolong Manan, si gus pun memberi saran agar Manan memberanikan diri mengikuti interview, apalagi diketahui bahwa Manan ini hafal Alquran 30 juz. Manan berkilah bahwa bagaimana mungkin ia bisa mengikuti wawancara, sementara pengujinya didatangkan langsung dari Universitas Islam Madinah yang tentu saja melakukan wawancara dengan bahasa Arab.

Untuk itu, si gus memberi solusi agar Manan menghafalkan sebuah kalimat yang redaksinya kira-kira begini: ana lam astathi' an atakallam al-lughah al-Arabiyyah, wa lakin ana hafizh Alquran kulluh (Saya tidak bisa berbahasa Arab sama sekali, tetapi saya hafal Alquran 30 juz). Oleh Manan, kalimat ini ditulis dalam sebuah kertas.

Manan akhirnya mampu memberanikan diri maju mengikuti tes wawancara, berbarengan dengan si gus (karena bareng inilah si gus bisa menceritakan kisah syafaat Alquran ini). Saat dites, pertanyaan pertama untuk Manan adalah masmuk? (Siapa namamu?). Karena betul-betul buta atas bahasa Arab, Manan tidak tahu apa arti pertanyaan untuknya. Namun, tanpa ragu, ia pun mengeluarkan secarik kertas dan dengan tenang menjawab pertanyaan itu dengan membaca tulisan dalam kertas itu: ana lam astathi' an atakallam al-lughah al-Arabiyyah, wa lakin ana hafizh Alquran kulluh. Sang penguji hanya tersenyum, atau tertawa.

Setelah itu, penguji membaca potongan ayat Alquran dan meminta Manan untuk meneruskan ayat tersebut. Lancar. Ayat berikutnya diujikan, Manan lancar lagi melanjutkannya. Sampai beberapa potongan ayat dibacakan kepada Manan dan ia selalu saja bisa melanjutkannya dengan lancar. Penguji tampak puas dengan Manan hingga ia mengatakan—tentu saja dalam bahasa Arab—kepada Manan bahwa ia menjamin Manan akan lulus dan bisa berkuliah di Madinah. Manan yang tidak tahu apa yang diucapkan sang penguji hanya tersenyum.

Setelah keluar ruang ujian, Manan bertanya kepada si gus sebenarnya tadi apa yang dikatakan penguji di akhir tes. Si gus menjawab apa adanya bahwa itu jaminan kepadanya untuk bisa kuliah di Tanah Suci. Manan pun seperti tidak percaya, tetapi terpancar rasa syukur dan lega di wajahnya.

Benar saja, saat pengumuman penerimaan muncul, nama Manan benar-benar ada! Masya Allah, betapa banyak syafaat Alquran di dunia ini, bagaimana saat di akhirat nanti ya? Allahummaj'alna min ahlil-Qur`an....[]


Demblaksari, 27 September 2010

Sunday, August 22, 2010

Hadits Fase-Fase yang Dialami Manusia

1. Shahih Bukhari

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ وَكَّلَ فِي الرَّحِمِ مَلَكًا فَيَقُولُ يَا رَبِّ نُطْفَةٌ يَا رَبِّ عَلَقَةٌ يَا رَبِّ مُضْغَةٌ فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَخْلُقَهَا قَالَ يَا رَبِّ أَذَكَرٌ أَمْ أُنْثَى يَا رَبِّ شَقِيٌّ أَمْ سَعِيدٌ فَمَا الرِّزْقُ فَمَا الْأَجَلُ فَيُكْتَبُ كَذَلِكَ فِي بَطْنِ أُمِّهِ.

Artinya:
Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Sesungguhnya Allah swt. mengutus seorang malaikat untuk diserahi (mengurus) setiap rahim. Malaikat itu berkata, 'Wahai Tuhanku, ada setetes mani (di rahim).' Malaikat itu berkata lagi, 'Wahai Tuhanku, ada segumpal darah.' Malaikat itu berkata lagi, 'Wahai Tuhanku, ada segumpal daging.' Ketika Allah swt. berkehendak untuk menciptakannya (manusia), malaikat itu berkata, 'Wahai Tuhanku, (manusia ini akan Engkau ciptakan sebagai) laki-laki atau perempuan? Dia akan ditakdirkan sebagai orang yang sengsara aau bahagia? Bagaimana rezekinya? Kapan kematiannya?' Segala hal yang berkaitan dengan itu semua sesungguhnya sudah ditetapkan sejak manusia ada di perut ibunya." (HR. Bukhari)

2. Shahih Bukhari

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ حَدَّثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوقُ إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَبْعَثُ اللَّهُ إِلَيْهِ مَلَكًا بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ فَيُكْتَبُ عَمَلُهُ وَأَجَلُهُ وَرِزْقُهُ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ ثُمَّ يُنْفَخُ فِيهِ الرُّوحُ فَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُ الْجَنَّةَ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُ النَّارَ.

Artinya:
Abdullah (bin Mas'ud) meriwayatkan bahwa Rasulullah saw.—beliau orang yang jujur dan dapat dipercaya—bersabda, "Sesungguhnya (benih) setiap orang dari kalian ada di dalam perut ibunya selama empat puluh hari, lalu menjadi segumpal darah, juga selama empat puluh hari, lalu menjadi segumpal daging, juga selama empat puluh hari. Kemudian Allah mengutus seorang malaikat untuk mencatat ketetapan empat hal baginya, yaitu (1) amal perbuatannya, (2) kematiannya, (3) rezekinya, dan (4) kesengsaraan atau kebahagiaannya. Setelah itu, janin itu diberi roh (jiwa). Sesungguhnya jika seorang laki-laki yang selama hidupnya senantiasa menjalankan amal selayaknya para ahli neraka sehingga jarak antara dirinya dan neraka itu hanya tinggal sejengkal langkah, tetapi dalam catatan ketentuan (yang sudah ada sejak ia di dalam perut ibunya) itu ia ditetapkan melakukan amal perbuatan ahli surga, lalu ia melakukan perbuatan itu ( di akhir hidupnya) maka ia akan dimasukkan ke dalam surga. Sesungguhnya jika seorang laki-laki yang selama hidupnya senantiasa menjalankan amal selayaknya para ahli surga sehingga jarak antara dirinya dan surga itu hanya tinggal sejengkal langkah, tetapi dalam catatan ketentuan (yang sudah ada sejak ia di dalam perut ibunya) itu ia ditetapkan melakukan amal perbuatan ahli neraka, lalu ia melakukan perbuatan itu (di akhir hidupnya) maka ia akan dimasukkan ke dalam neraka." (HR Bukhari)

3. Shahih Muslim

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوقُ إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا ثُمَّ يَكُونُ فِي ذَلِكَ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَكُونُ فِي ذَلِكَ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ فَوَالَّذِي لَا إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا.

Artinya:
Abdullah (bin Mas'ud) meriwayatkan bahwa Rasulullah saw.—beliau orang yang jujur dan dapat dipercaya—bersabda, "Sesungguhnya (benih) setiap orang dari kalian ada di dalam perut ibunya selama empat puluh hari, lalu selama empat puluh hari pula ia menjadi segumpal darah, lalu selama empat puluh hari pula ia menjadi segumpal daging. Kemudian Allah mengutus seorang malaikat kepadanya. Roh pun ditiupkan kepada benih itu, lalu ditetepkanlah kepadanya empat hal, yaitu (1) rezekinya, (2) kematiannya, (3) amal perbuatannya, dan (4) kesengsaraan atau kebahagiaannya. Demi Dzat yang tiada tuhan selain diri-Nya, sesungguhnya jika seseorang di antara kalian yang selama hidupnya senantiasa menjalankan amal selayaknya para ahli surga sehingga jarak antara dirinya dan surga itu hanya tinggal sejengkal langkah, tetapi dalam catatan ketentuan (yang sudah ada sejak ia di dalam perut ibunya) itu ia ditetapkan melakukan amal perbuatan ahli neraka, lalu ia melakukan perbuatan itu ( di akhir hidupnya) maka ia akan dimasukkan ke dalam neraka. Sesungguhnya jika seseorang di antara kalian yang selama hidupnya senantiasa menjalankan amal selayaknya para ahli neraka sehingga jarak antara dirinya dan neraka itu hanya tinggal sejengkal langkah, tetapi dalam catatan ketentuan (yang sudah ada sejak ia di dalam perut ibunya) itu ia ditetapkan melakukan amal perbuatan ahli surga, lalu ia melakukan perbuatan itu ( di akhir hidupnya) maka ia akan dimasukkan ke dalam surga." (HR Muslim)

4. Musnad Ahmad

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ مَرَّ يَهُودِيٌّ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يُحَدِّثُ أَصْحَابَهُ فَقَالَتْ قُرَيْشٌ يَا يَهُودِيُّ إِنَّ هَذَا يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ فَقَالَ لَأَسْأَلَنَّهُ عَنْ شَيْءٍ لَا يَعْلَمُهُ إِلَّا نَبِيٌّ قَالَ فَجَاءَ حَتَّى جَلَسَ ثُمَّ قَالَ يَا مُحَمَّدُ مِمَّ يُخْلَقُ الْإِنْسَانُ قَالَ يَا يَهُودِيُّ مِنْ كُلٍّ يُخْلَقُ مِنْ نُطْفَةِ الرَّجُلِ وَمِنْ نُطْفَةِ الْمَرْأَةِ فَأَمَّا نُطْفَةُ الرَّجُلِ فَنُطْفَةٌ غَلِيظَةٌ مِنْهَا الْعَظْمُ وَالْعَصَبُ وَأَمَّا نُطْفَةُ الْمَرْأَةِ فَنُطْفَةٌ رَقِيقَةٌ مِنْهَا اللَّحْمُ وَالدَّمُ فَقَامَ الْيَهُودِيُّ فَقَالَ هَكَذَا كَانَ يَقُولُ مَنْ قَبْلَكَ.
Artinya:
Abdullah meriwayatkan bahwa seorang Yahudi lewat di depan Rasulullah saw. Orang Yahudi itu tengah berbincang-bincang dengan teman-temannya. Seorang Quraisy bertanya kepada orang Yahudi itu, 'Wahai orang Yahudi, orang ini (Rasulullah saw.) menyangka bahwa dirinya adalah seorang nabi.' Orang Yahudi menjawab, 'Kalau begitu, aku akan menanyakannya tentang sesuatu yang hanya diketahui oleh nabi.' Orang Yahudi itu pun mendatangi Rasulullah saw., lalu duduk di dekat beliau, kemudian berkata, 'Wahau Muhammad, dari apakah manusia diciptakan?' Rasulullah saw. menjawab, 'Wahai orang Yahudi, setiap manusia diciptakan dari campuran antara mani laki-laki dan mani perempuan. Mani laki-laki merupakan mani yang tebal (keras, kuat), darinya tumbuh tulang dan sel saraf. Adapun mani perempuan merupakan mani yang lembut (halus), darinya tumbuh daging dan darah.' Orang Yahudi itu lalu berdiri dan berkata, 'Begitulah jawaban para nabi sebelum dirimu.'" (HR Ahmad)

[]

Tuesday, July 27, 2010

Hadits tentang Keutamaan Surah-Surah di dalam Al-Qur`an

إِنَّ لِكُلِّ شَيْءٍ قَلْبًا وَقَلْبُ الْقُرْآنِ يس وَمَنْ قَرَأَ يس كَتَبَ اللَّهُ لَهُ بِقِرَاءَتِهَا قِرَاءَةَ الْقُرْآنِ عَشْرَ مَرَّاتٍ.

Rasulullah saw. bersabda, "Sesungguhnya segala sesuatu itu memiliki jantung, sementara jantung al-Qur`an adalah surah Yasin. Barang siapa yang membaca surah Yasin maka Allah swt. mencatat bahwasanya ia telah membaca al-Qur`an sebanyak sepuluh kali." (HR. Tirmidzi)


عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّهُ سَمِعَ رَجُلًا يَقْرَأُ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ يُرَدِّدُهَا فَلَمَّا أَصْبَحَ غَدَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ وَكَأَنَّ الرَّجُلَ يَتَقَالُّهَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ

Abu Sa'id al-Khudri meriwayatkan bahwa ia mendengar seorang laki-laki membaca surah al-Ikhlash secara berulang-ulang. Keesokan paginya, Abu Sa'id memberitahukan hal itu kepada Rasulullah saw. dan mengungkapkan bahwa laki-laki itu masih menganggap bahwa ia membaca (mengetahui) terlalu sedikit dari al-Qur`an. Rasulullah saw. pun bersabda, "Demi Dzat yang jiwaku ada dalam genggaman-Nya, sesungguhnya surah al-Ikhlash itu bobotnya sama dengan sepertiga al-Qur`an." (HR. Malik)


سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ أَقْبَلْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَمِعَ رَجُلًا يَقْرَأُ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَبَتْ فَسَأَلْتُهُ مَاذَا يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ الْجَنَّةُ

Abu Hurairah meriwayatkan, "Aku pernah bersama Rasulullah saw. dan mendengar seorang laki-laki membaca surah al-Ikhlash. Beliau pun bersabda, 'Wajib baginya.' Aku bertanya, 'Wajib bagaimana wahai Rasullullah?' Beliau menjawab, 'Wajib baginya surga.'" (HR. Malik)

عَنْ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ أَنَّهُ أَخْبَرَهُ أَنَّ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ وَأَنَّ تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ تُجَادِلُ عَنْ صَاحِبِهَا

Humaid bin Abdurrahman bin Auf meriwayatkan bahwa surah al-Ikhlash bobotnya sama dengan sepertiga al-Qur`an dan bahwa surah al-Mulk akan menjadi juru debat (pembela) bagi orang yang membacanya. (HR. Malik)


...قَالَ أَتُحِبُّ أَنْ أُعَلِّمَكَ سُورَةً لَمْ يَنْزِلْ فِي التَّوْرَاةِ وَلَا فِي الْإِنْجِيلِ وَلَا فِي الزَّبُورِ وَلَا فِي الْفُرْقَانِ مِثْلُهَا قَالَ نَعَمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَيْفَ تَقْرَأُ فِي الصَّلَاةِ قَالَ فَقَرَأَ أُمَّ الْقُرْآنِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا أُنْزِلَتْ فِي التَّوْرَاةِ وَلَا فِي الْإِنْجِيلِ وَلَا فِي الزَّبُورِ وَلَا فِي الْفُرْقَانِ مِثْلُهَا وَإِنَّهَا سَبْعٌ مِنْ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ الَّذِي أُعْطِيتُهُ

...Rasulullah saw. bertanya (kepada Ubai bin Ka'ab), "Apakah kamu mau aku ajarkan tentang satu surah al-Qur`an yang tidak diturunkan dalam kitab Taurat, Injil, maupun Zabur? Tidak ada pula surah lain di dalam al-Qur`an yang menyerupainya." Ubai menjawab, "Tentu saja, wahai Rasulullah." Beliau lalu bertanya, "Apa yang kamu baca ketika melaksanakan shalat?" Ubai menjawab bahwa ia membaca surah al-Fatihah. Rasulullah saw. kemudian bersabda, "Demi Dzat yang jiwaku ada dalam genggaman-Nya, itulah surah yang tidak diturunkan dalam kitab Taurat, Injil, maupun Zabur? Tidak ada pula surah lain di dalam al-Qur`an yang menyerupainya. Surah al-Fatihah itu merupakan tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan merupakan pembuka bagi al-Qur`an yang diberikan kepadaku." (HR. Tirmidzi)

لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ وَإِنَّ الْبَيْتَ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ الْبَقَرَةُ لَا يَدْخُلُهُ الشَّيْطَانُ
"Janganlah kalian jadikan rumah kalian seperti kuburan (sepi). Sesungguhnya rumah yang di dalamnya dibacakan surah al-Baqarah tidak akan dimasuki setan." (HR. Tirmidzi)

لِكُلِّ شَيْءٍ سَنَامٌ وَإِنَّ سَنَامَ الْقُرْآنِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ وَفِيهَا آيَةٌ هِيَ سَيِّدَةُ آيِ الْقُرْآنِ هِيَ آيَةُ الْكُرْسِيِّ
"Segala sesuatu itu memiliki puncak, sementara puncak al-Qur`an adalah surah al-Baqarah. Di dalam surah al-Baqarah ini terdapat ibu (tuan putri) dari semua ayat al-Qur`an, yaitu ayat kursi." (HR. Tirmidzi)

مَنْ قَرَأَ حم الْمُؤْمِنَ إِلَى { إِلَيْهِ الْمَصِيرُ } وَآيَةَ الْكُرْسِيِّ حِينَ يُصْبِحُ حُفِظَ بِهِمَا حَتَّى يُمْسِيَ وَمَنْ قَرَأَهُمَا حِينَ يُمْسِي حُفِظَ بِهِمَا حَتَّى يُصْبِحَ
"Barang siapa yang membaca surah al-Mu`min (Ghafir) ayat 1—3 dan ayat kursi pada pagi hari maka ia akan dijaga sampai sore hari dan barang siapa yang membaca keduanya pada sore hari maka ia akan dijaga sampai pagi hari." (HR. Tirmidzi)

مَنْ قَرَأَ الْآيَتَيْنِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ فِي لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ
"Barang siapa yang membaca dua ayat terakhir surah al-Baqarah maka itu sudah cukup baginya." (HR. Tirmidzi)

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ كِتَابًا قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ بِأَلْفَيْ عَامٍ أَنْزَلَ مِنْهُ آيَتَيْنِ خَتَمَ بِهِمَا سُورَةَ الْبَقَرَةِ وَلَا يُقْرَأَانِ فِي دَارٍ ثَلَاثَ لَيَالٍ فَيَقْرَبُهَا شَيْطَانٌ
"Sesungguhnya Allah swt. telah mencatat (memastikan atau menentukan) sejak dua ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi bahwa Dia akan menurunkan dua ayat yang menjadi penutup surah al-Baqarah. Jika dua ayat itu dibaca di sebuah rumah selama tiga hari berturut-turut maka rumah itu tidak akan didekati setan." (HR. Tirmidzi)

بَيْنَمَا رَجُلٌ يَقْرَأُ سُورَةَ الْكَهْفِ إِذْ رَأَى دَابَّتَهُ تَرْكُضُ فَنَظَرَ فَإِذَا مِثْلُ الْغَمَامَةِ أَوْ السَّحَابَةِ فَأَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تِلْكَ السَّكِينَةُ نَزَلَتْ مَعَ الْقُرْآنِ أَوْ نَزَلَتْ عَلَى الْقُرْآنِ
"Ada seorang laki-laki yang tengah membaca surah al-Kahfi lalu tiba-tiba ia melihat kudanya menghentak-hentakkan kakinya, kemudian sebuah awan atau mendung menaungi ia dan kudanya. Laki-laki itu pun segera mendatangi Rasulullah saw. dan menceritakan apa yang telah ia alami. Rasulullah saw. lalu bersabda, 'Itulah ketenangan yang turun bersama al-Qur`an.'" (HR. Tirmidzi)

مَنْ قَرَأَ حم الدُّخَانَ فِي لَيْلَةٍ أَصْبَحَ يَسْتَغْفِرُ لَهُ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ
"Barang siapa yang membaca surah ad-Dukhan pada suatu malam maka akan ada tujuh puluh ribu malaikat meminta ampunan untuknya. " (HR. Tirmidzi)

مَنْ قَرَأَ حم الدُّخَانَ فِي لَيْلَةِ الْجُمُعَةِ غُفِرَ لَهُ
"Barang siapa yang membaca surah ad-Dukhan pada malam Jumat maka dosa-dosanya akan diampuni. " (HR. Tirmidzi)

ضَرَبَ بَعْضُ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خِبَاءَهُ عَلَى قَبْرٍ وَهُوَ لَا يَحْسِبُ أَنَّهُ قَبْرٌ فَإِذَا فِيهِ إِنْسَانٌ يَقْرَأُ سُورَةَ تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ حَتَّى خَتَمَهَا فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي ضَرَبْتُ خِبَائِي عَلَى قَبْرٍ وَأَنَا لَا أَحْسِبُ أَنَّهُ قَبْرٌ فَإِذَا فِيهِ إِنْسَانٌ يَقْرَأُ سُورَةَ تَبَارَكَ الْمُلْكِ حَتَّى خَتَمَهَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هِيَ الْمَانِعَةُ هِيَ الْمُنْجِيَةُ تُنْجِيهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ
Ada seorang sahabat Rasulullah saw. memasang tenda di atas kuburan karena ia tidak tahu bahwa di bawah tendanya adalah kuburan. Ia baru menyadari setelah melihat seseorang membaca surah al-Mulk hingga selesai. Ia pun kemudian mendatangi Rasulullah saw. dan berkata, "Wahai Rasulullah, aku memasang tenda di atas kuburan karena sebelumnya aku tidak tahu kalau itu adalah kuburan. Aku baru menyadarinya setelah melihat seseorang membaca surah al-Mulk hingga selesai." Rasulullah saw. lalu bersabda, "Surah al-Mulk itu bisa menjadi penahan (siksaan bagi mayit). Surah itu juga menjadi penyelamat yang bisa menyelamatkan mayit dari siksa kubur." (HR. Tirmidzi)

إِنَّ سُورَةً مِنْ الْقُرْآنِ ثَلَاثُونَ آيَةً شَفَعَتْ لِرَجُلٍ حَتَّى غُفِرَ لَهُ وَهِيَ سُورَةُ تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ
"Sesungguhnya ada satu surah di dalam al-Qur`an yang terdiri dari tiga puluh ayat. Surah itu akan memberikan syafaat kepada seorang laki-laki yang membacanya sampai laki-laki itu diampuni dosa-dosanya. Surah itu adalah surah al-Mulk." (HR. Tirmidzi)

مَنْ قَرَأَ إِذَا زُلْزِلَتْ عُدِلَتْ لَهُ بِنِصْفِ الْقُرْآنِ وَمَنْ قَرَأَ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ عُدِلَتْ لَهُ بِرُبُعِ الْقُرْآنِ وَمَنْ قَرَأَ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ عُدِلَتْ لَهُ بِثُلُثِ الْقُرْآنِ
"Barang siapa yang membaca surah az-Zalzalah maka ia dianggap telah membaca setengah al-Qur`an. Barang siapa yang membaca surah al-Kafirun maka ia dianggap telah membaca seperempat al-Qur`an. Barang siapa yang membaca surah al-Ikhlash maka ia dianggap telah membaca sepertiga al-Qur`an." (HR. Tirmidzi)

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِرَجُلٍ مِنْ أَصْحَابِهِ هَلْ تَزَوَّجْتَ يَا فُلَانُ قَالَ لَا وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا عِنْدِي مَا أَتَزَوَّجُ بِهِ قَالَ أَلَيْسَ مَعَكَ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ قَالَ بَلَى قَالَ ثُلُثُ الْقُرْآنِ قَالَ أَلَيْسَ مَعَكَ إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ قَالَ بَلَى قَالَ رُبُعُ الْقُرْآنِ قَالَ أَلَيْسَ مَعَكَ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ قَالَ بَلَى قَالَ رُبُعُ الْقُرْآنِ قَالَ أَلَيْسَ مَعَكَ إِذَا زُلْزِلَتْ الْأَرْضُ قَالَ بَلَى قَالَ رُبُعُ الْقُرْآنِ قَالَ تَزَوَّجْ
Sesungguhnya Rasulullah saw. pernah bertanya kepada seorang laki-laki, "Apakah kamu sudah menikah, wahai fulan?" Laki-laki itu menjawab, "Demi Allah, aku belum menikah, wahai Rasulullah. Aku memang tidak memiliki apa-apa untuk sekadar dijadikan mahar." Rasulullah saw. bertanya, "Tidakkah kamu hafal surah al-Ikhlash?" Laki-laki itu menjawab, "Ya, aku hafal." Beliau menimpali, "Itu sepertiga al-Qur`an," lalu bertanya lagi, "Tidakkah kamu hafal surah an-Nashr?" Laki-laki itu menjawab, "Ya, aku hafal." Beliau menimpali, "Itu seperempat al-Qur`an," lalu bertanya lagi, "Tidakkah kamu hafal surah al-Kafirun?" Laki-laki itu menjawab, "Ya, aku hafal." Beliau menimpali, "Itu seperempat al-Qur`an," lalu bertanya lagi, "Tidakkah kamu hafal surah az-Zalzalah?" Laki-laki itu menjawab, "Ya, aku hafal." Beliau menimpali, "Itu seperempat al-Qur`an," lalu melanjutkan, "Kalau begitu menikahlah!" (HR. Tirmidzi)

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَقْرَأَ بِالْمُعَوِّذَتَيْنِ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ
Uqbah bin Amir berkata, "Rasulullah saw. memerintahkan aku agar aku senantiasa membaca surah al-Falaq dan surah an-Nas setiap kali selesai melaksanakan shalat (fardhu)." (HR. Tirmidzi)

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الْعِيدَيْنِ وَفِي الْجُمُعَةِ بِسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى وَهَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ قَالَ وَإِذَا اجْتَمَعَ الْعِيدُ وَالْجُمُعَةُ فِي يَوْمٍ وَاحِدٍ يَقْرَأُ بِهِمَا أَيْضًا فِي الصَّلَاتَيْنِ
Ketika shalat dua hari raya dan shalat jumat, Rasulullah saw. membaca surah al-A'la dan surah al-Ghasyiyah. Jika hari raya bertepatan dengan hari Jumat maka beliau tetap membaca dua surah tersebut saat shalat id maupun shalat jumatnya. (HR. Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa`i, dan Ahmad)

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْرَأُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فِي صَلَاةِ الصُّبْحِ الم تَنْزِيلُ وَ هَلْ أَتَى عَلَى الْإِنْسَانِ وَفِي صَلَاةِ الْجُمُعَةِ بِسُورَةِ الْجُمُعَةِ وَالْمُنَافِقِينَ
Sesungguhnya ketika shalat shubuh pada hari Jumat, Rasulullah saw. membaca surah as-Sajdah dan surah al-Insan. Adapun saat shalat jumat beliau membaca surah al-Jumu'ah dan surah al-Munafiqun. (HR. Nasa`i)