Thursday, December 09, 2010

Kesempatan Emas Mengiringi Muharram

Allah swt. berfirman,
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَات وَالأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ....
"Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram...." (QS. At-Taubah [9]: 36)

Secara etimologi, haram berarti suci. Maksud dari bulan haram seperti disebutkan ayat ini memang bulan suci. Kitab-kitab turats menjelaskan bahwa bulan suci sebagaimana disebutkan dalam ayat tadi yaitu tiga bulan berturut-turut, yakni Dzulqa'dah, Dzulhijjah, dan Muharram; ditambah Rajab. Jadi, saat ini kita berada pada salah satu bulan suci: Muharram.

Bahkan, dalam Shahih Muslim, terdapat sebuah hadits yang menyebutkan bahwa bulan Muharram tidak saja merupakan bulan suci, malah Muharram disebutkan sebagai syahrullah alias bulan Allah. Sungguh, betapa mulia bulan yang tengah kita jejaki ini sampai-sampai bulan ini disandingkan dengan lafadz jalalah: Allah. Tentu saja kita juga harus menjejali bulan ini dengan amalan-amalan yang mulia. Jangan sampai kesempatan emas yang ada dalam bulan ini terlewat begitu saja tanpa makna.

Tiga hari yang lalu, Selasa (7/12/2010) umat Islam merayakan datangnya tahun baru hijriah. Sudah tidak asing lagi bahwa setiap pergantian tahun, kita dianjurkan untuk berdoa. Itulah salah satu kesempatan emas yang mengiringi Muharram. Tentu saja pada Senin sore kemarin, tepatnya setelah shalat ashar, kita tidak lupa membaca doa akhir tahun, lalu dilanjutkan membaca doa awal tahun usai shalat maghrib.

Namun, jika karena suatu halangan kita terlupa membaca doa akhir dan awal tahun pada Selasa petang kemarin, mari kita simak baik-baik kesempatan mulia yang bakal datang. Kiranya salah satu hal istimewa yang paling dekat adalah puasa Tasu'a dan Asyura, yaitu berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram. Tahun ini, insya Allah kita semua sepakat bahwa puasa Tasu'a dan Asyura akan dilaksanakan pada hari Rabu dan Kamis depan (15-16/12/2010).

Anjuran menjalankan puasa Tasu'a dan Asyura ini didasarkan pada hadits-hadits shahih. Rasulullah saw. pernah bersabda,
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ.
"Puasa yang paling utama derajatnya setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu bulan Muharram. Shalat yang paling utama derajatnya setelah shalat fardhu adalah shalat malam." (HR. Muslim)

Sejarah mencatat bahwa sejak zaman jahiliah, bulan Muharram memang telah dianggap sebagai bulan istimewa. Bahkan, orang-orang Yahudi senantiasa berpuasa pada tanggal 10 Muharram. Hal itu terjadi jauh sejak sebelum datangnya Islam. Hal itu karena pada bulan Muharram, Nabi Musa yang menjadi junjungan mereka diselamatkan oleh Allah swt. dari kejaran Firaun dan bala tentaranya. Saat itu, Firaun bahkan ditenggelamkan oleh Allah swt. di laut Merah. Untuk mengenang hari yang sangat bersejarah itu, mereka pun melakukan ritual puasa.

Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa saat awal-awal berada di Madinah sesudah hijrah, Rasulullah saw. melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada tanggal 10 Muharram. Beliau bertanya kepada para sahabat ada apa gerangan orang Yahudi berpuasa pada hari itu. Para sahabat menjawab bahwa karena pada hari itu bani Israel yang dipimpin Musa diselamatkan Allah swt. dari kejaran musuh mereka. Musa pun kemudian berpuasa setiap memperingati hari itu.

Mendengar jawaban para sahabat, Rasulullah saw. bersabda, "Aku lebih berhak atas (mengikuti) Nabi Musa (dibandingkan orang Yahudi)." Beliau pun kemudian berpuasa setiap tanggal 10 Muharram tiba. Kemudian karena takut umat Islam akan menganggap bahwa puasa 10 Muharram itu hukumnya wajib, Rasulullah saw. bersabda,
هَذَا يَوْمُ عَاشُورَاءَ وَلَمْ يَكْتُبْ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ وَأَنَا صَائِمٌ فَمَنْ شَاءَ فَلْيَصُمْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيُفْطِرْ.
"Hari ini adalah hari Asyura (10 Muharram). Allah swt. tidak mewajibkan kalian untuk berpuasa pada hari ini. Aku memang berpuasa hari ini, tetapi barang siapa yang ingin berpuasa maka berpuasalah dan barang siapa yang hendak tidak berpuasa maka tidak perlu berpuasa." (HR Bukhari)

Pada kesempatan yang lain, saat Rasulullah saw. berpuasa pada hari Asyura dan beliau memerintahkan para sahabat untuk turut berpuasa, para sahabat berkata, "Wahai Rasulullah, hari Asyura merupakan hari yang dimuliakan oleh orang Yahudi dan Nasrani." Beliau pun menjawab, "Tahun depan insya Allah kita akan berpuasa juga pada tanggal 9 Muharram (Tasu'a)." Namun, belum sampai pada bulan Muharram tahun berikutnya, Rasulullah saw. wafat. (HR. Muslim) Maksud Rasulullah saw. mengajak umat Islam untuk berpuasa juga pada hari Tasu'a adalah supaya menjadi pembeda antara kaum muslimin dan kaum Yahudi-Nasrani.

Lalu, apa sebenarnya manfaat yang dapat dipetik dari puasa hari Asyura? Selain manfaat umum sebagaimana puasa pada lazimnya, puasa pada hari Asyura juga memiliki manfaat khusus bagi yang menjalankannya. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Umar bin Khaththab bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Aku berharap dengan berpuasa pada hari Asyura ini Allah akan menghapus dosa-dosa selama satu tahun yang lampau." (HR. Muslim)

Mari gapai kesempatan emas yang ada di depan mata ini. Jangan sampai kita menyesal karena melewatkannya begitu saja. Belum tentu tahun depan kita akan menemuinya lagi. Rabbuna yuwaffiq.[]

Demblaksari, 6 Desember 2010

Tuesday, November 30, 2010

Korupsi di Sekitar Kita (3)

Kali ini bukan cerita tentang kasus korupsi wa dzurriyyatihi, justru cerita kontrakorupsi. Kisah didapat dari cerita saat mengunjungi kerabat yang baru pulang dari Tanah Suci. Seperti biasa, orang yang baru saja melaksanakan ibadah haji memiliki segudang cerita untuk dibagi, selain doa tentu saja.

Saga antikorupsi bermula saat Lik Kaji (paman yang baru saja menunaikan berhaji) yang sejak awal keberangkatan ke Tanah Suci sudah sakit-sakitan sehingga saat turun di bandara debarkasi harus mendapatkan perawatan. Maklum, keberangkatannya saja sudah menarik isak tangis keluarga karena kesehatan ngedrop sesaat sebelum tiba di asrama haji pemberangkatan. Pemberangkatannya pun ditunda hingga 2 hari, bahkan sempat hendak ditunda hingga tahun berikutnya. Di Tanah Suci, kondisinya juga naik turun, meskipun—alhamdulillah—akhirnya bisa menyelesaikan seluruh ritual haji dengan sempurna, amin.

Oleh karena itu, saat berada di atas pesawat, dokter kloter senantiasa mengawasinya. Pun saat tiba di bandara debarkasi, ambulans sudah disiapkan demi memastikan kondisinya benar-benar baik hingga sampai ke rumah lagi. Karena merasa sehat-sehat saja, Lik Kaji sempat menolak menggunakan ambulans. Sang istri Lik Kaji yang mendampingi juga tidak ingin kesannya bagi keluarga nanti akan mengkhawatirkan.

Namun, setelah didesak tim kesehatan panitia haji bahwa hal itu demi kebaikan bersama, Lik Kaji dan sang istri pun bersedia mengendarai ambulans. Rupanya, ambulans tersebut tidak sekadar membawa Lik Kaji dan istri ke tempat transit, ruang pemeriksaan kesehatan, rumah sakit, atau sejenisnya. Justru ambulans tersebut memang disediakan untuk mengantarkan Lik Kaji dan istri sampai ke rumahnya.

Dalam perjalanan, Lik Kaji sempat mengeluh tiduran dalam posisi yang kurang tepat. Naik mobil tentu saja tidak senyaman naik pesawat, apalagi jalan raya yang dilalui berkelok-kelok. Karena itu, terdengar beberapa kali Lik Kaji merintih seperti kesakitan. Melihat hal itu, istri Lik Kaji merasa bersyukur karena bersedia naik ambulans. Menurut istri Lik Kaji, jika bersikeras naik bus penjemputan bersama rombongan lainnya, tentu akan merepotkan anggota rombongan, paling tidak mereka bisa khawatir dan merasa prihatin.

Perjalanan darat pun dilalui dengan lebih cepat dibandingkan bus penjemputan. Apalagi sang sopir ambulans juga beberapa kali—atau malah seringkali—memanfaatkan sirene untuk membuka jalan. Bahkan, terkadang iseng saja menyalakan sirene. Entah, barangkali itu untuk mencandai istri Lik Kaji yang memang dari awal meminta supaya sirene ambulans tidak usah dihidupkan sehingga tidak terkesan mengerikan.

Sopir ambulans dan seorang temannya—perawat—pun terkekeh-kekeh saat istri Lik Kaji menggerutu karena mengetahui sirene dibunyikan. Benar-benar mencandai untuk menghibur rupanya. Apalagi, saat sekitar tiga kilometer sebelum sampai rumah Lik Kaji sirene memang tidak dihidupkan sama sekali, sesuai permintaan istri Lik Kaji.

Karena istri Lik Kaji sudah menelpon bahwa sesungguhnya ambulans yang membawa mereka hanya dalam rangka menjaga kondisi, bukan merawat Lik Kaji, keluarga yang melihat Lik Kaji dan istri tampak sehat pun terlihat lebih tenang saat menyambut. Tentu saja pertemuan setelah sekitar empat puluh hari berpisah tetap mengharu biru; karena kebahagiaan yang terlampau besar.

Di sinilah kisah kontrakorupsi berada. Setelah menjalankan tugasnya dengan baik mengantarkan pasien ke rumahnya, sopir ambulans dan petugas kesehatan berpamitan pulang. Sebagai rasa terima kasih, istri Lik Kaji menyiapkan amplop berisi dua lembar kertas merah dan selembar kertas biru untuk mereka berdua. Ajaib! Tanpa basa-basi keduanya menolak dengan halus. "Tentu kami membutuhkan uang, tetapi ini adalah tugas kami sehingga kami tidak berhak menerimanya," begitu kira-kira jawaban kedua petugas tersebut.

Istri Lik Kaji tetap memaksa agar mereka mau menerima, toh uang tersebut bukanlah suap ataupun permintaan mereka (semacam pemerasan). Namun, mereka berdua lebih berkeras lagi menolaknya. "Ini sudah tugas kami, tentu bukan berarti kami ingin menolak pemberian Ibu," jawab mereka.

Luar biasa! Benar-benar mental antikorupsi yang hebat. Jika saja kita semua bermental seperti itu, niscaya kesempatan naiknya angka korupsi dapat semakin ditekan. Syukur-syukur bisa lebih jauh lagi: korupsi dapat dihapuskan dari muka bumi (Indonesia) ini.

Betapa sedikit orang seperti mereka. Karena memang banyak alasan yang logis untuk menerima pemberian seperti itu, apalagi pemberian tersebut benar-benar tulus, sama sekali tidak diminta atau sekadar disinggung-singgung oleh calon penerima. Jadi, untuk menerimanya bukan hal yang haram kan?

Eittt... tunggu dulu, sepertinya kita tidak bisa dengan mudah menghalalkan hal seperti itu. Bisa saja saat itu halal, tetapi saat kesempatan berikutnya, misalnya, giliran bertugas mengantarkan pasien lain, lalu pasien tersebut sama sekali tidak berpikiran untuk memberi "ungkapan terima kasih"—karena memang semua sudah benar-benar ditanggung ONH, apa yang kira-kira ada dalam pikiran si sopir dan temannya? "Ah, orang ini benar-benar tidak pengertian! Sudah dibantu diantarkan, tetapi tidak mau menghargai keringat kita." Begitu mungkin ungkapan yang bisa tiba-tiba muncul dari hati.

Astaghfirullah... tentu saja pemberian yang tadi itu bisa menjadi tidak halal seratus persen lagi. Barangkali seperti inikah salah satu model gratifikasi yang dilarang itu?

Mari lebih berhati-hati menerima pemberian orang lain. Bukan untuk sombong, bukan untuk mengharamkan yang halal, tetapi untuk melawan korupsi![]

Wonoyoso, 9 Desember 2010

Monday, October 04, 2010

Lebaran Kelas Berat

Hari Raya Idul Fitri selalu disambut dengan suka cita dan kemeriahan. Sesuai umur, berarti sudah dua puluh delapan kali saya melewati hari yang biasa disebut juga sebagai hari raya kemenangan itu. Saya pun menikmati datangnya hari yang oleh Upin dan Ipin disebut hari raye itu. Bahkan selama enam kali merayakan Hari Raya Idul di negeri nan jauh, negeri Firaun, rasanya juga fine-fine saja. Dalam artian, meski jauh dari keluarga, tetap saja bisa melewati raya id dengan riang gembira.

Namun, berbeda sekali dengan Idul Fitri 1430 yang baru lewat ini. Hari raya yang seharusnya bisa disambut dengan begitu bahagia, kali ini rasanya begitu getir. Ya, ada cukup banyak alasan yang bisa membuat kegetiran rasanya tidak mau menjauh dari hati ini. Memang harus bersabar, dan karenanya muncul tulisan ini, sekadar untuk curhat sehingga saya berharap dapat sedikit lega mengeluarkan uneg-uneg yang melanda kalbu.

Alasan pertama dan utama adalah tentu karena lebaran kali ini merupakan lebaran paling awal tanpa ada orang yang sangat saya—dan keluarga—cintai dan butuhkan di tengah kami: Bapak. Saya pribadi mungkin bisa tidak terlalu merasakan kekurangan itu karena saya berlebaran di rumah mertua, yang masih lengkap bahkan dengan jumlah keluarga besar yang jauh lebih banyak dibanding keluarga saya.

Namun, bagaimana dengan Ibu yang untuk pertama kalinya setelah berpuluh-puluh tahun berlebaran tidak ditemani belahan hati? Memang sudah hampir setengah tahun Ibu tidak didampingi Bapak dalam keseharian. Duka mendalam yang dirasakan saat kehilangan Bapak mungkin sudah bisa dilupakan sedikit demi sedikit. Hanya saja, rupanya ujian memang harus terjadi jika memang sudah "dijadwalkan" oleh-Nya.

Hari pertama Idul Fitri, masih seperti tahun-tahun sebelumnya, meski tidak seramai tahun-tahun yang lalu, rumah kami tetap didatangi orang-orang sekampung. Begitulah jika rumah masih ditinggali orang yang sudah tua atau dituakan; senantiasa didatangi banyak orang. Ibu yang pada hari-hari akhir bulan puasa mengerahkan tenaga lebih banyak untuk bersiap berlebaran, kondisi fisiknya menurun, meriang dan batuk-batuk. Alhamdulillah masih kuat menunaikan shalat id, tetapi setelah itu ngedrop.

Di luar itu, sempat ada beberapa orang yang datang, saat bersalaman dengan Ibu, tiba-tiba menangis tersedu-sedu. Apalagi jika yang datang masih sanak keluarga, menangis lebih menjadi-jadi dan tanpa sadar terkadang menyebut atau mengingatkan agar Ibu tabah. Tentu hal ini makin mendekatkan lagi Ibu pada bayang-bayang Bapak. Ibu pun menjadi ikut-ikutan menangis tak bisa menahan sedih ataupun haru. Walhasil, sampai hari kelima lebaran, Ibu masih belum sehat betul. Bahkan pada hari kedua hingga keempat, Ibu menemui tamu dengan tiduran di kamar.

Selain Ibu, rupanya Mas Luqman (kakak ketiga saya) dan Kaisa (2 tahun, putri Mas Luq) juga sakit. Mas Luqman terkena gejala typhus, sementara Kaisa sepertinya gejala demam berdarah. Ada pula Dayat (8 tahun, anak ketiga Mba Anis [kakak pertama saya]) yang terkena radang tenggorokan. Mas Luqman tidak fit dari sekitar dua hari sebelum lebaran sehingga hari pertama lebaran pun tidak bisa keliling kampung bermaaf-maafan.

Kaisa malahan sampai harus dirawat di Puskesmas Rawat Inap Limpung pada siang hari kedua lebaran. Malam harinya, Dayat yang tak kunjung membaik juga akhirnya dibawa ke tempat perawatan yang sama. Awalnya Mba Anis sekadar mau menjenguk Kaisa, tetapi kemudian ditelpon orang rumah bahwa Dayat makin rewel. Mbak Anis pun berinisiatif membawa Dayat ke Puskesmas Rawat Inap pula, paling tidak untuk menemani Kaisa.

Ternyata sore keesokan harinya, Kaisa sudah membaik dan diperbolehkan pulang, sedangkan Dayat justru belum sehat juga. Kaisa pun dibawa pulang sehingga terpaksa Dayat sendirian. Malahan, Dayat sampai tiga hari harus dirawat di Puskesmas. Itupun sebenarnya belum terlalu sehat, tetapi karena Dayat sendiri yang selalu minta dibawa pulang. Begitu pula dengan Kaisa, sesungguhnya sama belum terlalu sehat, karenanya saat dibawa ke rumah masih rewel-rewel saja.

Di permukaan bumi yang lain, tepatnya Nganjuk, Mas Hakim (kakak kedua saya), Mbak Hikmah (kakak keempat saya) dan Mas Malik (suami Mbak Hikmah) beserta kedua anak, hendak sungkem pada Ibu, berangkat pada hari kedua malam sekitar pukul 23.00. Baru sekitar lima kilometer perjalanan, rupanya ada pula ujian yang harus mereka lalui. Zebra milik Mas Malik yang mereka tumpangi harus mogok. Mereka pun tidak bisa melanjutkan perjalanan.

Selalu ada solusi dalam setiap permasalahan. Mereka pun memilih kembali dan menyervis mobil di rumah daripada kelak dalam perjalanan harus mogok lagi. Setelah itu, Mas Malik dan Mas Hakim terpaksa ke Jombang untuk mengambil Super Carry milik Mas Hakim. Keesokan paginya, mereka baru bisa melakukan perjalanan lagi. Itupun bukan perjalanan yang mulus-mulus saja karena macet mengadang di mana-mana. Perjalanan yang biasanya dapat ditempuh dalam 7-8 jam, kali ini memakan waktu 15 jam lebih.

Memang lebaran yang berat untuk kami. Ya Allah, kuatkan hati kami dan seluruh kaum muslimin.[]

Demblaksari, 1 Oktober 2010


Khasiat Shalawat

Tadi subuh serasa ada yang menggerakkan tangan untuk memencet remot TV, rupanya menuju SCTV, sebuah film komedi produksi Hongkong. Genre favorit nih. Namun, baru sekian adegan tiba-tiba beralih menuju siaran SCTV lokal Yogyakarta. Hmm... bakal ada siaran yang sedikit amatiran pastinya, pikirku. Remot pun dipencet-pencet lagi berubah-ubah saluran.

Tidak ada juga acara yang cocok hingga akhirnya kembali ke SCTV. Tampak seorang yang memakai blangkon tengah ceramah, menerangkan tentang... shalawat. Tentu shalawat kepada Baginda Rasul Muhammad. Hmm, asyik juga cara SCTV Jogja menunjukkan identitas daerah. Pakaian yang njawani, tetap isi ceramahnya sungguh universal, untuk kalangan penganut agama Islam tentunya.

Dengan bahasa yang renyah dan diselingi candaan-candaan yang rada garing, dipikir-pikir sayang nih tidak mengikuti dari awal sehingga tidak tahu siapa nama penceramahnya. Guyonan yang dimunculkan sebenarnya asyik juga, tetapi karena tidak dihadapi audiens langsung sehingga tidak ada yang tertawa, menjadikan suasana garing. Saya mau tertawa sendiri tentu juga tidak lucu karena hari masih benar-benar sepi.

Saat mendengar ceramah ustadz (demikian ia mengidentifikasi dirinya sendiri) ini, saya mendapatinya tengah menerangkan bahwa seseorang kelak akan bersama orang yang dicintainya. Ia lalu menafsirkan bahwa jika seseorang mencintai artis maka kelak di akhirat orang itu akan bersama artis. Hubungannya dengan shalawat, sang ustadz melanjutkan, jika seseorang kelak ingin berada di surga, ditemani Rasulullah, maka tentu harus mencintai beliau. Nah, salah satu cara yang paling mudah sebagai implementasi mencintai Rasulullah adalah sering-sering membaca shalawat.

Sang ustadz juga mendakwahkan bahwa shalawat memiliki banyak manfaat. Di antaranya sebagai "pengabul" doa, dalam artian dengan diiringi shalawat maka doa tidak akan ditolak oleh Allah swt. Hal ini sudah banyak contohnya. Sebut saja kisah manusia pertama, Nabi Adam, yang dahulu dikeluarkan dari surga dan diturunkan ke bumi, demikian halnya sang istri, Siti Hawa, tetapi keduanya dipisahkan jauh-jauh.

Begitu kangennya Nabi Adam kepada sang istri sehingga selalu berdoa, meminta kepada Allah agar ia dipertemukan lagi dengan Siti Hawa. Bertahun-tahun Nabi Adam berjalan sendirian menyusuri permukaan bumi untuk mencari sang istri tercinta. Selama itu pula ia selalu berdoa memohon bantuan Allah agar segera bisa bertemu Siti Hawa; dan selama itu pula doanya tidak juga dikabulkan Allah.

Hingga suatu ketika Nabi Adam teringat sebuah tulisan di salah satu pintu surga: Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Ia pun kembali memanjatkan doa: Ya Allah, atas kemuliaan asma Muhammad yang tertera di pintu surga, pertemukanlah aku dengan istriku. Tidak lama setelah itu, benar saja, di jabal Rahmah, keduanya bertemu kembali.

Dalam kisah lain, sang ustadz menukil dari kitab Durratun Nashihin, ada seorang yang ketika hidup berkulit putih dan wajahnya pun senantiasa berseri-seri. Namun, saat ajal menjemput, setelah dikafani dan dishalati, ternyata wajahnya berubah menjadi berwarna hitam. Keluarganya yang melihat pun menangis. Apalagi setelah itu muncul sas-sus yang menyebutkan bahwa orang itu berarti mati dalam keadaan su`ul khatimah.

Saat tidur, anak orang yang meninggal itu bermimpi. Dalam mimpinya, ia melihat Rasulullah saw. mendatangi jenazah ayahnya. Beliau terlihat membuka kain kafan sang ayah, lalu mengusap wajahnya dengan tangan beliau yang mulia. Ajaib, seketika itu pula wajah jenazah itu berubah menjadi putih berseri lagi. Sang anak pun heran, bagaimana mungkin Baginda Rasul mau mendatangi ayahnya yang menurut banyak orang dianggap STMJ: shalat terus maksiat jalan.

Sang anak pun bertanya kepada Rasulullah mengapa beliau mau mendatangi ayahnya dan memberikan syafaat beliau kepadanya. Rasulullah menjawab bahwa beliau mendatangi ayahnya karena ayahnya itu rajin membaca shalawat kepada beliau. Setiap kali ada waktu senggang, rupanya sang ayah selalu membacakan shalawat kepada Rasulullah.

Saat terbangun dari tidurnya, sang anak pun segera mendatangi jenazah ayahnya yang memang belum dikuburkan. Ia membuka kain kafan yang menutupi wajah ayahnya. Masyaallah, rupanya apa yang ada dalam mimpinya benar-benar nyata; wajah ayahnya kembali terlihat cerah berseri-seri.

Ada pula cerita lain dari Turki. Alkisah, ada seorang yang begitu mencintai Rasulullah hingga ia menciptakan beberapa bait syair khusus yang berisi shalawat untuk beliau. Bait yang dirangkai nan indah itu pun senantiasa ia panjatkan kepada Rasulullah. Dalam bait itu ia juga mengungkapkan betapa ia sangat merindukan Tanah Suci. Namun, apa daya, ia bukanlah orang yang cukup mampu untuk pergi haji.

Pada saat yang lain, ia juga menulis Alquran secara lengkap dengan tangannya sendiri. Setelah selesai menulis Alquran itu, ia berwasiat kepada anaknya bahwa kelak jika ia meninggal dunia, Alquran hasil tulisan tangan sendiri itu ikut dikuburkan bersama jasadnya. Ketika ia wafat, sang anak pun melaksanakan wasiat ayahnya itu.

Sekitar sepuluh tahun kemudian, sang anak ditakdirkan menjadi orang berada dan memiliki cukup bekal untuk menunaikan ibadah haji. Ia pun berangkat ke Tanah Suci untuk melaksanakan rukun Islam kelima. Di Tanah Suci, selain beribadah, ia menyempatkan diri untuk mampir ke sebuah toko membeli sesuatu. Di toko itu, rupanya ia melihat sebuah Alquran yang menurutnya sangat familiar biasa ia lihat. Saat Alquran itu ia buka, ia sangat takjub, sepertinya Alquran itu persis sekali dengan Alquran hasil tulisan tangan ayahnya.

Ia pun bertanya kepada penjaga toko dari mana mendapatkan Alquran tersebut. Penjaga toko menjawab bahwa Alquran itu didapatkan dari seorang penggali kubur. Sang anak pun meminta dipertemukan dengan penggali kubur dimaksud. Saat bertemu, sang anak bertanya dari mana si penggali kubur menemukan Alquran itu. Si penggali kubur bercerita bahwa saat menggali kubur di Madinah, ia mendapati Alquran tersebut di dalam liang lahat. Sang anak pun meminta diantar ke kuburan dimaksud.

Penggali kubur mengantarkan sang anak ke Madinah tepat di mana ia menemukan Alquran. Sang anak lalu meminta penggali kubur untuk membuka kembali liang lahat tempat ditemukannya Alquran tadi. Luar biasa, saat digali, kain kafan yang menyelimuti jasad itu masih utuh, demikian juga dengan tubuh yang dikubur. Saat melihat jasad itu secara lengkap, sang anak kaget bukan main karena jasad itu adalah jasad ayahnya. Karena syafaat Rasulullah, jasad sang ayah rupanya berpindah dari Turki ke Tanah Suci.[]

Demblaksari, 1 Oktober 2010

Wednesday, September 29, 2010

Syafaat Alquran

Sudah sangat banyak cerita betapa Alquran bisa membantu orang yang "memegang"nya. Kali ini pun ada satu cerita lagi tentang syafaat yang didapatkan dari Alquran. Cerita ini saya dapat saat buka puasa bersama tanggal 27 Ramadhan kemarin bersama alumni almamater MAK TBS Kudus.

Salah seorang adik kelas jauh saya memang seorang hafidz. Kebetulan dia juga seorang gus, putra kiai pengasuh pesantren. Dia yang sejak lulus aliyah dua tahun lalu begitu bersemangat ingin melanjutkan kuliah di Tanah Suci, tahun ini mendapatkan kelempangan jalan.

Beberapa waktu yang lalu, dia ikut tes muqabalah (penerimaan) masuk Universitas Islam Madinah. Tes yang ia ikuti di Pondok Modern Gontor, Ponorogo, Jatim, diikuti ratusan peserta. Ia begitu bersyukur karena dari hampir 90-an peserta yang akhirnya diumumkan diterima untuk kuliah di Kota Suci, posisinya cukup bagus, di angka 20-an. Walaupun sebelumnya ia sangat berhasrat untuk bisa kuliah di Mekah, tetapi diterima di Madinah baginya juga patut disyukuri.

Kali ini bukan dia yang mendapatkan syafaat Alquran, tetapi seorang teman yang baru ia kenal saat masa-masa tes di Gontor itu. Saya sendiri lupa siapa nama temannya itu, tetapi sebut saja Manan, misalnya. Manan ini berasal jauh dari luar Jawa, Ambon kalau tidak salah. Kulitnya yang tidak secerah orang Indonesia bagian barat menarik si gus untuk menyapa.

Saat ditanya, ternyata si Manan sudah tiga hari berada di Gontor. Manan yang menghafal Alquran di sebuah pesantren di daerah Solo mengaku tidak berani maju mengikuti tes wawancara. Karena itu, selama tiga hari pula ia hanya mondar-mandir berusaha mengumpulkan keberanian untuk maju tes. Kepada si gus, Manan beralasan takut mengikuti tes wawancara karena sama sekali tidak bisa bahasa Arab. Untuk membesarkan hati Manan, si gus pun mengaku ia hanya sedikit-sedikit bisa berbahasa Arab, tetapi karena keinginan yang begitu kuat untuk kuliah di Tanah Suci, ia bertekad untuk maju mengikuti tes.

Demi menolong Manan, si gus pun memberi saran agar Manan memberanikan diri mengikuti interview, apalagi diketahui bahwa Manan ini hafal Alquran 30 juz. Manan berkilah bahwa bagaimana mungkin ia bisa mengikuti wawancara, sementara pengujinya didatangkan langsung dari Universitas Islam Madinah yang tentu saja melakukan wawancara dengan bahasa Arab.

Untuk itu, si gus memberi solusi agar Manan menghafalkan sebuah kalimat yang redaksinya kira-kira begini: ana lam astathi' an atakallam al-lughah al-Arabiyyah, wa lakin ana hafizh Alquran kulluh (Saya tidak bisa berbahasa Arab sama sekali, tetapi saya hafal Alquran 30 juz). Oleh Manan, kalimat ini ditulis dalam sebuah kertas.

Manan akhirnya mampu memberanikan diri maju mengikuti tes wawancara, berbarengan dengan si gus (karena bareng inilah si gus bisa menceritakan kisah syafaat Alquran ini). Saat dites, pertanyaan pertama untuk Manan adalah masmuk? (Siapa namamu?). Karena betul-betul buta atas bahasa Arab, Manan tidak tahu apa arti pertanyaan untuknya. Namun, tanpa ragu, ia pun mengeluarkan secarik kertas dan dengan tenang menjawab pertanyaan itu dengan membaca tulisan dalam kertas itu: ana lam astathi' an atakallam al-lughah al-Arabiyyah, wa lakin ana hafizh Alquran kulluh. Sang penguji hanya tersenyum, atau tertawa.

Setelah itu, penguji membaca potongan ayat Alquran dan meminta Manan untuk meneruskan ayat tersebut. Lancar. Ayat berikutnya diujikan, Manan lancar lagi melanjutkannya. Sampai beberapa potongan ayat dibacakan kepada Manan dan ia selalu saja bisa melanjutkannya dengan lancar. Penguji tampak puas dengan Manan hingga ia mengatakan—tentu saja dalam bahasa Arab—kepada Manan bahwa ia menjamin Manan akan lulus dan bisa berkuliah di Madinah. Manan yang tidak tahu apa yang diucapkan sang penguji hanya tersenyum.

Setelah keluar ruang ujian, Manan bertanya kepada si gus sebenarnya tadi apa yang dikatakan penguji di akhir tes. Si gus menjawab apa adanya bahwa itu jaminan kepadanya untuk bisa kuliah di Tanah Suci. Manan pun seperti tidak percaya, tetapi terpancar rasa syukur dan lega di wajahnya.

Benar saja, saat pengumuman penerimaan muncul, nama Manan benar-benar ada! Masya Allah, betapa banyak syafaat Alquran di dunia ini, bagaimana saat di akhirat nanti ya? Allahummaj'alna min ahlil-Qur`an....[]


Demblaksari, 27 September 2010