Monday, October 31, 2011

Resmi M.A.!


Alhamdulillah bisa mengikuti Wisuda Pascasarjana Periode I Universitas Gadjah Mada Yogyakarta pada 26 Oktober 2011. Sesuai ijazah yang diterimakan saat itu, "...sehingga kepadanya diberikan gelar Master of Arts (M.A.)...."


Semoga berkah.

Tersono, 31 Oktober 2011

Saturday, September 24, 2011

Kisah Pemburu Tanda Tangan

Kamis pagi-pagi mau bangun rasanya malas sekali. Mungkin masih merasakan capai setelah “roadshow” Jogja-Solo-Pekalongan-Jakarta-Jogja kurang dari lima hari. Sampai Jogja lagi Rabu pukul 03.00, paginya langsung ke perpustakaan kampus. Pantas saja malam Kamisnya tidur nyaris semalaman penuh. Bahkan, Kamis pagi terasa masih malas untuk bangun.

Namun, apa mau dikata, deadline pengumpulan syarat-syarat wisuda sudah semakin dekat, kurang dari sepekan. Padahal, masih sangat banyak yang belum dipersiapkan dengan fix: revisi tesis, pengesahan oleh para penguji dan pejabat berwenang, summary berbahasa Inggris, naskah publikasi, bahkan juga pas foto! Belum lagi urusan penjilidan tesis yang konon mengantri karena banyaknya mahasiswa yang juga mengejar wisuda 26 Oktober 2011 ini. Juga pembuatan file pdf dilengkapi bookmarks sekaligus burning CD tesis untuk diserahkan ke perpustakaan.

Di antara langkah-langkah yang harus diselesaikan itu, yang paling dianggap momok rupanya bukan revisi tesis—seperti yang ditakuti selama ini. Rupanya masih ada yang lebih layak “ditakuti”: meminta tanda tangan para penguji. Di antara empat penguji, memang ada seorang penguji yang selama ini dikenal ketat untuk sekadar memberikan tanda tangan. Konon, beliau tidak mau memberi tanda tangan jika tesis belum benar-benar berkualitas. Seorang dosen berkarakter demikian memang sudah seharusnya dimiliki universitas sekelas UGM. Mari memberikan applaus untuk beliau. Orang seperti beliau inilah yang dapat dengan ketat menjaga kualitas lulusan UGM. Namun, bagi mahasiswa seperti saya, kiranya janganlah semua dosen seperti beliau. Bisa-bisa, saya tidak akan bisa lulus.

Selain satu penguji superketat ini, tentu saja memburu tiga penguji lain dalam waktu mepet juga bukanlah sesuatu yang baik. Ya, apalagi Kamis pagi masih malas bangun, sementara tesis belum juga dicetak! Akhirnya bisa bangun meski agak siang, lalu ke Dongkelan, markas teman-teman sejurusan. Di sana melihat seorang teman yang masih tahap mencetak tesisnya. Kertas berserakan di mana-mana untuk ditata, melihat hal itu, mata rasanya berputar-putar tidak keruan. Makin pusing saja! Beberapa teman yang lain menyemangati agar saya juga langsung mencetak tesis di tempat yang sama. Namun, rasanya makin pusing.

Ah, pulang sajalah; cetak tesis di rumah! Teman-teman sepertinya meragukan, khawatir kalau saya pulang malah keasyikan online dan melupakan urusan tesis. Tidak! Saya akan langsung mencetak tesis di rumah. Benar, sampai di rumah, saya langsung nyatakan tesis siap cetak! Padahal, revisi tesis dilakukan tidak terlalu ketat. Risikonya jelas, jika diteliti lagi, para penguji bisa-bisa tidak mau tanda tangan. Tapi apa mau dikata, deadline sudah semakin dekat.

Sekitar pukul 14.30, tesis sudah selesai dicetak oleh Epson T11. Dirapikan sedikit, alhamdulillah sudah tampak cukup meyakinkan. Ya, tampak cukup meyakinkan, tentu jika dilihat dari luar. Kalau mau obrak-abrik tiap halaman, tentu tesis ini masih sangat ecek-ecek. Tak apalah, yang penting sudah menyiapkan juga ruang untuk ditandatangani dosen. Setelah itu, iseng-iseng menelpon teman yang paginya selesai mencetak itu. Rupanya belum mendapat satu tanda tangan pun, dan baru akan bertemu seorang dosen pukul 15.30!

Yap, saya ikut! Setelah beres-beres, shalat ashar di rumah, kira-kira pukul 15.10 berangkat ke kampus. Kebetulan juga si teman baru sampai di dekat gedung dosen 1. Pukul 15.24, langsung menuju ruangan dosen. Alhamdulillah, hanya basa-nasi sebentar, dosen 1 langsung membubuhkan tanda tangannya. Berikutnya, tiga dosen penguji lainnya. Sms atau telpon? Sms sajalah. Dapat! Dosen 2 siap ditemui di kampus UIN besok jam 7 pagi. Dini harinya, dosen 3 membalas sms mempersilakan kami menemui beliau di Gedung Lengkung. Bagaimana dengan dosen 4 yang dikenal superkatat itu? Nanti dululah.

Jumat pagi-pagi, meski malamnya kurang tidur karena menyempatkan diri main fustal, sudah meluncur ke UIN. Pukul 06.50 sudah sampai di UIN. Tidak sampai sepuluh menit, dosen 2 datang. Alhamdulillah juga, tanpa banyak bicara langsung mengeluarkan pulpen dan menandatangani halaman pengesahan. Masih ada waktu sekitar satu jam menuju temu janji dengan dosen 3. Bagaimana kalau coba langsung ke kantor dosen 4, siapa tahu sudah rawuh.

Pukul 07.15 sampai di ruangan dosen 4. Masih terkunci. Sms sajalah, siapa tahu sudah mau sampai di kantor. Tidak dibalas. Menunggu beberapa menit masih juga tidak ada balasan. Ya sudah, ayo ke Gedung Lengkung saja untuk “mencegat” dosen 3, takutnya telat sedikit beliau langsung mengikuti acara Reuni Akbar. Lima menit kemudian sudah sampai Gedung Lengkung. Sekitar pukul 7.45, dosen 3 belum juga tampak, malah ada sms dari dosen 4: bisa (ditemui hari ini). Kami balas: kapan? Beliau balas: sekarang!

Hah? Ini lima belas menit lagi waktu janji temu dengan dosen 3, bagaimana dong? Ya sudah, dosen 4 biasanya lebih sulit ditemui, sementara dosen 3 tampak lebih akrab dengan kami, mudah-mudahan nanti mau menerima penjelasan kami kalau kami harus ketemu dulu dengan dosen 4. Langsung balik lagi meluncur ke kantor dosen 4.

Si teman yang baru Selasa kemarin ujian mendapat giliran pertama untuk meminta tanda tangan. Setelah tesis diserahkan, benar saja, rupanya masih diteliti lagi! Bolak-balik beberapa halaman, soal-jawab, memberi beberapa masukan. Kira-kira lebih dari 10 menit pengecekan itu. Saya yang menunggu giliran berikutnya, tentu deg-degan. Memutar otak mencari-cari jawaban jika ditanya mengenai metodologi penelitian (tentang ini soalnya masih mentah banget!), kesesuaian antara rumusan masalah dan kesimpulan, serta kemungkinan pertanyaan-pertanyaan lain. Ah, pikiran benar-benar kacau! Banyak istighfar sajalah! Shalawat juga!

Tiba giliran tesis saya diserahkan. Beliau melihat halaman judul, saya jelaskan perubahan judul. Halaman berikut dibuka, pas langsung halaman pengesahan. Ajaib! Mengambil pulpen dan langsung membubuhkan tanda tangan tanpa menanyakan apa pun lagi! Alhamdulillah…!!! Si teman pun berikutnya meminta tanda tangan karena tadi setelah memberi masukan sedikit revisi belum ditandatangani.

Lega sekali rasanya sudah mendapatkan tanda tangan dosen 4 ini. Luar biasa rasanya, sepertinya saat inilah baru selesai ujian tesis. Berikutnya, kembali dosen 3, sudah pukul 8 lebih. Wah, sudah telat! Di jalan menuju Gedung Lengkung, seorang teman yang juga menunggu dosen 3 sms: Beliau belum datang. Syukurlah, tidak perlu mengebut lagi di jalanan.

Pukul 8.18, sampai lagi Gedung Lengkung. Rupanya dosen 3 belum tampak. Bertanya ke pegawai yang juga mengenal beliau, dijawab tampaknya memang belum hadir. Ya sudahlah, syukur saja kami tidak terlihat terlambat di mata dosen 3. Pukul 8.25 beliau masih belum tampak juga. Bagaimana ini? Teman: telpon sana! Saya: tidak enak ah. Tapi kelamaan, akhirnya saya beranikan sms: nuwun sewu Pak, kami sudah di Gedung Lengkung. Di tengah mengetik sms, ada tanda sms masuk; nanti dulu lah bukunya setelah mengirim sms ini. Selesai kirim sms, buka sms masuk, rupanya dari dosen 3: saya sudah di dalam ruangan acara. Wah…. Kami pun langsung bergegas naik lift menuju lantai 5.

Sebelum kami meminta maaf, beliau sudah menanyakan: sudah dari tadi ya sampai Gedung Lengkung. Ya, kami menjawab sambil menjelaskan bahwa kami menunggu di gerbang dekat BNI. Rupanya beliau tidak melalui gerbang itu. Mungkin lewat gerbang utama, mungkin juga lewat parkiran mobil di lantai dasar gedung yang dikhususkan bagi para pejabat itu. Oh iya, beliau kan termasuk pejabat ya.

Senang sekali rasanya mendapatkan tanda tangan keempat itu. Selesai juga akhirnya tesis ini disahkan oleh para penguji. Siap dimintakan tanda tangan Wakil Direktur Sekolah Pascasarjana. Karena beliau juga ikut acara Reuni Akbar, kami pun meminta dengan memelas kepada staf beliau agar sebisa mungkin hari ini beliau sudah tanda tangan. Akan diusahakan, katanya, apalagi ia juga tahu bahwa deadline penyerahan syarat-syarat wisuda adalah Selasa pekan depan, sementara tesis belum dijilid (kira-kira butuh waktu dua hari) lalu diserahkan ke perpustakaan beserta softcopy dalam bentuk CD. Sang staf mempersilakan kami datang ke tempatnya lagi siangnya, barangkali sudah ditandatangani.

Sambil menunggu siang, masih ada cukup waktulah, akhirnya meluncur ke studio foto. Setelah itu pulang dulu, juga masih sempat untuk menyempatkan ke rumah teman yang mau membantu membuatkan summary, cukup menyerahkan kepadanya ringkasan tesis berbahasa Indonesia.

Usai shalat jumat, kali ini tidak tergesa-gesa seperti paginya, kami pun kembali ke Gedung Lengkung. Alhamdulilah, rupanya sudah ditandatangani Wakil Direktur SPS. Sekarang tinggal minta stempel di lantai 1, lalu siap dijilid. Alhamdulillah…. []


Jomblangan, 24 September 2011

Monday, August 29, 2011

Mau Lebaran Dua kali?

Tahun ini ada kemungkinan terjadi perbedaan penetapan 1 Syawal. Bagaimana bisa? Tidakkah pemerintah mampu menjembatani perbedaan ini?

Masalahnya adalah ormas-ormas di Indonesia sudah lebih dahulu ada ketimbang republik ini. Jadi, mari saling menghormati saja. Shalat id Selasa atau Rabu sama benarnya.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H.
Mohon Maaf Lahir Batin
Semoga ibadah kita selama ini dapat mengantar kita meraih kemenangan hakiki.


Pujut, 29 Agustus 2011

Tuesday, July 26, 2011

Jujur Hancur Lebur

Dunia hukum-politik tanah air sedang marak pembahasan mengenai perlindungan terhadap whistleblower, yaitu orang yang berani mengungkap kesalahan sistemis, meski ia sendiri termasuk dalam lingkaran kesalahan itu. Namun, perlindungan terhadap whistleblower rupanya maih perlu ditingkatkan. Buktinya, Agus Condro (orang Batang euy!) yang berani jujur mengungkap skandal suap pemilihan Deputi Gubernur BI, dihukum nyaris sama dengan tersangka lain yang berbelit-belit saat ditanya kasus sama. Mungkin hukuman Agus Condro sudah pas, hukuman untuk tersangka yang lain itulah yang perlu dilipatgandakan sekian kali agar lebih adil.

Namun, begitulah “hukum” di Indonesia, siapa yang berani jujur, dia akan hancur lebur; siapa yang mau berbuat baik, tak jarang justru menjadi panik. Begitu banyak cerita penipuan atau bahkan penggarongan yang dimulai dengan kedok minta tolong terlebih dahulu. Buat para sopir lintas Jawa-Sumatra, konon tidak pernah mau menolong orang di tengah jalan. Semisal ada orang yang melambai-lambai di tengah jalan, katanya lebih baik ditabrak sekalian karena bisa jadi itu tipu muslihat para perampok atau bajing loncat untuk menghentikan kendaraan lalu ganti menguasainya.

Tadi pagi pun saya mengalami kisah yang mirip: jujur mungkin hancur. Kalau saya jujur mau membantu, mungkin saya bisa dikerjai di tengah jalan. Ceritanya berawal dari menjemput teman di jalan besar, sekitar pukul empat pagi. Kami berempat, dua penjemput dan dua tamu, mengendarai dua motor. Di belokan terakhir sebelum sampai rumah—sekitar 20 meter dari rumah—ada perempuan teriak-teriak minta tolong.

“Tolong saya Mas, laki-laki ini mengganggu saya. Dia menggerayangi saya. Memegang-megang kemaluan saya,” katanya sambil (mencoba) terengah-engah. Sementara lelaki di sampingnya, bermotor plat AB, menimpali, “Bohong Mas, saya gak ngapa-ngapain kok.”

Saya tidak mau langsung percaya. Sempat sedikit deg-degan juga, akhirnya saya ajak keduanya ke depan rumah tetangga saya yang kebetulan seorang polisi. Si perempuan mau jalan, tetapi si lelaki malah ngilang ga tau ke mana. Di depan rumah pak polisi, saya tanya, “Mba asli mana?” Dia jawab, “Pekalongan.” “Wah, nekad bener ini jawabnya, ga tau yang dia hadapi ini orang pekalongan,” pikir saya. “Pekalongan mana?” tanya saya. Setelah agak lama mikir, dia jawab dengan agak ragu, “Bendan... mmm, Podosugih.” Saya tanya lagi, “Mana tu?” Dia jawab lagi-lagi dengan ragu, “Pekalongan Barat.” Saya bentak aja, “Mana ada itu Pekalongan Barat.” Padahal saya sendiri ragu benar atau tidak itu masuknya Pekalongan Barat, hehe. Tapi itu saya lakukan untuk menggoyahkan dia saja.

Merasa saya belum percaya, dia bilang sakit perut. Saya masih diam saja. Dia lalu minta air. Air putih saja. Saya masih tidak menggubris. Lalu saya tanyakan kartu identitasnya. “Tidak ada Mas, saya buru-buru. Tadi saya dikejar-kejar pacar saya.” Saya makin tidak percaya karena mana mungkin orang lari sampai ke kampung saya yang agak di dalam, lumayan jauh dari jalan besar.

Setelah melihat saya tidak begitu memedulikannya dan justru menanyakan macam-macam, dia memilih lari. Ketika saya kejar, dia lari makin menjauh. “Sini Mbak kalau mau berlindung, ini rumah pak polisi,” saya teriakkan begitu. Dia menjawab, “Tidak usah Mas.” Begitu sambil lari makin menjauh lagi.

Tidak lama kemudian, pak polisi keluar dari rumahnya. Menanyakan ada apa, saya ceritakan apa yang sebelumnya terjadi. Pak polisi pun berkesimpulan bahwa itu salah satu modus kejahatan. Kebetulan di depan rumah pak polisi ada mobil Xenia punya tetangga diparkir di luar rumah. “Mungkin dia ngincer mobil ini,” kata pak polisi.

Seandainya saya luluh, jujur, mau menolong perempuan itu, apa yang kira-kira terjadi? Wallahu a’lam. Bukannya berburuk sangka, tetapi inilah kewaspadaan.[]

Jomblangan, 26 Juli 2011

Monday, June 13, 2011

Tertipu Pesona SBY

Pilpres 2009, bagi saya tidaklah sulit menentukan pilihan. Nomor urut pertama, Mega-Prabowo bagi saya tidak menarik. Di antara alasannya adalah karena figur Prabowo yang belum terlalu lama mengorbit di jagat politik tanah air. Artinya, belum diketahui bagaimana track record-nya. Satu yang paling mudah diingat adalah dia mantan tentara yang disebut-sebut melanggar HAM di Timtim, selain dekat dengan dan benderanya “dikibarkan” oleh era orde baru yang jelas bukan nilai plus.

Di sisi lain, Megawati memang sudah lama malang melintang di perpolitikan papan atas. Namun, hasilnya juga tidak terlalu bagus. Saat menjabat presiden—itu pun hasil menelikung “kang mas”nya sendiri, Gus Dur—pada 2001-2004, bisa dilihat bahwa Megawati tidak punya kekuatan me-manage negara. Malah para menterinya terlihat tidak terkontrol. Atau kalau terkontrol berarti Mega bisa diduga turut melakukan pelanggaran, misalnya saat Menteri BUMN saat itu menjual Indosat. Ya, walaupun sampai sekarang penjualan Indosat tidak pernah disalahkan secara hukum. Tentu saja sebagian masyarakat sangat menyayangkan penjualan itu. Jadi, Mega-Prabowo langsung saya coret.

Nomor urut dua, SBY-Boediono. Nanti dulu, mari simak nomor urut tiga, JK-Wiranto. Saya tidak terlalu menghiraukan faktor Wiranto karena dia orang nomor dua, cawapres. Jadi, saya merasa tidak terlalu perlu mengotak-atik kelebihan atau kelemahannya. Saya hanya melihat faktor JK.

Sebenarnya JK punya nilai plus dengan ketegasan dan keberanian dalam melangkah. Sayang saat itu nilai lebih itu tidak terlalu terekam atau tidak terlalu saya anggap perlu. Saya justru masih terngiang-ngiang dengan kemenangan JK dalam Munas Partai Golkar di Bali, akhir 2004, mengalahkan Akbar Tanjung. Sementara saat itu, saya begitu mengidolakan Akbar, terutama semenjak saya pernah bertatap muka langsung medio 2004. Ya, Akbar yang membawa kembali Golkar meraih posisi pertama dalam Pileg 2004, rupanya dikalahkan JK. Padahal, seluruh peserta Munas terlihat berdiri memberi tepuk tangan meriah kepada Akbar usai LPJ-nya mulus diterima. Karena itu, saya berkesimpulan, JK pasti melakukan money politic untuk kemenangannya itu.

Kembali ke nomor urut dua, SBY-Boediono. Ketika itu sudah cukup banyak yang mengupas bagaimana politik pencitraan SBY. Apalagi lawan politik SBY, tentu berupaya menyerang SBY bahwa jangan sampai rakyat tertipu pencitraan SBY itu. Nah, pernyataan itu banyak didengungkan lawan politik SBY, menurut saya waktu, barangkali itu hanya ingin menjatuhkan SBY.

Saya lalu teringat bagaimana besan SBY, Aulia Pohan, duduk di kursi pesakitan dan kemudian divonis bersalah atas korupsi di BI. Wouw, SBY mempersilakan sang besan dipenjara! Luar biasa! Ini dia langkah maju pemimpin Indonesia. Kalau besan saja “diserahkan” dengan mudah kepada aparat hukum, tentu siapa pun bisa dihukum oleh pihak berwenang tanpa dihalang-halangi SBY atau orang-orang di sekeliling kekuasaan; suatu kondisi yang sangat dibutuhkan Indonesia saat ini.

Namun apa lacur, rupanya itulah politik pencitraan. Melihat kasus-kasus hukum tingkat nasional belakangan ini dan tidak terlihat greget SBY dalam memberangusnya, saya baru tersadar bahwa saya telah tertipu oleh politik pencitraan, terkelabui oleh pesona SBY. Malah sebelumnya saya berpikir Aulia adalah “korban” politik pencitraan SBY, baru terpikir kemudian bahwa bisa saja sang besan presiden turut berperan melanggengkan SBY di RI-1. Apalagi, kemudian terkuak oleh Gayus bahwa saat di tahanan, selain dirinya, Aulia Pohan bisa keluar-masuk penjara tanpa diketahui publik. Artinya, bisa saja sudah ada deal Pohan siap jadi korban, tetapi mendapat keistimewaan bisa tamasya ke mana-mana ketika "namanya" dipenjara.

Saya makin sadar telah merasa tertipu usai mencuatnya kasus Nazaruddin. Secara logika, pasti mudah bagi SBY—jika memang mau membantu pemberantasan korupsi—untuk menekan Nazaruddin menyerahkan diri ke KPK. Apalagi daya magis SBY yang begitu kuat di PD, tempat naungan Nazar belakangan ini. Jadi, saya berpikir, satu-satunya hal yang menghalangi SBY untuk turut serta membantu KPK dalam mencari dan memeriksa Nazar adalah keterlibatan SBY atau orang-orang PD dalam kasus-kasus korupsi. Jika tidak ada potensi keterlibatan itu, tentu SBY dapat dengan mudah “mencangking” Nazar untuk dibawa ke KPK.[]

Jomblangan, 13 Juni 2011