Sunday, January 29, 2012

Kisah Shalat Istikharah (2)

Cerita lainnya tentang istikharah saya adalah soal pernikahan. Beberapa kali gagal dalam usaha menggaet pendamping hidup, puji syukur kepada Allah akhirnya saya ditautkan dengan seorang istri yang sempurna buat saya. Begitu sempurna sehingga untuk mendapatkannya pun saya harus seperti “bermandikan darah”. Harus melalui usaha keras yang saya kira tanpa kekuatan keyakinan kepada petunjuk-Nya maka akan dengan mudah saya menyerah.

Saya mulai mengenal istri saya sekitar Juli atau Agustus 2009. Mungkin karena kasihan melihat saya jomblo sekian lama, mbak saya mengenalkan saya dengan si dia. Saya hanya diberi nomor telpon dan dipersilakan melakukan hubungan lebih lanjut sendiri. Karena berbeda jauh soal latar belakang pendidikan dan pergaulan, kami memang sering tidak nyambung saat mengobrol . Kiranya hanya kejombloan saya yang membuat saya terus mencoba menghubunginya. Sementara dia mungkin hanya punya satu alasan untuk tetap menerima telpon saya: tidak enak sama mbak saya. Dia memang adik kelas mbak saya di pondok.

Pun saat menerima telpon saya, biasanya dia nyambi menyapu, mengobrol dengan adiknya, atau malah tiba-tiba bilang, “Maaf ya saya harus mengerjakan ini dan itu, jadi sekian dulu ya telponnya.” Bagaimana dengan berkirim sms? Jangan harap mendapat balasan! Tapi karena saya jomblo, ditambah saya sudah istikharah untuk memulai hubungan ini, ya saya mencoba terus saja untuk mengenalnya lebih dekat (meski hasilnya malah tambah jauh). Saya bahkan harus agak “memaksa” datang ke rumahnya, sekitar akhir Agustus 2009, untuk mengetahui langsung bagaimana orangnya.

Dengan diberi rute yang—entah sengaja entah tidak—diputer-puter sehingga membuat saya sempat bingung, akhirnya saya menemukan rumahnya. Kami pun jadi saling tahu secara off air, dan rupanya saya semakin tertarik. Hanya saja, sepertinya tidak demikian si dia. Si dia sepertinya malah semakin pantang untuk mau saya dekati. Tidak mau menjawab telpon atau sms. Kalaupun dijawab maka bahasanya sangat ketus dan saya yakin tidak ada seorang pun berharap mendapatkan jawaban seperti itu. Semangat saya pun sempat mengendur untuk mendekatinya.

Sampai akhirnya iseng-iseng itu mendapat “hadiah”. Pada hari kelima (kalau tidak salah ingat) lebaran tahun 2009, saya hendak menghadiri reuni alumni Kairo di Pekalongan, kira-kira 50km dari rumah saya dan hanya 2-3 km dari rumah istri saya. Kebetulan juga mbak saya ke Pekalongan bersama suami dan anak-anaknya untuk bersilaturahmi dan berbelanja batik. Saat saya sudah di Pekalongan, mbak saya menelpon. Rupanya mbak saya tengah berada di toko batiknya bu lik dari istri saya. Mbak saya mengajak saya datang ke toko batik itu dan entah kenapa seperti agak memaksa saya—dan saya enjoy saja—untuk ikut ke rumah bu lik saya yang berimpitan dengan rumah istri saya. Karena rumahnya berdekatan itu dan saya juga sudah mengenal (tahu) dia dan keluarganya, tentu tidaklah elok untuk tidak mampir.

Pertemuan itu pun terjadilah. Bagi saya, sama sekali tidak ada niatan pendekatan saat pertemuan itu. Saya sudah berpikir nyaris mustahil mendekatinya, karena saya pun tahu dia mungkin belum bisa melupakan kondisi baru saja putus dari pacarnya karena tidak direstui orang tua. Hanya saja, saat mau berpamitan pulang, saya iseng berbisik kepada mbak saya, “Tawarkan kapan giliran si dia mau mampir ke rumah?” Mbak saya pun menyalurkan aspirasi saya. Tanpa dinyana sama sekali, neneknya menjawab penuh keyakinan, “Ya segera lah, insya Allah 2-3 hari lagi.”

Saya kaget mendengar jawaban itu. Niat nanya iseng bin basa-basi malah dijawab dengan amat sangat serius. Saya juga melihat mimik kaget bercampur tidak percaya ada di wajah istri saya saat itu. Hal yang sama juga ditunjukkan ibu mertua saya. Saya sangat maklum, karena tanpa musyawarah dulu—minimal dengan ibu mertua karena ayah mertua sedang tidak di rumah, kok bisa-bisanya nenek menjawab seperti itu. Tapi kemudian semua mencair dengan saling senyum.

Dengan keluarga yang sudah saling mengunjungi, mau tidak mau kami menjadi seakan-akan makin dekat. Mungkin dia tidak menginginkan hal seperti ini, tapi saya pun tidak bisa mengelak kejadian ini. Tidak mau berlarut-larut memainkan hati yang tidak jelas ujungnya, saya pun segera istikharah untuk menanyakan secara resmi kesediaan si dia bagaimana jika berlanjut ke pelaminan. Kondisi sebelum istikharah adalah saya berharap dia mau menjadi istri saya. Namun, saya pun tahu sepertinya harapan saya itu sangat kecil kemungkinannya, melihat betapa sengitnya dia saat menjawab telpon atau sms.

Justru karena “perlawanan” sengit seperti itulah yang membuat saya “mempercepat” proses. Saya tidak mau berlama-lama terkungkung dalam keadaan seperti itu. Jangan sampai bertepuk sebelah tangan ini berlarut-larut. Kalau memang jodoh, biarkan kami segera duduk bersama di pelaminan. Kalau memang bukan jodoh, biarlah saya tenang memikirkan bakal calon lainnya. Bismillah, segera saya melakukan shalat istikharah. Kalau tidak salah ingat malah sampai tiga kali.

Setelah shalat istikharah, saya pun memberanikan diri menyatakan dengan tegas maksud saya, yaitu hendak melamarnya. Melalui telpon, saya pun menanyakan, “Bagaimana dengan Anda?” (tentu tidak seperti itu bahasanya) Deg-degan menunggu jawaban? So pasti! Mau tahu jawabannya? Setelah yang satu ini ya…. Eh, malah kayak iklan…. Sama sekali tidak disangka, dia menjawab MAU! Nah loh, lalu apa yang membuatnya mau? Saya bertanya demikian. Dia menjawab, ya karena keinginannya. Aneh banget ya, selama ini kan kalau dihubungi seperti selalu menghindar, diajak nikah kok malah menjawab mau. Sempat saya ragu dengan jawaban itu, namun saya percaya sajalah, daripada berabe.

Sungguh, saya tidak menyangka jawabannya MAU. Bahkan saya sudah benar-benar sangat siap jika jawabannya TIDAK. Malah saat itu saya berjanji pada diri saya, melihat gelagat menjauh seperti yang selama ini dia tampakkan, kalau jawabannya TIDAK maka saya tidak akan mengulangi pertanyaan yang sama. Saya akan langsung mundur dan benar-benar melupakannya. Saya sangat yakin semua sudah diatur oleh-Nya dan saya sangat yakin dengan istikharah. Berbeda sekali dengan usaha-usaha sebelumnya mencari pendamping hidup, yang tidak akan mundur sebelum tiga kali menanyakan dan selalu dijawab TIDAK. Karena mendapat jawaban MAU, saya pun segera menghubungi keluarga di rumah (saat itu saya di Jogja) agar dalam pekan itu secara resmi melamar si dia ke rumahnya.

Itulah kekuatan istikharah. Sesuatu yang tadinya abu-abu, masih ragu-ragu untuk dijalankan, menjadi begitu mudah dan ringan untuk dilalui. Sementara sesuatu yang sudah tidak diragukan untuk dikerjakan, layak juga untuk diistikharahi dulu, supaya lebih mantap lagi untuk dilaksanakan. Yakinlah, kalau itu memang terbaik menurut pandangan-Nya maka jalannya akan semakin dilempangkan. Adapun jika itu tidak baik menurut-Nya maka akan dicarikan jalan lain yang lebih mudah lagi ditempuh.[]

Kampung Sawah, 27 Desember 2011-Wonoyoso, 29 Januari 2012

Monday, December 26, 2011

Kisah Shalat Istikharah (1)

Kapan pertama kali mendengar tentang shalat istikharah? Saya sebenarnya sudah sejak kecil mendengar istilah istikharah. Istikharah, yang secara etimologi bisa diterjemahkan sebagai “ingin memilih”, pertama kali saya praktikkan pada tahun 2001. Saat itu awal berada di Mesir. Kisahnya berkaitan dengan cinta pertama, yang diawali cinta monyet tetapi kemudian berkembang menjadi cinta beneran. Buktinya, bertahan dari kelas 2 MTs sampai tahun ketiga duduk di bangku kuliah. Kalau dihitung-hitung rentang waktunya mencapai hampir 8 tahun—meski sempat terputus sekitar setahun di 2001 itu.

Nah, setelah putus menuju pertautan kembali itulah saya pertama kali melaksanakan shalat istikharah. Awalnya seperti begitu mudah saling mengucapkan “ai lev yu”, tetapi rupanya kali ini harus diucapkan dalam status mahasiswa, tentu harus disikapi lebih dewasa. Si dia pun menanyakan keseriusan saya. Nah loh, saya sempat dag-dig-dug-der-daia lah atas pertanyaan itu. Karena itulah, tanpa tanya sama ortu, saya coba mengambil keputusan sendiri (don’t try this ya!).

Sebenarnya hati sudah bulat untuk menjawab “ya, serius!” namun coba ah istikharah dulu. Saya sendiri bingung bagaimana sih istikharah itu. Bodohnya, saya tidak coba membuka buku-buku yang ada untuk mencari tahu tentang shalat istikharah. Akhirnya berdasarkan ingatan saja, dan ingatan itu pun sama sekali tidak mutawatir alias dari dengar-dengar-mencuri-dengar.

Saat itu setahu saya shalat istikharah ya setelah selesai shalat dua rakaat lalu buka mushaf Al-Qur`an sekenanya dan lihatlah isi kandungan ayat yang secara acak dipilih itu. Konon, dari ayat itulah bisa “diterawang” kira-kira pilihan kita itu ke depannya bagaimana. Kebetulan juga saat itu yang terbuka adalah ayat tentang surga. Wah, pilihan tepat nih untuk mengiyakan, pikir saya waktu itu. Duh, benar-benar pengetahuan konyol saat itu.

Akhirnya dengan yakinnya menjawab anggukan. Sekali lagi saya tegaskan: tanpa meminta pendapat ortu. Sengaja saya tegaskan seperti itu karena rupanya ending-nya tidak seperti surga. Kelak, kami tetap harus berpisah jua. Jadi, bagaimana pun juga saya sarankan orang tua tetap harus diutamakan untuk dimintai pendapat soal masa depan. Dapat saya simpulkan bahwa istikharah saya ketika itu memang tidak bisa ditiru karena tidak melalui dasar rujukan yang tepat. Kalau memang benar ada tata cara istikharah seperti itu, maka dapatkanlah dari guru atau buku yang tepat, tidak sekadar dengar-dengar saja tanpa dasar yang bisa dipertanggungjawabkan.

Sekian lama kemudian saya tidak bersentuhan lagi dengan istikharah. Sampai pulang ke Indonesia dan bekerja di penerbitan di Jakarta. Sebagai penyunting bahasa, kebetulan salah satu buku yang harus saya sunting memuat tentang tata cara shalat istikharah. Karena menyunting buku itu membacanya berkali-kali maka tata cara shalat istikharah itu rupanya benar-benar merasuk ke dalam lubuk hati saya yang paling dalam, cieeeee….

Untuk “uji coba” kebenaran tata cara shalat istikharah yang saya dapatkan dari menyunting buku itu, kebetulan saat itu saya merasa melihat seorang bakal calon pendamping hidup. Bismillah, saya melaksanakan shalat istikharah. Sesuai dengan tuntunan dalam buku itu, saya melaksanakan shalat dua rakaat, lalu membaca doa yang ma’tsur dari Rasulullah saw. Setelah itu, biarlah Allah yang menunjukkan jalan terbaik. Beberapa saat kemudian, entah kenapa tiba-tiba ada orang yang tanpa pendahuluan basa-basi apa pun, kok mengatakan kekurangan alias kelemahan yang melekat pada diri si dia yang kiranya tidak baik buat saya. Hmm, ini mungkin petunjuk dari-Nya.

Istikharah berikutnya berkaitan dengan pekerjaan. Selepas dari penerbit di Jakarta itu, saya pulkam. Di tengah pulkam, rupanya ada telpon dari nomor yang tidak saya ketahui. Yang saya tahu hanyalah 021, artinya dari Jakarta. Sayang, telpon tersebut hanya jadi missed call karena saya tidak mendengar deringnya. Kemudian saya ketahui dari seorang teman bahwa itu rupanya dari sebuah penerbit lain di Jakarta yang levelnya di atas penerbit yang pernah saya bela. Dia mengatakan begitu karena ternyata pemimpin redaksinya sempat meminta nomor hp saya kepadanya.

Saya pun bimbang. Niat hati pulkam memang rencananya untuk mengabdi pada wong ndeso sajalah. Namun, ini ada tawaran dengan prospek begitu cerah untuk masa depan, belum lagi pendapatan yang kiranya jauh di atas penerbit sebelumnya. Karena ragu-ragu, saya pun meminta orang tua untuk mengistikharahkan. Berbeda dengan tata cara yang saya pelajari, menurut ortu, petunjuknya adalah sebuah ayat yang kandungannya kira-kira “rezeki bisa datang dari mana saja”. Tanpa pikir panjang, saya berkesimpulan bahwa berarti di Jakarta pun kalau ada rezeki ya harus saya jemput.

Segeralah saya ke Jakarta. Setelah ngobrol—bukan interview—dengan Pemrednya, saya diberi pekerjaan untuk mengedit sebuah naskah. Konon, pekerjaan freelance itulah yang menjadi tolok ukur layak-tidaknya saya ditarik ke penerbit tersebut. Singkat cerita, karena kemudian laptop mengalami kerusakan cukup serius hingga perlu diperbaiki berkali-kali, saya harus menyerah pada tugas itu. Tidak bisa memenuhi tenggat waktu yang telah ditentukan. Buyarlah harapan saya untuk bisa eksis di penerbit bonafid. Saya pun masih berpusing-pusing memikirkan hasil istikharah ortu dengan ending-nya yang seperti ini…. Kok bisa seperti ini ya?

Sebenarnya, pada saat yang hampir bersamaan, saya juga tengah mengajukan lamaran beasiswa S2 di UGM. Sebelum mendaftar beasiswa ini, saya pun mengamalkan istikharah sesuai ilmu yang saya dapat. Hanya saja, sepertinya tidak ada tanda-tanda positif mengenai kabar beasiswa. Saat itu saya berpikir mungkin yang terbaik buat saya memang tidak kuliah di UGM. Saya benar-benar menikmati tawakal setelah istikharah-usaha-doa seperti itu.

Yang datang kemudian justru kabar bahwa sebuah SMA di dekat kampung saya membutuhkan guru bahasa Arab. Setelah istikharah, saya pun mencoba mengajukan lamaran. Beberapa hari kemudian, saya diminta menghadiri rapat guru di SMA itu untuk bersiap mengajar. Inilah yang terbaik buat saya. Jawabannya begitu cepat.

Alhamdulillah, mungkin ini jawaban dari dua istikharah saya sekaligus. Mendaftar beasiswa tidak diluluskan dan jalan yang harus saya tempuh adalah mulai mengabdi di kampung halaman. Tidak perlu saya sebutkan berapa materi yang saya dapat dari tugas mengajar. Betapa nikmatnya, saat itu saya sepenuhnya percaya bahwa rezeki itu datang dari Allah, sehingga hanya bisa bersyukur saat mendapat honor, itu pun sebagian saya serahkan kepada ibu saya. Menjadi guru di kampung halaman, saya sadar bahwa itu adalah bentuk pengabdian, bukan bentuk mencari nafkah. Toh, insya Allah saya bisa mencari nafkah dengan menjadi penerjemah atau editor lepas, pikir saya saat itu—dan alhamdulillah memang begitu kenyataannya.

Namun, tak disangka tak dinyana, belum genap dua bulan mengajar di SMA, saya mendapat informasi bahwa aplikasi beasiswa saya di UGM diterima. Ya, tahun itu rupanya pengumuman penerimaan mahasiswa dengan beasiswa tertunda sekitar satu bulan. Saya pun segera menghadap kepada kepala sekolah. Dengan begitu pengertian dan tanpa keberatan sedikit pun, kepala sekolah sangat mendukung dan bahkan mendorong langkah saya untuk segera daftar ulang di UGM. Bagaimana dengan pelajaran bahasa Arab yang saya ampu? Nanti mudah dicarikan penggantinya, begitu jawab kepala sekolah. Saya tawarkan untuk tetap mengajar tiap Jumat-Sabtu pun tidak diperkenankan. Katanya kasihan saya kalau harus bolak-balik ke Jogja tiap pekan.

Setelah benar-benar kuliah dengan beasiswa, saya benar-benar merasa betapa besar manfaat yang saya dapat dari shalat istikharah. Hati ini benar-benar dengan mudah menerima apa pun jalan yang harus dilalui, meski itu tidak sesuai dengan harapan semula. Saya pun jadi merasa seperti menemukan jawaban dari istikharah-istikharah yang saya lakukan sebelumnya. Termasuk hasil istikharah ortu soal “rezeki bisa datang dari mana saja”, rupanya saya salah kira di awalnya itu, karena setelah saya perhatikan lagi, rupanya memang rezeki itu bisa dari mana saja, tidak harus dari penerbit bonafid seperti harapan semula.[]

Kampung Sawah, 27 Desember 2011-Wonoyoso, 29 Januari 2012

Thursday, November 24, 2011

melawan korupsi itu fardhu ain

tahun 2009, pada pemilu legislatif, para calon wakil rakyat mengeluarkan begitu banyak uang untuk mendapatkan suara rakyat sebanyak-banyaknya. mulai sekadar pasang pamflet, membayar tim kampanye, hingga mungkin banyak yang memberikan iming-iming uang untuk menarik massa sebanyak-banyaknya supaya memilihnya.

setelah jadi, maka jangan heran kalau ia ingin uang sejumlah besar yang sudah ia keluarkan saat masa kampanye segera kembali ke kantong. bahkan, kalau perlu, uang yang didapatkan harus melebihi uang yang dikeluarkan.

jika kita mau datang ke akar rumput, akan kita temukan banyak masyarakat membutuhkan bantuan. seperti modal kerja, biaya kesehatan, sarana dan prasarana pendidikan. sekian banyak peluang bantuan yang mungkin didapatkan masyarakat, tetapi rata-rata harus melalui beberapa pintu. runyam, karena melewati pintu-pintu tidak gratis.

jika dihubungkan dengan kasus pileg 2009 itu, rupanya banyak masyarakat yang harus melalui pintu legislator untuk mendapatkan bantuan. nah, di sinilah salah satu peluang si caleg terpilih untuk mengembalikan modal yang dahulu dikeluarkannya pada 2009. baik, akan saya usahakan bantuan untuk bapak, tapi nanti jangan lupakan saya ya, sekian persen dari total bantuan untuk saya. begitu kira-kira setiap kali masyarakat hendak "mengemis" bantuan.

konon, bahkan pembagiannya ada yang sampai 70% untuk legislator makelar dan hanya 30% untuk penerima bantuan. jika tidak bersedia merelakan persenan itu, jangan harap ada bantuan mengalir. mending saya usahakan untuk orang/yayasan/lembaga lain yang mau membaginya dengan saya. begitu kiranya si legislator makelar berpikir. dengan begitu, masyarakat jadi tidak punya pilihan lain.

jika mau bersikap otokritik, tentunya masyakarat juga tidak bisa langsung menyalahkan legislator--ataupun pejabat eksekutif--semacam ini. toh, itu semua hulunya sebagian menyangkut di masyarakat. misalnya, masyarakat yang mau menerima uang suap saat pileg itu. saat mau ditawari uang sogokan untuk memilih caleg, biasanya memang tak butuh waktu apalagi pemikiran panjang untuk menerimanya. asyik, dapat angpau! begitu kira-kira teriak dalam hati para pemilih. padahal, hal ini bisa berakibat fatal di kemudian hari.

ok, si penerima sogokan--bahkan meskipun akhirnya ia tidak memilih si pemberi sogokan itu--barangkali tidak merasakan apa pun di masa mendatang. misalnya karena ia memang tidak pernah butuh bantuan pemerintah atau memang tidak pernah mau berurusan dengan para pemegang kekuasaan negara. namun, sungguh hal itu dapat menyulitkan orang-orang yang seharusnya menjadi tanggungan pemerintah.

jika anda tidak percaya, silakan datang ke sepuluh lembaga pendidikan, terutama swasta, lebih terutama lagi yang biasanya mengandalkan uluran bantuan pemerintah--bukan lembaga swasta yang menarik pungutan luar biasa besar pada siswanya. saya hampir pasti bisa menjamin bahwa paling tidak separuh dari sepuluh lembaga pendidikan itu pernah mengeluarkan sekian persen bantuan yang diterimanya untuk "broker", entah dari eksekutif, entah dari legislatif, entah sudah melalui berapa tangan dari kedua lembaga itu.

sekali lagi, rasanya memang tak perlu terlalu menyalahkan para "broker" itu. mari perbaiki diri sendiri dengan tidak mau menerima sogokan dalam bentuk apa pun saat pemilu, baik pemilu nasional maupun pemilu daerah. itulah salah satu kekuatan kita untuk melawan korupsi. mungkin banyak cara lain untuk melawan korupsi, tetapi itulah kiranya salah satu fardhu ain yang menjadi kewajiban setiap masyarakat indonesia.

kampung sawah, 24 november 2011

Monday, October 31, 2011

Resmi M.A.!


Alhamdulillah bisa mengikuti Wisuda Pascasarjana Periode I Universitas Gadjah Mada Yogyakarta pada 26 Oktober 2011. Sesuai ijazah yang diterimakan saat itu, "...sehingga kepadanya diberikan gelar Master of Arts (M.A.)...."


Semoga berkah.

Tersono, 31 Oktober 2011

Saturday, September 24, 2011

Kisah Pemburu Tanda Tangan

Kamis pagi-pagi mau bangun rasanya malas sekali. Mungkin masih merasakan capai setelah “roadshow” Jogja-Solo-Pekalongan-Jakarta-Jogja kurang dari lima hari. Sampai Jogja lagi Rabu pukul 03.00, paginya langsung ke perpustakaan kampus. Pantas saja malam Kamisnya tidur nyaris semalaman penuh. Bahkan, Kamis pagi terasa masih malas untuk bangun.

Namun, apa mau dikata, deadline pengumpulan syarat-syarat wisuda sudah semakin dekat, kurang dari sepekan. Padahal, masih sangat banyak yang belum dipersiapkan dengan fix: revisi tesis, pengesahan oleh para penguji dan pejabat berwenang, summary berbahasa Inggris, naskah publikasi, bahkan juga pas foto! Belum lagi urusan penjilidan tesis yang konon mengantri karena banyaknya mahasiswa yang juga mengejar wisuda 26 Oktober 2011 ini. Juga pembuatan file pdf dilengkapi bookmarks sekaligus burning CD tesis untuk diserahkan ke perpustakaan.

Di antara langkah-langkah yang harus diselesaikan itu, yang paling dianggap momok rupanya bukan revisi tesis—seperti yang ditakuti selama ini. Rupanya masih ada yang lebih layak “ditakuti”: meminta tanda tangan para penguji. Di antara empat penguji, memang ada seorang penguji yang selama ini dikenal ketat untuk sekadar memberikan tanda tangan. Konon, beliau tidak mau memberi tanda tangan jika tesis belum benar-benar berkualitas. Seorang dosen berkarakter demikian memang sudah seharusnya dimiliki universitas sekelas UGM. Mari memberikan applaus untuk beliau. Orang seperti beliau inilah yang dapat dengan ketat menjaga kualitas lulusan UGM. Namun, bagi mahasiswa seperti saya, kiranya janganlah semua dosen seperti beliau. Bisa-bisa, saya tidak akan bisa lulus.

Selain satu penguji superketat ini, tentu saja memburu tiga penguji lain dalam waktu mepet juga bukanlah sesuatu yang baik. Ya, apalagi Kamis pagi masih malas bangun, sementara tesis belum juga dicetak! Akhirnya bisa bangun meski agak siang, lalu ke Dongkelan, markas teman-teman sejurusan. Di sana melihat seorang teman yang masih tahap mencetak tesisnya. Kertas berserakan di mana-mana untuk ditata, melihat hal itu, mata rasanya berputar-putar tidak keruan. Makin pusing saja! Beberapa teman yang lain menyemangati agar saya juga langsung mencetak tesis di tempat yang sama. Namun, rasanya makin pusing.

Ah, pulang sajalah; cetak tesis di rumah! Teman-teman sepertinya meragukan, khawatir kalau saya pulang malah keasyikan online dan melupakan urusan tesis. Tidak! Saya akan langsung mencetak tesis di rumah. Benar, sampai di rumah, saya langsung nyatakan tesis siap cetak! Padahal, revisi tesis dilakukan tidak terlalu ketat. Risikonya jelas, jika diteliti lagi, para penguji bisa-bisa tidak mau tanda tangan. Tapi apa mau dikata, deadline sudah semakin dekat.

Sekitar pukul 14.30, tesis sudah selesai dicetak oleh Epson T11. Dirapikan sedikit, alhamdulillah sudah tampak cukup meyakinkan. Ya, tampak cukup meyakinkan, tentu jika dilihat dari luar. Kalau mau obrak-abrik tiap halaman, tentu tesis ini masih sangat ecek-ecek. Tak apalah, yang penting sudah menyiapkan juga ruang untuk ditandatangani dosen. Setelah itu, iseng-iseng menelpon teman yang paginya selesai mencetak itu. Rupanya belum mendapat satu tanda tangan pun, dan baru akan bertemu seorang dosen pukul 15.30!

Yap, saya ikut! Setelah beres-beres, shalat ashar di rumah, kira-kira pukul 15.10 berangkat ke kampus. Kebetulan juga si teman baru sampai di dekat gedung dosen 1. Pukul 15.24, langsung menuju ruangan dosen. Alhamdulillah, hanya basa-nasi sebentar, dosen 1 langsung membubuhkan tanda tangannya. Berikutnya, tiga dosen penguji lainnya. Sms atau telpon? Sms sajalah. Dapat! Dosen 2 siap ditemui di kampus UIN besok jam 7 pagi. Dini harinya, dosen 3 membalas sms mempersilakan kami menemui beliau di Gedung Lengkung. Bagaimana dengan dosen 4 yang dikenal superkatat itu? Nanti dululah.

Jumat pagi-pagi, meski malamnya kurang tidur karena menyempatkan diri main fustal, sudah meluncur ke UIN. Pukul 06.50 sudah sampai di UIN. Tidak sampai sepuluh menit, dosen 2 datang. Alhamdulillah juga, tanpa banyak bicara langsung mengeluarkan pulpen dan menandatangani halaman pengesahan. Masih ada waktu sekitar satu jam menuju temu janji dengan dosen 3. Bagaimana kalau coba langsung ke kantor dosen 4, siapa tahu sudah rawuh.

Pukul 07.15 sampai di ruangan dosen 4. Masih terkunci. Sms sajalah, siapa tahu sudah mau sampai di kantor. Tidak dibalas. Menunggu beberapa menit masih juga tidak ada balasan. Ya sudah, ayo ke Gedung Lengkung saja untuk “mencegat” dosen 3, takutnya telat sedikit beliau langsung mengikuti acara Reuni Akbar. Lima menit kemudian sudah sampai Gedung Lengkung. Sekitar pukul 7.45, dosen 3 belum juga tampak, malah ada sms dari dosen 4: bisa (ditemui hari ini). Kami balas: kapan? Beliau balas: sekarang!

Hah? Ini lima belas menit lagi waktu janji temu dengan dosen 3, bagaimana dong? Ya sudah, dosen 4 biasanya lebih sulit ditemui, sementara dosen 3 tampak lebih akrab dengan kami, mudah-mudahan nanti mau menerima penjelasan kami kalau kami harus ketemu dulu dengan dosen 4. Langsung balik lagi meluncur ke kantor dosen 4.

Si teman yang baru Selasa kemarin ujian mendapat giliran pertama untuk meminta tanda tangan. Setelah tesis diserahkan, benar saja, rupanya masih diteliti lagi! Bolak-balik beberapa halaman, soal-jawab, memberi beberapa masukan. Kira-kira lebih dari 10 menit pengecekan itu. Saya yang menunggu giliran berikutnya, tentu deg-degan. Memutar otak mencari-cari jawaban jika ditanya mengenai metodologi penelitian (tentang ini soalnya masih mentah banget!), kesesuaian antara rumusan masalah dan kesimpulan, serta kemungkinan pertanyaan-pertanyaan lain. Ah, pikiran benar-benar kacau! Banyak istighfar sajalah! Shalawat juga!

Tiba giliran tesis saya diserahkan. Beliau melihat halaman judul, saya jelaskan perubahan judul. Halaman berikut dibuka, pas langsung halaman pengesahan. Ajaib! Mengambil pulpen dan langsung membubuhkan tanda tangan tanpa menanyakan apa pun lagi! Alhamdulillah…!!! Si teman pun berikutnya meminta tanda tangan karena tadi setelah memberi masukan sedikit revisi belum ditandatangani.

Lega sekali rasanya sudah mendapatkan tanda tangan dosen 4 ini. Luar biasa rasanya, sepertinya saat inilah baru selesai ujian tesis. Berikutnya, kembali dosen 3, sudah pukul 8 lebih. Wah, sudah telat! Di jalan menuju Gedung Lengkung, seorang teman yang juga menunggu dosen 3 sms: Beliau belum datang. Syukurlah, tidak perlu mengebut lagi di jalanan.

Pukul 8.18, sampai lagi Gedung Lengkung. Rupanya dosen 3 belum tampak. Bertanya ke pegawai yang juga mengenal beliau, dijawab tampaknya memang belum hadir. Ya sudahlah, syukur saja kami tidak terlihat terlambat di mata dosen 3. Pukul 8.25 beliau masih belum tampak juga. Bagaimana ini? Teman: telpon sana! Saya: tidak enak ah. Tapi kelamaan, akhirnya saya beranikan sms: nuwun sewu Pak, kami sudah di Gedung Lengkung. Di tengah mengetik sms, ada tanda sms masuk; nanti dulu lah bukunya setelah mengirim sms ini. Selesai kirim sms, buka sms masuk, rupanya dari dosen 3: saya sudah di dalam ruangan acara. Wah…. Kami pun langsung bergegas naik lift menuju lantai 5.

Sebelum kami meminta maaf, beliau sudah menanyakan: sudah dari tadi ya sampai Gedung Lengkung. Ya, kami menjawab sambil menjelaskan bahwa kami menunggu di gerbang dekat BNI. Rupanya beliau tidak melalui gerbang itu. Mungkin lewat gerbang utama, mungkin juga lewat parkiran mobil di lantai dasar gedung yang dikhususkan bagi para pejabat itu. Oh iya, beliau kan termasuk pejabat ya.

Senang sekali rasanya mendapatkan tanda tangan keempat itu. Selesai juga akhirnya tesis ini disahkan oleh para penguji. Siap dimintakan tanda tangan Wakil Direktur Sekolah Pascasarjana. Karena beliau juga ikut acara Reuni Akbar, kami pun meminta dengan memelas kepada staf beliau agar sebisa mungkin hari ini beliau sudah tanda tangan. Akan diusahakan, katanya, apalagi ia juga tahu bahwa deadline penyerahan syarat-syarat wisuda adalah Selasa pekan depan, sementara tesis belum dijilid (kira-kira butuh waktu dua hari) lalu diserahkan ke perpustakaan beserta softcopy dalam bentuk CD. Sang staf mempersilakan kami datang ke tempatnya lagi siangnya, barangkali sudah ditandatangani.

Sambil menunggu siang, masih ada cukup waktulah, akhirnya meluncur ke studio foto. Setelah itu pulang dulu, juga masih sempat untuk menyempatkan ke rumah teman yang mau membantu membuatkan summary, cukup menyerahkan kepadanya ringkasan tesis berbahasa Indonesia.

Usai shalat jumat, kali ini tidak tergesa-gesa seperti paginya, kami pun kembali ke Gedung Lengkung. Alhamdulilah, rupanya sudah ditandatangani Wakil Direktur SPS. Sekarang tinggal minta stempel di lantai 1, lalu siap dijilid. Alhamdulillah…. []


Jomblangan, 24 September 2011