Wednesday, August 03, 2016

2nd Lanao Region Stakeholders Meeting


Pada tanggal 21 Juli 2016, TS2 menyelenggarakan 2nd Lanao Region Stakeholders Meeting di TS2 Residence. Pertemuan ini dihadiri oleh wakil-wakil dari PNP, AFP, GPH CCCH, MILF AHJAG, MILF LMT, MILF CCCH, JCMP, GPH LMT, Non-violence Peace Force/NP (CSO), Direktur Pangkadait (CSO), Chairman MOGOP.

Di awal pertemuan, AFP menyebutkan bahwa pihaknya terkadang kesulitan dalam operasi penegakan hukum, misalnya saat mengejar local terrorist group (LTG), seperti Maute Brothers, yang saat dikejar justru memasuki wilayah yang dikuasai MILF. AFP bahkan merasa bahwa MILF terkesan melindungi LTG seperti Maute Brothers itu.

MILF menolak dikatakan melindungi LTG, bahkan menegaskan bahwa MILF juga memiliki kepentingan yang sama untuk memberantas LTG. Terkait keberadaan Maute Brothers di Butig, MILF tidak dapat berbuat banyak karena Maute Brothers telah sejak lama menguasai wilayah itu. MILF juga mempersilakan AFP jika hendak memberantas Maute Brothers yang kebetulan markasnya tidak jauh dari wilayah kekuasaan MILF. Bahkan, MILF sudah pernah meminta kewenangan untuk juga memberantas Maute, tetapi justru belum ada tanggapan/izin dari AFP.

Suasana sempat memanas di antara AFP dan MILF, sebelum terpotong oleh coffee-break. Saat menikmati hidangan di tengah coffee-break, para peserta berbaur dan berbincang santai sehingga suasana mencair kembali.

Di sisi lain, MILF juga mendengar adanya laporan bahwa sebenarnya Maute sengaja “diciptakan dan dipelihara” oleh AFP sehingga kawasan tersebut tampak tidak stabil yang pada akhirnya melegitimasi AFP untuk terus mengawasi kawasan tersebut. Menanggapi hal ini, AFP menyatakan bahwa kabar itu hanyalah rumor dan meminta semua pihak untuk tidak memercayai rumor tersebut.

Adapun NP menyoroti masih bertambahnya jumlah internally displaced persons (IDPs) di daerah-daerah konflik. NP pun meminta MILF dan AFP turut peduli menangani IDPs ini. Dalam hal ini, AFP dan MILF sama-sama menyatakan bahwa IDPs tidak menjadi kewenangan mereka dan menyarankan agar NP dapat membuat permintaan resmi kepada pemerintah daerah setempat agar menanganinya. Demikian halnya dengan kasus terjadinya pembakaran beberapa gedung sekolah.

NP juga menyampaikan concern-nya mengenai tentara dari kalangan anak-anak. NP mengklaim pernah mendapatkan laporan verbal baik dari AFP maupun MILF mengenai anak-anak yang menjadi tentara di kawasan Lanao. Hanya saja, laporan verbal tersebut tidak pernah ditindaklanjuti dengan laporan resmi. Jika betul ditemukan adanya pelanggaran rekrutmen tentara anak-anak, NP mengharapkan agar secepatnya dibuatkan laporan resmi kepada mereka sehingga bisa ditindaklanjuti.

TSL saat menyimpulkan jalannya pertemuan menyatakan bahwa isu-isu yang mengemuka diharapkan dapat diselesaikan pihak-pihak terkait. TSL menegaskan bahwa pihaknya, sesuai mandat IMT, tidak dapat bertindak proaktif, melainkan hanya reaktif. Karena itu, IMT khususnya TS2 tidak berencana menginisiasi pertemuan MILF-AFP untuk menyelesaikan kasus-kasus yang mereka hadapi. Meskipun demikian, TSL menegaskan pihaknya berharap dapat berpartisipasi dan juga siap memfasilitasi seandainya kedua belah pihak sepakat untuk mengadakan pertemuan-pertemuan untuk menjembatani perbedaan-perbedaan pemahaman yang ada.[]

Iligan City, 31 Juli 2016

Silaturahmi ke 103rd Base Command MILF





Inilah kali kedua memasuki camp militer MILF. Sebelumnya, pada patroli pertama 19 Juli 2016, berkesempatan melihat-lihat camp Bilal di Munai, yang dikomandoi salah satu “jenderal” MILF penuh karisma, Commander Abdullah “Bravo” Makapaar. Namun, saat itu Camp Bilal sangat sepi dan tidak tampak sebagai pusat pelatihan milier, lebih terlihat sebagai perkampungan penduduk sipil biasa; jalan yang masih tanah liat dan minus pemenuhan listrik. Konon, camp tersebut memang masih layer terluar dari bagian pusat pelatihan militer. Adapun untuk mencapai tempat pelatihan dalam arti sebenarnya masih harus berjalan kaki berjam-jam lamanya.

Kali ini, 25 Juli 2016, berkesempatan memasuki Camp Ali bin Abi Thalib, juga layer terluarnya dan bahkan camp ini baru dibangun dikhususkan untuk menerima tamu-tamu pihak eksternal; tidak dikhususkan sebagai tempat pelatihan militer. Berada di tengah pegunungan dan mesti turun dari mobil dan berjalan kaki sekitar 1 km untuk mencapainya, camp ini dalam waktu dekat sepertinya akan segera terjangkau oleh jalan beraspal atau berbeton. Tampak pembangunan di sepanjang jalan menuju camp ini terus dikebut.

Oleh para anggota MILF, jalan ini disebut dikerjakan oleh para kontraktor yang ditunjuk oleh Pemerintah Filipina. Camp ini sendiri terletak di dekat jalan tembus baru—betul-betul menembus hutan lebat—antara Marawi City ke arah Wao City. Sebelumnya, jika dari Marawi hendak pergi ke Wao maka harus berputar ke arah utara dulu, lanjut ke timur, baru ke selatan menuju Wao. Kini, dengan adanya jalan baru ini, yang sementara baru bisa dilalui kendaraan bermotor saat jauh dari musim hujan, cukup lurus saja ke selatan dari Marawi menuju Wao.

Saat bulan April lalu rombongan Head of Mission IMT memasuki camp ini, bahkan jalan kaki ditempuh lebih jauh yakni sekitar 4 km, dikali dua karena saat berangkat dan pulang demikian adanya. Kini, dengan pengebutan pemadatan jalan itu, saat berangkat memang harus berjalan 1 km, tetapi pulangnya bisa langsung naik mobil dari dalam camp karena para driver mampu mengendalikan jalan tanah liat itu. Tentu saja harus dengan ekstra hati-hati.

Ketika sampai di 103rd Base Command MILF yang terletak di Municipality Maguing, tepatnya Barangay Dilimbayan, rombongan TS2 IMT langsung disambut dan dikalungi semacam medali oleh Aleem Mujahid M Dima-Ampao, komandan base command ini, dan jajarannya. Berikutnya, upacara militer ala Bangsamoro Islamic Liberation Front/BIAF-MILF dilaksanakan, sementara rombongan IMT dipersilakan naik ke panggung. Upacara militer dimulai dengan teriakan komandan upacara dengan slogan-slogan jihad muslim: Allahu ghoyatuna, al-qur’anu dusturuna, ar-rasulu qudwatuna, dst.

Selesai upacara militer, para tamu dari IMT yang terdiri dari TS2 dan Non-violence Peace-force (NP) ini dipersilakan singgah di kediaman Aleem Mujahid yang berada di belakang aula tempat pertemuan—yang juga biasa digunakan sebagai masjid. Di kediaman Aleem Mujahid ini, para tamu disuguhi sarapan. Beberapa anggota rombongan yang berpuasa pun, demi menghormati tuan rumah, terpaksa membatalkan puasa Senin itu. Mungkin karena rombongan TS2 IMT semuanya beragama Islam, suasana tampak sangat akrab, nyaris tanpa kekakuan atau formalitas.

Setelahnya, semua menuju aula pertemuan di mana sekitar 200 anggota BIAF/MILF telah menunggu. Tidak terlalu banyak yang disampaikan TS2 dalam pertemuan ini karena TS2 memang “sekadar” hendak melihat perkembangan situasi. Kol. Romi selaku TS Leader hanya menyampaikan perkenalan singkat, mengingat 3 dari 4 anggota TS2 yang hadir baru pertama kali ini berkesempatan silaturahmi ke Camp Ali bin Abi Thalib. Kol. Romi juga menegaskan bahwa IMT akan berusaha sekuat tenaga agar perdamaian di Moro homeland segera tercapai.

Pertemuan ini lebih dimanfaatkan oleh NP yang datang untuk memberikan memberikan penyuluhan mengenai hukum humaniter internasional dan penegasan kembali komitmen semua pihak, termasuk MILF, mengenai pencegahan rekrutmen anak-anak menjadi anggota militer. Selain itu, NP mempresentasikan substansi United Nations Convention on Protection of the Child (UN CPC).

NP sempat memancing usia berapakah anak-anak dianggap sudah melewati masa larangannya menjadi tentara. Sebagian anggota BIAF menyebut angka 15, ada juga 16 dan 17 tahun. NP pun kembali mengingatkan bahwa baru saat melewati usia 18 tahunlah seseorang boleh diajak bergabung dengan pasukan militer. Tidak semua percakapan di antara NP dan anggota MILF itu mudah dimengerti, mengingat sebagian besar percakapan mereka menggunakan bahasa lokal, Maranao. Kebetulan, dari 4 personel NP yang hadir, 3 di antaranya merupakan warga asli Mindanao. Hanya satu yang berasal dari luar, dan jauh sekali, Finlandia.

Selain ditemui oleh Base Commander, Aleem Mujahid M Dima-Ampao, rombongan IMT juga ditemui atasannya, yakni Commander Jannati Mimbantas, Komandan MILF North Eastern Mindanao Front (NEMF), yang selevel dengan Commander Bravo sebagai Komandan MILF North West Mindanao Front (NWMF). Pada pertemuan ini, Commander Jannati menginformasikan kepada para anggotanya bahwa MILF pada 12 Juli 2016 di Davao City telah menyepakati kerja sama dengan Pemerintah Filipina perihal pemberantasan peredaran narkoba. Dengan kesepakatan ini, BIAF memiliki kewenangan untuk turun tangan langsung dalam melawan individu ataupun geng-geng yang terlibat penyalahgunaan narkoba.

Dari pengamatan pada pertemuan itu, terlihat anggota BIAF, setidaknya yang hadir saat itu, didominasi kalangan orang-orang tua, dengan umur berkisar 50-60 tahun. Senjata yang mereka tenteng pun—yang dibeli oleh mereka masing-masing karena menjadi anggota BIAF ini sendiri merupakan langkah sukarela atas panggilan jihad—tampak tidak terlalu sophisticated. Konon, senjata mereka dibeli dari anggota militer Filipina, yang pada beberapa kesempatan justru menjadi pihak yang mereka hadapi di medan pertempuran.

Selain kalangan orang tua, tampak menonjol juga para tentara berjilbab, bahkan banyak juga bercadar, yang tergabung dalam MILF-Bangsamoro Islamic Women Auxiliary Brigade (BIWAB). Hanya saja, para anggota BIWAB ini tidak aktif menjadi peserta upacara sambutan militer, hanya menjadi penonton seperti tamu lainnya. Demikian pula tidak tampak di antara mereka yang menenteng senjata api. Konon, anggota BIWAB ini lebih banyak diandalkan di balik panggung pertempuran, seperti penyediaan logistik dan penanganan kesehatan. Namun, menurut pengakuan security IMT yang berasal dari MILF, para anggota BIWAB ini juga dibekali pelatihan militer selayaknya kaum laki-laki. Tentunya pelatihan mereka terpisah, hanya instrukturnya yang juga terdiri dari sebagian laki-laki.

Dominasi kalangan tua di BIAF ini dapat ditengarai sebagai indikasi mengendurnya semangat atau militansi generasi muda MILF. Atau, bisa jadi para generasi muda MILF kini memandang bahwa menjadi tentara yang konotasinya adalah berperang sudah tidak relevan lagi saat ini. Hal ini bisa menjadi pisau bermata dua: jika perdamaian tercapai maka itu sangat bagus dan mudah untuk langkah demiliterisasi, tetapi di sisi lain akan menjadi kerugian bagi MILF seandainya di masa depan harus terjadi kontak senjata lagi dengan pihak luar. Tentu saja harapannya adalah yang pertama: perdamaian permanen tercapai dan biarlah yang menjadi tentara mengikuti jalan persatuan bersama militer Pemerintah Filipina. []

Illigan City, 26 Juli 2016

Bagaimana Menyikapi Perbedaan



Umur tak pernah bohong. Demikian yang saya rasakan saat membaca Alquran dengan mushaf kecil. Kini mata sungguh tak nyaman saat membaca mushaf berukuran kira-kira kurang dari 7x10cm itu, bahkan terasa sakit. Menyesal juga kenapa Alquran Madinah seukuran kertas A5 yang ada di rumah 2 buah tidak dibawa salah satunya. Beruntung masih membawa tablet, ukuran cukup ideal jika untuk membaca Alquran. Namun, sepertinya akan lebih sehat jika bisa mengurangi interaksi mata dengan pancaran sinar dari barang elektronik.

Alhamdulillah, seorang teman dari Brunei kemudian menawarkan meminjami sebuah Alquran seukuran A5, atau sedikit lebih besar. Dengan senang hati saya menerimanya, dengan harapan semoga makin banyak yang tertular kebaikan: yang membaca Alquran berpahala, yang meminjamkan mushaf juga berpahala.

Hanya saja, saat baru mulai membaca surah Yasin, terasa seperti ada “kejanggalan”. Seingat saya, pada ayat kelima, saya biasa membaca tanziilal-aziizir-rahiim, tetapi saya dapati harakat yang tertera pada mushaf Brunei ini adalah dhammah pada huruf lam, menjadi tanziilul-aziizir-rahiim. Saya pun tetap membaca tanziilal-aziizir-rahiim, seperti yang saya biasa baca dengan mushaf-mushaf yang selama ini saya tahu. Saya berpikir, jangan-jangan typo dan lolos dari pemeriksaan sebelum pencetakan. Karena saya yakin mushaf ini tentu sudah melewati pemeriksaan lembaga berwenang, sebagaimana di Indonesia dilakukan oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran di bawah Kemenag RI, apalagi di halaman depan jelas tertulis sebagai mushaf dari Sultan Brunei, tentu tidak sembarangan dicetak dan didistribusikan.

Pada ayat-ayat berikutnya, rupanya terasa lagi “kejanggalan-kejanggalan” lain, yang terdekat adalah dua kata saddan pada ayat ke-9 surah Yasin itu, di mana di mushaf Brunei ini tertulis suddan dengan sin yang dhammah. Saya pun mulai berpikir, sepertinya apa yang terlihat ini bukan typo, ini ada unsur “kesengajaan”. Hal yang sama juga terjadi di surah lain, misalnya saat membaca surah Alkahfi, baru ayat kedua sudah langsung merasakan “kejanggalan”, di mana biasa membaca mil ladunhu, tiba-tiba cukup jauh berubah menjadi mil ladunihii.

Karena saya rasa saya masih bisa mengingat dan yakin dengan bacaan tanziilal, saddan, ladunhu, dll, maka saya pun membaca sesuai dengan yang saya ingat dan yakin itu. Meskipun saya bukan orang yang hafal Alquran, mengingat ini adalah surah-surah yang sangat sering dan biasa dibaca, baik sendiri maupun beramai-ramai, maka saya yakin dengan bacaan saya—mengabaikan harakat dan tanda baca yang tertera pada mushaf Brunei itu. Untuk membaca surah-surah lain yang tidak sesering surah-surah itu, saya pun menggunakan mushaf di tablet—menghindari kekurangyakinan atau kekurangtepatan cara baca.

Setelah selesai membaca Yasin dan Alkahfi itu, saya penasaran untuk lebih mengetahui seluk-beluk mushaf Brunei ini. Di cover dengan sangat jelas tertulis: bir-rasmil-utsmani. Saya pikir selama ini di Indonesia, juga Mesir dan Arab Saudi, rasm inilah yang paling mudah dijumpai. Atau lebih tepatnya saya sebenarnya juga penasaran seperti apakah rasm yang lain. Sejauh apa perbedaannya. Mushaf Brunei ini, rupanya juga menggunakan rasm yang sama, menandakan sesama rasm utsmani pun bisa terjadi perbedaan, dalam hal ini harakat atau tanda baca.

Tulisan lain yang cukup mencolok di cover adalah: mushaf al-waatsiq billah, jalalatis sulthan hasanal bulqiyah, mu’izziddiin wad daulah, sultan dan yang dipertuan negara brunei darussalam. Tak ada yang salah dalam hal ini. Tentu saja mushaf Raja Abdul Aziz atau Raja Salman Saudi, juga mushaf Sultan Brunei, pasti sama-sama telah melewati pemeriksaan ketat sebelum dicetak dan diedarkan. 

Kemudian baru ada tulisan lain, yang sepertinya kalah mencolok dengan tulisan-tulisan lainnya, yaitu: biriwaayati syu’bah ‘an ‘ashim, bacaan riwayat Syu’bah dan ‘Ashim. Sepertinya di sini kuncinya. Teringat kembali pelajaran-pelajaran dasar mengenai qiraah sab’ah di Madrasah TBS Kudus dulu. Mungkin sangat dasar, tetapi mungkin tidak terlalu dasar juga. Satu yang pasti hanyalah bahwa saya kurang mendalami atau kurang memahami pelajaran itu (untuk guru tercinta yang mengajari kami qiraah sab’ah, K.H. Muhammad Manshur, lahul-faatihah).

Sedikit membuka ingatan, di otak muncul adanya keterangan tentang 7 imam qira’ah (bacaan) yang disepakati oleh para ulama akan validitas dan kesahihan riwayat bacaannya sampai kepada Baginda Rasulullah saw. Ke-7 imam itu memiliki setidaknya masing-masing dua penerus yang tiap penerus itu memiliki perbedaan-perbedaan bacaan. Dengan demikian, setidaknya ada 14 qira’ah atau cara baca yang berbeda-beda, tetapi kesemuanya insyaAllah sama-sama benar, sahih, dan valid.

Klarifikasi

Untuk meyakinkan diri, saya coba hubungi teman yang bekerja di Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran Kemenag RI yang kantornya ada di kawasan Taman Mini Indonesia Indah. Saya juga mintakan pendapat kepada teman yang sudah hafal Alquran 30 juz sejak kelas 5 SD, lulusan Madrasah TBS dan Pondok Tahfidz Yanbu’ul Quran Kudus. Saya kirimkan capture foto mushaf Brunei itu dan menanyakan pendapatnya. Menurut keterangan keduanya, mushaf-mushaf yang banyak beredar di Indonesia umumnya didasarkan dari bacaan riwayat Hafsh dari ‘Ashim. Adapun mushaf Brunei ini tertera merupakan riwayat Syu’bah dari ‘Ashim.

Dengan demikian, perbedaan tanda baca, juga terkadang ada perbedaan huruf, ini merupakan turunan dari perbedaan perawi bacaan. Karena belajar dari satu imam, yaitu Imam Ashim, maka Imam Syu’bah dan Imam Hafsh ini tidak terlalu kentara perbedaan bacaannya. Jika dilihat lebih lanjut, sepertinya memang tidak terlalu banyak perbedaan antara mushaf Brunei riwayat Syu’bah ini dengan mushaf-mushaf riwayat Hafsh yang banyak beredar di Indonesia. Jika mau satu persatu membuka setiap halaman mushaf Brunei riwayat Syu’bah ini, jelas tidak setiap halaman ada perbedaan dengan mushaf Hafsh.

Beruntung mushaf Brunei yang dipinjamkan ke saya ini tertera biriwayati Syu’bah sehingga menjadi clue yang sangat membantu untuk menelusuri “kejanggalan” seperti yang saya rasakan. Seandainya tidak tertulis biriwayati Syu’bah itu, barangkali saya mesti mengeluarkan keringat lebih banyak untuk memecahkan kunci perbedaan ini.

Di kesempatan berikutnya, teman Brunei ini membawa mushaf Brunei lainnya. Saya lihat cover-nya ada perbedaan. Memang sama-sama diterbitkan oleh Sultan Brunei, tetapi kali ini mencantumkan biriwayati Hafsh ‘an ‘Ashim. Isinya pun persis seperti mushaf yang lebih banyak beredar di Indonesia. Apresiasi patut diberikan kepada Sultan Brunei yang mau mencetak mushaf dengan beragam riwayat. Hal ini kiranya dapat memperkaya khazanah keilmuan Alquran di Brunei.

Tashih

Dari kejadian ini, saya menyimpulkan bahwa kita memiliki dua pilihan saat melihat mushaf yang “rasanya” berbeda atau ada yang janggal menurut kita. Tentu saja pilihan ini berwujud setelah ditelusuri kesahihan mushaf tersebut. Untuk kita yang tinggal di Indonesia, kita percaya otoritas Lajnah Pentashihan Alquran. Jika mushaf tersebut sudah mendapatkan surat tanda tashih resmi dari lajnah tersebut, insyaAllah dapat kita percayai validitasnya.

Pengecekan tanda tashih perlu dilakukan karena tidak semua mushaf lokal yang ada di pasaran tanah air mencantumkan tanda tashih ini. Memang, tidak adanya tanda tashih bukanlah tanda pasti bahwa mushaf tersebut tidak valid. Namun, berdasarkan pengalaman pribadi, saya pernah mendapati adanya kesalahan cukup fatal pada mushaf yang tidak mencantumkan tanda tashih, padahal dikeluarkan oleh penerbit spesialis Alquran, yang menginduk pada kelompok penerbit besar yang dikenal banyak menerbitkan buku-buku keislaman.

Sebenarnya, selain tanda tashih yang dikeluarkan Lajnah Pentashihan Alquran Kemenag RI itu, beberapa penerbit mushaf di Indonesia juga terkadang secara mandiri mencari tashih dari para ulama pakar bacaan Alquran. Secara substansi, hal itu tidaklah masalah, yang terpenting adalah bahwa mushaf yang dicetak dan didistribusikan di masyarakat umum itu sudah betul-betul diperiksa dan divalidasi oleh para ahlinya.

Kembali kepada dua pilihan saat melihat mushaf yang “rasanya” berbeda atau ada yang janggal menurut kita, maka mungkin dapat dipilih salah satu untuk konsistensi. Pertama, membaca sesuai hafalan atau ingatan yang ada, dengan syarat betul-betul yakin. Dalam arti, karena mungkin belum betul-betul hafal di luar kepala atas suatu ayat atau surah atau juz Alquran, maka membacanya akan terbantu dengan memegang mushaf dengan “rasa berbeda” itu. Saat menemukan atau merasakan perbedaan itu maka yang dipegang adalah yang sesuai hafalan atau ingatan atas dasar keyakinan. Dengan demikian, dapat mengabaikan tanda baca yang tertera pada mushaf yang tengah dipegangnya.

Kedua, mengabaikan semua hafalan dan ingatan yang selama ini ada di otak, untuk kemudian berpegang teguh dengan semua tanda baca yang ada pada mushaf “berbeda” yang tengah dibacanya. Asalkan diterapkan secara konsisten, tentunya tidak masalah. Suatu hal yang selayaknya dihindari adalah mencampuradukkan hafalan dan tanda baca mushaf “berbeda”. Misalnya, pada awal ayat berpegang pada hafalan, tetapi saat terjadi perbedaan berikutnya malah berpegang pada tanda baca mushaf “berbeda” itu.

Sederhananya, bila pada awal membaca mengikuti bacaan riwayat Syu’bah, maka seterusnya, atau setidaknya sampai satu surah, selayaknya membaca atas riwayat Syu’bah. Jika membacanya di muka umum dan hendak membaca dengan riwayat berbeda-beda, ada baiknya pula menjelaskan dengan riwayat apa ia sedang membaca. Jangan sampai malah membingungkan pendengar karena seakan-akan hanya melihat inkonsistensi dari lahiriah bacaannya.

Menyikapi Perbedaan

Jika permasalahan ini dapat dibahas lebih lebar, dalam hal melihat setiap perbedaan maka kita harus dapat mengurainya dengan kepala dingin. Bahwa tidak semua hal yang berbeda dengan pemahaman kita itu selalu salah. Bahkan, belum tentu juga pemahaman atau ilmu yang kita miliki 100% benar dan bebas dari kesalahan. Bisa jadi, pemahaman kita benar dan pemahaman yang berbeda itu juga sama benarnya. Seperti kasus mushaf Syu’bah dan mushaf Hafsh ini.

Jika sedang tidak waras, bisa saja saya akan dengan mudah menyalahkan mushaf Brunei itu. Misalnya ketika berlaku sombong karena merasa sudah cukup lama belajar di Kudus, kota yang cukup terkenal dengan tradisi ilmu Alqurannya, maka bisa jadi akan berpikiran: mushaf Brunei ini pasti tidak diteliti sebelum dicetak. Itulah laku sombong yang harus dihindari. Kasus saya ini tentu saja sombong dengan kebodohan. Karena kalau betul—tidak hanya merasa—lama belajar di Kudus, tentu setidaknya pernah mendengar sekelumit pelajaran qira’ah sab’ah dan ujung-ujungnya akan mengklarifikasi perbedaan yang ada.

Saat terdapat perbedaan di antara dua hal, kiranya dapat disimpulkan tiga kemungkinan, yaitu keduanya benar, keduanya salah, atau salah satunya benar dan salah satunya salah. Dalam hal ini, mengingat semakin luasnya ilmu yang ada di dunia ini, dan nyaris mustahil bagi kita menguasai semuanya, maka satu sikap paling mudah diambil jalur amannya adalah: tidak mudah menyalahkan orang lain.

Boleh menganggap ilmu yang kita miliki benar, tetapi jangan sampai saat melihat orang lain yang berbeda pemahaman maka langsung mengecapnya salah. Kembali ke tiga kemungkinan di atas. Dengan kunci “tidak mudah menyalahkan orang lain” inilah diharapkan dapat meyakinkan orang-orang yang terkadang mengungkapkan keluhannya, “Saya ingin belajar Islam, tetapi Islam yang manakah, sepertinya Islam itu banyak, saya malah menjadi bingung.”

Dengan demikian, keluhan orang itu dapat diubah menjadi, “Saya melihat banyak warna dalam Islam, dan karena saya baru belajar satu warna maka saya yakini satu warna ini sebagai kebenaran. Adapun warna lainnya, saya harus belajar jauh lebih dalam lagi untuk mengomentarinya. Bisa jadi saya tidak punya cukup waktu bahkan untuk sekadar mendalami luasnya samudra ilmu satu warna ini sehingga cukuplah bagi saya untuk memegang satu warna tanpa menyalahkan warna lain.”

Sabda Rasulullah saw.—sebagian meyakini sebagai perkataan tabi’in—menyebutkan bahwa perbedaan di antara umat Islam adalah merupakan rahmat. Dengan demikian, setiap perbedaan yang ada harus disikapi secara bijak. Perbedaan dianggap sebagai bentuk kasih sayang Allah, bukan sumber perpecahan. Lagi-lagi kembali kepada tiga kemungkinan di atas. Ujung-ujungnya, apalagi melihat kemungkinan ketiga bahwa bisa jadi salah satunya adalah salah, dan misalnya yang salah adalah pemahaman yang tengah kita yakini, maka ada baiknya kita terus belajar. Terus mendalami ilmu yang masih sebagian kecil saja kita raih, daripada sibuk menyalahkan pemahaman atau praktik yang berbeda dari orang lain.[]

Iligan City, 1 Agustus 2016

Friday, July 29, 2016

Galau karena Tadarus Al Quran

Alhamdulillah berada di tengah-tengah orang yang suka beribadah. Team Site Leader dari Malaysia juga rajin mengajak shalat maktubah berjamaah. jadilah salah satu ruangan di TS2 ini menjadi mushola. Berawal dari ngobrol soal keislaman, kemudian diputuskan bersama untuk menambah kegiatan, berupa tadarus/mengaji Alquran setiap selesai shalat isya.

Sesuai ajaran kitab Ta’limul Muta’allim, di mana saat memulai pembelajaran ada baiknya dimulai pada malam/hari Ahad atau Rabu maka diputuskan tadarus dimulai pada Sabtu malam Ahad, 23 Juli 2016. Dalam tadarrus itu, saya diminta memulai dengan membaca Al Fatihah dan halaman pertama surah Al Baqarah. Kemudian dilanjutkan dengan 3 member TS2 lain yang saat itu hadir.

Kembali saya bersyukur karena pernah nyantri di Kudus dan belajar membaca Al Quran kepada para ahlinya. Bersyukur pula karena menghabiskan masa kecil di Pujut, desa yang secara tradisi “memaksa” anak-anak seusia SD-SMP untuk banyak bergelut dengan ilmu-ilmu agama Islam di sekolah sore (madrasah diniyah), dilanjutkan mengaji Al Quran pada waktu bakda magrib sampai masuk waktu shalat isya. Setiap hari.

Sehingga sebelum melanjutkan nyantri di Kudus, atau juga melanjutkan sekolah tingkat SMA/MA di kota lain, warga Pujut bisa telah 2 kali khataman Al Quran di hadapan para ustadz yang dengan ikhlas berbagi ilmu tilawahnya. Khataman pertama bisa diselesaikan saat masih usia SD dengan menghadap pada ustadz di masjid atau mushola-mushola yang tersebar di berbagai titik di Pujut.

Khataman kedua biasanya didapatkan dari ustadz atau kiai yang dianggap lebih mumpuni lagi bacaan Al Qurannya, di masjid desa, setiap usai shalat shubuh. Juga setiap hari. Khataman kemudian dirayakan pada penutupan Pengajian Rutin Selasa yang setiap tahunnya digelar pada bulan Sya’ban. Perayaan mungkin sekadar menampilkan rasa syukur, tahadduts bin ni’mah, selain sebagai “uji mental” karena para santri yang telah khatam itu diminta membaca surah Adh Dhuha hingga An Nas di hadapan ratusan jamaah yang tidak hanya berasal dari desa Pujut.

Rasa syukur ini sangat terasa bila kemudian merantau ke sekitar kota besar, atau bahkan ke luar negeri seperti saat di Iligan City ini. Saat merantau di Jakarta, kemudian masuk ke kantong-kantong masjid/musola, alhamdulillah rasanya karena bacaan yang disampaikan, terutama saat tiba-tiba diminta menjadi imam shalat magrib/isya/subuh/tarawih, tidak terlalu memalukan.

Demikian pula saat menjadi TPI-IMT ini, di mana di sekeliling terdapat orang-orang yang senang dengan shalat jamaah, kemudian malah beberapa kali mendorong saya untuk menjadi imam shalat jamaah. Ditambah lagi dengan tadarus bersama setiap usai shalat isya. Dalam tadarrus itu, saya beranikan diri untuk mencoba mengoreksi cara baca—yang menurut ilmu yang saya dapat—kurang tepat. Alhamdulillah, orang yang saya koreksi menerima dengan terbuka.

Kemudian di hari-hari berikutnya malah saya tidak dapat giliran membaca Al Quran. Saya hanya diminta menyimak kemudian mengoreksi sekiranya ada bacaan-bacaan mereka yang kurang tepat, baik dari segi makhraj, tanda baca, maupun cara berhenti di tengah ayat saat napas tak kuat hingga ujung ayat. Bahkan kemudian juga ada beberapa tanya jawab mengenai cara membaca Al Quran ini.

Berkahnya menjadi warga Pujut, juga santri Kudus, bisa berbagi ilmu di tempat yang jauh dari keluarga seperti ini. Meski saya akui jika misalnya saya diberi kesempatan nyantri lagi di hadapan para asatidz dan ulama ahli Al Quran, belum tentu saya langsung diluluskan setiap kali membaca surah atau ayat tertentu. Namun, sebatas pengetahuan saya, ilmu yang pernah saya dapatkan semoga dapat bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain.

Di tengah obrolan santai, saya dapat cerita bahwa member TS2 ini umumnya memang hanya belajar Al Quran “sekadarnya”. Mereka mengakui tidak pernah mengenyam pendidikan agama Islam secara khusus, seperti misalnya madrasah diniyah atau pesantren. Salah satu member TS2 dari Brunei bahkan mengakui bahwa baru beberapa bulan yang lalu dirinya kembali bersemangat belajar membaca Al Quran, padahal mungkin usianya sudah sekitar 50-an tahun. Semangat belajar dan beribadah mereka tentu tetap harus diacungi jempol.

Saya kemudian jadi berpikir, seandainya masa kecil saya dulu tidak di Pujut, tidak nyantri di Kudus, bagaimana keadaan saya saat ini? Saya juga berpikir untuk anak-anak saya nanti. Merantau di Jakarta membuat anak-anak saya tidak mendapati “tradisi” pemaksaan mengaji seperti di Pujut. Betul bahwa ada SD Islam Terpadu di dekat rumah. Tapi saya masih merasa bahwa sekolah nonformal semacam madrasah diniyah, apalagi jika ditambah mengaji di malam hari kepada para ahlinya, menjadi ujung tombak kemampuan pembelajaran agama—khususnya membaca Al Quran.

Ingin sekali bisa mendidik anak-anak secara mandiri, tapi dengan keterbatasan waktu karena harus berangkat kerja di pagi buta dan pulang terkadang sudah malam, saya khawatir tidak cukup waktu untuk memerhatikan pendidikan agama mereka. Bagi saya, tetap madrasah diniyah dan pesantren adalah solusi paling jitu. Semoga ada jalan keluar terbaik agar anak-anak kita menjadi orang soleh.[]


Iligan City, 26 Juli 2016

Saturday, July 23, 2016

Senyaman Rumah Sendiri

Sejak sebelum berangkat ke Filipina, saya sudah mengetahui akan ditempatkan di Illigan City, tempat pos Team Site-2 berada. Menuju Illigan City, menempuh perjalanan sekitar 6 jam melalui darat ke arah utara dari Cotabato City, tempat markas besar alias Headquarter (HQ) International Monitoring Team (IMT) berada. Memang sebelum di-deployment ke pos masing-masing, seluruh personel Tim Pengamat Indonesia (TPI)-IMT, mendapatkan induction training di HQ.

Usai menyelesaikan induction training di HQ pada 8-11 Juli 2016, kami segera menuju TS masing-masing, di mana saya bersama Mayor Agus Maha (AU TNI) akan menempati pos di TS-2 Illigan City. Berangkat dengan mobil HQ sekitar pukul 09.00, kami diantar hingga sampai di sebuah rest area di Malabang. Di mobil yang sama, ada juga Mayor Bondan (Marinir TNI) yang akan diantar sampai Pagadena, kira-kira 2 jan berikutnya setelah Malabang. Waktu saat itu menunjukkan sekitar pukul 12.00. Di rest area tersebut, seorang driver TS-2 didampingi 2 petugas keamanan masing-masing satu orang dari Pemerintah Filipina dan MILF. Ketiganya menyambut kami dengan begitu ramah.


Mayor Bondan, Mayor Agus Maha, Agus Hidayat, Jamel, Roy, Efren, dan driver HQ (Dok. Agus Maha)

Untuk melepas lelah, kami pun beristirahat dulu di rest area tersebut. Kami memesankan nasi bungkus (semacam nasi bakar), ayam panggang, durian, dan yang istimewa adalah kelapa muda khas resto rest area tersebut. Istimewanya adalah kelapa muda tersebut tidak sekadar dibuka atasnya untuk memudahkan memasukkan sedotan ke dalam air, tetapi juga seluruh buah kelapanya sudah diangkat. Dengan demikian, sangat memudahkan kami untuk menikmatinya tanpa repot-repot menyendoknya usai air kelapa habis. Sungguh nikmat.


Ayam panggang, kelapa muda, dan durian. (Foto: Agus H.)

Setelah cukup kenyang menikmati hidangan tersebut—dan murah pula, kira-kira tidak sampai 300 ribu rupiah untuk 9 orang yang ada saat itu, kami pun melanjutkan perjalanan. Mayor Bondan kembali naik mobil van HQ bersama seorang sopir dan  pengawal, sementara saya dan Mayor Agus Maha menuju sebuah Fortuner yang dikirimkan TS-2.

Sesampai di pos Illigan City pada Selasa (12/7/2016) sore, langsung disambut oleh Letkol Hadi (AL Malaysia) selaku Deputy Team Site Leader Illigan City. Sambutan hangat langsung kami rasakan, misalnya dengan tangannya sendiri Letkol Hadi menawarkan sepasang sandal dalam rumah untuk kami pakai sebelum memasuki ruangan. Setelah memasuki kamar masing-masing, Letkol Hadi kemudian mengajak kami ke ruang makan. Rupanya sudah disediakan pula makan siang untuk kami. Letkol Hadi yang sedang berpuasa dengan ramah menceritakan seluk-beluk tentang TS-2, sementara kami dipersilakan sambil menikmati makan siang.

Usai shalat magrib dan isya berjamaah, Letkol Hadi menyampaikan agenda keesokan harinya, yakni  perkenalan dengan seluruh “penghuni” TS-2. Rabu (13/7/2016) pagi, kami berkumpul di teras depan rumah/kantor  TS-2. Kami berdua diberi kesempatan untuk memperkenalkan diri terlebih dahulu. Kemudian berturut-turut memperkenalkan diri adalah Ryan (pengawal/Pemerintah Filipina atau biasa disingkat GPH), Roy (pengawal/GPH), Sowaib (pengawal/MILF), Jamel (pengawal/MILF), Efren (driver Fortuner), Tampon Keji (driver Innova), Wilfredo (tukang kebun), Emi (pembantu umum), Jane (pembantu umum), dan Tata (admin assistance/Office of the Presidential Advicer on the Peace Process atau biasa disingkat OPAPP). Letkol Hadi menambahkan bahwa ada 1 lagi pegawai yang hari itu sedang libur yakni Edit selaku tukang masak.

Dalam perkenalan itu, juga komunikasi dan interaksi sebelum dan setelahnya, kesan yang ada hanyalah keramahan. Rasanya seperti menemui keluarga sendiri saat memasuki TS-2 ini. Ada cukup perbedaan yang dirasakan dibandingkan dengan waktu-waktu lainnya saat berada di Filipina ini. Demikian pula dengan kesan yang didapat dari group whatsapp TS-2 yang berisi 6 anggota (3 militer Malaysia, 1 militer Brunei, 1 militer Indonesia, dan 1 sipil Indonesia), meski belum bertemu dengan 3 personel lainnya dari Malaysia dan Brunei, kehangatan sudah dapat dirasakan saat bertegur sapa di group WA tersebut. Tentu saja keakraban seperti ini diharapkan dapat terus dirasakan hingga misi IMT ini selesai, juga dapat dilanjutkan di kesempatan-kesempatan lainnya dan berikutnya.[]

Illigan City, 13 Juli 2016