Tuesday, August 09, 2016

Ayo Belajar Ngaji, Sekarang!

Usai tadarus Al Quran tadi malam, teman dari Brunei Darussalam menyampaikan rasa terima kasihnya karena telah diajak bersama-sama rutin membaca Al Quran. Setiap malam pun sebenarnya ia juga mengucapkan terima kasih, konon karena senang bacaannya ada yang mengoreksi. Namun, tadi malam rasa terima kasihnya seperti berbeda.

Rupanya ia kemudian menceritakan bahwa pada usianya yang menginjak 46 tahun pada 2017 ini, sebenarnya ia baru benar-benar mau dan mampu membaca Al Quran hanya dalam setahun belakangan ini. Bisa dibayangkan, warga dewasa dari sebuah negara yang berasaskan Islam, rupanya ada yang tidak bisa membaca Al Quran.

Kilas balik kehidupannya, sebenarnya saat kecil dulu ia sempat belajar ugama (agama). Pagi di sekolah formal, sore di sekolah ugama atau di Indonesia barangkali bisa disejajarkan dengan madrasah diniyyah ataupun taman pendidikan Al Quran. Ia juga mengungkapkan bahwa di sekolah pagi pun ada pelajaran ugama, tetapi sangat terbatas. Nyaris persis seperti umumnya sistem pendidikan di Indonesia, ya?

Sayangnya, ia akui, saat belajar ugama di sore hari, ia tak merasa bersemangat. Suka membolos, dan ujung-ujungnya tingkat satu pun tak bisa dilewatinya. Ya, belum genap satu tahun, ia tak melanjutkan sekolah ugama. Mungkin tidak terlalu penting untuk menelisik lebih jauh kenapa sampai berhenti sekolah ugama sehingga tingkat satu pun—dari enam tingkat dasar yang seharusnya dilalui—tidak bisa ia lewati.

Akan ada banyak alasan, mungkin, sama seperti sebagian juga teman-teman kita, orang Indonesia, negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, yang juga memilih atau dihadapkan untuk tidak melanjutkan madrasah diniyyah. Tidak ada yang perlu disalahkan. Jika kita adalah orang tua maka salahkanlah diri kita kenapa tidak memaksa anak-anak kita menuntaskan belajar mengajinya. Jika kita adalah anak-anak, remaja, atau dewasa yang merasa bertanggung jawab, maka salahkan diri kita kenapa tidak memaksa diri sendiri untuk belajar dasar-dasar agama. Bukan karena didesak orang tua, bukan pula karena didesak peraturan negara, misalnya. Ini kebutuhan kita, kebutuhan keluarga kita, yang ujung-ujungnya dapat memberikan manfaat untuk lingkungan yang lebih besar, termasuk negara.

Kembali ke cerita Brunei. Pada masa kecilnya tahun 1970-an, belajar di sekolah ugama pada sore hari tidak diatur oleh negara. Baru pada tahun-tahun belakanganlah, menurutnya, anak-anak diwajibkan untuk belajar ugama di sore hari, setelah belajar formal (baca: umum) di pagi hari. Tidak dijelaskan lebih lanjut mengenai peran negara yang mengatur kewajiban belajar ugama itu, juga bagaimana implikasi dan hasilnya kemudian.

Hanya saja, menurutnya, anak-anak Brunei zaman sekarang lebih beruntung dengan kewajiban itu. Tidak seperti dirinya yang baru sadar untuk mau belajar ugama, setidaknya membaca Al Quran, saat usia menginjak 45 tahun. Diakuinya tidak mudah juga untuk belajar Al Quran di tengah pembagian waktu untuk 3K yang selama ini menghiasi dan terasa sudah memenuhi atau mencukupi hidupnya: keluarga, kerja, kawan. Jika tidak dibarengi dengan tekad kuat, susah baginya untuk betul bisa mampu membaca Al Quran seperti keadaan saat ini, meski diakuinya masih juga banyak yang harus dikoreksi.

Di usianya yang 45 tahun, ia kembali belajar a-ba-ta-tsa. Dimarahi guru ngajinya berkali-kali adalah hal biasa. Terlihat juga bahwa guru ngajinya terkadang tampak kesal karena kesulitan membedakan tsa-sa-sya-sha atau dhad-zha’. Tertatih-tatih seperti itu, tetapi tetap ia jalani dengan tekun. Hasilnya, dalam setahun ini, konon ia telah mengkhatamkan Al Quran 3 kali. Saya hanya bisa mendorongnya untuk terus membaca Al Quran, tetapi saya ingatkan juga bahwa membaca Al Quran seyogianya harus ada gurunya, tidak bisa lulus serta lancar a-ba-ta-tsa dan seluk-beluknya kemudian sendirian mengkhatamkan Al Quran secara mandiri. Ia pun sempat terlihat kaget, namun kemudian berterima kasih atas nasihat itu.

Dulu, baginya, tidak bisa membaca Al Quran pun rasanya biasa saja. Di militer Brunei, setiap kesatuan sebenarnya ada tadarus rutin yang harus diikuti semua personel. Namun, ada saja cara mengakalinya kalau memang hendak mengelak. Misalnya, ia tetap mengikuti acara tadarus itu, tetapi saat samping kanannya selesai membaca, mikrofon diterimanya dan langsung diberikan lagi kepada samping kirinya untuk melanjutkan. Berbuat begitu karena malu, katanya, sebab menyadari diri tidak lancar membaca Al Quran. Hal ini menunjukkan betapa jika tidak ada tekad kuat dari dalam diri sendiri, memang tidak akan ada jalan untuk belajar dan memperbaiki diri.

Saat menceritakan kisahnya, ia berkali-kali menyebutkan kata penyesalan. Menyesal kenapa baru saat berusia 45 tahun menyadari bahwa membaca Al Quran adalah kewajiban. Baru menyadari membaca Al Quran mampu mendamaikan hati dan pikiran. Berkali-kali pula saya semangati bahwa lebih baik menyesal saat ini (atau tahun lalu) kemudian memperbaikinya daripada tidak ada penyesalan sama sekali.

Tidak ada kata terlambat. Tidak ada kata habis. Selagi napas masih dikandung badan, kesempatan belajar harus dimanfaatkan, betapa pun malunya saat ini. Lebih baik malu saat ini daripada tidak ada perbaikan. Sebaik apa pun bacaan kita saat ini, yakinlah bahwa masih ada bahkan banyak yang lebih baik lagi bacaannya. Mungkin juga sebaik-baik bacaan kita saat ini masih mengandung kesalahan, maka sebaiknya terus bertanya kepada yang lebih ahli.[]

Iligan City, 9 Agustus 2016

Friday, August 05, 2016

Antara Curiga dan Suudzon

Sebelum diberangkatkan ke Filipina, kami mendapatkan Pre-Deployment Training (PDT) sebagai upaya pengenalan tugas-tugas selama mengemban amanat sebagai Tim Pemantau Indonesia International Monitoring Team (TPI-IMT). Dalam PDT itu, selain penjabaran tugas-tugas formal, para instruktur yang sebagian besar memiliki pengalaman bertugas di IMT Filipina atau peace-keeping operations di belahan bumi lainnya, memberikan masukan mengenai budaya, tradisi, dan adat kebiasaan masyarakat setempat di Mindanao.

Salah satu yang menjadi perhatian kami adalah mengenai beberapa kali terulangnya kisah warga setempat yang meminjam uang kemudian berkelit saat jatuh tempo pembayaran. Menurut penuturan senior-senior IMT, mereka yang meminjam uang umumnya para staf di markas-markas IMT. Ada staf administrasi, tukang cuci, tukang kebun, tukang masak, juga driver. Tidak peduli latar belakangnya apa, bisa sipil, militer/GPH, ataupun milisi/MILF. Di TS2 sendiri, selain 6 member TS dari Indonesia, Malaysia, dan Brunei, ada 12 staf pendukung dari warga setempat.

Kisah senior-senior yang ada pahitnya membuat para senior memberikan wejangan agar kami berhati-hati jika ada orang setempat hendak meminjam uang. Apalagi, staf IMT yang mengandalkan gaji dari Office of Presidential Adviser on the Peace Process (OPAPP), di mana kemudian kami alami sendiri terkadang OPAPP terlambat membayarkan kewajiban-kewajibannya kepada IMT. Keterlambatan OPAPP memenuhi kewajibannya juga telah diwanti-wanti oleh para senior.

Belum genap satu bulan bergabung dengan TS2 di Iligan City, Ahad siang, suasana sepi menggelayuti markas. Sepertinya sebagian besar sedang istirahat siang, terlelap di kamar masing-masing. Atau setidaknya sibuk dengan kegiatan kesenyapan di kamar masing-masing. Saya sendiri tengah duduk di depan laptop, menghadap jendela yang kaca nakonya saya buka. Tiba-tiba dari luar jendela salah satu staf TS2 mendekat lalu tersenyum dan terlihat kikuk.

Ia semakin mendekat kemudian dengan lirih mengajak saya berbincang. Ya, silakan ditebak, dan tepat, dia hendak meminjam uang. Menurut penuturannya, ia saat itu harus mentransfer uang ke keluarganya di Tubod, sekitar 80 km dari Iligan. Ia menyebutkan angka 1000 peso, atau sekitar 300 ribu rupiah saat ditanya berapa yang ia butuhkan. Menurutnya, besok hari Senin, pas awal bulan, ia akan menerima gaji dan segera akan mengembalikan pinjaman tersebut.

Saat mendengarkan permintaannya saya langsung teringat kisah para senior. Jadi bimbang. Tidak mungkin untuk tidak memberi pinjaman. Namun, apakah akan meminjamkan 1000 peso ataukah seperti saran sebagian senior, tidak harus dipinjami penuh sesuai angka yang diminta. Di lain detik juga teringat pesan “memberi pinjaman lebih baik daripada memberi sedekah karena orang yang meminta pinjaman artinya betul-betul membutuhkan”. Ya sudah, bismillah saya siapkan 1000 peso. Tapi, saya juga berpesan, “Betul ya besok dikembalikan, jangan bikin saya tidak percaya lagi.”

Kombinasi yang begitu “sempurna”: kisah-kisah kurang menyenangkan dari senior, didatangi dalam kondisi yang seperti sembunyi-sembunyi, diajak bicara dengan pelan-pelan seperti hendak menyembunyikan sesuatu, cerita dan pengalaman keterlambatan OPAPP, dst. Suudzon, mungkin itulah hal terbesar yang ada di dalam hati saat itu. Astaghfirullah. Untuk menghibur hati, saya pun berusaha mengikhlaskan seandainya tidak dibayar nantinya: setidaknya kelak bisa dijadikan “tameng” jika ada yang hendak meminjam lagi. Astaghfirullah.

Benar saja, rupanya suudzon saya itu betul-betul buruk. Besoknya hari Senin, dia betul-betul mengembalikan pinjaman itu. Utuh, hanya berubah dari sebelumnya sebuah pecahan 1000 peso menjadi dua pecahan 500 peso. Memang agak sore, tetapi tetap saja masih hari Senin. Membuat saya sangat menyesal saat berpesan agar ia tak membikin saya tidak percaya lagi kepadanya. Memang sudah sempat merasa menyesal saat mengucapkan pesan itu, tetapi menjadi begitu besar penyesalannya setelah ia benar mengembalikan pinjaman.

Rupanya, kombinasi “sesempurna” itu juga tidak bisa dijadikan alasan untuk berbuat suudzon. Dalam hati sebelumnya saya sempat membela diri: ini bukan suudzon, tapi curiga. Curiga, seingat pelajaran di madrasah diniyah saat kecil dulu, sepertinya masuk di antara satu dari 66 cabang iman. Tapi, ya sudahlah, mari lebih berhati-hati dalam berprasangka.[]

Iligan City, 5 Agustus 2016

Thursday, August 04, 2016

Kunjungan Kehormatan kepada Para Big Boss MILF


Usai mendapatkan induction training di Headquarter IMT, kontingen Indonesia segera menyebar ke pos masing-masing di 4 kota berbeda. Sebelum berpencar, sebagaimana kelaziman, kami pun melakukan kunjungan kehormatan atau biasa disebut dalam bahasa kerennya sebagai courtesy call kepada MILF Leadership di markas besar mereka, Camp Darapanan, Sultan Kudarat, Maguindanao, pada 11 Juli 2016.

Camp Darapanan, menurut penuturan salah satu anggota MILF, awalnya merupakan kediaman pribadi Alhaj Murad Ibrahim, Chairman MILF. Setelah ditunjuk sebagai Chairman MILF kemudian harus menerima banyak tamu, baik dari dalam maupun luar negeri, kediaman itu disulap menjadi apa yang disebut selevel dengan “istana kepresidenan MILF”. Dari jalan besar menuju Camp Darapanan kini tampak sangat rapi dan kokoh.

Cor jalan tersebut tampak masih baru. Saat ditanyakan kepada anggota MILF yang mendampingi kami, ia membenarkan bahwa Pemerintah Filipina memang baru saja memadatkan jalan tersebut. Padahal, jalan itu sepertinya bukan jalan umum, melainkan jalan yang hanya menuju Camp Darapanan. Hal itu terbukti dengan beberapa checkpoint terlihat dan tampak dijaga oleh para tentara berseragam Bangsamoro Islamic Armed Forces (BIAF).

Tentara BIAF-MILF yang setia menjaga Camp Darapanan

Memasuki Camp Darapanan, layaknya “istana kepresidenan”, tampak para penjaga keamanan bersenjata lengkap. Seragam mereka mungkin tak betul-betul seragam selayaknya tentara suatu negara, mengingat setiap atribut, termasuk persenjataan, dibeli oleh para tentara itu secara mandiri. Militansi lah yang membuat para tentara ini terlihat selalu siaga menjaga “istana” pimpinan mereka.

Jangan membandingkan “istana kepresidenan MILF” ini dengan Istana Negara di Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta, tentu saja, yang berada di jantung kota. “Istana kepresidenan MILF” ini tampak sederhana. Saya membayangkan posisinya mirip dengan tengah pedesaan tempat saya tumbuh di Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Hanya, sedikit lebih sepi karena sekaligus sebagai ruang komando MILF secara keseluruhan yang tentu dijaga secara ketat dan tak sembarang orang bisa memasuki kawasan itu.

Dari jalan utama menuju Camp Darapanan, kanan kiri tampak kebun rindang. Kadang juga melewati hamparan sawah yang cukup luas. Paling mencolok adalah pohon-pohon kelapa. Jika membuka jendela mobil, angin sepoi-sepoi terasa begitu memanjakan kulit dan badan, meski cuaca tampak terik. Cuaca boleh terik, tapi dengan lebatnya pepohonan, termasuk cukup lebat juga di pinggiran sawah yang kadang dilalui, membuat pancaran sinar matahari tak terasa begitu “mengancam”.

Saat tiba di Camp Darapanan, kontingen Indonesia disambut dengan hangat oleh para big boss MILF. Hadir pada pertemuan itu di antaranya Alhaj Murad Ibrahim (Chairman), Ibrahim Ja’far (1st Vice-Chairman for Political Affairs), Toks Ibrahim (Chief of Staffs), Al Sheikh Abuhuraira Abdurrahman Udasan (Mufti Bangsamoro), dan Aleem Nour (unsur pimpinan MILF yang juga menjadi Direktur Grand Mosque Sultan Hassanal Bolkiah Cotabato City). Dua nama terakhir merupakan para ulama MILF alumni perguruan tinggi Arab Saudi. Sementara itu, 2nd Chairman, Aleem Malik Sulaiman (yang masa mudanya dihabiskan untuk belajar di Sudan, Mesir, dan Libya dan dilanjutkan bergerilya di hutan-hutan Mindanao) tidak dapat hadir karena sehari-hari posisinya di Marawi City, salah satu basis MILF di Mindanao Barat, sekitar 7 jam perjalanan darat.

Dalam pidato penyambutannya, Toks Ibrahim kagum dengan cerita-cerita tentang Indonesia. Di antaranya, mengenai kisah jenderal-jenderal Indonesia yang begitu peduli dengan anak buahnya. Melindungi sekaligus menaungi mereka. Adapun Chairman Murad menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasihnya atas partisipasi aktif Indonesia dalam IMT. Menurutnya, IMT dibentuk sejak 2003 pada masa Presiden Gloria Arroyo dengan tujuan memastikan ketenangan dan ketenteraman di grass root untuk mendukung proses perdamaian antara MILF dan Pemerintah Filipina.

Chairman Murad juga memberikan update mengenai pertemuan terakhirnya dengan Duterte yang memperkuat keyakinannya akan komitmen Duterte untuk menyelesaikan Bangsamoro Basic Law dan proses perdamaian. Menurut pengamatannya, IMT selama ini sangat membantu untuk menjaga atmosfer yang bagus demi terjaminnya kelancaran proses perundingan perdamaian. Di akhir sambutannya, Chairman Murad menyatakan kesiapannya untuk bekerja sama dengan IMT, khususnya kontingan Indonesia. Chairman Murad pun mempersilakan kontingan Indonesia untuk menghubunginya atau jajarannya jika membutuhkan bantuan MILF dalam hal apa pun.[]

Iligan City, 4 Agustus 2016

Kunjungan Kehormatan kepada Para Big Boss MILF


Usai mendapatkan induction training di Headquarter IMT, kontingen Indonesia segera menyebar ke pos masing-masing di 4 kota berbeda. Sebelum berpencar, sebagaimana kelaziman, kami pun melakukan kunjungan kehormatan atau biasa disebut dalam bahasa kerennya sebagai courtesy call kepada MILF Leadership di markas besar mereka, Camp Darapanan, Sultan Kudarat, Maguindanao, pada 11 Juli 2016.

Camp Darapanan, menurut penuturan salah satu anggota MILF, awalnya merupakan kediaman pribadi Alhaj Murad Ibrahim, Chairman MILF. Setelah ditunjuk sebagai Chairman MILF kemudian harus menerima banyak tamu, baik dari dalam maupun luar negeri, kediaman itu disulap menjadi apa yang disebut selevel dengan “istana kepresidenan MILF”. Dari jalan besar menuju Camp Darapanan kini tampak sangat rapi dan kokoh.

Cor jalan tersebut tampak masih baru. Saat ditanyakan kepada anggota MILF yang mendampingi kami, ia membenarkan bahwa Pemerintah Filipina memang baru saja memadatkan jalan tersebut. Padahal, jalan itu sepertinya bukan jalan umum, melainkan jalan yang hanya menuju Camp Darapanan. Hal itu terbukti dengan beberapa checkpoint terlihat dan tampak dijaga oleh para tentara berseragam Bangsamoro Islamic Armed Forces (BIAF).

Tentara BIAF-MILF yang setia menjaga Camp Darapanan

Memasuki Camp Darapanan, layaknya “istana kepresidenan”, tampak para penjaga keamanan bersenjata lengkap. Seragam mereka mungkin tak betul-betul seragam selayaknya tentara suatu negara, mengingat setiap atribut, termasuk persenjataan, dibeli oleh para tentara itu secara mandiri. Militansi lah yang membuat para tentara ini terlihat selalu siaga menjaga “istana” pimpinan mereka.

Jangan membandingkan “istana kepresidenan MILF” ini dengan Istana Negara di Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta, tentu saja, yang berada di jantung kota. “Istana kepresidenan MILF” ini tampak sederhana. Saya membayangkan posisinya mirip dengan tengah pedesaan tempat saya tumbuh di Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Hanya, sedikit lebih sepi karena sekaligus sebagai ruang komando MILF secara keseluruhan yang tentu dijaga secara ketat dan tak sembarang orang bisa memasuki kawasan itu.

Dari jalan utama menuju Camp Darapanan, kanan kiri tampak kebun rindang. Kadang juga melewati hamparan sawah yang cukup luas. Paling mencolok adalah pohon-pohon kelapa. Jika membuka jendela mobil, angin sepoi-sepoi terasa begitu memanjakan kulit dan badan, meski cuaca tampak terik. Cuaca boleh terik, tapi dengan lebatnya pepohonan, termasuk cukup lebat juga di pinggiran sawah yang kadang dilalui, membuat pancaran sinar matahari tak terasa begitu “mengancam”.

Saat tiba di Camp Darapanan, kontingen Indonesia disambut dengan hangat oleh para big boss MILF. Hadir pada pertemuan itu di antaranya Alhaj Murad Ibrahim (Chairman), Ibrahim Ja’far (1st Vice-Chairman for Political Affairs), Toks Ibrahim (Chief of Staffs), Al Sheikh Abuhuraira Abdurrahman Udasan (Mufti Bangsamoro), dan Aleem Nour (unsur pimpinan MILF yang juga menjadi Direktur Grand Mosque Sultan Hassanal Bolkiah Cotabato City). Dua nama terakhir merupakan para ulama MILF alumni perguruan tinggi Arab Saudi. Sementara itu, 2nd Chairman, Aleem Malik Sulaiman (yang masa mudanya dihabiskan untuk belajar di Sudan, Mesir, dan Libya dan dilanjutkan bergerilya di hutan-hutan Mindanao) tidak dapat hadir karena sehari-hari posisinya di Marawi City, salah satu basis MILF di Mindanao Barat, sekitar 7 jam perjalanan darat.

Dalam pidato penyambutannya, Toks Ibrahim kagum dengan cerita-cerita tentang Indonesia. Di antaranya, mengenai kisah jenderal-jenderal Indonesia yang begitu peduli dengan anak buahnya. Melindungi sekaligus menaungi mereka. Adapun Chairman Murad menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasihnya atas partisipasi aktif Indonesia dalam IMT. Menurutnya, IMT dibentuk sejak 2003 pada masa Presiden Gloria Arroyo dengan tujuan memastikan ketenangan dan ketenteraman di grass root untuk mendukung proses perdamaian antara MILF dan Pemerintah Filipina.

Chairman Murad juga memberikan update mengenai pertemuan terakhirnya dengan Duterte yang memperkuat keyakinannya akan komitmen Duterte untuk menyelesaikan Bangsamoro Basic Law dan proses perdamaian. Menurut pengamatannya, IMT selama ini sangat membantu untuk menjaga atmosfer yang bagus demi terjaminnya kelancaran proses perundingan perdamaian. Di akhir sambutannya, Chairman Murad menyatakan kesiapannya untuk bekerja sama dengan IMT, khususnya kontingan Indonesia. Chairman Murad pun mempersilakan kontingan Indonesia untuk menghubunginya atau jajarannya jika membutuhkan bantuan MILF dalam hal apa pun.[]

Iligan City, 4 Agustus 2016

Wednesday, August 03, 2016

2nd Lanao Region Stakeholders Meeting


Pada tanggal 21 Juli 2016, TS2 menyelenggarakan 2nd Lanao Region Stakeholders Meeting di TS2 Residence. Pertemuan ini dihadiri oleh wakil-wakil dari PNP, AFP, GPH CCCH, MILF AHJAG, MILF LMT, MILF CCCH, JCMP, GPH LMT, Non-violence Peace Force/NP (CSO), Direktur Pangkadait (CSO), Chairman MOGOP.

Di awal pertemuan, AFP menyebutkan bahwa pihaknya terkadang kesulitan dalam operasi penegakan hukum, misalnya saat mengejar local terrorist group (LTG), seperti Maute Brothers, yang saat dikejar justru memasuki wilayah yang dikuasai MILF. AFP bahkan merasa bahwa MILF terkesan melindungi LTG seperti Maute Brothers itu.

MILF menolak dikatakan melindungi LTG, bahkan menegaskan bahwa MILF juga memiliki kepentingan yang sama untuk memberantas LTG. Terkait keberadaan Maute Brothers di Butig, MILF tidak dapat berbuat banyak karena Maute Brothers telah sejak lama menguasai wilayah itu. MILF juga mempersilakan AFP jika hendak memberantas Maute Brothers yang kebetulan markasnya tidak jauh dari wilayah kekuasaan MILF. Bahkan, MILF sudah pernah meminta kewenangan untuk juga memberantas Maute, tetapi justru belum ada tanggapan/izin dari AFP.

Suasana sempat memanas di antara AFP dan MILF, sebelum terpotong oleh coffee-break. Saat menikmati hidangan di tengah coffee-break, para peserta berbaur dan berbincang santai sehingga suasana mencair kembali.

Di sisi lain, MILF juga mendengar adanya laporan bahwa sebenarnya Maute sengaja “diciptakan dan dipelihara” oleh AFP sehingga kawasan tersebut tampak tidak stabil yang pada akhirnya melegitimasi AFP untuk terus mengawasi kawasan tersebut. Menanggapi hal ini, AFP menyatakan bahwa kabar itu hanyalah rumor dan meminta semua pihak untuk tidak memercayai rumor tersebut.

Adapun NP menyoroti masih bertambahnya jumlah internally displaced persons (IDPs) di daerah-daerah konflik. NP pun meminta MILF dan AFP turut peduli menangani IDPs ini. Dalam hal ini, AFP dan MILF sama-sama menyatakan bahwa IDPs tidak menjadi kewenangan mereka dan menyarankan agar NP dapat membuat permintaan resmi kepada pemerintah daerah setempat agar menanganinya. Demikian halnya dengan kasus terjadinya pembakaran beberapa gedung sekolah.

NP juga menyampaikan concern-nya mengenai tentara dari kalangan anak-anak. NP mengklaim pernah mendapatkan laporan verbal baik dari AFP maupun MILF mengenai anak-anak yang menjadi tentara di kawasan Lanao. Hanya saja, laporan verbal tersebut tidak pernah ditindaklanjuti dengan laporan resmi. Jika betul ditemukan adanya pelanggaran rekrutmen tentara anak-anak, NP mengharapkan agar secepatnya dibuatkan laporan resmi kepada mereka sehingga bisa ditindaklanjuti.

TSL saat menyimpulkan jalannya pertemuan menyatakan bahwa isu-isu yang mengemuka diharapkan dapat diselesaikan pihak-pihak terkait. TSL menegaskan bahwa pihaknya, sesuai mandat IMT, tidak dapat bertindak proaktif, melainkan hanya reaktif. Karena itu, IMT khususnya TS2 tidak berencana menginisiasi pertemuan MILF-AFP untuk menyelesaikan kasus-kasus yang mereka hadapi. Meskipun demikian, TSL menegaskan pihaknya berharap dapat berpartisipasi dan juga siap memfasilitasi seandainya kedua belah pihak sepakat untuk mengadakan pertemuan-pertemuan untuk menjembatani perbedaan-perbedaan pemahaman yang ada.[]

Iligan City, 31 Juli 2016