Saturday, March 24, 2007

Hanya Airlangga yang Sudah ke Semifinal


Penyelenggaraan Piala Masisir cabang sepakbola sudah melewati partai kedua. Kans masing-masing tim untuk melaju ke semifinal sudah mulai kentara. Meski begitu, hanya Airlangga (Gamajatim) yang sudah memastikan langkah ke babak empat besar. Sementara 6 kontestan lain masih berebut 3 tempat tersisa, meninggalkan KMKM yang sudah masuk kotak.

Kepastian lolosnya Airlangga ke semifinal yang bakal digelar Sabtu (31/3/2007) pekan depan ditentukan lewat kemenangan mereka atas KMKM. Pada pertandingan Kamis (22/3/2007) siang, KMKM sempat memimpin dua gol hingga menit ke-73. Hanya saja, usaha tak kenal lelah para pemain Airlangga menemui keberhasilannya setelah dapat membalikkan keadaan pada 7 menit tersisa.

Dengan kemenangan 3-2 ini, Airlangga tak akan terkejar oleh peringkat 3 Grup A, Iskandar Muda yang baru memperoleh satu poin hasil imbang dengan Angin Mamiri A. Artinya, walau kelak pada partai terakhir di penyisihan ini Airlangga kalah, paling tidak mereka akan mengisi posisi runner-up untuk tetap melaju ke semifinal.

Di pertandingan lainnya Grup A, Iskandar Muda membuka peluang lolos ke putaran berikutnya setelah berhasil menahan Angin Mamiri A dengan skor 1-1. Namun, tidak mudah bagi Iskandar Muda untuk lolos ke semifinal, karena Angin Mamiri A justru hanya butuh minimal seri saat menghadapi Airlangga di partai terakhir. Sementara Airlangga yang sudah memastikan diri lolos ke semifinal, tentu tak mau menambah resiko cedera pemain untuk tampil habis-habisan. Tapi bola bukanlah matematika, Iskandar Muda tetap masih memiliki peluang untuk mendampingi Airlangga.

Di Grup B yang memainkan pertandingannya Sabtu (24/3/2007) kemarin, tak ada perubahan klasemen. Ini karena 4 tim yang bertanding saling berbagi 1 poin. Walisongo harus bersabar di posisi dua setelah hanya bermain imbang dengan pemuncak klasemen Angin Mamiri B.

Sempat memimpin 1 gol di babak pertama, Walisongo justru kehilangan kendali permainan di babak kedua. Sementara pelatih Angin Mamiri B dari Ghana, Ali, dengan cerdik merubah taktik permainan jawara Indonesian Games 2003 dan 2004 itu. Di sisi lain, suporter dari KKS yang tak henti meneriakkan dukungan juga menambah semangat skuad dari Indonesia timur itu. Kebalikannya, para pemain Walisongo terlihat seperti memikul beban berat dalam mempertahankan kemenangan lewat gol Conte di menit ke-27 itu.


Meski bola lebih banyak dikuasai Angin Mamiri B, tapi Walisongo juga bukannya tanpa peluang mencetak gol tambahan meski hanya lewat serangan balik. Penyelesaian akhir yang terkesan tergesa-gesa dari kedua tim membuat kedudukan tak berubah. Baru pada menit ke-52, seorang pemain Angin Mamiri B berani menusuk dari sayap kiri. Saat memasuki area kanan pertahanan Walisongo, langsung memberikan umpan silang. Sempat terjadi kemelut di muka gawang sebelum diselesaikan dengan tendangan keras oleh striker mereka tanpa bisa dihalau kiper Rikza.

Kedudukan 1-1 membuat kedua tim bermain lebih save. Bola banyak bergulir di lapangan tengah. Namun Walisongo sempat mendapat sebuah peluang setelah Royan mendapat umpan matang dari terobosan Miko. Berlari mengejar bola, Royan ditempel ketat 2 bek Angin Mamiri B hingga tak mendapat kesempatan menendang bola. Walhasil, kaki Royan hanya dapat sedikit menyentuh bola ke arah kiper Angin Mamiri B yang tak kesulitan menangkap kulit bundar.

Beberapa saat sebelum bubaran, terjadi insiden kecil. Salah seorang pemain Angin Mamiri B secara tak sengaja melayangkan tangannya ke dekat perut Shofa yang sedang berlari membawa bola. Tak dapat menjaga keseimbangan, Shofa pun jatuh tersungkur kesakitan.

Sayangnya wasit maupun hakim garis tak melihat insiden itu. Shofa pun digotong ke luar lapangan dan pertandingan dilanjutkan kembali. Sekitar semenit dari kejadian itu, pertandingan berakhir dalam kedudukan imbang 1-1. Usai pertandingan, demi menjaga fair play, pemain Angin Mamiri B nomor punggung 13 yang terlibat insiden dengan Shofa menghampiri dan meminta maaf pada andalan Walisongo itu.


Pada partai kedua yang mempertemukan Rinjani dan Lancang Kuning, kedudukan juga imbang. Kedua tim masing-masing mencetak dua gol dan masih berkutat dengan posisinya di peringkat 3 dan 4 klasemen sementara. Lancang Kuning yang kalah 1-6 dari Angin Mamiri B di pertandingan pertamanya, sempat unggul dulu sebelum dibalas 2 gol oleh Rinjani di babak pertama. Dua gol Rinjani berasal dari bola mati, satu tendangan bebas dan satu dari titik penalti.

Tertinggal 1-2, membuat Lancang Kuning bermain ofensif di babak kedua. Berkali-kali penyerang maupun barisan tengah tim KSMR itu berhasil membuat peluang. Namun penyelesaian akhir menjadi kendala, meski kiper Rinjani tampil tak sebaik ketika dikalahkan Walisongo 2-4. Setelah menyerang terus, usaha Lancang Kuning akhirnya membuahkan gol di menit ke-61. Berawal dari tendangan penjuru, bola melayang di muka gawang Rinjani. Sempat terjadi kemelut sebelum bola meluncur melewati kiper dan membuat kedudukan dua sama.

Beberapa saat kemudian Lancang Kuning berpeluang kembali unggul. Namun striker mereka yang tinggal berhadapan dengan kiper Rinjani kurang tenang dalam penyelesaian akhir. Walhasil, kedua tim harus berbagi satu angka hingga wasit meniup peluit panjang.[]

Bawabah Tiga, 24 Maret 2007

Thursday, March 22, 2007

Syifa, Agus dan Fani Pimpin Informatika 2007-2008


Beberapa tahun terakhir ini, puluhan atau mungkin ratusan media muncul di kalangan Masisir. Sayang tak semuanya bisa selalu eksis untuk tampil reguler di depan publik. Salah satu media yang cukup stabil kreatifitasnya adalah buletin Informatika. Bahkan sejak lima tahun belakangan ini, buletin milik ICMI Orsat Cairo ini mengalami lonjakan rating pembaca. Itu dibuktikan dari jumlah oplah yang selalu meningkat dari tahun ke tahun.

Stabilitas yang ditunjukkan Informatika ini rupanya berkat kaderisasi yang berjalan baik di internal redaksinya. Suksesi kepemimpinan serta revisi petunjuk pelaksanaan (juklak) penerbitan selalu dilakukan secara teratur. Tepat setahun setelah duet Aidha, Ferly dan Tini memimpin Informatika periode 2006-2007, pada Rabu (21/3/2007) kemarin Rapat Tahunan Informatika (RT) kembali digelar.

RT yang merupakan rapat tertinggi di ligkungan Informatika ini membahas 4 hal penting, yaitu laporan kerja periode 2006-2007, pembahasan juklak penerbitan, usulan rekomendasi dan pemilihan pimpinan periode berikutnya. Laporan kerja yang disampaikan secara bergantian oleh Aidha, Ferly dan Tini cukup membuat peserta rapat yang terdiri dari kru, keluarga (mantan kru) dan undangan (perwakilan ICMI) merasa puas dengan kinerja pimpinan periode 2006-2007. Apalagi selain perbaikan cara kerja, beberapa pembaharuan dan inovasi dapat dilakukan oleh Aidha dkk.

Dalam bundel laporan setebal 58 halaman itu, Aidha juga menyebut keberhasilan Informatika menaikkan oplah menjadi 300 eksemplar setiap kali terbit. Selain itu juga tetap dilanjutkannya program Quick Trainning yang menjadi wadah pembelajaran bagi mahasiswa baru, serta terpilihnya Informatika saat ditunjuk sebagai panitia pelaksana seminar pendidikan dalam rangka refleksi HUT Sekolah Indonesia Cairo (SIC).

Hal baru lain yang menjadi sunnah hasanah dan dapat dilaksanakan para kru Informatika selama setahun ini adalah diterbitkannya buku "Panduan Sukses Menulis" kerjasama dengan Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Cairo. Sayangnya, seperti yang dipaparkan Aidha dalam laporannya, program Tour de Journalisme belum sempat terlaksana. Program ini dirancang untuk dapat membawa para kru Informatika bisa melihat lebih dekat cara kerja media massa terkenal Mesir, seperti koran Al-Ahram dan Al-Gomhuriya.

Namun, lanjut Aidha, program ini dapat ditindaklanjuti oleh periode berikutnya. Hal ini tak lepas dari komunikasi yang baik selama ini dengan pihak Pensosbud KBRI Cairo. Sesuai pemintaan, proposal sudah diajukan, sementara Pensosbud KBRI yang selama ini bisa berhubungan langsung dengan media-media resmi Mesir menjanjikan akan mempelajarinya.

Setelah laporan sekaligus evaluasi kerja dibahas, rapat dilanjutkan dengan pembahasan juklak penerbitan. Agenda ini cukup memakan waktu, mengingat banyaknya saran-saran untuk perbaikan juklak yang pertama kali dibuat tahun 1998 (setahun setelah Informatika pertama kali terbit) ini. Memang setiap tahun, yang paling memakan waktu dalam setiap RT Informatika adalah pembahasan juklak. Maklum, karena juklak merupakan "kitab suci" media penerbitan dalam menjalankan kinerjanya.

Saat pembahasan rekomendasi, Tour de Journalisme tetap menjadi prioritas utama untuk ditindaklanjuti periode berikutnya. Sementara usaha lain yang harus diperjuangkan pimpinan 2007-2008 adalah pembuatan lagu atau mars khusus Informatika. Selain itu, ada 11 poin rekomendasi lain yang disetujui untuk dilaksanakan para kru Informatika periode selanjutnya.


Layaknya suksesi kepemimpinan organisasi-organisasi non-profit di Masisir, maka agenda pemilihan pimpinan Informatika periode 2007-2008 berjalan alot. Pembahasan draft tata tertib pemilihan memang berjalan mulus dan nyaris tak ada keberatan dari peserta rapat. Dalam tatib, pemilihan setiap pimpinan disepakati dilakukan dua kali. Pemilihan pertama untuk memilih 3 nama yang akan dipilih secara definitif dalam pemilihan kedua.

Sampai pemilihan tahap pertama, semua berjalan lancar-lancar saja. Namun saat dilangsungkannya pemilihan kedua, mulai terjadi tarik-ulur adu argumen. Seperti tahun-tahun sebelumnya, kebanyakan nama-nama yang tercantum sebagai tiga besar di pemilihan pertama mengajukan keberatan dengan berbagai alasan. Tapi sebagaimana yang terjadi juga di tahun-tahun yang telah lalu, meski diiringi tangis haru atau dibumbui rasa keberatan, pemilihan dapat diselesaikan dengan baik.

Hingga di ujung acara, dari 35 orang yang berhak memilih, Syifa Annisa mengantongi 15 suara untuk terpilih sebagai Pemimpin Umum. Syifa hanya unggul satu suara di atas Hilmi Imami. Sementara calon lainnya, Agus Khudlori hanya memperoleh 6 suara. Di sisi lain, pendukung Agus Khudlori tetap bersikukuh memasukkan lajang asal Jawa Timur itu masuk dalam pimpinan. Akhirnya setelah berjuang mati-matian di pemilihan berikutnya, Agus dapat mengantongi 18 suara untuk menjadi Pemred, mengungguli Yan Fathurrahman (12 suara) dan Silfani Yuzarni (3). Dua suara lainnya dinyatakan tak sah.

Voting paling lama terjadi saat pemilihan Pemimpin Usaha. Ini terjadi setelah pada pemilihan tahap penyaringan calon, hanya 2 orang yang bisa langsung maju ke babak akhir. Sedangkan satu nama lagi masih harus diseleksi dari 6 nama yang memiliki jumlah suara sama. Setelah melalui pemilihan ulang terhadap 6 nama itu, akhirnya babak akhir diikuti oleh Silfani Yuzarni, Nita Oktaviani dan Ria Astina. Melalui kampanye terbuka antar tim sukses, Fani akhirnya dinyatakan sebagai pemenang setelah memperoleh 14 suara, melangkahi Ria (13) dan Nita (8).

Karena jam dinding di kantor ICMI Wisma Nusantara sudah menunjukkan pukul 20.00, selanjutnya langsung dilakukan serah terima jabatan antar pimpinan. Acara pun ditutup dengan makan malam bersama.[]

Bawabah Tiga, 22 Maret 2007

Tuesday, March 20, 2007

Walisongo Awali Piala Masisir dengan Kemenangan


Sejak gelaran Indonesian Games tahun 2004, diputuskan bahwa even olahraga antar kekeluargaan itu hanya diadakan 2 tahun sekali. Karenanya, demi tetap menyalurkan aspirasi olahragawan Masisir, tahun ini DPP PPMI menggelar kejuaraan Piala Masisir. Berbeda dengan Indonesian Games yang sudah diadakan tahun lalu, Piala Masisir ini hanya mempertandingkan cabang sepakbola dan basket.

Dimulai sejak Ahad (18/3/2007), Piala Masisir ini digelar. Seremonial pembukaan dimulai dengan pertandingan basket. Sementara cabang sepakbola memainkan partai perdananya sehari kemudian.

Bertempat di Lapangan Fakultas Kedokteran Al-Azhar, 8 tim sepakbola dari 7 kekeluargaan berebut supremasi Piala Masisir. Mereka adalah Angin Mamiri A dan B (keduanya dari KKS Sulawesi), Iskandar Muda (KMA Aceh), KSMR Riau, Walisongo (KSW), Airlangga (Gamajatim), KMKM Kalimantan dan Rinjani (KMNTB Nusa Tenggara & Bali).

Enam tim peserta yang disebutkan pertama adalah masing-masing finalis Celebes Games, Sumatra Cup dan Java Cup. Ke-8 tim yang ada dibagi dalam 2 grup. Angin Mamiri A, Iskandar Muda, Airlangga dan KMKM berada di Grup A, sementara sisanya berada di Grup B.

Pada hari pertama penyelenggaraan Piala Masisir cabang sepakbola, Angin Mamiri A berhasil menghentikan perlawanan KMKM dengan skor 3-1. Sementara pada pertandingan berikutnya di hari yang sama, Airlangga mengungguli Iskandar Muda dengan skor tipis 2-1. Sempat unggul 2-0, kiper Airlangga terpaksa takluk melalui sebuah tendangan penalti yang didahului insiden keributan antar pemain kedua tim.

Esoknya, Selasa (20/3/2007) siang, Angin Mamiri B memulai kampanye perebutan juara Piala Masisir dengan membantai runner-up Sumatra Cup, KSMR. Dengan kekuatan lebih merata di setiap lini, Angin Mamiri B memberondongkan 6 gol ke gawang KSMR. Sementara KSMR hanya sekali saja dapat menaklukkan kiper Angin Mamiri B.


Pada partai kedua, juara Java Cup Walisongo harus bersusah-payah mematahkan perlawanan Rinjani KMNTB. Di babak pertama, kedua tim bermain hati-hati. Terlihat hampir semua pemain masih terasa kikuk dan tak terbiasa bermain di lapangan Fakultas Kedokteran yang memang memiliki ciri tersendiri. Dengan ukuran yang tak terlalu besar, meski ditumbuhi banyak rumput, namun cukup menyulitkan kedua tim untuk mengembangkan permainan.

Sadar permainan tak bisa berkembang baik, pelatih Walisongo melakukan 4 pergantian di babak pertama. Muka-muka baru yang sebelumnya memang jarang dipasang, terpaksa diganti dengan pemain lama yang lebih kenyang pengalaman. Ramuan pelatih Ulin terbukti berhasil. Hingga praktis Walisongo lebih banyak menguasai bola. Sayang hingga berakhirnya babak pertama, masih tak ada satu gol pun tercipta.

Memasuki babak kedua, justru Rinjani dapat mencetak gol terlebih dahulu. Belum genap 1 menit babak kedua dimulai, pemain bernomor punggung 7 berhasil meloloskan diri dari hadangan defender Walisongo. Sedikit di depan kotak penalti, dengan cerdik dia melepaskan tendangan setengah voli. Kiper Walisongo, Rikza, rupanya sudah salah posisi. Karena terlalu maju, Rikza tak dapat menghalau datangnya bola jauh di atas kepala.

Tertinggal satu gol, pemain Walisongo makin kreatif melancarkan serangan ke depan gawang Rinjani. Hasilnya, tak sampai 3 menit kemudian Hilmi dapat menaklukkkan kiper Rinjani yang sebenarnya tampil cukup baik dan mendapat banyak applause dari penonton. Berawal dari tendangan bebas di dekat garis tengah, sempat terjadi kemelut di muka gawang sebelum diselesaikan dengan tendangan keras Hilmi.

Kedudukan imbang membuat pemain Walisongo makin bernafsu mencetak gol tambahan. Para pemain Rinjani pun nyaris semuanya turun membantu daerah pertahanannya. Meski sudah bersusah payah, Conte terpaksa dua kali kecewa karena tendangannya hanya membentur mistar. Demikian juga tandukan libero Kholid yang overlapping membantu menyerang dapat digagalkan pemain belakang Rinjani.

Namun dengan upaya tak kenal menyerah, Conte akhirnya dapat mencetak gol pertamanya. Mendapat hadiah tendangan bebas dari jarak sekitar 30 meter, tendangan melengkung Conte sempat ditepis kiper Rinjani. Namun karena datangnya cukup deras, bola tetap menggetarkan gawang Rinjani.


Berbalik unggul 2-1, Walisongo masih terus mencoba mengurung area lawan. Beberapa kali winger Hilmi maupun striker Miko dapat merepotkan barisan pertahanan Rinjani. Namun gol ke-3 Walisongo baru didapat setelah tendangan penjuru Shofa dapat diselesaikan dengan baik oleh Conte. Lepas dari kawalan pemain belakang Rinjani, Conte dengan keras menanduk bola tanpa bisa dihadang kiper lawan.

Tak kunjung bisa mencetak gol, striker lincah Miko akhirnya turut andil dalam terciptanya gol keempat Walisongo. Mendapat umpan terobosan dari Shofa, Miko lari sendirian ke sisi kanan kotak penalti lawan. Bek Rinjani yang tak kuasa mengejar Miko akhirnya terpaksa melakukan tackle dari belakang. Wasit pun tak ragu menunjuk titik putih untuk memberikan penalti pada Walisongo. Hartono yang dipercaya mengeksekusi, tanpa ampun menendang bola keras-keras merobek gawang Rinjani.

Terus-menerus ditekan, membuat para pemain Rinjani hanya mengandalkan serangan balik. Beruntung sebuah umpan silang dari sayap kiri Rinjani mengenai tangan stopper Walisongo di dalam kotak penalti. Hakim garis yang melihat terjadinya pelanggaran mengangkat bendera. Wasit pun menunjuk titik putih. Kiper Habib yang menggantikan Rikza tak kuasa menahan bola yang meluncur ke kanan atas gawangnya. Kedudukan 4-2 bertahan hingga 40 menit babak kedua berakhir.[]

Laundry Griya Jateng, 20 Maret 2007

Sunday, March 18, 2007

Mesir = Abu Simbel


Ada banyak hal yang mendukung kalimat "jangan ngaku pernah ke Mesir sebelum sampai Abu Simbel". Maklum, justru peradaban Mesir kuno yang amat terkenal itu banyak berserakan di daerah selatan Mesir, mulai dari Luxor, Aswan hingga Abu Simbel di ujung selatan dekat perbatasan Mesir-Sudan. Beruntung bagi para pemegang kartu pelajar dapat menjadi anggota Nadi Wafidin yang menyelenggarakan rihlah Luxor-Aswan tiap tahunnya. Petualangan biasanya dimulai dari sekitar Luxor, lalu menuju Aswan dan Abu Simbel.

Salah satu kuil besar di Luxor adalah Karnak Temple. Di situ berdiri cukup banyak patung dewa-dewa yang dipuja oleh Mesir kuno (sekitar 1000-2000 tahun sebelum Masehi). Banyak juga patung raja-raja dan para istrinya. Selain itu, tampak menjulang tinggi 2 obelisk (semacam tugu atau menara). Konon, obelisk menunjukkan lambang kejantanan, digunakan sebagai monumen untuk pemujaan dewa-dewa yang tidak diketahui.

Dalam wilayah Karnak Temple, juga terdapat kolam cukup luas, dinamakan sebagai Buhairah Muqaddasah (danau suci). Danau (atau lebih tepat disebut sebagai kolam besar) ini, meski berada di tengah-tengah daerah yang tandus, kanan-kiri lebih banyak gurun dan bebatuan, tapi airnya tetap jernih.

Kuil besar lainnya di sekitar kota Luxor bernama Luxor Temple, yang terletak tak jauh dari aliran sungai Nil. Di bagian paling depan, berdiri 2 patung besar dan di sampingnya sebuah obelisk amat tinggi, melebihi tingginya gerbang sekaligus benteng utama di sisi kanan-kiri. Agak jauh di depan gerbang Luxor Temple ini, sebenarnya berjajar rapi puluhan patung singa duduk.

Saat masuk ke dalam Luxor Temple, suasana tak jauh berbeda dengan Karnak Temple. Di kanan-kiri jalan dalam area Luxor Temple ini, berdiri dengan kokoh tiang-tiang besar. Kalau zaman sekarang barangkali untuk membuatnya harus dengan teknologi beton atau cor. Tapi orang Mesir kuno hanya membuatnya dengan batu-batu besar, keras dan amat kuat. Entah bagaimana orang Mesir kuno menata batu-batu berat itu sampai menjadi bangunan yang sedemikian tinggi dan kokoh.

Kuil lainnya yang perlu dikunjungi adalah Hatsipsut Temple yang terdiri dari dua tingkat. Masing-masing berdiri kokoh dihiasi dengan tiang-tiang yang menjulang cukup tinggi. Untuk menuju ke tingat dua, sudah ada tangga-tangga yang menjulur jauh ke depan hingga dekat parkir kendaraan.

Pemandangan di dalam Hatsipsut Temple ini terlihat lebih sederhana dibanding kuil lainnya. Kalau di dinding Karnak Temple dan Luxor Temple terdapat banyak sekali pahatan-pahatan yang menggambarkan kejadian atau legenda di zaman Mesir kuno, maka hal itu tidak terlalu mencolok di Hatsipsut Temple. Namun Hatsipsut Temple memiliki keistimewaan tersendiri karena terletak di bawah gunung batu yang tandus serta amat jauh dari nuansa kehidupan makhluk, hewan atau tumbuhan.

Selain kuil, ada juga tempat pemakaman yang terletak di dalam gunung, yaitu Wâdi al-Mulûk atau Kings Valley atau Lembah Raja. Dikatakan demikian karena memang lembah ini diperuntukkan sebagai makam raja-raja dan pembesar di masa Mesir kuno. Uniknya, makam dibuat di dalam pegunungan batu cadas yang ada di lembah ini. Dengan menggali pegunungan ini, jadilah terowongan atau gua yang di ujungnya disediakan tempat sebagai makam raja atau bangsawan.

Ada 48 gua yang digali di lembah ini. Jarak antara satu gua (sekaligus makam) dengan yang lainnya tidak terlalu jauh. Tapi jika ingin mengelilingi dan memasuki setiap makam ini, tentu butuh waktu yang tak sedikit. Belum lagi jalanan yang menanjak dan naik turun layaknya pegunungan. Di sepanjang lorong setiap gua, terukir dan terpahat jalan hidup yang dilalui penghuni makam. Hebatnya, ukiran yang juga ada di langit-langit lorong gua-gua itu, dilengkapi warna-warni sesuai gambaran aslinya. Misalnya kuda berwarna coklat, pakaian berwarna merah dan lain sebagainya. Entah bangsa Mesir kuno menggunakan bahan pewarna seperti apa, hingga warna itu tak luntur meski sudah berumur ribuan tahun.

Di Aswan dan sekitarnya, lebih banyak lagi bukti sejarah peradaban Mesir kuno. Hanya saja jarak antara satu dan yang lainnya cukup jauh, berbeda dengan kuil-kuil yang berada di sekitar Luxor. Jika meniti perjalanan antara Luxor-Aswan, maka tidak boleh melwatkan Edfu Temple dan Kum Ambo Temple.

Edfu Temple, kuil yang terletak sekitar 105 km sebelum Aswan ini, konon didirikan untuk menyembah Dewa Horus. Seperti kebanyakan kuil-kuil yang dibangun bangsa Mesir kuno, bagian depan bangunan utamanya adalah pintu gerbang menjulang tinggi, diapit benteng yang lebih tinggi lagi di kanan-kirinya.

Baru sebelum masuk bagian dalam bangunan utama, tampak patung Dewa Horus yang digambarkan dengan burung elang tampak berdiri kokoh. Seakan baru dibuat beberapa tahun silam, patung setinggi lebih kurang 3,5 meter ini masih tampak kuat, rapi dan terawat.

Bagian dalam Edfu Temple cukup gelap. Ini karena bagian atas kuil tersebut tertutup rapat, berbeda dengan Karnak Temple dan Luxor Temple yang tak memiliki atap. Di dinding-dinding kuil ini, banyak terukir cerita tentang Dewa Horus dan beberapa dewa lainnya. Yang paling mencolok adalah gambaran tentang ‘id al-liqâ' al-jamîl (perayaan bertautnya dua cinta), dimana menunjukkan bertemunya Dewa Horus dan istrinya yang cantik jelita bernama Hathur. Gambaran lain, seperti yang terukir di atap Edfu Temple adalah betapa cantiknya salah satu sesembahan orang Mesir kuno, Dewi Nut.

Sementara Kum Ambo Temple, berdiri kokoh di tengah-tengah perjalanan Edfu-Aswan. Terlihat begitu anggun karena berada di dataran tinggi di tepian sungai Nil. Dari depan Kum Ambo Temple, sungai Nil terbentang luas mengalir dari selatan ke utara. Bahkan kini, dibuat taman bunga nan indah di depan kuil. Sehingga kalau berdiri di depan kuil, jauh ke depan dapat melihat pemandangan indah terbentang luas di pelupuk mata. Mulai dari taman bunga, tumbuh-tumbuhan hijau yang tumbuh liar di tepi sungai, lalu Nil yang dialiri air biru nan jernih dan jauh di depannya lagi nampak pepohonan hijau yang tumbuh subur berkat aliran sungai Nil.

Di sekitar kota Aswan sendiri, kita dapat mengunjungi banyak obyek, di antaranya Philae Temples. Philae Temples merupakan kumpulan kuil-kuil yang sempat dikuasai dan dimanfaatkan oleh tiga agama/kepercayaan. Berada di tengah-tengah aliran sungai Nil, untuk sampai pada kuil ini, pengunjung harus menyeberang dengan naik kapal.

Bangsa Yunani, Romawi dan kaum Masehi (Kristiani) pernah menggunakan bangunan-bangunan ini sebagai tempat ibadah mereka. Hal ini juga nampak dari beberapa perubahan yang ada pada kuil-kuil. Orang Masehi misalnya, sempat mengukirkan lambang salib pada beberapa sudut bangunan. Beberapa pahatan yang mengambarkan bentuk dewa Mesir kuno juga terpaksa dirusak oleh penguasa kuil setelahnya. Konon, orang Mesir kuno mengkhususkan tempat ini untuk pemujaan pada Dewi Isis.

Saat ini, Philae Temples berada di pulau Agelica, lebih kurang 500 meter dari tempat aslinya. Hal ini karena sekitar tahun 1960-an, pada saat pembangunan Aswan High Dam, kumpulan kuil Philae sempat terendam air. Ketika itu yang tampak hanya pucuk-pucuk dan atap-atap bangunan Philae Temples. Karenanya, pemerintah Mesir bersama UNESCO berinisiatif memindahkan seluruh bangunan Philae Temples di daratan yang tak tergenang air dan pulau Agelica lah yang jadi pilihan.

Sementara bila kita bisa menyambangi hingga ujung selatan Mesir, maka kita dapat menikmati Abu Simbel Temple. Sejarahnya, kuil besar ini didirikan dengan "memotong" aliran sungai Nil. Setelah tak ada air setitikpun di kubangan besar akibat dimatikannya arus air ke kawasan itu, perbukitan batu itu lalu dipahat dan diukir. Secara garis besar, kuil Abu Simbel terdiri dari dua bagian. Kuil pertama sebagai kuil utama dihiasi 4 patung besar setinggi hampir 40 meter. Empat patung itu adalah masing-masing dua patung Ramses II yang sedang duduk didampingi istrinya, Nefertari.

Di dalam kuil, terdapat ruangan cukup luas. Berbagai ukiran dan pahatan menghiasi dinding-dinding setiap ruangan serta tiang-tiang yang ada di dalamnya. Di antaranya adalah gambar yang menunjukkan Ramses II memegang anak panah dan busurnya yang siap dilepas, berada di atas kereta sedang memimpin perang. Ramses II memang dikenal gagah berani dan sering turun langsung dalam peperangan.

Sementara kuil kedua yang ukurannya lebih kecil, dihiasi 6 buah patung masing-masing setinggi sekitar 27 meter. Patung-patung berdiri itu adalah 4 patung Ramses II dan 2 patung istrinya Nefertari. Tak jauh berbeda dengan kuil utama, dinding-dinding kuil ini juga indah terpahat cerita dan legenda zaman Mesir kuno.

Salah satu kelebihan Abu Simbel Temple adalah bisa masuknya sinar matahari hingga ke ruangan terdalam di kuil utama, dimana 4 patung dewa berada. Setiap tahun, pada tanggal 22 Februari dan 22 Oktober sinar matahari dapat menerobos masuk hingga ruangan terdalam itu. Uniknya, 22 Februari merupakan hari ulang tahun Ramses II sementara 22 Oktober adalah hari dimana penguasa Mesir di zaman Nabi Musa As. itu naik tahta.

Banyak yang bertanya, kenapa kuil sebesar ini justru dibangun di tempat yang jauh dari tempat tinggal kebanyakan orang. Ternyata konon, kuil ini memang sengaja dibangun agar mereka yang berlayar dan akan melewati daerah Mesir dapat langsung tahu terdapat kerajaan dan kebudayaan besar yang ada di kawasan itu. Hal ini juga untuk menunjukkan betapa kuatnya penguasa yang memimpin Mesir.

Ada cerita lain di balik kuil Abu Simbel ini. Sebenarnya sebelum berada pada tempatnya yang sekarang, dua kuil itu sempat terendam air saat pembuatan bendungan besar (Aswan High Dam) di dekat kota Aswan. Karena kuil ini merupakan peninggalan sejarah yang amat berharga, UNESCO turut serta memikirkan bagaimana melestarikannya. Akhirnya pada tahun 1964-1968, pemerintah Mesir dibantu UNESCO memindahkan Abu Simbel Temple, diangkat sekitar 60 meter dari tempat semula. Agar posisi dan letaknya persis sesuai dengan aslinya, dibuatlah bukit buatan sebagai penyangga di belakangnya.

Akhirnya meski berpindah tempat, kuil Abu Simbel ini tetap terlihat seperti sedia kala, hanya sudah nampak guratan-guratan pecahan patung dan bangunan secara umum. Karena untuk memindahkan pahatan gunung batu sebesar itu, rasanya mustahil jika dilakukan dengan sekali angkut. Makanya terpaksa dipecah-pecah, lalu diangkat satu per satu dan ditata kembali seperti sedia kala sebagaimana aslinya saat dibuat lebih dari 3000 tahun silam.

* Tulisan ini dimuat di buletin Informatika edisi 16 Maret 2007

Sunday, March 11, 2007

Suka Duka Peluncuran Album Perdana Da'i Nada


Masisir kembali disuguhi sebuah album nasyid yang dilahirkan oleh teman seperjuangan. Setelah tim nasyid Bestlight ICMI Orsat Cairo menelurkan album perdananya sekitar 3 tahun lalu, kini grup nasyid Da'i Nada hadir dengan kemasan yang lebih mentereng.

Berbeda dengan Bestlight yang mencetak album di Indonesia, Da'i Nada dengan berani menelurkan album di negeri piramid. Berbekal popularitas di kalangan orang Mesir, Da'i Nada yang dimanageri oleh bos Rafi'i Travel Groups, Arafi Mughni, Lc., membuat album perdana sekaligus menggarap serius klipnya. Ini merupakan inovasi baru di kalangan dunia edutainment Masisir.

Kalau sekadar rekaman, dengan bekal kantong cukup tebal, barangkali dapat membuat album baru. Tapi dapat tampil di televisi asing, tentu perlu usaha tersendiri. Karenanya, Masisir tak ragu memberikan applaus pada Da'i Nada.

Terbukti saat peluncuran album perdana Da'i Nada yang diselenggarakan pada Sabtu (10/3/2007) petang, hadirin hampir memenuhi ruangan Auditorium Fakultas Kedokteran Al-Azhar. Meski merupakan konser tunggal, beberapa hari sebelum acara sudah banyak juga yang berebut mencari karcis tiket masuk yang dibedakan menjadi 3 klasifikasi.

Kelas VVIP dijual dengan harga 15 pound Mesir dengan fasilitas snack dan mendapatkan sebuah kaset. Sementara pembeli tiket kelas VIP seharga 5 pound mendapat snack. Sedangkan pemegang tiket free class, yang disebarkan melalui agen-agen khusus, berhak mengikuti acara peluncuran tanpa mendapatkan snack maupun kaset album perdana.

Dimulai usai shalat magrib, sembari menunggu hadirin yang berbondong-bondong datang secara rapi, tim nasyid Da'i Nada yang dipimpin Nur Akhyari melakukan cek sound. Meski masih tampil informal, hadirin yang sudah hadir tak kuasa untuk tidak bertepuk tangan.

Baru sekitar pukul 19.00, acara resmi dimulai dengan pembacaan ayat suci Alquran. Sebelum dilanjutkan sambutan-sambutan, tim nasyid Da'i Nada didaulat maju ke panggung untuk membawakan sebuah lagu. Karena sudah banyak hadirin yang membawa teks lagu yang ada di kaset maupun yang dibagikan melalui lembar fotokopian, maka dengan refleks nyanyian Nur Akhyari cs diikuti para pengunjung.

Setelah itu, acara dilanjutkan dengan sambutan ketua panitia yang disampaikan oleh Mallingkai Ilyas, yang notabene merupakan kawan seangkatan para personil Da'i Nada yang memang lahir dari rombongan mahasiswa Depag angkatan 2003, Revival el-Mahbub. Berikutnya, kata sambutan dari PPMI disampaikan langsung oleh presidennnya, Nur Fuad yang kebetulan juga merupakan anggota Revival el-Mahbub.

Diselingi penampilan 2 artis cilik, Salman dan Jihan yang menyanyikan lagi Islami, acar kemudian diteruskan dengan sambutan lagi. Kali ini sambutan dari manager Da'i Nada, Arafi Mughni, lalu kepala perwakilan KBRI Cairo yang diwakili oleh Pejabat Fungsi Protokoler dan Konsuler, Nurwenda dan terakhir perwakilan dari Qomunity Radio cabang Cairo.

Qomunity Radio sendiri menyiarkan secara langsung acara peluncuran itu. Hatta, yang menjadi perwakilan radio yang juga banyak digemari pecinta siaran on-line di seantero tanah air juga luar negeri itu mengakui bahwa lagu-lagu Da'i Nada banyak digemari para pendengar. Bahkan, hampir di setiap mata acara selalu saja ada request dari pendengar Q-Radio (demikian Qomunity Radio biasa disingkat) agar penyiar memutarkan salah satu lagu Da'i Nada.

Setelah sambutan-sambutan itu, acara terpaksa dipotong karena diselingi penggalangan dana untuk korban gempa Minang yang terjadi beberapa hari lalu. Naasnya, saat panitia penggalangan dana akan mempresentasikan keadaan para korban gempa, layar monitor LCD yang sudah disiapkan sebelumnya tak bisa berfungsi. Hadirin pun jadi merasa tak nyaman menunggu. Akhirnya meski tak dapat memperlihatkan gambaran melalui layar visual, panitia hanya memperdengarkan melalui microphone sementara kotak amal berkeliling di tribun hadirin.

Kembali ke acara inti, dilanjutkan dengan talkshow menghadirkan para personil Da'i Nada. Hadir di atas panggung lengkap sejumlah 7 orang. Pertanyaan dan jawaban berkisar di sekitar sejarah berdirinya Da'i Nada dan jalan menuju keluarnya album perdana. Nur Akhyari yang menjawab pertama menceritakan bahwa Da'i Nada lahir pada tahun 2003. Ketika itu, 7 orang personil sepakat mengelompokkan diri untuk menampilkan lagu-lagu nasyid dalam suatu acara yang diselenggarakan oleh kumpulan para calon penerima beasiswa Al-Azhar via Depag.

Setelah penampilan perdana dirasa cukup kompak, ke-7 orang tersebut kemudian makin giat mengembangkandiri sesampainya di Cairo. Meski sempat terpisah saat pemberangkatan ke negeri nabi ini, dengan segala keuletan akhirnya Da'i Nada dapat kembali tampil di khalayak umum. Pelan tapi pasti, audiens yang mendengarkan Da'i Nada makin lama makin terkesima. Pihak pengundang kian lama kian banyak.

Bahkan tidak hanya di kalangan Masisir, orang-orang Mesir atau warga negara asing pun turut mengundang Da'i Nada untuk menghibur acara-acara yang mereka gelar. Hingga suatu ketika, setelah memenangkan festival nasyid yang diselenggarakan PPMI, Da'i Nada mendapat undangan tampil di televisi Mesir.

Dengan manajemen yang lebih profesional, Da'i Nada lalu mendapat tawaran seorang produser Mesir yang tertarik dengan suara emas Nur Akhyari cs. Setelah melalui lika-liku proses rekaman dan syuting yang cukup memeras keringat, makin sering tampillah Da'i Nada di televisi Mesir. Hingga sekitar awal tahun 2007 lalu, sebuah album bertajuk Maa Lii Rabbun Siwaahu (Tiada Bagiku Tuhan Selain Dia), selesai pengerjaannya lengkap dengan versi VCD klipnya.

Acara semakin menarik dengan adanya dialog interaktif dengan para artis di panggung. Melalui nomer ponsel yang disiarkan presenter, hadirin atau pendengar Q-Radio dapat tanya jawab langsung dengan para personil Da'i Nada layaknya acara interaktif di televisi dan radio.

Karena waktu terbatas, maka dibatasi hanya 2 orang penanya. Penelpon pertama bersuara laki-laki menanyakan kenapa Nur Akhyari sering terlihat seperti memainkan ringtone ponsel saat tampil di panggung. Ternyata hal itu ada rahasianya. Bahwa ringtone ponsel versi monophonic yang memliki fasilitas composer dapat digunakan sebagai pengatur nada semua personil agar suara mereka dapat seragam, tak ada yang ketinggian maupun terlalu rendah.

Sementara penelpon kedua cukup membuat suasana makin ramai. Hal ini karena suara perempuan yang diperbesar langsung melalui microphone, menanyakan apakah Nur Akhyari sudah memiliki calon (istri). Karena penelpon mengaku berada di dalam ruangan acara, hadirin yang lain pun terlihat saling memandangi tribun khusus perempuan. Tapi rupanya sang penelpon cukup cerdas untuk menutupi diri, sehingga tak ada yang tahu siapa dia.

Mendapat pertanyaan demikian, Nur Akhyari sempat terlihat kikuk dan kaget. Tapi setelah dapat menguasai diri, kemudian menjawab dengan diplomatis, bahwa calon (istri) sebenarnya sudah ada, tapi barangkali belum tahu siapa gerangan.

Karena tak terasa jarum jam hampir menunjuk pukul 21.00, dimana batas waktu penyewaan aula akan habis, maka presenter lalu mempersilakan Da'i Nada kembali menyanyikan lagu-lagu yang ada dalam album perdana mereka. Hanya dua buah lagu saja yang dapat mereka bawakan, sebelum acara harus ditutup dengan doa melihat pengelola gedung mengisyaratkan waktu sewa habis.

Pengunjung yang mengira acara bakal dipenuhi dengan penampilan-penampilan lagu layaknya konser tunggal, terpaksa gigit jari hanya dapat melihat beberapa lagu saja dapat ditampilkan Da'i Nada. Tentu saja, bagi yang benar-benar ingin menikmati lagu-lagu Da'i Nada, tak akan keberatan merogoh koceknya sebesar 12 pound (kaset) atau 25 pound (klip/VCD) untuk tayangan legal dan halal.[]

Bawabah Tiga, 11 Maret 2007