Saturday, March 31, 2007

Bermain Ofensif, Walisongo Gagal Bendung All-KKS Final


Meski lebih banyak menguasai jalannya pertandingan dan bermain terus menyerang terutama di akhir-akhir pertandingan, Walisongo harus mengakui keunggulan Angin Mamiri A. Dengan penampilan gemilang kipernya dalam menjaga kemenangan, Angin Mamiri A dapat menyusul langkah Angin Mamiri B yang pada partai sebelumnya menghempaskan Airlangga.

Dengan demikian, partai final cabang sepakbola Piala Masisir mempertemukan 2 tim dari satu payung, KKS Sulawesi. Kejelian pelatih mereka, Ali Ghana, dapat kembali mempertemukan sesama tim dari pulau Celebes di partai puncak sebuah turnamen. Tahun lalu, final turnamen segitiga yang diselenggarakan oleh 3 kekeluargaan, KMA (Aceh), HMM (Sumatra Utara) dan KKS (Sulawesi) juga dikuasai 2 tim Angin Mamiri.

Semifinal yang digelar Sabtu (31/3/2007) kemarin, rupanya menjadi harinya Angin Mamiri. Di pertandingan pertama, Angin Mamiri B yang kembali ke lapangan dengan kekuatan terbaiknya menyudahi perlawanan Airlangga melalui skor 3-1. Sudah unggul 2-0 di babak pertama, Angin Mamiri B tetap rajin melakukan serangan di awal babak kedua. Bahkan untuk beberapa menit, Airlangga dipaksa tak dapat mengembangkan permainan.

Namun dengan usaha keras, Airlangga akhirnya dapat mengimbangi permainan Angin Mamiri B. Bahkan melalui sebuah serangan balik, Airlangga dapat mempertipis ketinggalan. Mendapat umpan dari lapangan tengah, penyerang Airlangga, Izul, dengan cerdik kembali mengirimkan bola kepada Indra yang berdiri lebih bebas di sayap kanan. Umpan lambung itupun dicocor dengan keras oleh Indra tanpa bisa dicegah kiper Angin Mamiri B untuk menjadikan skor 1-2.

Pertandingan tetap terlihat berjalan seimbang. Serangan demi serangan terus dilakukan secara bergantian oleh kedua tim. Hingga di menit ke-67, penyerang Angin Mamiri B dapat menusuk hingga ke dalam kotak penalti. Stopper Airlangga, Eko, pun terpaksa melakukan tackling untuk menghentikan langkahnya. Wasit yang melihat pelanggaran tak ragu menunjuk titik putih. Tendangan penalti yang dieksekusi oleh salah seorang pemain paling senior Angin Mamiri B itupun membuat selisih gol menjadi 2 lagi. Skor 3-1 untuk Angin Mamiri B bertahan hingga laga usai.

Partai semifinal kedua antara Walisongo vs Angin Mamiri A sementara ini dapat disebut sebagai partai paling menarik dalam turnamen Piala Masisir. Kedua tim sejak awal memperagakan permainan menyerang. Babak pertama baru berjalan 2 menit, Conte yang tetap menjadi andalan Walisongo berhasil lolos dari jebakan off-side. Saat tinggal berhadap-hadapan dengan kiper, Conte mencoba mencongkel bola. Namun berkat antisipasi yang sempurna, kiper Angin Mamiri A dapat menepis bola sehingga gawangnya aman dari kebobolan.

Tak berselang lama, giliran Royan berhasil menusuk dari sayap kiri. Setelah beberapa kali mengolah kulit bundar di sisi kanan kotak penalti melewati hadangan para defender Angin Mamiri A, Royan juga tinggal berhadap-hadapan dengan kiper. Sayangnya di sudut sempit, Royan justru memaksakan diri melakukan tendangan ke gawang. Tetap mendapat pengawalan ketat dari lawan, tendangan Royan pun masih meleset di kanan gawang Angin Mamiri A.

Beberapa saat kemudian, Angin Mamiri A giliran menyerang. Mengandalkan kecepatan penyerang bernomor punggung 17, Angin Mamiri A cukup merepotkan barisan pertahanan Walisongo. Bahkan karena kurangnya koordinasi lini tengah dalam membantu lini belakang, bek kiri Walisongo, Abdul Qodir terpaksa jungkir balik mempertahankan areanya.

Meski Qodir tampil cukup baik, namun karena sering terlihat sendirian di sisi kiri pertahanan Walisongo, dia terlihat kerepotan. Melihat celah demikian, bek kanan Angin Mamiri A dengan berani overlapping ke depan. Harus menjaga dua orang sekaligus, tentu Qodir kelabakan. Sayangnya, lini belakang maupun barisan tengah Walisongo tak menyadari hal ini.


Maka saat sisi kiri wilayah kekuasaan Walisongo hanya ditunggui Qodir seorang diri, serangan Angin Mamiri A lebih banyak melalui sayap kanannya. Benar saja, di menit ke-22, melalui umpan silang cantik yang dioperasikan dari sayap kanan, Angin Mamiri A akhirnya dapat mencetak gol. Meski terdengar teriakan telah terjadi off-side, namun wasit tetap mengesahkan gol itu.

Tak lebih dari 4 menit kemudian, Angin Mamiri A kembali memaksa Habib memungut bola dari gawangnya. Kali ini berawal dari serangan di sisi kanan pertahanan Walisongo, seorang midfielder Angin Mamiri A melakukan tendangan spekulasi jarak jauh. Berada pada posisi aman untuk menangkap bola, Habib justru hanya menepisnya. Apes, bola pantulan yang dibuangnya justru mendekati pemain Angin Mamiri A yang tanpa ampun menendang keras bola rebound itu tanpa bisa dihalau Habib.

Tertinggal 2 gol, Walisongo tetap tak putus asa. Serangan demi serangan terus dibangun, mencoba melewati para pemain bertahan Angin Mamiri A yang bermain amat disiplin. Sadar motor serangan ada pada Conte, maka pergerakan top scorer Java Cup lalu itu selalu diawasi bahkan ditempel super disiplin kemanapun berjalan.

Dengan penjagaan seketat itu, namun Conte berhasil mengulang kejadian di awal babak pertama. Setelah dapat meloloskan diri dari kawalan lawan untuk menjemput umpan terobosan, Conte kembali tinggal melewati hadangan kiper untuk mencetak gol. Lagi-lagi dewi fortuna rupanya masih melekat pada gawang Angin Mamiri A, sehingga tendangan Conte berhasil digagalkan oleh sang kiper.

Demikian juga usaha Royan saat menerima umpan terobosan dari Shofa. Persis dengan dua kali upaya Conte sebelumnya, Royan juga tinggal satu lawan satu dengan kiper, namun tendangannya dapat dibaca dengan baik oleh penjaga gawang. Tendangan bebas Conte dari sisi kanan pertahanan Angin Mamiri A juga lagi-lagi ditips dengan gemilang. Sebelumnya, tendangan bebas Shofa setelah dilanggar di dekat kotak penalti juga dapat dihalau kiper. Walhasil hingga babak pertama usai, kedudukan tetap 2-0 untuk Angin Mamiri A.

Memasuki babak kedua, pemain Walisongo makin mengetatkan pertahanan. Qodir terlihat tidak terlalu pontang-panting sendirian di sisi kiri. Meski memperkuat pertahanan, serangan Walisongo juga terus mengalir menuju daerah kekuasaan Angin Mamiri A. Namun dengan keunggulan 2 gol, Angin Mamiri A tentu saja bermain lebih save untuk mengamankan kemenangan.


Barisan pertahanan mereka pun terasa lebih rapat dibanding pada babak pertama. Setiap bola yang mendekat ke arah kotak terlarang, dibuang jauh-jauh ke depan untuk melakukan serangan balik cepat ke pertahanan Walisongo. Hanya mengandalkan serangan balik dan lebih banyak bertahan, Angin Mamiri A akhirnya jusru kebobolan.

Di menit ke-61, serangan balik Angin Mamiri A dapat dipotong oleh libero sekaligus kapten Walisongo, Buya. Melihat lapangan tengah yang kosong Buya pun menggiring bola agak ke depan. Bahkan karena melihat celah kosong di sisi dalam pertahanan Angin Mamiri A, Buya berani melakukan tusukan sendirian setelah melakukan umpan satu-dua dengan Shofa.

Saat berdiri agak bebas, Buya pun melakukan tendangan ke arah gawang. Kiper Angin Mamiri A dengan sigap meninju bola agar menjauh. Namun naas karena bola malah menuju Royan yang kemudian melakukan tendangan setengah voli. Kiper yang sudah terlanjur maju pun tak mampu mencegah tinggi datangnya bola. Seorang bek Angin Mamiri A juga sempat menghalangi dengan mencoba menyundulnya, namun karena lebih dekat ke mistar atas, bola dapat merobek gawang Angin Mamiri A.

Kedudukan 2-1 membuat pertandingan semakin seru. Angin Mamiri A yang lebih memperkuat barisan tengah, sempat berhasil membuat spot jantung para pendukung Walisongo. Pada menit ke-69, pemain pengganti Mansur berhasil lepas dari kawalan Qodir di sayap kanan. Tahu ada temannya di kotak penalti Walisongo, Mansur mengirimkan umpan silang. Beruntung Habib dapat mencegah bola masuk ke gawangnya kembali. Meski sempat terjadi sedikit kemelut di muka gawang, akhirnya Habib dapat menangkap bola secara sempurna.

Di sepuluh menit akhir babak kedua, serangan makin sering dilakukan para pemain Walisongo. Bahkan bisa dikatakan bola hanya bergerak di setengah lapangan area kekuasaan Angin Mamiri A. Meski diserang habis-habisan, namun pertahanan Angin Mamiri A bak tembok kokoh, belum lagi kiper mereka yang tampil amat gemilang. Hingga usai 40 menit babak kedua, kedudukan 2-1 dapat dipertahankan Angin Mamiri A.[]

Bawabah Tiga, 31 Maret 2007

Thursday, March 29, 2007

Khatami Sampaikan Kuliah di Universitas Al-Azhar


Di tengah ramainya polemik ancaman sanksi PBB untuk Iran, Dr. Muhammad Khatami, mantan presiden republik Islam itu menyempatkan diri mengunjungi Universitas Al-Azhar. Bahkan pada Kamis (29/3/3007) kemarin, mantan presiden Iran 2 periode antara tahun 1997-2001 itu memberikan kuliah umum di depan para mahasiswa universitas Islam tertua di dunia.

Ceramah sengaja dibuka untuk umum dan digelar di Aula Syaikh Muhammad Abduh, kampus Universitas Al-Azhar kawasan Darrasa, dekat Masjid dan Makam Sayyidina Husein. Dimulai pada pukul 10.30, acara didahului dengan sambutan Rektor Universitas Al-Azhar oleh Prof. Dr. Ahmad Thoyyib. Sambutan yang hanya sekitar 10 menit, lebih banyak menyampaikan peran pentingnya Al-Azhar dalam menjaga dan mengembangkan ilmu pengetahuan tentang Islam.

Sementara setelah rektor, sambutan Syaikh Agung Al-Azhar Prof. Dr. Sayyid Muhammad Thonthowi berjalan tak lebih dari 3 menit. Setelah menyampaikan terima kasih atas kehadiran mantan pemimpin negara yang berani lantang menentang hegemoni AS itu, Syaikh Agung langsung mempersilakan Dr. Khatami untuk memberikan pencerahan pada anak didik Al-Azhar.

Selama sekitar 30 menit, Dr. Khatami memberikan ceramah pada lebih dari 1000 audien yang memenuhi Aula Syaikh Muhammad Abduh. Bahkan saking berjubelnya mahasiswa yang ingin mendengarkan langsung ceramah Dr. Khatami, banyak yang rela duduk di anak tangga koridor atau bahkan berdiri dan berdesak-desakan.

Dalam kuliahnya, Dr. Khatami lebih banyak menyoroti masalah perdamaian dunia. Selain itu, mantan presiden yang meneruskan era Rafsanjani itu mengingatkan pentingnya dunia Islam untuk banyak melakukan inovasi dalam ilmu pengetahuan. Hal ini agar tidak terlalu jauh tertinggal dari peradaban Barat. Menurutnya, berpegang pada Al-Quran dan sunah sangat penting, tapi pengembangan-pengembangan teknologi juga mutlak dilakukan agar dapat eksis secara seimbang.


Di sisi lain, harapan banyak mahasiswa untuk mendengarkan secara langsung isu nuklir Iran dari mantan presidennya, terpaksa hanya jadi angan. Hal ini karena sampai akhir ceramahnya, Dr. Khatami sama sekali tak menyinggung tentang program nuklir yang selalu ditentang AS dan para sekutunya itu.

Meski begitu, saat menyelesaikan pidatonya, applaus panjang dari audien terus menggema. Sebagai salah seorang pemimpin reformis sekaligus intelek dunia Islam, Dr. Khatami tentunya digemari banyak orang, tak terkecuali para mahasiswa Al-Azhar.

Selesai acara, Dr. Khatami langsung mendapat pengawalan ketat dari pihak keamanan Mesir layaknya tamu kenegaraan. Apalagi selain didampingi Syaikh Agung dan Rektor Universitas Al-Azhar, Dr. Khatami juga selalu tampak akrab bercengkerama dengan Menteri Wakaf Mesir, Prof. Dr. Hamdi Zaqzuq. Saat keluar gedung, masih banyak mahasiswa yang mencoba mendekat, namun oleh pihak keamanan dihalau agar tak mengganggu perjalanan karena masih banyaknya agenda yang harus dijalani Dr. Khatami.[]

Bawabah Tiga, 29 Maret 2007

Tuesday, March 27, 2007

Angin Mamiri Terhindar dari Perang Saudara di Semifinal


Penyelenggaraan Piala Masisir cabang sepakbola sudah menatap babak semifinal. Pada penyisihan putaran terakhir, tidak semua tim mengerahkan kekuatan terbaiknya karena berjaga-jaga sebagai persiapan menghadapi babak 4 besar.

Pada Senin (26/3/2007) sore, juara Sumatra Cup Iskandar Muda terpaksa gigit jari. Meski meraih kemenangan 2-0 atas KMKM, anak-anak KMA harus rela masuk kotak. Dengan raihan 4 poin, sebenarnya Iskandar Muda masih punya peluang lolos ke babak berikutnya, dengan syarat Angin Mamiri A kalah dari Airlangga dengan selisih minimal 2 gol.

Sedangkan di sisi lain, dengan dipastikannya Airlangga melangkah ke semifinal, tentu pelatih Anung tak mau mengambil resiko cedera pemain. Karenanya, di pertandingan terakhir Airlangga menyimpan kekuatan terbaiknya. Menghadapi Angin Mamiri A yang hanya membutuhkan hasil seri untuk mendampingi, Airlangga terlihat bermain "save" untuk menjaga kebugaran pemain.

Benar saja, tanpa adu kekuatan sebenarnya di kedua belah pihak, pertandingan berakhir seri 1-1. Dengan demikian, Airlangga dan Angin Mamiri A mewakili Grup A melaju ke semifinal. Sedangkan wakil Grup B yang baru memainkan pertandingan Selasa (27/3/2007) kemarin, adalah Walisongo sebagai pemuncak klasemen didampingi runner up Angin Mamiri B. Hal ini setelah kedua tim mencetak hasil berbeda di laga terakhir Grup B.

Walisongo yang bermain di partai pertama, berhasil menghentikan perlawanan Lancang Kuning. Meski menguasai penuh jalannya pertandingan, Walisongo sempat dikejutkan gol cepat tim kebanggaan KSMR (Riau) itu. Belum genap 2 menit babak pertama dimulai, kiper ketiga Walisongo yang baru melakukan debutnya, Ulum, terpaksa memungut bola dari gawang.

Gol pertama dalam pertandingan itu dicetak melalui tendangan bebas. Bermula dari gagalnya libero gaek Walisongo Babeh yang gagal membuang bola, ia terpaksa melanggar pemain lawan. Wasit pun memberikan hadiah tendangan bebas untuk Lancang Kuning sedikit di luar area penalti. Kiper Ulum yang berdiri melawan arah sinar matahari, tak kuasa menahan bola yang meluncur di atas kepalanya.

Tertinggal satu gol membuat anak-anak Walisongo cepat "panas". Pelan tapi pasti, lapangan tengah mulai dikuasai para pemain dari KSW itu. Meski lebih banyak memegang bola, tapi hampir tak ada peluang emas untuk menyamakan kedudukan. Hal ini tak terlepas dari belum rapinya ritme serangan yang dibangun.

Bahkan melalui serangan balik, berkali-kali pemain depan Lancang Kuning merepotkan barisan pertahanan Walisongo. Beruntung ada Ayik di posisi bek kiri yang bermain cemerlang selalu tanggap dan cepat membuang bola ke depan. Walhasil hingga babak pertama selesai, kedudukan masih 1-0 untuk keunggulan Lancang Kuning.

Memasuki babak kedua, para pemain Walisongo mulai menyadari kelemahannya. Umpan-umpan lebih terarah dan terukur kemudian diperagakan di tengah lapangan. Para suporter pun makin semangat memberikan dukungan. Hanya saja, kuatnya lini pertahanan Lancang Kuning yang dibantu para pemain tengahnya membuat Miko maupun Conte susah menembus.

Praktis di babak kedua ini, bola hanya dimainkan setengah lapangan di daerah kekuasaan Lancang Kuning. Tahu lebih sering tersudut serta dalam keadaan memimpin, Lancang Kuning makin merapatkan barisan pertahanan. Namun Walisongo yang sukses menjadi tim paling subur di Java Cup lalu, secara terus-menerus juga sabar membongkar pertahanan lawan.


Setelah berkali-kali serangan menuju area penalti Lancang Kuning gagal, para pemain Walisongo mencoba melepaskan tendangan spekulasi dari jarak jauh. Meski bukan usaha yang pertama, di menit ke-51 akhirnya Shofa dapat menyamakan kedudukan.

Mendapat umpan dari sayap kanan, Shofa yang terhindar dari kawalan pemain lawan dapat melepaskan tendangan voli ke arah gawang Lancang Kuning. Meski tak terlalu keras, tapi karena arahnya tepat di bawah mistar, kiper Lancang Kuning tak dapat menjangkau bola. Kedudukan pun imbang 1-1.

Meski cukup dengan hasil seri untuk melaju ke semifinal, Walisongo tak mengendurkan irama permainan. Serangan demi serangan pun dibangun, bahkan para pemain belakang sering ikut overlapping membantu penyerangan. Lebih unggul secara teknik maupun fisik, para pemain Walisongo terlihat leluasa mengobrak-abrik daerah kekuasaan lawan.

Namun gol berikutnya baru tercipta menjelang berakhirnya pertandingan. Di menit ke-75, Miko mencetak gol pertamanya di turnamen yang diselenggarakan PPMI ini. Berawal dari serangan di sayap kanan, Royan berhasil melepaskan umpan ke depan gawang Lancang Kuning. Dikepung 3 pemain lawan, Miko berhasil memenangkan perebutan bola. Saat lepas dari penjagaan, Miko pun melepaskan tendangan mendatar. Kiper Lancang Kuning yang terkecoh pergerakan lincah Miko harus rela kembali memungut bola dari gawangnya.

Meski kendali permainan tetap terus dipegang Walisongo, tapi Miko cs tak dapat mencetak gol tambahan. Umpan lambung Kholid untuk Miko berhasil direbut pemain lawan, sementara tendangan spekulasi Conte masih melenceng dari sasaran. Skor pun bertahan hingga akhir pertandingan dengan keunggulan Walisongo 2-1.

Partai kedua yang menampilkan Angin Mamiri B vs Rinjani, berjalan lebih enjoy. Hal ini karena tim favorit Angin Mamiri B sengaja menyimpan tenaga para pemain andalannya. Maklum, dengan kemenangan Walisongo itu, hanya kekalahan lebih dari 7 gol yang dapat menggagalkan laju Angin Mamiri B ke semifinal. Sementara Rinjani serasa harus menyelesaikan mission impossible untuk menjegal langkah lawan guna merajut jalan menuju 4 besar.

Sejak awal, Rinjani yang kali ini tak diperkuat pemain andalannya Masehi, dapat mengimbangi permainan Angin Mamiri B. Tapi justru karena asyik mengikuti irama permainan lawan, Rinjani harus kebobolan terlebih dahulu. Beruntung para pemain depan Rinjani bersemangat untuk mencetak gol balasan. Namun hingga babak pertama usai, Rinjani masih takluk 1-2.

Di babak kedua, permainan berjalan lebih berimbang. Kedua tim silih berganti menyerang lawannya. Hanya saja karena rapatnya lini pertahanan kedua tim, sedikit peluang tercipta di kedua kubu. Dari sedikit peluang tercipta, Rinjani berhasil memaksimalkan 2 di antaranya. Sementara Angin Mamiri B gagal menambah gol. Walhasil, Angin Mamiri B terpaksa mengakui keunggulan Rinjani 3-2. Kemenangan 3-2 Rinjani ini langsung mendapat sambutan luar biasa dari para pendukungnya. Sayangnya meski menang, Rinjani gagal melaju ke babak berikutnya karena kalah selisih gol.

Dengan demikian, pada semifinal Sabtu (31/3/2007) nanti, di partai pertama yang dimulai pukul 14.00, Airlangga (juara Grup A) akan menjajal kekuatan Angin Mamiri B (runner up Grup B). Sementara partai kedua yang mempertemukan Walisongo (juara Grup B) vs Angin Mamiri A (runner up Grup A) digelar pada pukul 15.35. Babak semifinal tetap dilakukan di lapangan Fakultas Kedokteran, baru saat final nanti laga digelar di lapangan Nadi Abbsea yang lebih berkelas.[]

Bawabah Tiga, 27 Maret 2007

Saturday, March 24, 2007

Hanya Airlangga yang Sudah ke Semifinal


Penyelenggaraan Piala Masisir cabang sepakbola sudah melewati partai kedua. Kans masing-masing tim untuk melaju ke semifinal sudah mulai kentara. Meski begitu, hanya Airlangga (Gamajatim) yang sudah memastikan langkah ke babak empat besar. Sementara 6 kontestan lain masih berebut 3 tempat tersisa, meninggalkan KMKM yang sudah masuk kotak.

Kepastian lolosnya Airlangga ke semifinal yang bakal digelar Sabtu (31/3/2007) pekan depan ditentukan lewat kemenangan mereka atas KMKM. Pada pertandingan Kamis (22/3/2007) siang, KMKM sempat memimpin dua gol hingga menit ke-73. Hanya saja, usaha tak kenal lelah para pemain Airlangga menemui keberhasilannya setelah dapat membalikkan keadaan pada 7 menit tersisa.

Dengan kemenangan 3-2 ini, Airlangga tak akan terkejar oleh peringkat 3 Grup A, Iskandar Muda yang baru memperoleh satu poin hasil imbang dengan Angin Mamiri A. Artinya, walau kelak pada partai terakhir di penyisihan ini Airlangga kalah, paling tidak mereka akan mengisi posisi runner-up untuk tetap melaju ke semifinal.

Di pertandingan lainnya Grup A, Iskandar Muda membuka peluang lolos ke putaran berikutnya setelah berhasil menahan Angin Mamiri A dengan skor 1-1. Namun, tidak mudah bagi Iskandar Muda untuk lolos ke semifinal, karena Angin Mamiri A justru hanya butuh minimal seri saat menghadapi Airlangga di partai terakhir. Sementara Airlangga yang sudah memastikan diri lolos ke semifinal, tentu tak mau menambah resiko cedera pemain untuk tampil habis-habisan. Tapi bola bukanlah matematika, Iskandar Muda tetap masih memiliki peluang untuk mendampingi Airlangga.

Di Grup B yang memainkan pertandingannya Sabtu (24/3/2007) kemarin, tak ada perubahan klasemen. Ini karena 4 tim yang bertanding saling berbagi 1 poin. Walisongo harus bersabar di posisi dua setelah hanya bermain imbang dengan pemuncak klasemen Angin Mamiri B.

Sempat memimpin 1 gol di babak pertama, Walisongo justru kehilangan kendali permainan di babak kedua. Sementara pelatih Angin Mamiri B dari Ghana, Ali, dengan cerdik merubah taktik permainan jawara Indonesian Games 2003 dan 2004 itu. Di sisi lain, suporter dari KKS yang tak henti meneriakkan dukungan juga menambah semangat skuad dari Indonesia timur itu. Kebalikannya, para pemain Walisongo terlihat seperti memikul beban berat dalam mempertahankan kemenangan lewat gol Conte di menit ke-27 itu.


Meski bola lebih banyak dikuasai Angin Mamiri B, tapi Walisongo juga bukannya tanpa peluang mencetak gol tambahan meski hanya lewat serangan balik. Penyelesaian akhir yang terkesan tergesa-gesa dari kedua tim membuat kedudukan tak berubah. Baru pada menit ke-52, seorang pemain Angin Mamiri B berani menusuk dari sayap kiri. Saat memasuki area kanan pertahanan Walisongo, langsung memberikan umpan silang. Sempat terjadi kemelut di muka gawang sebelum diselesaikan dengan tendangan keras oleh striker mereka tanpa bisa dihalau kiper Rikza.

Kedudukan 1-1 membuat kedua tim bermain lebih save. Bola banyak bergulir di lapangan tengah. Namun Walisongo sempat mendapat sebuah peluang setelah Royan mendapat umpan matang dari terobosan Miko. Berlari mengejar bola, Royan ditempel ketat 2 bek Angin Mamiri B hingga tak mendapat kesempatan menendang bola. Walhasil, kaki Royan hanya dapat sedikit menyentuh bola ke arah kiper Angin Mamiri B yang tak kesulitan menangkap kulit bundar.

Beberapa saat sebelum bubaran, terjadi insiden kecil. Salah seorang pemain Angin Mamiri B secara tak sengaja melayangkan tangannya ke dekat perut Shofa yang sedang berlari membawa bola. Tak dapat menjaga keseimbangan, Shofa pun jatuh tersungkur kesakitan.

Sayangnya wasit maupun hakim garis tak melihat insiden itu. Shofa pun digotong ke luar lapangan dan pertandingan dilanjutkan kembali. Sekitar semenit dari kejadian itu, pertandingan berakhir dalam kedudukan imbang 1-1. Usai pertandingan, demi menjaga fair play, pemain Angin Mamiri B nomor punggung 13 yang terlibat insiden dengan Shofa menghampiri dan meminta maaf pada andalan Walisongo itu.


Pada partai kedua yang mempertemukan Rinjani dan Lancang Kuning, kedudukan juga imbang. Kedua tim masing-masing mencetak dua gol dan masih berkutat dengan posisinya di peringkat 3 dan 4 klasemen sementara. Lancang Kuning yang kalah 1-6 dari Angin Mamiri B di pertandingan pertamanya, sempat unggul dulu sebelum dibalas 2 gol oleh Rinjani di babak pertama. Dua gol Rinjani berasal dari bola mati, satu tendangan bebas dan satu dari titik penalti.

Tertinggal 1-2, membuat Lancang Kuning bermain ofensif di babak kedua. Berkali-kali penyerang maupun barisan tengah tim KSMR itu berhasil membuat peluang. Namun penyelesaian akhir menjadi kendala, meski kiper Rinjani tampil tak sebaik ketika dikalahkan Walisongo 2-4. Setelah menyerang terus, usaha Lancang Kuning akhirnya membuahkan gol di menit ke-61. Berawal dari tendangan penjuru, bola melayang di muka gawang Rinjani. Sempat terjadi kemelut sebelum bola meluncur melewati kiper dan membuat kedudukan dua sama.

Beberapa saat kemudian Lancang Kuning berpeluang kembali unggul. Namun striker mereka yang tinggal berhadapan dengan kiper Rinjani kurang tenang dalam penyelesaian akhir. Walhasil, kedua tim harus berbagi satu angka hingga wasit meniup peluit panjang.[]

Bawabah Tiga, 24 Maret 2007

Thursday, March 22, 2007

Syifa, Agus dan Fani Pimpin Informatika 2007-2008


Beberapa tahun terakhir ini, puluhan atau mungkin ratusan media muncul di kalangan Masisir. Sayang tak semuanya bisa selalu eksis untuk tampil reguler di depan publik. Salah satu media yang cukup stabil kreatifitasnya adalah buletin Informatika. Bahkan sejak lima tahun belakangan ini, buletin milik ICMI Orsat Cairo ini mengalami lonjakan rating pembaca. Itu dibuktikan dari jumlah oplah yang selalu meningkat dari tahun ke tahun.

Stabilitas yang ditunjukkan Informatika ini rupanya berkat kaderisasi yang berjalan baik di internal redaksinya. Suksesi kepemimpinan serta revisi petunjuk pelaksanaan (juklak) penerbitan selalu dilakukan secara teratur. Tepat setahun setelah duet Aidha, Ferly dan Tini memimpin Informatika periode 2006-2007, pada Rabu (21/3/2007) kemarin Rapat Tahunan Informatika (RT) kembali digelar.

RT yang merupakan rapat tertinggi di ligkungan Informatika ini membahas 4 hal penting, yaitu laporan kerja periode 2006-2007, pembahasan juklak penerbitan, usulan rekomendasi dan pemilihan pimpinan periode berikutnya. Laporan kerja yang disampaikan secara bergantian oleh Aidha, Ferly dan Tini cukup membuat peserta rapat yang terdiri dari kru, keluarga (mantan kru) dan undangan (perwakilan ICMI) merasa puas dengan kinerja pimpinan periode 2006-2007. Apalagi selain perbaikan cara kerja, beberapa pembaharuan dan inovasi dapat dilakukan oleh Aidha dkk.

Dalam bundel laporan setebal 58 halaman itu, Aidha juga menyebut keberhasilan Informatika menaikkan oplah menjadi 300 eksemplar setiap kali terbit. Selain itu juga tetap dilanjutkannya program Quick Trainning yang menjadi wadah pembelajaran bagi mahasiswa baru, serta terpilihnya Informatika saat ditunjuk sebagai panitia pelaksana seminar pendidikan dalam rangka refleksi HUT Sekolah Indonesia Cairo (SIC).

Hal baru lain yang menjadi sunnah hasanah dan dapat dilaksanakan para kru Informatika selama setahun ini adalah diterbitkannya buku "Panduan Sukses Menulis" kerjasama dengan Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Cairo. Sayangnya, seperti yang dipaparkan Aidha dalam laporannya, program Tour de Journalisme belum sempat terlaksana. Program ini dirancang untuk dapat membawa para kru Informatika bisa melihat lebih dekat cara kerja media massa terkenal Mesir, seperti koran Al-Ahram dan Al-Gomhuriya.

Namun, lanjut Aidha, program ini dapat ditindaklanjuti oleh periode berikutnya. Hal ini tak lepas dari komunikasi yang baik selama ini dengan pihak Pensosbud KBRI Cairo. Sesuai pemintaan, proposal sudah diajukan, sementara Pensosbud KBRI yang selama ini bisa berhubungan langsung dengan media-media resmi Mesir menjanjikan akan mempelajarinya.

Setelah laporan sekaligus evaluasi kerja dibahas, rapat dilanjutkan dengan pembahasan juklak penerbitan. Agenda ini cukup memakan waktu, mengingat banyaknya saran-saran untuk perbaikan juklak yang pertama kali dibuat tahun 1998 (setahun setelah Informatika pertama kali terbit) ini. Memang setiap tahun, yang paling memakan waktu dalam setiap RT Informatika adalah pembahasan juklak. Maklum, karena juklak merupakan "kitab suci" media penerbitan dalam menjalankan kinerjanya.

Saat pembahasan rekomendasi, Tour de Journalisme tetap menjadi prioritas utama untuk ditindaklanjuti periode berikutnya. Sementara usaha lain yang harus diperjuangkan pimpinan 2007-2008 adalah pembuatan lagu atau mars khusus Informatika. Selain itu, ada 11 poin rekomendasi lain yang disetujui untuk dilaksanakan para kru Informatika periode selanjutnya.


Layaknya suksesi kepemimpinan organisasi-organisasi non-profit di Masisir, maka agenda pemilihan pimpinan Informatika periode 2007-2008 berjalan alot. Pembahasan draft tata tertib pemilihan memang berjalan mulus dan nyaris tak ada keberatan dari peserta rapat. Dalam tatib, pemilihan setiap pimpinan disepakati dilakukan dua kali. Pemilihan pertama untuk memilih 3 nama yang akan dipilih secara definitif dalam pemilihan kedua.

Sampai pemilihan tahap pertama, semua berjalan lancar-lancar saja. Namun saat dilangsungkannya pemilihan kedua, mulai terjadi tarik-ulur adu argumen. Seperti tahun-tahun sebelumnya, kebanyakan nama-nama yang tercantum sebagai tiga besar di pemilihan pertama mengajukan keberatan dengan berbagai alasan. Tapi sebagaimana yang terjadi juga di tahun-tahun yang telah lalu, meski diiringi tangis haru atau dibumbui rasa keberatan, pemilihan dapat diselesaikan dengan baik.

Hingga di ujung acara, dari 35 orang yang berhak memilih, Syifa Annisa mengantongi 15 suara untuk terpilih sebagai Pemimpin Umum. Syifa hanya unggul satu suara di atas Hilmi Imami. Sementara calon lainnya, Agus Khudlori hanya memperoleh 6 suara. Di sisi lain, pendukung Agus Khudlori tetap bersikukuh memasukkan lajang asal Jawa Timur itu masuk dalam pimpinan. Akhirnya setelah berjuang mati-matian di pemilihan berikutnya, Agus dapat mengantongi 18 suara untuk menjadi Pemred, mengungguli Yan Fathurrahman (12 suara) dan Silfani Yuzarni (3). Dua suara lainnya dinyatakan tak sah.

Voting paling lama terjadi saat pemilihan Pemimpin Usaha. Ini terjadi setelah pada pemilihan tahap penyaringan calon, hanya 2 orang yang bisa langsung maju ke babak akhir. Sedangkan satu nama lagi masih harus diseleksi dari 6 nama yang memiliki jumlah suara sama. Setelah melalui pemilihan ulang terhadap 6 nama itu, akhirnya babak akhir diikuti oleh Silfani Yuzarni, Nita Oktaviani dan Ria Astina. Melalui kampanye terbuka antar tim sukses, Fani akhirnya dinyatakan sebagai pemenang setelah memperoleh 14 suara, melangkahi Ria (13) dan Nita (8).

Karena jam dinding di kantor ICMI Wisma Nusantara sudah menunjukkan pukul 20.00, selanjutnya langsung dilakukan serah terima jabatan antar pimpinan. Acara pun ditutup dengan makan malam bersama.[]

Bawabah Tiga, 22 Maret 2007