Wednesday, January 27, 2010

Entrepreneur, Apaan Sih? (1)

Kira-kira empat tahun lalu, nyaris saja saya menjadi panitia pengarah sebuah seminar organisasi di Kairo yang menggandeng Kementerian Koperasi dan UKM RI tentang entrepreneurship. SK bahkan sudah turun, sayang kerjasama dengan kementerian tersebut—walaupun sudah bertatap muka dengan pak menteri secara langsung—tidak jadi terlaksana. Wallahu a'lam.

Barangkali ada untungnya, karena bisa-bisa penyelenggara akan malu, lha panitia pengarahnya sendiri ternyata belum memahami betul apa itu entrepreneurship. Atau barangkali karena tidak jadi itulah panitia pengarahnya tidak mau belajar lebih banyak tentang "makhluk" aneh yang sering terdengar tetapi jarang diketahui secara detail itu.

So, ada yang tahu apa itu entrepreneur? Hmm.. main tebak-tebakan saja lah. Kira-kira artinya berkaitan erat dengan kemandirian ya. Kemandirian dalam berusaha, maksudnya punya usaha sendiri. Memiliki mata pencaharian sendiri, tidak menjadi anak buah orang lain. Barangkali tidak jauh beda lah artinya sama wiraswasta.

Jika kira-kira begitu pengertiannya, berarti sesungguhnya saya sendiri pernah menjalankannya. Bahkan jauh-jauh hari (atau hitungan belasan tahun malah) mantan calon panitia pengarah ini sudah pernah berpengalaman sebagai entrepreneur itu. Pengalaman! Tentu tidak memandang berhasil atau gagal; yang penting p-e-r-n-a-h.

Kira-kira umur belum genap sepuluh tahun, pernah tuh coba-coba jualan. Uang hasil tabungan—dikumpulkan dari angpaw lebaran dan dikasih saudara ketika berkunjung di luar kota—diminta dari ortu, lalu dibelikan sepaket undian berhadiah. Inget betul, waktu itu lagi rame-ramenya anak-anak seumuran SD senang membeli permen cicak (bentuknya bulat kecil-kecil berwarna-warni seukuran telur cicak) dengan embel-embel selembar kertas yang dibubuhi angka tertentu yang dihubungkan dengan hadiah murah meriah. Hadiahnya bisa berupa permen, kerupuk, mi instan, juga mainan semacam pistol-pistolan dan mobil-mobilan. Tentu saja, lebih banyak kertas tersebut bertuliskan kira-kira: anda belum beruntung.

Lucu juga, hanya demi kesenangan batin anak kecil. Hasilnya tentu tidak ada secara materi. Malah kebanyakan permen-permen itu dimakan sendiri. Jadi hadiahnya juga diambil sendiri, yang kira-kira kalau dihitung mungkin akan lebih murah dibandingkan dengan harga kulakan ya. Kalau nilai total hadiah lebih mahal daripada harga kulakan, tentu pembuat paket itu rugi dari awal.

Itu cerita SD. Di tingkat SLTP, sepertinya tidak ada pengalaman entrepreneurship itu. Baru ketika menginjak bangku SLTA, keinginan untuk "keluar dari belenggu rutinitas" itu muncul lagi. Kali ini dengan membawa beberapa kilo emping melinjo (yang merupakan produk khas daerah asal) ke kota tempat menimba ilmu, Kudus. Sayang, jiwa entrepreneurship itu tidak betul-betul tumbuh, tidak lebih sekadar coba-coba. Hasilnya pun tidak maksimal. Memang bisa mengembalikan modal, maksudnya bisa kulakan lagi, tetapi belum menghitung biaya transportasi, capek, akomodasi dll. Intinya, sekadar dapat uang yang sama persis dengan nilai kulakan, tapi alhamdulillah plus sedikit sisa emping melinjo yang tidak terjual.

Tetapi sepertinya itu tidak benar-benar memuaskan. Sebagai latihan OK lah, hanya saja waktu itu kok cuma nitip ke orang ya. Maksudnya tidak bisa jualan sendiri ke end user. Tentu saja terasa ada yang kurang. Entah karena apa, coba-coba entrepreneurship emping itu pun cuma sekali waktu itu, tidak kemudian diulangi dan diperbaiki.

Di tingkat SLTA juga, pernah mau jualan koran bekas.Waktu itu datang ke alun-alun kota Kudus yang lagi ada wayangan dalam rangka HUT PT Djarum. Entah wayangan entah pengajian, atau malah pengajian yang dilanjutkan dengan wayangan, pokoknya rame banget orang-orang duduk lesehan. Sama teman-teman asrama, berniat membawa tas ransel diisi koran bekas dengan maksud dijual sebagai tempat duduk, yah barang seratus dua ratus perak. Namun, rupanya di antara kami tidak ada yang punya nyali untuk menjajak. Walhasil, koran bekas dengan jumlah yang sama persis dibawa pulang lagi ke asrama, hehe.[]

Pujut, 30 Januari 2010

Monday, December 07, 2009

Angan Besar Bernama MBI

Senin (30/11), dijadwalkan menjadi hari terakhir Departemen Agama RI menerima berkas lamaran tenaga pendidik dan kependidikan Madrasah Bertaraf Internasional (MBI). Sebagaimana santer diberitakan, termasuk beberapa kali dimuat di koran ini, khususnya Suara Pantura, MBI juga bakal didirikan di Kabupaten Pekalongan.

Madrasah ataupun sekolah dengan standard internasional biasanya memang hanya ada di kota besar atau ibukota provinsi. Namun, kali ini pemerintah Pekalongan juga berkeinginan melangkah lebih maju dengan mendobrak kebiasaan tersebut. Sebuah usaha yang tentu saja patut diacungi jempol.

Sebagaimana dirilis situs resmi pemerintah daerahnya, Kabupaten Pekalongan terpilih karena kultur dan sarana prasarananya dinilai memenuhi syarat. Hal ini juga diamini oleh Kakanwil Depag Jateng H. Masyhudi. Menurutnya, Bupati Pekalongan juga memiliki keinginan kuat dan perhatian besar atas terealisasinya cita-cita ini. (Suara Merdeka, 29/5).

Keinginan kuat dari Bupati ini tentu saja patut diapresiasi. Selain Bupati Pekalongan, pihak lain yang juga patut mendapatkan pujian tentu saja Departemen Agama, baik pusat selaku perencana maupun Kantor Departemen Agama Kabupaten Pekalongan selaku pelaksana lapangan.

Sebagai masyarakat Pekalongan dan sekitarnya, kita tentu merasa senang dan bangga dengan rencana ini. Karena itu, sudah sewajarnya kita turut memberikan andil dalam kelancaran pelaksanaan pembangunan dan perjalanan MBI itu nantinya. Contoh baik sudah diberikan oleh warga Kecamatan Kesesi, yang legowo meski lokasi MBI dipindahkan dari daerah mereka ke Kecamatan Kedungwuni.

Kita pun tidak boleh berpangku tangan hanya melihat (dan berharap) madrasah tersebut akan benar-benar dapat mencetak kader muslim yang andal yang mampu bersaing di dunia internasional. Apa pun profesi ataupun latar belakang kita, sudah pasti kita dapat memberikan andil agar cita-cita pendirian MBI dapat terwujud. Paling tidak, doa kita agar pembangunan MBI benar-benar bermanfaat sesuai tujuan kiranya dapat menolong para stakeholder yang terlibat langsung dalam proyek MBI ini.

MBI, sebagaimana disebutkan dalam official website-nya (www.madrasah-internasional.net), diproyeksikan menjadi madrasah yang mempunyai keunggulan lokal dan daya saing global dalam ilmu pengetahuan dan teknologi serta akhlak mulia. Dengan pengajaran berbasis bahasa Arab dan Inggris, MBI diharapkan dapat mencetak lulusan yang kompetitif dan tentu saja memiliki kualitas di atas rata-rata.

Oleh karena itu, sedari awal, pembangunan fisik, sarana, dan prasarana MBI harus benar-benar dilakukan dengan standard dan pengawasan tingkat tinggi. Hal itu karena sudah terlalu lumrah bagi bangsa kita selama ini, adanya proyek-proyek besar terkadang justru hanya menjadi "sapi perah" bagi kalangan tertentu untuk memperkaya diri.

Dalam pembangunan MBI ini, hal-hal semacam itu tentu harus dihindari. Tidak hanya karena jumlah nominal pembangunan fisiknya yang bernilai miliaran, tetapi karena pendirian MBI merupakan salah satu langkah penting menuju kemajuan bangsa. Jika dibiarkan terjadi penyimpangan dalam tahap awal, baik pembangunan fisik maupun perekrutan tenaga pendidik dan kependidikannya, dikhawatirkan cita-cita yang diharapkan itu akan kabur, atau akan makin mengabur seiring berjalannya waktu.

Jadi, perlu kepedulian semua pihak untuk terus memerhatikan setiap langkah demi langkah perjalanan MBI ini dari awal. Pemkab Pekalongan selaku penyedia lahan tidak boleh "dikalahkan" oleh makelar tanah yang terkadang berspekulasi. Demikian juga pihak yang ditunjuk Depag RI untuk membangun gedung-gedung MBI, harus benar-benar menjalankan proyeknya sesuai bestek.

Depag RI selaku pemilik proyek juga tidak boleh begitu saja menyerahkan proyeknya kepada rekanan. Bahkan, jika perlu secara berkala melakukan inspeksi jalannya pembangunan. Hal ini agar jangan sampai terjadi kesalahan sekecil apa pun. Dengan begitu, rekanan juga akan selalu mawas dan serius menjalankan tugasnya.

Di sisi lain, perekrutan tenaga pendidik dan kependidikan yang konon berjalan bersamaan dengan pembangunan fisik juga tidak boleh dilakukan serampangan. Cita-cita tinggi mencetak lulusan yang pandai berbicara bahasa Arab-Inggris tentu meniscayakan civitas akademika yang paling tidak menguasai salah satu bahasa PBB itu. Tentu akan lebih kompetitif jika tenaga pendidik yang kelak direkrut telah menguasai dua bahasa asing itu.

Oleh karena itu, perekrutan seluruh tenaga MBI—kepala madrasah, pengasuh asrama, tenaga pengajar, tenaga administrasi, perpustakaan, laboratorium, dan pranata komputer—kiranya tidak dilakukan dengan asal tunjuk. Harus dilakukan seleksi ketat dan fair untuk menggapai angan-angan yang seperti di awan itu.

Jangan ada lagi proyek-proyek besar hanya dilakukan untuk mencapai target penyerapan anggaran, apalagi hanya menjadi ajang "bagi-bagi kue". Mari majukan bangsa dengan pendirian MBI yang sesuai peranan sesungguhnya.[]

Pujut, Ujung Nov 09

Thursday, November 19, 2009

Ayo Susul Kami!

Setelah lulus S1, ngapain ya? Ngajar di pesantren, emang sudah kewajiban. Lamar sana-sini, wajar juga. Mbantu orang tua di rumah sambil ke sawah, no problem. Lanjutin S2, kenapa tidak? Yang penting asal jangan nganggur. Tapi kalau mau nyusul kami yang saat ini di KTT, monggo-monggo, ditenggo...

Ya, tahun 2009 ini ada enam alumni Al-Azhar yang nembus S2 Minat Kajian Timur Tengah, Program Studi Agama dan Lintas Budaya, Sekolah Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Alhamdulillah, semuanya dengan beasiswa juga dapet living cost dari Depdiknas berlabel BPPS (Beasiswa Pendidikan Pasca Sarjana).

Ada Cak Mahfud (Jombang/lulus awal 2000-an), Intan (Palembang/2005), Yuli (Pekalongan 2006), Agus Hid (Batang/2007), Wahid (Banjarnegara/2007), n Rofiq (Palembang/2008). Aslinya malah ada 8 orang yang diterima beasiswa, tapi 2 orang lainnya malah lebih milih kuliah di tempat lain, yaitu Aji Nugroho (Salatiga/2006) lebih milih beasiswa di UIN Suka; dan Ning Isma (Brebes/2008) yang milih jurusan ekonomi Islam di UII, meski ga beasiswa tapi itu emang jurusan yang diincarnya.

Angkatan 2009 ini emang kayak ngabis-ngabisin jatah beasiswa aja. Di S2 KTT ini, dari 32 mahasiswa yang diterima, 18 di antaranya dapet beasiswa, 6 di antaranya dari Azhar. Tahun sebelumnya padahal ga sebanyak ini. Angkatan 2008, "hanya" 3 kayaknya alumni Azhar yang dapet BPPS ini (Mas Anang, Oyong, n Muhajir). Atau jangan-jangan karena emang 3 orang itu yang daftar n semuanya diterima?!

Sepertinya tidak sulit-sulit amat sih nembus KTT via BPPS ini. Bahkan tidak ada tes tulis atau wawancaranya! (selama ini begitu loh, ga tahu kalau tahun depan ada perubahan) Tes untuk nembus BPPS ini ya hanya tes berkas. Masukin berkas antara bulan Desember sampai akhir April tahun berikutnya, terus tunggu dech pengumumannya bulan Agustus (tahun ini molor sampai awal September).

Hanya saja, beasiswa BPPS ini memang diperuntukkan hanya bagi dosen tetap PTS atau minimal asisten dosen PTN. Jadi, masukin berkas itu memang harus menyertakan SK atau semacam surat keterangan sebagai dosen (bedakan loh ya antara dosen dan guru). Tapi itu tidak usah terlalu dipikirin lah, cukup ditandangi langsung wae, hehehe.

Ya, sebagian dari kami memang sesungguhnya bukan dosen tetap PTS atau minimal asisten dosen PTN itu. Toh, alhamdulillah diterima juga, meski sempat dag-dig-dug juga nunggu pengumuman. Konon sudah jadi rahasia umum bahwa sebagian penerima BPPS (tahun 2009 ini ada 469 orang yang diterima di UGM dari berbagai jurusan, denger-denger aslinya ada jatah 2000-an per tahun di berbagai perguruan tinggi/jurusan di Indonesia) sebenarnya adalah mereka yang cukup mendekati pimpinan perguruan tinggi, lalu minta SK atau surat keterangan itu. Kalau yang begini biasanya memang punya perjanjian kelak jika sudah selesai S2 kudu balik ke perguruan tinggi yang memberikan SK itu.

Oia, Di minat KTT ini, nanti terserah mau milih konsentrasi (1) linguistik, (2) sastra, atau (3) budaya. Jadi emang konon yang jurusannya paling linear (sebagai salah satu syarat wajib nglamar PNS dosen) adalah lulusan Lughoh Azhar. Dalam hal ini, Cak Mahfud, Intan, n Agus kiranya dianggap paling linear. Tapi ada yang bilang juga asal dari Azhar terus masuk KTT ya berarti linear. Wallahu a'lam. (Itu kalau memang proyeksinya jelas-jelas hanya dosen PTN).

Untuk persyaratan detail peluang BPPS ini, bisa buka website http://daa.ugm.ac.id atau http://pasca.ugm.ac.id Intinya, jangan sampai lah pulang dari Cairo bingung cari aktivitas. Ayo, susul kami di KTT UGM![]


Kos Papringan, 19 November 2009

Monday, October 19, 2009

Malu!

Ceramah umum Grand Mufti Suriah yang disampaikan di UGM betul-betul membawa pencerahan. Dengan bahasa Arab fusha, Grand Mufti menjelaskan terma Islam rahmatan lil alamin dengan gamblang dan mudah dipahami. Para hadirin pun dengan mudah manggut-manggut mendengarkan penjelasan tokoh lulusan Al-Azhar ini. Tak mengherankan pula jika dewan gereja Indonesia mengundangnya untuk menyampaikan ceramahnya di depan jemaat mereka--itu setelah dewan gereja melihat ceramahnya di hadapan tokoh lintas agama dua hari sebelum acara di UGM.

Saat fase tanya jawab acara yang digelar di gedung pusat UGM itu dibuka, banyak peserta studium general berlomba-lomba mengacungkan jari. Didukung dua orang penerjemah kawakan, termasuk Pak Wadud yang berulang kali menjadi penerjemah resmi acara-acara kenegaraan, acara dialog pun tampak hidup, seakan tak mau kalah dengan acara ceramah monologis sebelumnya.

Melihat hal demikian, membuat saya juga gatal ingin mengangkat tangan tinggi-tinggi. Alhamdulillah, tangan saya terlihat oleh moderator sehingga mendapat kesempatan menyampaikan pertanyaan atau pendapat saat sesi kedua dalam fase tanya jawab.

Hanya saja, saat selesai sesi pertama, rupanya moderator melihat jarum jam sudah menunjuk ke waktu-waktu jelang berakhirnya acara. Akhirnya sesi kedua pun diralat untuk diperuntukkan hanya bagi audiens perempuan. Hal itu mengingat pada sesi pertama tiga orang penanya semuanya dari kaum Adam. Saya pun pasrah kesempatan saya dianulir, dan saya sama sekali tidak menyesal karena sudah mendengarkan ceramah yang begitu mencerahkan.

Namun, rupanya Grand Mufti benar-benar orang yang konsisten, sehingga tetap menunjuk ke arah saya meskipun acara nyaris ditutup moderator. Saya yang sudah pasrah dan mengendapkan pertanyaan dalam hati, shock juga saat dipersilakan berdiri dan mengambil mikrofon. Ditambah, karena barangkali sudah melihat acara seharusnya telah diakhiri, moderator dengan sangat tegas--dan bagi saya terasa intimidatif--mengingatkan saya agar to the point.

Shock dan “intimidasi moderator” tersebut rupanya membuat saya sedikit linglung. Jelas itu bukan pertama kali saya berdiri dan bicara di depan umum, di hadapan tokoh sekelas Grand Mufti sekalipun, tetapi saat itu saya benar-benar gugup. Imbasnya, kalimat-kalimat yang saya susun untuk pertanyaan sepertinya menjadi sulit dipahami oleh orang lain, termasuk penerjemah--bahkan bisa jadi oleh saya sendiri.

Tidak cukup sampai di situ, rupanya masih ada faktor lain yang ingin “menjajah” saya di hari itu. Saya memang mengajukan pertanyaan dengan bahasa Indonesia, mengingat mayoritas penanya sebelumnya menggunakan bahasa itu. Saya pun pede penerjemah akan dengan senang hati menerjemahkan pertanyaan saya. Namun, ternyata penerjemah meminta saya mengulang, bahkan muncul kalimat, “Pakai bahasa Arab saja!”

Luar biasa, benar-benar cobaan yang berat, karena setelah itu Grand Mufti malah bertanya, tentu mengarah kepada saya, “Enta Azhari? Kallim Arabi!” Tuing tuing tuing... serasa kepala ini baru dipukul palu godam. Tubuh ini pun makin bergetar tak keruan. Seakan hilang semua kosakata bahasa Arab dalam kepala. Salah sendiri juga sih, kenapa sebelumnya sama sekali tidak menyiapkan pertanyaan dalam bahasa Arab. Bahkan, saat saya ditunjuk diberi kesempatan, seorang kawan sempat bilang, “Pakai bahasa Arab, Akhi.” Lalu, dengan entengnya saya jawab, “Bahasa Indonesia saja...”

Entah siapa yang membisiki Grand Mufti sehingga mengetahui saya adalah seorang alumni Al-Azhar. Bisa jadi moderator, kebetulan dia sekonsul, meski saya tidak terlalu yakin karena kelihatannya dia tidak terlalu mengenali saya dari kejauhan karena tidak mengenakan kacamata. Bisa jadi juga Dubes Muzzammil, duduk sejajar dengan Grand Mufti di podium, yang pernah mengenal saya saat sama-sama berada di Cairo. Atau entah siapa, yang pasti saya malu bukan kepalang.

Pastinya banyak hikmah dari kejadian itu, mudah-mudahan dapat diserap oleh saya, juga siapa pun yang membaca tulisan ini.[]

RSUD Batang, 17 Oktober 2009

Studium General Grand Mufti Suriah di UGM


Berikut ini rangkuman ceramah umum Grand Mufti Republik Arab Suriah di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Studium General
“Islam Rahmatan Lil Alamin”
Grand Mufti Republik Arab Suriah
Dr. Ahmad Badruddin Hassoun
Bulaksumur, 12 Oktober 2009


* Sambutan Ketua Senat Akademik mewakili Rektor UGM
1. Banyak kesamaan antara Indonesia dan Suriah: lambang negara [burung garuda], warna bendera [merah dan putih], tanggal proklamasi kemerdekaan [17].
2. Harapan penguatan kerjasama di antara dua negara, terutama antara UGM dan lembaga pendidikan di Suriah, dengan campur tangan Grand Mufti selaku salah satu pengambil kebijakan yang memiliki peranan cukup kuat.
3. Grand Mufti diharapkan mau menjadi dosen terbang untuk UGM.

* Keynote Speaker Dubes RI untuk Suriah, Drs. Muzzammil Basyuni
1. Mendatangkan Grand Mufti ke Indonesia bukanlah pekerjaan mudah, tetapi karena permintaan Menteri Agama [secara kebetulan kakak kandung Dubes, bukan bermaksud nepotisme] maka diusahakan semaksimal mungkin.
2. Tidak benar Islam merupakan sumber kekacauan ataupun terorisme.
3. Kalaupun ada penilaian Islam sebagai biang terorisme, mari diluruskan dengan da’wah bil haal, yaitu dengan berjihad menegakkan Islam dengan sebenar-benarnya.
4. Jihad tidaklah identik dengan peperangan, al-jihaadu laa yuraadiful-qatl. Jihad adalah mengeluarkan segenap kemampuan untuk memperjuangkan Islam yang benar, al-jihaadu huwal-juhdu li’izzatil-islam.
5. Indonesia dan Suriah sudah merdeka, sekarang saatnya mendukung negara lain, terutama Palestina, agar mendapatkan kemerdekaan dari penjajahan bangsa lain.

* Kuliah Umum Grand Mufti Dr. Ahmad Badruddin Hassoun
1. Siap menjadi dosen terbang di UGM, bahkan berharap sekaligus diterima sebagai mahasiswa agar juga bisa menimba ilmu di perguruan tinggi ini.
2. Semua agama pasti mengandung dua ajaran utama: kesucian tuhan dan kemuliaan manusia.
3. Semua agama samawi dari Nabi Adam sampai Nabi Muhammad, mengajarkan “menghormati sesama manusia”. Jika semua pemeluk agama, termasuk Islam, Yahudi, dan Kristen, konsisten dengan nilai itu, niscaya tidak ada perang di dunia ini.
4. Sebenarnya hanya ada 2 agama di muka bumi: agama dari tuhan dan agama [buatan] dari manusia. Agama dari tuhan adalah agama samawi, yaitu Islam, Kristen, dan Yahudi. Adapun agama buatan manusia sesungguhnya diawali dengan langkah baik, yaitu memuji kebenaran, lalu mereka membuat simbol-simbol berbentuk dewa atau tuhan yang melambangkan kebaikan, keburukan, dll.
4. Tidak ada istilah “perang suci”. Bagaimana mungkin peperangan yang membunuh manusia-manusia tak berdosa dikatakan suci? Agama mana pun tidak ada yang mengajarkan pembunuhan, karena itu jangan pernah membunuh lalu mengatasnamakan agama.
5. Di Palestina sesungguhnya tidak ada perang antaragama, tidak ada perang antara Islam melawan Yahudi, yang ada hanyalah perang antara pemilik hak melawan kekuatan penjajah.
6. Hati-hati dengan istilah daulah diniyyah atau daulah islamiyyah, negara agama atau negara Islam. Negara yang ada seharusnya adalah daulah insaniyyah, nation state, negara bangsa alias negara yang menjunjung tinggi kemanusiaan. Negara agama meniscayakan tidak boleh ada agama lain di dalamnya, sementara negara bangsa meniscayakan penghormatan hak-hak seluruh manusia, termasuk hak beragama.
7. Fatamorgana daulah islamiyyah sesungguhnya dimunculkan orang-orang penjajah, bukan berasal dari sumber-sumber ajaran agama Islam.
8. Hadits afsyus-salaam (tebarkanlah salam), menunjukkan perintah untuk menebar kedamaian, tidak sekadar menebarkan atau mengucapkan salam, selamat pagi, selamat siang, dst. Karena itu menggunakan kata afsyu, bukan alqus-salaam (sampaikanlah salam).
9. Ketika peristiwa kartun Nabi Muhammad di Denmark, muncul reaksi, kecaman, dan demo di mana-mana. Namun sepertinya itu justru melegitimasi penilaian beberapa kalangan bahwa Islam adalah agama yang beringas. Seharusnya yang dilakukan adalah dialog. Pihak Mufti Suriah sendiri setelah munculnya kartun itu di media Denmark, langsung mengirimkan surat keberatan dan mengajak dialog pemimpin media itu. Dari dialog itu, terkuak bahwa Barat baru mengetahui sedikit tentang Islam, lalu dipublikasikan dengan cara mereka sendiri melalui media-media mereka. Setelah mendapatkan penjelasan tentang Islam dari pihak Mufti Suriah, media Denmark terbuka untuk membuat semacam “ralat”. Hal itu dilakukan dengan memberi kesempatan kepada Mufti Suriah untuk mengampanyekan Islam sesuai pemahaman sebenarnya langsung dari sumber-sumber ajaran Islam. Akhirnya, empat edisi berturut-turut media Denmark itu memublikasikan ajaran Islam yang ditulis oleh kalangan Islam sendiri, dalam hal ini Mufti Suriah.
10. Demikian ahlanya berkaitan dengan peristiwa “salah ucap” Paus Benediktus atas Nabi Muhammad yang dianggap menyinggung perasaan umat Islam. Ucapan Paus ini pun memunculkan demonstrasi di mana-mana, terutama negara-negara berpenduduk mayoritas muslim. Tetap saja aksi-aksi semacam itu kurang mengena terhadap pelaku salah ucap itu. Oleh pihak Mufti Suriah, Paus diajak berdialog. Mufti Suriah lalu menunjukkan agar Paus membuka-buka terjemahan dari buku Syama’il Muhammadiyah. Mufti Suriah sendiri mengetahui bahwa buku-buku itu sudah ada terjemahannya di perpustakaan Vatikan. Setelah membuka buku itu, Paus mengakui kesalahannya dan mengajukan permohonan maaf.[]

RSUD Batang, 17 Oktober 2009