Wednesday, March 31, 2010

Pernikahan

Momen yang tak mungkin layak untuk dilupakan. Sekian lama menanti, akhirnya masa itu datang juga.










Tuesday, February 02, 2010

Pendaftaran S2 UGM

Buat rekans yang ingin mendaftar S2 di Sekolah Pascasarjana UGM (SPS UGM), silakan menyimak pengumaman di http://um5.ugm.ac.id/index.php/page/151


Prosedur Admisi(Pendaftaran) Program S2 dan S3
Pendaftaran untuk calon mahasiswa Semester I Tahun Akademik 2010/2011 dengan ketentuan sebagai berikut :

1. Untuk calon mahasiswa yang mengajukan Beasiswa Pendidikan Pascasarjana (BPPS) pendaftaran dimulai 28 Desember 2009 s.d 16 April 2010. Syarat utama untuk diusulkan sebagai calon penerima BPPS adalah dosen PTN atau dosen tetap PTS dan telah diterima secara akademik.
2. Untuk calon mahasiswa dengan biaya sendiri/instansi pendaftaran dimulai 28 Desember 2009 s.d 11 Juni 2010.
3. Hasil seleksi untuk calon mahasiswa yang diterima akan diumumkan pada pertengahan Agustus melalui website http://um.ugm.ac.id

Prosedur Pendaftaran

Prosedur pendaftaran calon mahasiswa S2 dilaksanakan melalui internet (online) dengan prosedur :

* Membayar biaya administrasi pendaftaran sebesar
o Rp. 500.000,00 untuk S2 Reguler (Jalur Akademik)
o Rp. 750.000,00 untuk S3 dan S2 Non-Reguler (Jalur Profesi)
o Rp. 1.000.000,00 untuk Spesialis
* Pembayaran dapat dilakukan secara online di Bank BNI seluruh Indonesia, dengan kode :
o 2121 untuk pendaftaran S2 Non-Reguler (Jalur Profesi)
o 2222 untuk pendaftaran S2 Reguler (Jalur Akademik)
o 2323 untuk pendaftaran Spesialis
o 3333 untuk pendaftaran S3
diikuti dengan tanggal lahir ber-format (ddmmyyyy)

Contoh, untuk mendaftar S2 Reguler dengan tanggal lahir 3 November 1980, masukkan 222203111980.
Apabila tanggal dan bulan lahir tidak diketahui, maka tanggal dan bulan lahir yang dimasukkan adalah 1 Januari.
* Jika pembayaran berhasil, maka pada struk pembayaran akan tercantum password untuk mengisi formulir pendaftaran.
* Pada akhir isian formulir pendaftaran, pendaftar akan mendapatkan nomor pendaftaran dan tersedia tombol untuk mencetak formulir pendaftaran sebagai salah satu syarat berkas pendaftaran.
* Mengirimkan/menyerahkan berkas persyaratan pendaftaran ke
Administrasi Program Pascasarjana
Direktorat Administrasi Akademik
Kantor Pusat UGM, Lt. 1, Sayap Selatan,
Bulaksumur, Yogyakarta - 55281
* Mengikuti ujian TOEFL dan TPA pada waktu dan lokasi yang telah dipilih saat pengisian formulir pendaftaran.

Berkas Persyaratan
A. Persyaratan untuk program S2:

1. Salinan ijazah dan transkrip akademik S-1 yang telah dilegalisir.
2. Memiliki IPK minimal 2.75
3. Asal Program Studi S1 telah memperoleh Akreditasi oleh BAN PT.
4. Surat rekomendasi dari 2 orang/pihak yang mengetahui kemampuan akademik calon.
5. Proyeksi keinginan calon dalam mengikuti program S2 yang berisi alasan, harapan, dan rencana setelah selesai kuliah S-2.
6. Surat izin dari instansi/lembaga tempat bekerja (bagi calon yang sudah bekerja).
7. Surat keterangan jaminan pembayaran dari instansi atau surat keterangan kesanggupan biaya sendiri (bermaterei).
8. Bagi yang telah memiliki sertifikat TOEFL atau TPA dapat melampirkan salinannya.
9. Surat keterangan sehat dari dokter.
10. Pelamar BPPS (hanya untuk Jalur Akademik) melampirkan Form A, B, C, D, E dan F dengan dilengkapi fotokopi
10.1 Karpeg/NIK untuk PNS/Karyawan.
10.2 Surat Keputusan sebagai PNS.
10.3 Surat Keputusan Jabatan Dosen.
11. Semua persyaratan dibuat dalam 2 rangkap.
12. Isian formulir lampiran dapat didownload di sini.
13. Amplop berperangko dan ditulisi alamat pelamar
14. Lamaran dikirim/diserahkan ke:

Administrasi Program Pascasarjana
Direktorat Administrasi Akademik
Kantor Pusat UGM, Lt. 1, Sayap Selatan,
Bulaksumur, Yogyakarta - 55281

B. Persyaratan untuk program S3:

1. Salinan ijazah dan transkrip S1 dan S2 yang dilegalisir
2. Memiliki IPK minimal 3.00
3. Asal Program Studi S2 telah memperoleh Akreditasi oleh BAN PT.
4. Riwayat hidup dan riwayat pekerjaan
5. Nama calon pembimbing yang diinginkan/yang telah dihubungi.
6. Surat izin dari atasan (bagi calon yang sudah bekerja).
7. Surat keterangan jaminan biaya pendidikan.
8. Surat keterangan sehat dari dokter.
9. Surat rekomendasi dari 2 orang/pihak yang mengetahui kemampuan akademik calon (mantan pembimbing, mantan dosen, atau atasan)
10. Rancangan usulan penelitian atau lay out untuk program studi tertentu masing- masing 8 rangkap
11. Bagi yang telah memiliki sertifikat TOEFL atau TPA dapat melampirkan salinannya.
12. Pelamar BPPS (hanya untuk Jalur Akademik) melampirkan Form A, B, C, D, E dan F dengan dilengkapi fotokopi
12.1 Karpeg/NIK untuk PNS/Karyawan.
12.2 Surat Keputusan sebagai PNS.
12.3 Surat Keputusan Jabatan Dosen.
13. Semua persyaratan dibuat dalam 2 rangkap.
14. Isian formulir lampiran yang dapat didownload di sini.
15. Amplop berperangko dan ditulisi alamat pelamar.
16. Lamaran dikirim/diserahkan ke:

Administrasi Program Pascasarjana
Direktorat Administrasi Akademik
Kantor Pusat UGM, Lt. 1, Sayap Selatan,
Bulaksumur, Yogyakarta - 55281


Wednesday, January 27, 2010

Entrepreneur, Apaan Sih? (1)

Kira-kira empat tahun lalu, nyaris saja saya menjadi panitia pengarah sebuah seminar organisasi di Kairo yang menggandeng Kementerian Koperasi dan UKM RI tentang entrepreneurship. SK bahkan sudah turun, sayang kerjasama dengan kementerian tersebut—walaupun sudah bertatap muka dengan pak menteri secara langsung—tidak jadi terlaksana. Wallahu a'lam.

Barangkali ada untungnya, karena bisa-bisa penyelenggara akan malu, lha panitia pengarahnya sendiri ternyata belum memahami betul apa itu entrepreneurship. Atau barangkali karena tidak jadi itulah panitia pengarahnya tidak mau belajar lebih banyak tentang "makhluk" aneh yang sering terdengar tetapi jarang diketahui secara detail itu.

So, ada yang tahu apa itu entrepreneur? Hmm.. main tebak-tebakan saja lah. Kira-kira artinya berkaitan erat dengan kemandirian ya. Kemandirian dalam berusaha, maksudnya punya usaha sendiri. Memiliki mata pencaharian sendiri, tidak menjadi anak buah orang lain. Barangkali tidak jauh beda lah artinya sama wiraswasta.

Jika kira-kira begitu pengertiannya, berarti sesungguhnya saya sendiri pernah menjalankannya. Bahkan jauh-jauh hari (atau hitungan belasan tahun malah) mantan calon panitia pengarah ini sudah pernah berpengalaman sebagai entrepreneur itu. Pengalaman! Tentu tidak memandang berhasil atau gagal; yang penting p-e-r-n-a-h.

Kira-kira umur belum genap sepuluh tahun, pernah tuh coba-coba jualan. Uang hasil tabungan—dikumpulkan dari angpaw lebaran dan dikasih saudara ketika berkunjung di luar kota—diminta dari ortu, lalu dibelikan sepaket undian berhadiah. Inget betul, waktu itu lagi rame-ramenya anak-anak seumuran SD senang membeli permen cicak (bentuknya bulat kecil-kecil berwarna-warni seukuran telur cicak) dengan embel-embel selembar kertas yang dibubuhi angka tertentu yang dihubungkan dengan hadiah murah meriah. Hadiahnya bisa berupa permen, kerupuk, mi instan, juga mainan semacam pistol-pistolan dan mobil-mobilan. Tentu saja, lebih banyak kertas tersebut bertuliskan kira-kira: anda belum beruntung.

Lucu juga, hanya demi kesenangan batin anak kecil. Hasilnya tentu tidak ada secara materi. Malah kebanyakan permen-permen itu dimakan sendiri. Jadi hadiahnya juga diambil sendiri, yang kira-kira kalau dihitung mungkin akan lebih murah dibandingkan dengan harga kulakan ya. Kalau nilai total hadiah lebih mahal daripada harga kulakan, tentu pembuat paket itu rugi dari awal.

Itu cerita SD. Di tingkat SLTP, sepertinya tidak ada pengalaman entrepreneurship itu. Baru ketika menginjak bangku SLTA, keinginan untuk "keluar dari belenggu rutinitas" itu muncul lagi. Kali ini dengan membawa beberapa kilo emping melinjo (yang merupakan produk khas daerah asal) ke kota tempat menimba ilmu, Kudus. Sayang, jiwa entrepreneurship itu tidak betul-betul tumbuh, tidak lebih sekadar coba-coba. Hasilnya pun tidak maksimal. Memang bisa mengembalikan modal, maksudnya bisa kulakan lagi, tetapi belum menghitung biaya transportasi, capek, akomodasi dll. Intinya, sekadar dapat uang yang sama persis dengan nilai kulakan, tapi alhamdulillah plus sedikit sisa emping melinjo yang tidak terjual.

Tetapi sepertinya itu tidak benar-benar memuaskan. Sebagai latihan OK lah, hanya saja waktu itu kok cuma nitip ke orang ya. Maksudnya tidak bisa jualan sendiri ke end user. Tentu saja terasa ada yang kurang. Entah karena apa, coba-coba entrepreneurship emping itu pun cuma sekali waktu itu, tidak kemudian diulangi dan diperbaiki.

Di tingkat SLTA juga, pernah mau jualan koran bekas.Waktu itu datang ke alun-alun kota Kudus yang lagi ada wayangan dalam rangka HUT PT Djarum. Entah wayangan entah pengajian, atau malah pengajian yang dilanjutkan dengan wayangan, pokoknya rame banget orang-orang duduk lesehan. Sama teman-teman asrama, berniat membawa tas ransel diisi koran bekas dengan maksud dijual sebagai tempat duduk, yah barang seratus dua ratus perak. Namun, rupanya di antara kami tidak ada yang punya nyali untuk menjajak. Walhasil, koran bekas dengan jumlah yang sama persis dibawa pulang lagi ke asrama, hehe.[]

Pujut, 30 Januari 2010

Monday, December 07, 2009

Angan Besar Bernama MBI

Senin (30/11), dijadwalkan menjadi hari terakhir Departemen Agama RI menerima berkas lamaran tenaga pendidik dan kependidikan Madrasah Bertaraf Internasional (MBI). Sebagaimana santer diberitakan, termasuk beberapa kali dimuat di koran ini, khususnya Suara Pantura, MBI juga bakal didirikan di Kabupaten Pekalongan.

Madrasah ataupun sekolah dengan standard internasional biasanya memang hanya ada di kota besar atau ibukota provinsi. Namun, kali ini pemerintah Pekalongan juga berkeinginan melangkah lebih maju dengan mendobrak kebiasaan tersebut. Sebuah usaha yang tentu saja patut diacungi jempol.

Sebagaimana dirilis situs resmi pemerintah daerahnya, Kabupaten Pekalongan terpilih karena kultur dan sarana prasarananya dinilai memenuhi syarat. Hal ini juga diamini oleh Kakanwil Depag Jateng H. Masyhudi. Menurutnya, Bupati Pekalongan juga memiliki keinginan kuat dan perhatian besar atas terealisasinya cita-cita ini. (Suara Merdeka, 29/5).

Keinginan kuat dari Bupati ini tentu saja patut diapresiasi. Selain Bupati Pekalongan, pihak lain yang juga patut mendapatkan pujian tentu saja Departemen Agama, baik pusat selaku perencana maupun Kantor Departemen Agama Kabupaten Pekalongan selaku pelaksana lapangan.

Sebagai masyarakat Pekalongan dan sekitarnya, kita tentu merasa senang dan bangga dengan rencana ini. Karena itu, sudah sewajarnya kita turut memberikan andil dalam kelancaran pelaksanaan pembangunan dan perjalanan MBI itu nantinya. Contoh baik sudah diberikan oleh warga Kecamatan Kesesi, yang legowo meski lokasi MBI dipindahkan dari daerah mereka ke Kecamatan Kedungwuni.

Kita pun tidak boleh berpangku tangan hanya melihat (dan berharap) madrasah tersebut akan benar-benar dapat mencetak kader muslim yang andal yang mampu bersaing di dunia internasional. Apa pun profesi ataupun latar belakang kita, sudah pasti kita dapat memberikan andil agar cita-cita pendirian MBI dapat terwujud. Paling tidak, doa kita agar pembangunan MBI benar-benar bermanfaat sesuai tujuan kiranya dapat menolong para stakeholder yang terlibat langsung dalam proyek MBI ini.

MBI, sebagaimana disebutkan dalam official website-nya (www.madrasah-internasional.net), diproyeksikan menjadi madrasah yang mempunyai keunggulan lokal dan daya saing global dalam ilmu pengetahuan dan teknologi serta akhlak mulia. Dengan pengajaran berbasis bahasa Arab dan Inggris, MBI diharapkan dapat mencetak lulusan yang kompetitif dan tentu saja memiliki kualitas di atas rata-rata.

Oleh karena itu, sedari awal, pembangunan fisik, sarana, dan prasarana MBI harus benar-benar dilakukan dengan standard dan pengawasan tingkat tinggi. Hal itu karena sudah terlalu lumrah bagi bangsa kita selama ini, adanya proyek-proyek besar terkadang justru hanya menjadi "sapi perah" bagi kalangan tertentu untuk memperkaya diri.

Dalam pembangunan MBI ini, hal-hal semacam itu tentu harus dihindari. Tidak hanya karena jumlah nominal pembangunan fisiknya yang bernilai miliaran, tetapi karena pendirian MBI merupakan salah satu langkah penting menuju kemajuan bangsa. Jika dibiarkan terjadi penyimpangan dalam tahap awal, baik pembangunan fisik maupun perekrutan tenaga pendidik dan kependidikannya, dikhawatirkan cita-cita yang diharapkan itu akan kabur, atau akan makin mengabur seiring berjalannya waktu.

Jadi, perlu kepedulian semua pihak untuk terus memerhatikan setiap langkah demi langkah perjalanan MBI ini dari awal. Pemkab Pekalongan selaku penyedia lahan tidak boleh "dikalahkan" oleh makelar tanah yang terkadang berspekulasi. Demikian juga pihak yang ditunjuk Depag RI untuk membangun gedung-gedung MBI, harus benar-benar menjalankan proyeknya sesuai bestek.

Depag RI selaku pemilik proyek juga tidak boleh begitu saja menyerahkan proyeknya kepada rekanan. Bahkan, jika perlu secara berkala melakukan inspeksi jalannya pembangunan. Hal ini agar jangan sampai terjadi kesalahan sekecil apa pun. Dengan begitu, rekanan juga akan selalu mawas dan serius menjalankan tugasnya.

Di sisi lain, perekrutan tenaga pendidik dan kependidikan yang konon berjalan bersamaan dengan pembangunan fisik juga tidak boleh dilakukan serampangan. Cita-cita tinggi mencetak lulusan yang pandai berbicara bahasa Arab-Inggris tentu meniscayakan civitas akademika yang paling tidak menguasai salah satu bahasa PBB itu. Tentu akan lebih kompetitif jika tenaga pendidik yang kelak direkrut telah menguasai dua bahasa asing itu.

Oleh karena itu, perekrutan seluruh tenaga MBI—kepala madrasah, pengasuh asrama, tenaga pengajar, tenaga administrasi, perpustakaan, laboratorium, dan pranata komputer—kiranya tidak dilakukan dengan asal tunjuk. Harus dilakukan seleksi ketat dan fair untuk menggapai angan-angan yang seperti di awan itu.

Jangan ada lagi proyek-proyek besar hanya dilakukan untuk mencapai target penyerapan anggaran, apalagi hanya menjadi ajang "bagi-bagi kue". Mari majukan bangsa dengan pendirian MBI yang sesuai peranan sesungguhnya.[]

Pujut, Ujung Nov 09

Thursday, November 19, 2009

Ayo Susul Kami!

Setelah lulus S1, ngapain ya? Ngajar di pesantren, emang sudah kewajiban. Lamar sana-sini, wajar juga. Mbantu orang tua di rumah sambil ke sawah, no problem. Lanjutin S2, kenapa tidak? Yang penting asal jangan nganggur. Tapi kalau mau nyusul kami yang saat ini di KTT, monggo-monggo, ditenggo...

Ya, tahun 2009 ini ada enam alumni Al-Azhar yang nembus S2 Minat Kajian Timur Tengah, Program Studi Agama dan Lintas Budaya, Sekolah Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Alhamdulillah, semuanya dengan beasiswa juga dapet living cost dari Depdiknas berlabel BPPS (Beasiswa Pendidikan Pasca Sarjana).

Ada Cak Mahfud (Jombang/lulus awal 2000-an), Intan (Palembang/2005), Yuli (Pekalongan 2006), Agus Hid (Batang/2007), Wahid (Banjarnegara/2007), n Rofiq (Palembang/2008). Aslinya malah ada 8 orang yang diterima beasiswa, tapi 2 orang lainnya malah lebih milih kuliah di tempat lain, yaitu Aji Nugroho (Salatiga/2006) lebih milih beasiswa di UIN Suka; dan Ning Isma (Brebes/2008) yang milih jurusan ekonomi Islam di UII, meski ga beasiswa tapi itu emang jurusan yang diincarnya.

Angkatan 2009 ini emang kayak ngabis-ngabisin jatah beasiswa aja. Di S2 KTT ini, dari 32 mahasiswa yang diterima, 18 di antaranya dapet beasiswa, 6 di antaranya dari Azhar. Tahun sebelumnya padahal ga sebanyak ini. Angkatan 2008, "hanya" 3 kayaknya alumni Azhar yang dapet BPPS ini (Mas Anang, Oyong, n Muhajir). Atau jangan-jangan karena emang 3 orang itu yang daftar n semuanya diterima?!

Sepertinya tidak sulit-sulit amat sih nembus KTT via BPPS ini. Bahkan tidak ada tes tulis atau wawancaranya! (selama ini begitu loh, ga tahu kalau tahun depan ada perubahan) Tes untuk nembus BPPS ini ya hanya tes berkas. Masukin berkas antara bulan Desember sampai akhir April tahun berikutnya, terus tunggu dech pengumumannya bulan Agustus (tahun ini molor sampai awal September).

Hanya saja, beasiswa BPPS ini memang diperuntukkan hanya bagi dosen tetap PTS atau minimal asisten dosen PTN. Jadi, masukin berkas itu memang harus menyertakan SK atau semacam surat keterangan sebagai dosen (bedakan loh ya antara dosen dan guru). Tapi itu tidak usah terlalu dipikirin lah, cukup ditandangi langsung wae, hehehe.

Ya, sebagian dari kami memang sesungguhnya bukan dosen tetap PTS atau minimal asisten dosen PTN itu. Toh, alhamdulillah diterima juga, meski sempat dag-dig-dug juga nunggu pengumuman. Konon sudah jadi rahasia umum bahwa sebagian penerima BPPS (tahun 2009 ini ada 469 orang yang diterima di UGM dari berbagai jurusan, denger-denger aslinya ada jatah 2000-an per tahun di berbagai perguruan tinggi/jurusan di Indonesia) sebenarnya adalah mereka yang cukup mendekati pimpinan perguruan tinggi, lalu minta SK atau surat keterangan itu. Kalau yang begini biasanya memang punya perjanjian kelak jika sudah selesai S2 kudu balik ke perguruan tinggi yang memberikan SK itu.

Oia, Di minat KTT ini, nanti terserah mau milih konsentrasi (1) linguistik, (2) sastra, atau (3) budaya. Jadi emang konon yang jurusannya paling linear (sebagai salah satu syarat wajib nglamar PNS dosen) adalah lulusan Lughoh Azhar. Dalam hal ini, Cak Mahfud, Intan, n Agus kiranya dianggap paling linear. Tapi ada yang bilang juga asal dari Azhar terus masuk KTT ya berarti linear. Wallahu a'lam. (Itu kalau memang proyeksinya jelas-jelas hanya dosen PTN).

Untuk persyaratan detail peluang BPPS ini, bisa buka website http://daa.ugm.ac.id atau http://pasca.ugm.ac.id Intinya, jangan sampai lah pulang dari Cairo bingung cari aktivitas. Ayo, susul kami di KTT UGM![]


Kos Papringan, 19 November 2009