Saturday, April 23, 2011

Korupsi di Sekitar Kita (6)

I

"Kemarin ikut coblosan?"
"Nggak, nama saya tidak tercatat di Tangsel."
"Kalau saya ikut."
"Nyoblos siapa?"
"Airin dong."
"Ooohhh...."
"Putaran pertama sih nyoblos Andre."
"...."
"Sebenarnya saya juga masih ngontrak di tempat Pak RT yang ndukung Andre."
"...."
"Tapi sebelum coblosan, saya didatangi A, dia pendekar kampung. Dia bilang, 'Mas, besok nyoblos Airin ya.' Saya iyakan aja. Abis itu dia ngasih saya uang 20.000."
"...."
"Tidak lama kemudian Pak RT datengin saya. Dia mau ngasih uang 10.000. Saya tolak. Pak RT bingung. Tapi ya saya jelaskan saja pilihan saya."[]


II
"Wah sebentar lagi coblosan bupati ya."
"Iya saatnya panen duit, hehehe."
"Bukannya Bu Qom dari desa W?"
"Ya sama aja. Jaman sekarang gak pandang bulu."
"Tapi kira-kira Bu Qom menang ya di asal tinggalnya?"
"Kemungkinan sih. Kita anak muda desa sih yang penting bisa morotin dari calon-calon."
"Kalo anaknya Arafiq itu katanya kaya ya?"
"Wah itu joss.... Antononya jg gede duitnya."
"...."
"Lha mereka nyalon juga buat nyari duit. Mau suara kita juga harus keluar duit lah."

Wonoyoso, 19 April 2011

Sunday, March 27, 2011

Korupsi di Sekitar Kita (5)

Indahnya menikmati hari-hari bersama si kecil. Hidup jadi terasa "lebih hidup". Impian untuk menggantungkan cita-cita setinggi pun mungkin rasanya semakin dekat. Tentu saja euforia semacam itu tidak lantas boleh membuat kita terlupa untuk mengurus administrasi kelahiran.

Ya, akta kelahiran tentu semakin terasa perlu di era sekarang ini. Bagi orang seumuran saya, barangkali masih ada beberapa yang tidak memiliki akta lahir. Atau paling tidak terlambat mengurus akta kelahiran. Apalagi jika dibandingkan dengan "para pendahulu" orang-orang seangkatan saya, bisa-bisa masih ada yang sampai sekarang tidak memiliki akta kelahiran.

Kebetulan tanggal 5 bulan depan KTP istri saya sudah harus ganti. Pertengahan bulan ini, KTP bu lik-nya juga sudah kadaluwarsa. Istri saya lalu mengajak bu lik untuk bersama-sama mengurus pembaruan KTP. Namun, rupanya bu lik enggan. "Buat apa bikin KTP?" begitu kira-kira bu lik menyergah. Nah loh... Saya sendiri tidak tahu apakah anak bu lik yang berusia lebih dari satu tahun itu sudah dibuatkan akta kelahiran. Mudah-mudahan sih sudah.

Namun, bukan itu sebenarnya yang penting. Ada satu masalah yang barangkali perlu disimak bersama-sama, syukur-syukur kelak bakal ditemukan solusinya. Kisah ini berawal saat saya mencukur rambut di barber langganan. Kebetulan si pencukurnya dahulu adalah tetangga rumah di desa. Obrolan di antara kami pun asyik kian kemari. Hingga menyinggung masalah anak, rupanya ia baru saja mengurus akta kelahiran tiga anaknya sekaligus.

Ya, karena awalnya merasa tidak perlu, atau merasa ah bisa belakangan, akhirnya ia terpojok untuk harus merapel pembuatan akta kelahiran langsung tiga anaknya. Peraturan yang saat ini berlaku berkaitan dengan pembuatan akta kelahiran rupanya belum terlalu disosialisasikan kepada seluruh lapisan masyarakat. Si tukang cukur pun harus bertanya berkali-kali ke beberapa instansi yang memang harus dilaluinya. Dimulai dari balai desa, kantor kecamatan, dindukcapil, hingga pengadilan.

Ckckckckck... barangkali niat pembuat undang-undang adalah untuk meminimalisasi ruang gerak teroris atau semacamnya, tetapi hal semacam itu ternyata hanya menyasar orang-orang kecil untuk semakin kecil dan sulit. Betapa tidak, untuk pembuatan akta kelahiran ketiga anaknya--yang pertama sudah masuk SD, yang kedua berusia sekitar empat tahun, dan yang ketiga berusia lebih dari dua bulan--ia harus merogoh kocek dalam-dalam, nyaris dua juta rupiah. Mari berkata, "Wouuuuwwww...." Tanpa bermaksud mengecilkan pendapatan tukang cukur, tentu itu angka yang sangat fantastis untuk siapa saja yang berpendapatan minim. Bahkan untuk diri saya sendiri sekalipun.

Mari kita hitung untuk apa saja dia harus mengeluarkan fulus. Saat datang ke kantor balai desa, meskipun tidak ada ketentuan yang menyebutkan harus membayar berapa, katakan saja harus mengisi "kotak amal". Kemudian di kantor kecamatan, siapa yang berani menjamin tidak ada pungli? (Kabupaten lain mungkin berbeda, tetapi lihat saja di kabupaten si tukang cukur)

Yang mengejutkan adalah di pengadilan. Sssshhhhh, birokrasi yang ada sekarang ini memang meliuk-liuk. Anak-anak yang terlambat dibuatkan akta kelahiran lebih dari jangka waktu tertentu (kalau tidak salah dua bulan) harus disidangkan di pengadilan negeri. Nah, saat disidang, selain membayar lewat loket resmi, rupanya ada pungli yang konon untuk "uang capek" perangkat sidang. Belum lagi dia harus membawa dua saksi untuk masing-masing anak. Karena jarak pengadilan tidak dekat, tentu ia harus membayarkan--paling tidak--ongkos transport, yang tentu saja lebih dari cukup untuk membayar angkutan umum dan konsumsi. Alkisah, si tukang cukur mengeluarkan uang lebih dari satu juta rupiah untuk "berputar-putar" di area pengadilan ini.

Setelah itu, di kantor dindukcapil juga rupanya tidak bisa melenggang begitu saja tanpa uang. Lagi-lagi duit berbicara. Itu pun tidak bisa dilayani secara maksimal jika tidak memberi uang tambahan bagi para pegawainya. Luar biasa memang mentalitas para birokrat kita. Sudah telanjur tidak bisa bekerja hanya dengan gaji yang halal.

Kegetiran si tukang cukur rupanya tidak sampai di situ. Beberapa saat setelah semua urusan birokrasi selesai dan tinggal menunggu pengambilan akta kelahiran, ada seorang temannya yang "terlambat" memberikan trik. Ya, si teman rupanya tidak harus jauh-jauh mengurus sidang ke pengadilan. Konon, ia hanya cukup mendatangi kepala dinas dukcapil, lalu berbisik-bisik "meminta tolong" pengurusan akta kelahiran. Bim salabim, cukup dengan 300 ribuan, akta kelahiran sudah jadi dengan waktu yang super kilat.

Jadi, saat masih tinggal di negeri Indonesia, silakan pilih saja: birokrasi berbelit dengan biaya mahal atau jalur potong kompas dengan biaya murah.[]

Wonoyoso, 19 April 2011

Thursday, February 17, 2011

Korupsi di Sekitar Kita (4)

Akhir-akhir ini saya harus sering "menikmati" jalur pantura. Apa pasal? Lahirnya si kecil dikompilasi dengan sudah jarangnya ada perkuliahan membuat saya jadi harus terbiasa bolak-balik Pekalongan-Yogyakarta. Dari rumah mertua menuju kontrakan dan sebaliknya. Membawa si kecil ke kota pelajar belum memungkinkan, sementara berlama-lama di kota kampus tentu akan merepotkan istri di rumah.

Sebenarnya tidak masalah menempuh perjalanan sekitar lima jam itu, apalagi bisa mampir di rumah orang tua barang sesaat untuk melepas lelah, atau malah menyempatkan pijat badan di tempat Bu Dhe. Hanya ada satu permasalahan mengganjal: jalanan bergelombang di jalur pantura.

Barangkali soal ini juga dialami siapa saja yang bahkan mungkin ada yang harus tiap hari melewatinya. Tentu saya patut bersyukur karena tidak harus setiap pagi dan sore melewati jalur yang dahulu terkenal cukup angker ini. Cukupkah bersyukur? Bukan sekadar masalah cukup atau tidak cukup tentunya, jika ada yang mengganjal di balik bergelombangnya jalan skala nasional itu.

Ya, beberapa waktu lalu, seorang sopir travel bercerita salah satu sisi di balik bergelombangnya jalan pantura itu. Dia yang pernah juga menjadi sopir truk ukuran super jumbo menceritakan pengalaman pribadinya. Konon, saat menyopiri truk itu dia mengaku terbiasa membawa muatan melebihi tonase yang ditentukan. Melanggar hukum? Tentu saja, dan dia dengan tegas mengakuinya.

Bukankah sudah ada jembatan-jembatan timbang? Dia tidak memungkiri bahwa dalam perjalanan Jakarta-Surabaya—rutenya saat menyetir truk-truk besar itu—memang beberapa kali harus memasuki jembatan timbang. Namun, saat mengetahui muatannya melebihi tonase, ia memang harus menyiapkan amplop berisi uang. Suap dong? Mau bagaimana lagi, kilahnya. Jumlah nominal uang yang disiapkan untuk suap itu berbeda-beda, tergantung daeraha mana. Daerah tertentu terkenal "murah", tetapi di kawasan lain harus merogoh kocek cukup dalam untuk mempertebal amplop.

Pengusaha yang mempekerjakan sopir-sopir seperti dirinya rupanya lebih suka menyiapkan amplop-amplop itu, ketimbang menjatah muatan truk-truknya sesuai tonase yang ditetapkan. Ya, tentu saja hal itu dapat menghemat biaya distribusi. Sebut saja satu truk dapat memuat dua kali lipat muatan dari tonase yang ditentukan, tentu hal itu lebih "efektif", cukup dengan menyiapkan amplop yang tentu saja besarannya tidak lebih besar daripada biaya memberangkatkan satu truk lagi.

Di sisi lain, para petugas jembatan timbang rupanya juga tidak bisa menolak amplop-amplop itu. Mungkin ada banyak alasan di balik ketidakmampuan mereka menolaknya. Misalnya saja, bagi seorang bawahan, bahwa hal itu adalah kebijakan atasan. Bagi atasan, dia bisa berkilah bahwa itu sudah "budaya" pejabat sebelumnya. Bagi pejabat sebelumnya, dia beralasan, "merebut" jabatan sebagai penanggung jawab jembatan timbang itu saja sudah harus mengeluarkan uang untuk keperluan lobi, dari mana lagi dia harus mencari "balik modal". Atau mungkin justru lebih banyak alasan lagi yang kita tidak tahu dan barangkali sebelumnya tidak terpikirkan oleh kita.

Apa akibat dari kolusi antara pejabat, petugas, pengusaha, dan sopir—yang kita tidak bisa serta-merta menyalahkanya—seperti itu? Tentu saja jalan-jalan yang dilalui truk-truk itu menjadi cepat rusak. Tidak mengherankan kalau jalan di pantura yang setiap hari diinjak oleh ribuan truk—dan entah berapa persen yang melebihi muatan—menjadi bergelombang, lalu robek sedikit, kemudian dibumbui air hujan; membuatnya berlubang.

Bahkan saat jalan-jalan tersebut digarap sesuai nominal dan ketentuan APBN, tentu tidak akan kuat setiap hari diinjak-injak oleh muatan berlebih. Apalagi kalau misalnya dalam pembuatan jalan juga ada oknum yang bermain-main dengan anggaran sehingga kualitasnya tidak sesuai ketentuan; apa jadinya jalan-jalan itu.

Kondisi seperti ini mungkin sudah bukan rahasia lagi. Namun, apa yang bisa kita lakukan? Saya sendiri hanya bisa menuliskannya di sini. Tidak (atau belum) bisa mengubah realitas itu. Bagaimana dengan Anda?[]

Wonoyoso, 12 Februari 2011

Sunday, January 02, 2011

Makna Ketundukan Santri

Pesantren salaf selama ini mungkin dicap sebagai lembaga pendidikan yang terbelakang, kumuh, dan tidak sesuai perkembangan zaman. Namun, sebenarnya ada banyak nilai yang diajarkan di pesantren salaf yang sulit dapat ditemukan di lembaga pendidikan lainnya. Nilai niat mencari ilmu biasanya tidak ditekankan dalam pendidikan formal di tanah air. Karena itu, sudah jamak adanya jika peserta didik ditanya untuk apa belajar di sekolah ekonomi, misalnya, maka dia akan menjawab supaya menjadi pengusaha kelas atas sehingga menjadi orang yang makmur dan memiliki uang atau harta melimpah.

Di pesantren, tentu saja tidak dibenarkan mempelajari suatu ilmu niatnya justru hanya untuk mengumpulkan kekayaan dunia. Pesantrenlah yang dengan kuat memegang hadits Rasulullah saw., "Barang siapa yang mempelajari suatu ilmu yang seharusnya ditujukan untuk memperoleh ridha Allah, tetapi ia justru mempelajarinya hanya untuk mendapatkan keuntungan di dunia maka pada hari Kiamat ia tidak akan dapat mencium bau surga." (HR. Abu Dawud)

Nilai lain yang biasanya ditekankan di pesantren-pesantren—dan tidak ditekankan atau malah terabaikan di lembaga formal mana pun—adalah pernghormatan terhadap guru, dosen, ustad, atau kiai. Pada umumnya, pengajar—baik itu guru, dosen, ustad, maupun kiai—tentu lebih tua atau memiliki kedudukan lebih tinggi dibandingkan dengan peserta didik—baik siswa, santri, maupun mahasiswa. Karena itu, tentu saja peserta didik wajib menghormati pengajarnya. Setidaknya hal itu merupakan cerminan dari penghayatan hadits Rasulullah saw., "Tidak termasuk umatku orang yang tidak mau mengasihi orang yang lebih kecil (muda) atau tidak mau menghormati orang yang lebih besar (tua)." (HR. Tirmidzi)

Di sisi lain, pengajar selaku orang yang memiliki kelebihan ilmu dibandingkan dengan peserta didik begitu dijunjung oleh Islam. Allah swt. dan Rasulullah saw. tidak hanya sekali atau dua kali menyebutkan kelebihan orang yang memiliki ilmu. Allah swt. berfirman, "...niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat." (QS. Al-Mujadilah [58]: 11)

Adapun Rasulullah saw. bersabda, "...Sesungguhnya seluruh penduduk langit dan bumi, bahkan ikan-ikan di dalam lautan akan memohonkan ampunan kepada Allah untuk orang yang berilmu...." (QS. Abu Dawud)

Rasulullah saw. juga pernah bersabda, "Keutamaan seorang ulama (orang yang berilmu) atas seorang yang rajin beribadah sama seperti keutamaanku atas orang yang paling rendah derajatnya di antara kalian (umat Islam)." Beliau lalu melanjutkan, "Sesungguhnya Allah swt., para malaikat, seluruh penduduk langit dan bumi, bahkan semut di lubang persembunyian mereka dan ikan-ikan senantiasa berdoa (menghormati) orang yang mau mengajarkan kebaikan kepada orang lain (manusia)." (HR. Tirmidzi)

Dari hadits yang terakhir disebutkan tadi, kita dapat melihat betapa Allah sangat menghormati orang yang berilmu, apalagi orang tersebut mau menularkan ilmunya kepada orang lain. Karena itu, tidak mengherankan jika di pesantren-pesantren, santri diajarkan untuk sangat menghormati ustad dan kiai. Saya sendiri pernah melihat betapa unik cara para santri menghormati pengajar mereka. Saya pernah mengunjungi sebuah pesantren besar di Jawa Timur bertepatan dengan hari Jumat. Ibadah shalat jumat pun dilaksanakan di masjid kompleks pesantren tersebut. Tidak ada yang beda dengan masjid pada umumnya, sejak sebelum pukul 11 masjid sudah disesaki jamaah, yang kemudian bersama-sama membaca zikir.

Hanya saja, beberapa saat sebelum bedug ditabuh tanda masuk waktu shalat, terlihat pemandangan unik. Shaf jamaah yang tadinya rapat dari depan hingga belakang di dekat pintu luar masjid, tiba-tiba terbuka. Hal itu didahului dengan suara tepukan salah seorang santri, lalu tiba-tiba barisan shaf paling belakang membuka selebar satu meter, lalu diikuti shaf yang di depannya, lalu depannya, lalu depannya lagi, begitu seterusnya sampai shaf paling depan. Tidak itu saja, santri yang berada di dekat shaf yang terbuka itu pun lalu berebutan meletakkan sajadahnya di shaf-shaf yang terbuka.

Rupanya hal itu membentuk semacam jalan dari pintu masjid di shaf paling belakang hingga bagian masjid di shaf terdepan. Jika diukur, barangkali jalan itu bisa dilalui sekitar dua orang secara berjejeran. Jalan tersebut pun dilengkapi sajadah yang tertata cukup rapi layaknya jalan seorang raja yang terhampar dengan karpet merah.

Tidak lama kemudian, seseorang tampak berjalan dengan agak cepat melalui "jalan" tersebut. Para jamaah—yang hampir semuanya santri—pun tampak menundukkan kepala mereka saat orang itu melewati shaf-shaf demi shaf dari belakang hingga ke depan. Rupanya yang baru lewat itu adalah seorang kiai. Kiai yang tentu sangat dihormati oleh para santrinya.

Fenomena seperti ini barangkali sebenarnya sudah umum terjadi di kalangan pesantren. Ketundukan dan penghormatan yang begitu besar dari seorang santri terhadap guru dan kiainya tentu bukan barang aneh di pesantren. Walaupun, di luar sana, bisa saja akan muncul pro-kontra mengenai hal itu.

Pada zaman modern sekarang ini, ketundukan semacam itu mungkin dianggap sebagai kultus individu yang tidak perlu. Bisa saja hal itu malah dianggap sebagai semacam "perbudakan". Namun, sebenarnya penghormatan seperti itu merupakan salah satu implementasi dari hadits tadi. Tentu hal ini merupakan nilai positif yang tidak terbantahkan. Terhadap semua orang kita memang harus hormat, apalagi kepada orang yang memberikan dan menularkan ilmu kepada kita.

Hanya saja, penerjemahan atas penghormatan ini bisa bermacam-macam. Di kalangan pesantren, penghormatan diterjemahkan dengan tatacara seperti fenomena di atas itu; tentu sah-sah saja. Di tempat lain, mungkin ada penerjamahan yang berbeda sama sekali; tentu juga sah-sah saja. Bahkan, sesama pesantren pun memiliki tatacara yang berbeda dalam menerjemahkan "kewajiban menghormati guru" itu. Tidak ada yang perlu dipermasalahkan dalam hal perbedaan penerjemahan itu. Satu hal yang perlu dipermasalahkan adalah jika ada seorang peserta didik tidak menghormati guru atau pengajarnya.[]

*Tulisan untuk buletin jumat sebuah masjid dan merupakan hasil revisi dari tulisan sebelumnya berjudul "Ketundukan Santri"

Thursday, December 09, 2010

Kesempatan Emas Mengiringi Muharram

Allah swt. berfirman,
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَات وَالأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ....
"Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram...." (QS. At-Taubah [9]: 36)

Secara etimologi, haram berarti suci. Maksud dari bulan haram seperti disebutkan ayat ini memang bulan suci. Kitab-kitab turats menjelaskan bahwa bulan suci sebagaimana disebutkan dalam ayat tadi yaitu tiga bulan berturut-turut, yakni Dzulqa'dah, Dzulhijjah, dan Muharram; ditambah Rajab. Jadi, saat ini kita berada pada salah satu bulan suci: Muharram.

Bahkan, dalam Shahih Muslim, terdapat sebuah hadits yang menyebutkan bahwa bulan Muharram tidak saja merupakan bulan suci, malah Muharram disebutkan sebagai syahrullah alias bulan Allah. Sungguh, betapa mulia bulan yang tengah kita jejaki ini sampai-sampai bulan ini disandingkan dengan lafadz jalalah: Allah. Tentu saja kita juga harus menjejali bulan ini dengan amalan-amalan yang mulia. Jangan sampai kesempatan emas yang ada dalam bulan ini terlewat begitu saja tanpa makna.

Tiga hari yang lalu, Selasa (7/12/2010) umat Islam merayakan datangnya tahun baru hijriah. Sudah tidak asing lagi bahwa setiap pergantian tahun, kita dianjurkan untuk berdoa. Itulah salah satu kesempatan emas yang mengiringi Muharram. Tentu saja pada Senin sore kemarin, tepatnya setelah shalat ashar, kita tidak lupa membaca doa akhir tahun, lalu dilanjutkan membaca doa awal tahun usai shalat maghrib.

Namun, jika karena suatu halangan kita terlupa membaca doa akhir dan awal tahun pada Selasa petang kemarin, mari kita simak baik-baik kesempatan mulia yang bakal datang. Kiranya salah satu hal istimewa yang paling dekat adalah puasa Tasu'a dan Asyura, yaitu berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram. Tahun ini, insya Allah kita semua sepakat bahwa puasa Tasu'a dan Asyura akan dilaksanakan pada hari Rabu dan Kamis depan (15-16/12/2010).

Anjuran menjalankan puasa Tasu'a dan Asyura ini didasarkan pada hadits-hadits shahih. Rasulullah saw. pernah bersabda,
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ.
"Puasa yang paling utama derajatnya setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu bulan Muharram. Shalat yang paling utama derajatnya setelah shalat fardhu adalah shalat malam." (HR. Muslim)

Sejarah mencatat bahwa sejak zaman jahiliah, bulan Muharram memang telah dianggap sebagai bulan istimewa. Bahkan, orang-orang Yahudi senantiasa berpuasa pada tanggal 10 Muharram. Hal itu terjadi jauh sejak sebelum datangnya Islam. Hal itu karena pada bulan Muharram, Nabi Musa yang menjadi junjungan mereka diselamatkan oleh Allah swt. dari kejaran Firaun dan bala tentaranya. Saat itu, Firaun bahkan ditenggelamkan oleh Allah swt. di laut Merah. Untuk mengenang hari yang sangat bersejarah itu, mereka pun melakukan ritual puasa.

Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa saat awal-awal berada di Madinah sesudah hijrah, Rasulullah saw. melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada tanggal 10 Muharram. Beliau bertanya kepada para sahabat ada apa gerangan orang Yahudi berpuasa pada hari itu. Para sahabat menjawab bahwa karena pada hari itu bani Israel yang dipimpin Musa diselamatkan Allah swt. dari kejaran musuh mereka. Musa pun kemudian berpuasa setiap memperingati hari itu.

Mendengar jawaban para sahabat, Rasulullah saw. bersabda, "Aku lebih berhak atas (mengikuti) Nabi Musa (dibandingkan orang Yahudi)." Beliau pun kemudian berpuasa setiap tanggal 10 Muharram tiba. Kemudian karena takut umat Islam akan menganggap bahwa puasa 10 Muharram itu hukumnya wajib, Rasulullah saw. bersabda,
هَذَا يَوْمُ عَاشُورَاءَ وَلَمْ يَكْتُبْ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ وَأَنَا صَائِمٌ فَمَنْ شَاءَ فَلْيَصُمْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيُفْطِرْ.
"Hari ini adalah hari Asyura (10 Muharram). Allah swt. tidak mewajibkan kalian untuk berpuasa pada hari ini. Aku memang berpuasa hari ini, tetapi barang siapa yang ingin berpuasa maka berpuasalah dan barang siapa yang hendak tidak berpuasa maka tidak perlu berpuasa." (HR Bukhari)

Pada kesempatan yang lain, saat Rasulullah saw. berpuasa pada hari Asyura dan beliau memerintahkan para sahabat untuk turut berpuasa, para sahabat berkata, "Wahai Rasulullah, hari Asyura merupakan hari yang dimuliakan oleh orang Yahudi dan Nasrani." Beliau pun menjawab, "Tahun depan insya Allah kita akan berpuasa juga pada tanggal 9 Muharram (Tasu'a)." Namun, belum sampai pada bulan Muharram tahun berikutnya, Rasulullah saw. wafat. (HR. Muslim) Maksud Rasulullah saw. mengajak umat Islam untuk berpuasa juga pada hari Tasu'a adalah supaya menjadi pembeda antara kaum muslimin dan kaum Yahudi-Nasrani.

Lalu, apa sebenarnya manfaat yang dapat dipetik dari puasa hari Asyura? Selain manfaat umum sebagaimana puasa pada lazimnya, puasa pada hari Asyura juga memiliki manfaat khusus bagi yang menjalankannya. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Umar bin Khaththab bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Aku berharap dengan berpuasa pada hari Asyura ini Allah akan menghapus dosa-dosa selama satu tahun yang lampau." (HR. Muslim)

Mari gapai kesempatan emas yang ada di depan mata ini. Jangan sampai kita menyesal karena melewatkannya begitu saja. Belum tentu tahun depan kita akan menemuinya lagi. Rabbuna yuwaffiq.[]

Demblaksari, 6 Desember 2010