Friday, February 24, 2012

Salah Kostum

Bagaimana rasanya salah memakai kostum di acara penting? Memalukan… ya, amat sangat malu sekali. Saya pernah mengalaminya; atau bahkan sering. Maklum, saya bukan orang yang begitu perhatian terhadap penampilan. Sayangnya, ketidakpedulian itu keterlaluan, jadinya harus memetik malu berkali-kali.

Salah satu yang paling memalukan adalah saat menjadi ketua panitia lokakarya dan silaturahmi NU luar negeri, Cairo, Juli 2003. Padahal, delegasi peserta datang dari NU Inggris, NU Sudan, NU Arab Saudi, ilmuwan Belanda, juga ada Ketua Umum PBNU. Pak Kiai Hasyim rawuh ditemani beberapa kiai, semisal Kiai Fawaid As’ad Syamsul Arifin (Situbondo), Kiai Manarul Hidayat (Jakarta), dan Kiai Said Aqil Sirodj (yang kini giliran menjabat Ketua Umum PBNU). Tidak ketinggalan intelektual muda yang saat itu menjabat Ketua PP Lakpesdam, Ulil-Abshar Abdalla.

Ceritanya pada acara pembukaan, saya mewakili panitia dijadwalkan memberikan sambutan. Untuk acara selevel itu, seharusnya saya sudah mempersiapkan segala hal untuk tampil maksimal, selain rancangan isi pidato juga termasuk kostum yang layak dipakai untuk menyambut sekian banyak tamu yang datang dari berbagai negara itu.

Nahas, saya sama sekali tidak memiliki sense of clothing (apa itu???) yang cukup untuk itu. Walhasil, beginilah dandanan saya: tanpa peci, tanpa minyak rambut, baju panjang berwarna merah agak oranye, celana warna hijau (!), dan lebih aneh lagi adalah sepatu kets yang sangat cocok untuk lari pagi. Ckckck….

Saat itu saya sih sama sekali tidak menghiraukan. Tetapi setelah beberapa waktu berlalu dan ingin melihat-lihat foto acara tersebut, barulah saya merasakan betapa memalukannya penampilan saat itu. Sungguh terlalu, begitu kira-kira komentar Bang Haji kalau melihatnya.

Hanya saja, pengalaman waktu itu rupanya tak cukup memberikan pelajaran bagi saya. Buktinya, momen penting lain harus berurusan kembali dengan salah kostum atau yang dalam bahasa gaul disingkat saltum itu. Kali ini malah acara spesial: lamaran manten. Ya, acara yang berlangsung sekitar dua tahun lalu itu meninggalkan cerita lugu (lucu plus wagu).

Saat itu berangkat dari rumah berombongan semobil bersama orang tua dan sanak keluarga. Saya dengan santainya memakai baju batik panjang dan celana panjang yang menurut saya warnanya sudah cukup matching. Tidak ketinggalan mengenakan peci juga dong.

Namun, di tengah jalan rupanya ada yang memerhatikan “keanehan”: saya tampak terlalu tua. Yap, rupanya kemeja batik berwarna coklat tua itu menambahkan usia saya. Beruntung, salah seorang kakak lelaki saya memakai kemeja dengan nada warna serupa, hanya saja warnanya lebih kalem dan ngenomi. Solusinya tukar baju lah. Jadilah di tengah jalan kami bertukar baju, saya meminjam kemeja mas saya.

Saltum kembali terjadi di almamater yang patut dibanggakan: UGM. Tapi bagaimana saya berharap bisa balik dibanggakan, kalau saat malam kelulusan wisuda pascasarjana saja saya pakai sandal jepit! Saya sendiri awalnya mengira itu hanyalah acara makan malam dan ramah tamah. Makan-makan lalu ngobrol-ngobrol. Tidak tahunya, ada acara resmi selayaknya wisuda beneran.

Ketika keluar dari lift di lantai lima, kebetulan ada Bapak Kaprodi yang tengah berdiri di tengah kerumunan. Saya pun langsung menyalami, lalu meninggalkan beliau karena sepertinya beliau tengah serius mengobrol dengan orang-orang di sekelilingnya. Sedetik kemudian saya menuju meja makan karena menganggap itu acara intinya, hehe.

Saat menikmati makan malam itu, salah seorang staf Prodi mendatangi saya. Dengan halus dia mengatakan: Gus, kok pakai sandal sih, ditegur Pak Kaprodi tuh, nanti kan kamu diminta maju untuk mendapat penghargaan cumlaude dari Direktur Sekolah Pasca. Ou ouw… ada acara maju segala to buat teman-teman yang dapat cumlaude. Apes, rupanya Pak Kaprodi memerhatikan saya memakai sandal tadi, hiks hiks.

Saya pun langsung celingukan sekiranya ada yang bisa meminjamkan sandal. Alhamdulillah, ada suami dari teman calon wisudawati yang bersedia bertukar sandal-sepatu. Jadilah kami duduk berdekatan di tempat acara, lalu saat saya dipanggil saya meminjam sepatunya.

Tidak berhenti di situ, saat keesokan harinya acara wisuda, saya kembali kena saltum. Tapi menurut saya kali ini tidak terlalu parah. Sebagaimana umumnya acara wisuda, para peserta diwajibkan mengenakan celana hitam dan hem putih. Nah, karena saya tidak punya celana hitam kecuali kusut karena umurnya senja, saya pun nekat memakai celana hijau tua—tua sekali lah menyerupai hitam.

Namun, rupanya ada juga teman yang terlalu baik sehingga begitu perhatian dengan kostum saya. Dia pun menegur kenapa saya tidak memakai hitam. Saya pun menjawab bahwa warna ini toh tidak terlalu mencolok. Dibukanya pula baju wisuda saya; duhhhh kenapa Agus bajunya tidak putih, melainkan biru malah bergaris-garis. Ah, biarlah, toh tidak kelihatan, wong tertutup baju toga kan.

Benar-benar seluruh kisah yang memilukan ya. Mudah-mudahan tidak akan terjadi lagi. Eh, sebelum tulisan ini ditutup, mungkin ada baiknya saya ceritakan juga “kisah pelipur lara” untuk cerita-cerita tadi. Tepatnya saat ujian wawancara menuju Mesir. Waktu itu seluruh calon penerima beasiswa Al-Azhar yang sudah lulus tes di Depag harus kembali diuji oleh Kedutaan Mesir di Jakarta.

Di sini kartu truf saya soal kostum benar-benar menunjang karier, hehe. Dengan pakaian batik, saya mencoba pede memasuki ruang para penguji. Benar saja, saat tes wawancara itu, saya ditanya berasal dari mana. Saya pun menjawab: Pekalongan. Nah, rupanya sudah takdir, penguji meneruskan dengan pertanyaan: apa yang terkenal dari daerahmu? Dengan amat sangat pede sekali, saya menjawab: pakaian batik! Tentu saja dengan pede tingkat tinggi, saya tunjuk-tunjuk pula pakaian yang saya kenakan sambil berucap: ini loh batik yang terkenal berasal dari Pekalongan. Benar-benar ces pleng![]

Pujut, 20 Februari 2012

Sunday, January 29, 2012

Kisah Shalat Istikharah (2)

Cerita lainnya tentang istikharah saya adalah soal pernikahan. Beberapa kali gagal dalam usaha menggaet pendamping hidup, puji syukur kepada Allah akhirnya saya ditautkan dengan seorang istri yang sempurna buat saya. Begitu sempurna sehingga untuk mendapatkannya pun saya harus seperti “bermandikan darah”. Harus melalui usaha keras yang saya kira tanpa kekuatan keyakinan kepada petunjuk-Nya maka akan dengan mudah saya menyerah.

Saya mulai mengenal istri saya sekitar Juli atau Agustus 2009. Mungkin karena kasihan melihat saya jomblo sekian lama, mbak saya mengenalkan saya dengan si dia. Saya hanya diberi nomor telpon dan dipersilakan melakukan hubungan lebih lanjut sendiri. Karena berbeda jauh soal latar belakang pendidikan dan pergaulan, kami memang sering tidak nyambung saat mengobrol . Kiranya hanya kejombloan saya yang membuat saya terus mencoba menghubunginya. Sementara dia mungkin hanya punya satu alasan untuk tetap menerima telpon saya: tidak enak sama mbak saya. Dia memang adik kelas mbak saya di pondok.

Pun saat menerima telpon saya, biasanya dia nyambi menyapu, mengobrol dengan adiknya, atau malah tiba-tiba bilang, “Maaf ya saya harus mengerjakan ini dan itu, jadi sekian dulu ya telponnya.” Bagaimana dengan berkirim sms? Jangan harap mendapat balasan! Tapi karena saya jomblo, ditambah saya sudah istikharah untuk memulai hubungan ini, ya saya mencoba terus saja untuk mengenalnya lebih dekat (meski hasilnya malah tambah jauh). Saya bahkan harus agak “memaksa” datang ke rumahnya, sekitar akhir Agustus 2009, untuk mengetahui langsung bagaimana orangnya.

Dengan diberi rute yang—entah sengaja entah tidak—diputer-puter sehingga membuat saya sempat bingung, akhirnya saya menemukan rumahnya. Kami pun jadi saling tahu secara off air, dan rupanya saya semakin tertarik. Hanya saja, sepertinya tidak demikian si dia. Si dia sepertinya malah semakin pantang untuk mau saya dekati. Tidak mau menjawab telpon atau sms. Kalaupun dijawab maka bahasanya sangat ketus dan saya yakin tidak ada seorang pun berharap mendapatkan jawaban seperti itu. Semangat saya pun sempat mengendur untuk mendekatinya.

Sampai akhirnya iseng-iseng itu mendapat “hadiah”. Pada hari kelima (kalau tidak salah ingat) lebaran tahun 2009, saya hendak menghadiri reuni alumni Kairo di Pekalongan, kira-kira 50km dari rumah saya dan hanya 2-3 km dari rumah istri saya. Kebetulan juga mbak saya ke Pekalongan bersama suami dan anak-anaknya untuk bersilaturahmi dan berbelanja batik. Saat saya sudah di Pekalongan, mbak saya menelpon. Rupanya mbak saya tengah berada di toko batiknya bu lik dari istri saya. Mbak saya mengajak saya datang ke toko batik itu dan entah kenapa seperti agak memaksa saya—dan saya enjoy saja—untuk ikut ke rumah bu lik saya yang berimpitan dengan rumah istri saya. Karena rumahnya berdekatan itu dan saya juga sudah mengenal (tahu) dia dan keluarganya, tentu tidaklah elok untuk tidak mampir.

Pertemuan itu pun terjadilah. Bagi saya, sama sekali tidak ada niatan pendekatan saat pertemuan itu. Saya sudah berpikir nyaris mustahil mendekatinya, karena saya pun tahu dia mungkin belum bisa melupakan kondisi baru saja putus dari pacarnya karena tidak direstui orang tua. Hanya saja, saat mau berpamitan pulang, saya iseng berbisik kepada mbak saya, “Tawarkan kapan giliran si dia mau mampir ke rumah?” Mbak saya pun menyalurkan aspirasi saya. Tanpa dinyana sama sekali, neneknya menjawab penuh keyakinan, “Ya segera lah, insya Allah 2-3 hari lagi.”

Saya kaget mendengar jawaban itu. Niat nanya iseng bin basa-basi malah dijawab dengan amat sangat serius. Saya juga melihat mimik kaget bercampur tidak percaya ada di wajah istri saya saat itu. Hal yang sama juga ditunjukkan ibu mertua saya. Saya sangat maklum, karena tanpa musyawarah dulu—minimal dengan ibu mertua karena ayah mertua sedang tidak di rumah, kok bisa-bisanya nenek menjawab seperti itu. Tapi kemudian semua mencair dengan saling senyum.

Dengan keluarga yang sudah saling mengunjungi, mau tidak mau kami menjadi seakan-akan makin dekat. Mungkin dia tidak menginginkan hal seperti ini, tapi saya pun tidak bisa mengelak kejadian ini. Tidak mau berlarut-larut memainkan hati yang tidak jelas ujungnya, saya pun segera istikharah untuk menanyakan secara resmi kesediaan si dia bagaimana jika berlanjut ke pelaminan. Kondisi sebelum istikharah adalah saya berharap dia mau menjadi istri saya. Namun, saya pun tahu sepertinya harapan saya itu sangat kecil kemungkinannya, melihat betapa sengitnya dia saat menjawab telpon atau sms.

Justru karena “perlawanan” sengit seperti itulah yang membuat saya “mempercepat” proses. Saya tidak mau berlama-lama terkungkung dalam keadaan seperti itu. Jangan sampai bertepuk sebelah tangan ini berlarut-larut. Kalau memang jodoh, biarkan kami segera duduk bersama di pelaminan. Kalau memang bukan jodoh, biarlah saya tenang memikirkan bakal calon lainnya. Bismillah, segera saya melakukan shalat istikharah. Kalau tidak salah ingat malah sampai tiga kali.

Setelah shalat istikharah, saya pun memberanikan diri menyatakan dengan tegas maksud saya, yaitu hendak melamarnya. Melalui telpon, saya pun menanyakan, “Bagaimana dengan Anda?” (tentu tidak seperti itu bahasanya) Deg-degan menunggu jawaban? So pasti! Mau tahu jawabannya? Setelah yang satu ini ya…. Eh, malah kayak iklan…. Sama sekali tidak disangka, dia menjawab MAU! Nah loh, lalu apa yang membuatnya mau? Saya bertanya demikian. Dia menjawab, ya karena keinginannya. Aneh banget ya, selama ini kan kalau dihubungi seperti selalu menghindar, diajak nikah kok malah menjawab mau. Sempat saya ragu dengan jawaban itu, namun saya percaya sajalah, daripada berabe.

Sungguh, saya tidak menyangka jawabannya MAU. Bahkan saya sudah benar-benar sangat siap jika jawabannya TIDAK. Malah saat itu saya berjanji pada diri saya, melihat gelagat menjauh seperti yang selama ini dia tampakkan, kalau jawabannya TIDAK maka saya tidak akan mengulangi pertanyaan yang sama. Saya akan langsung mundur dan benar-benar melupakannya. Saya sangat yakin semua sudah diatur oleh-Nya dan saya sangat yakin dengan istikharah. Berbeda sekali dengan usaha-usaha sebelumnya mencari pendamping hidup, yang tidak akan mundur sebelum tiga kali menanyakan dan selalu dijawab TIDAK. Karena mendapat jawaban MAU, saya pun segera menghubungi keluarga di rumah (saat itu saya di Jogja) agar dalam pekan itu secara resmi melamar si dia ke rumahnya.

Itulah kekuatan istikharah. Sesuatu yang tadinya abu-abu, masih ragu-ragu untuk dijalankan, menjadi begitu mudah dan ringan untuk dilalui. Sementara sesuatu yang sudah tidak diragukan untuk dikerjakan, layak juga untuk diistikharahi dulu, supaya lebih mantap lagi untuk dilaksanakan. Yakinlah, kalau itu memang terbaik menurut pandangan-Nya maka jalannya akan semakin dilempangkan. Adapun jika itu tidak baik menurut-Nya maka akan dicarikan jalan lain yang lebih mudah lagi ditempuh.[]

Kampung Sawah, 27 Desember 2011-Wonoyoso, 29 Januari 2012

Monday, December 26, 2011

Kisah Shalat Istikharah (1)

Kapan pertama kali mendengar tentang shalat istikharah? Saya sebenarnya sudah sejak kecil mendengar istilah istikharah. Istikharah, yang secara etimologi bisa diterjemahkan sebagai “ingin memilih”, pertama kali saya praktikkan pada tahun 2001. Saat itu awal berada di Mesir. Kisahnya berkaitan dengan cinta pertama, yang diawali cinta monyet tetapi kemudian berkembang menjadi cinta beneran. Buktinya, bertahan dari kelas 2 MTs sampai tahun ketiga duduk di bangku kuliah. Kalau dihitung-hitung rentang waktunya mencapai hampir 8 tahun—meski sempat terputus sekitar setahun di 2001 itu.

Nah, setelah putus menuju pertautan kembali itulah saya pertama kali melaksanakan shalat istikharah. Awalnya seperti begitu mudah saling mengucapkan “ai lev yu”, tetapi rupanya kali ini harus diucapkan dalam status mahasiswa, tentu harus disikapi lebih dewasa. Si dia pun menanyakan keseriusan saya. Nah loh, saya sempat dag-dig-dug-der-daia lah atas pertanyaan itu. Karena itulah, tanpa tanya sama ortu, saya coba mengambil keputusan sendiri (don’t try this ya!).

Sebenarnya hati sudah bulat untuk menjawab “ya, serius!” namun coba ah istikharah dulu. Saya sendiri bingung bagaimana sih istikharah itu. Bodohnya, saya tidak coba membuka buku-buku yang ada untuk mencari tahu tentang shalat istikharah. Akhirnya berdasarkan ingatan saja, dan ingatan itu pun sama sekali tidak mutawatir alias dari dengar-dengar-mencuri-dengar.

Saat itu setahu saya shalat istikharah ya setelah selesai shalat dua rakaat lalu buka mushaf Al-Qur`an sekenanya dan lihatlah isi kandungan ayat yang secara acak dipilih itu. Konon, dari ayat itulah bisa “diterawang” kira-kira pilihan kita itu ke depannya bagaimana. Kebetulan juga saat itu yang terbuka adalah ayat tentang surga. Wah, pilihan tepat nih untuk mengiyakan, pikir saya waktu itu. Duh, benar-benar pengetahuan konyol saat itu.

Akhirnya dengan yakinnya menjawab anggukan. Sekali lagi saya tegaskan: tanpa meminta pendapat ortu. Sengaja saya tegaskan seperti itu karena rupanya ending-nya tidak seperti surga. Kelak, kami tetap harus berpisah jua. Jadi, bagaimana pun juga saya sarankan orang tua tetap harus diutamakan untuk dimintai pendapat soal masa depan. Dapat saya simpulkan bahwa istikharah saya ketika itu memang tidak bisa ditiru karena tidak melalui dasar rujukan yang tepat. Kalau memang benar ada tata cara istikharah seperti itu, maka dapatkanlah dari guru atau buku yang tepat, tidak sekadar dengar-dengar saja tanpa dasar yang bisa dipertanggungjawabkan.

Sekian lama kemudian saya tidak bersentuhan lagi dengan istikharah. Sampai pulang ke Indonesia dan bekerja di penerbitan di Jakarta. Sebagai penyunting bahasa, kebetulan salah satu buku yang harus saya sunting memuat tentang tata cara shalat istikharah. Karena menyunting buku itu membacanya berkali-kali maka tata cara shalat istikharah itu rupanya benar-benar merasuk ke dalam lubuk hati saya yang paling dalam, cieeeee….

Untuk “uji coba” kebenaran tata cara shalat istikharah yang saya dapatkan dari menyunting buku itu, kebetulan saat itu saya merasa melihat seorang bakal calon pendamping hidup. Bismillah, saya melaksanakan shalat istikharah. Sesuai dengan tuntunan dalam buku itu, saya melaksanakan shalat dua rakaat, lalu membaca doa yang ma’tsur dari Rasulullah saw. Setelah itu, biarlah Allah yang menunjukkan jalan terbaik. Beberapa saat kemudian, entah kenapa tiba-tiba ada orang yang tanpa pendahuluan basa-basi apa pun, kok mengatakan kekurangan alias kelemahan yang melekat pada diri si dia yang kiranya tidak baik buat saya. Hmm, ini mungkin petunjuk dari-Nya.

Istikharah berikutnya berkaitan dengan pekerjaan. Selepas dari penerbit di Jakarta itu, saya pulkam. Di tengah pulkam, rupanya ada telpon dari nomor yang tidak saya ketahui. Yang saya tahu hanyalah 021, artinya dari Jakarta. Sayang, telpon tersebut hanya jadi missed call karena saya tidak mendengar deringnya. Kemudian saya ketahui dari seorang teman bahwa itu rupanya dari sebuah penerbit lain di Jakarta yang levelnya di atas penerbit yang pernah saya bela. Dia mengatakan begitu karena ternyata pemimpin redaksinya sempat meminta nomor hp saya kepadanya.

Saya pun bimbang. Niat hati pulkam memang rencananya untuk mengabdi pada wong ndeso sajalah. Namun, ini ada tawaran dengan prospek begitu cerah untuk masa depan, belum lagi pendapatan yang kiranya jauh di atas penerbit sebelumnya. Karena ragu-ragu, saya pun meminta orang tua untuk mengistikharahkan. Berbeda dengan tata cara yang saya pelajari, menurut ortu, petunjuknya adalah sebuah ayat yang kandungannya kira-kira “rezeki bisa datang dari mana saja”. Tanpa pikir panjang, saya berkesimpulan bahwa berarti di Jakarta pun kalau ada rezeki ya harus saya jemput.

Segeralah saya ke Jakarta. Setelah ngobrol—bukan interview—dengan Pemrednya, saya diberi pekerjaan untuk mengedit sebuah naskah. Konon, pekerjaan freelance itulah yang menjadi tolok ukur layak-tidaknya saya ditarik ke penerbit tersebut. Singkat cerita, karena kemudian laptop mengalami kerusakan cukup serius hingga perlu diperbaiki berkali-kali, saya harus menyerah pada tugas itu. Tidak bisa memenuhi tenggat waktu yang telah ditentukan. Buyarlah harapan saya untuk bisa eksis di penerbit bonafid. Saya pun masih berpusing-pusing memikirkan hasil istikharah ortu dengan ending-nya yang seperti ini…. Kok bisa seperti ini ya?

Sebenarnya, pada saat yang hampir bersamaan, saya juga tengah mengajukan lamaran beasiswa S2 di UGM. Sebelum mendaftar beasiswa ini, saya pun mengamalkan istikharah sesuai ilmu yang saya dapat. Hanya saja, sepertinya tidak ada tanda-tanda positif mengenai kabar beasiswa. Saat itu saya berpikir mungkin yang terbaik buat saya memang tidak kuliah di UGM. Saya benar-benar menikmati tawakal setelah istikharah-usaha-doa seperti itu.

Yang datang kemudian justru kabar bahwa sebuah SMA di dekat kampung saya membutuhkan guru bahasa Arab. Setelah istikharah, saya pun mencoba mengajukan lamaran. Beberapa hari kemudian, saya diminta menghadiri rapat guru di SMA itu untuk bersiap mengajar. Inilah yang terbaik buat saya. Jawabannya begitu cepat.

Alhamdulillah, mungkin ini jawaban dari dua istikharah saya sekaligus. Mendaftar beasiswa tidak diluluskan dan jalan yang harus saya tempuh adalah mulai mengabdi di kampung halaman. Tidak perlu saya sebutkan berapa materi yang saya dapat dari tugas mengajar. Betapa nikmatnya, saat itu saya sepenuhnya percaya bahwa rezeki itu datang dari Allah, sehingga hanya bisa bersyukur saat mendapat honor, itu pun sebagian saya serahkan kepada ibu saya. Menjadi guru di kampung halaman, saya sadar bahwa itu adalah bentuk pengabdian, bukan bentuk mencari nafkah. Toh, insya Allah saya bisa mencari nafkah dengan menjadi penerjemah atau editor lepas, pikir saya saat itu—dan alhamdulillah memang begitu kenyataannya.

Namun, tak disangka tak dinyana, belum genap dua bulan mengajar di SMA, saya mendapat informasi bahwa aplikasi beasiswa saya di UGM diterima. Ya, tahun itu rupanya pengumuman penerimaan mahasiswa dengan beasiswa tertunda sekitar satu bulan. Saya pun segera menghadap kepada kepala sekolah. Dengan begitu pengertian dan tanpa keberatan sedikit pun, kepala sekolah sangat mendukung dan bahkan mendorong langkah saya untuk segera daftar ulang di UGM. Bagaimana dengan pelajaran bahasa Arab yang saya ampu? Nanti mudah dicarikan penggantinya, begitu jawab kepala sekolah. Saya tawarkan untuk tetap mengajar tiap Jumat-Sabtu pun tidak diperkenankan. Katanya kasihan saya kalau harus bolak-balik ke Jogja tiap pekan.

Setelah benar-benar kuliah dengan beasiswa, saya benar-benar merasa betapa besar manfaat yang saya dapat dari shalat istikharah. Hati ini benar-benar dengan mudah menerima apa pun jalan yang harus dilalui, meski itu tidak sesuai dengan harapan semula. Saya pun jadi merasa seperti menemukan jawaban dari istikharah-istikharah yang saya lakukan sebelumnya. Termasuk hasil istikharah ortu soal “rezeki bisa datang dari mana saja”, rupanya saya salah kira di awalnya itu, karena setelah saya perhatikan lagi, rupanya memang rezeki itu bisa dari mana saja, tidak harus dari penerbit bonafid seperti harapan semula.[]

Kampung Sawah, 27 Desember 2011-Wonoyoso, 29 Januari 2012

Thursday, November 24, 2011

melawan korupsi itu fardhu ain

tahun 2009, pada pemilu legislatif, para calon wakil rakyat mengeluarkan begitu banyak uang untuk mendapatkan suara rakyat sebanyak-banyaknya. mulai sekadar pasang pamflet, membayar tim kampanye, hingga mungkin banyak yang memberikan iming-iming uang untuk menarik massa sebanyak-banyaknya supaya memilihnya.

setelah jadi, maka jangan heran kalau ia ingin uang sejumlah besar yang sudah ia keluarkan saat masa kampanye segera kembali ke kantong. bahkan, kalau perlu, uang yang didapatkan harus melebihi uang yang dikeluarkan.

jika kita mau datang ke akar rumput, akan kita temukan banyak masyarakat membutuhkan bantuan. seperti modal kerja, biaya kesehatan, sarana dan prasarana pendidikan. sekian banyak peluang bantuan yang mungkin didapatkan masyarakat, tetapi rata-rata harus melalui beberapa pintu. runyam, karena melewati pintu-pintu tidak gratis.

jika dihubungkan dengan kasus pileg 2009 itu, rupanya banyak masyarakat yang harus melalui pintu legislator untuk mendapatkan bantuan. nah, di sinilah salah satu peluang si caleg terpilih untuk mengembalikan modal yang dahulu dikeluarkannya pada 2009. baik, akan saya usahakan bantuan untuk bapak, tapi nanti jangan lupakan saya ya, sekian persen dari total bantuan untuk saya. begitu kira-kira setiap kali masyarakat hendak "mengemis" bantuan.

konon, bahkan pembagiannya ada yang sampai 70% untuk legislator makelar dan hanya 30% untuk penerima bantuan. jika tidak bersedia merelakan persenan itu, jangan harap ada bantuan mengalir. mending saya usahakan untuk orang/yayasan/lembaga lain yang mau membaginya dengan saya. begitu kiranya si legislator makelar berpikir. dengan begitu, masyarakat jadi tidak punya pilihan lain.

jika mau bersikap otokritik, tentunya masyakarat juga tidak bisa langsung menyalahkan legislator--ataupun pejabat eksekutif--semacam ini. toh, itu semua hulunya sebagian menyangkut di masyarakat. misalnya, masyarakat yang mau menerima uang suap saat pileg itu. saat mau ditawari uang sogokan untuk memilih caleg, biasanya memang tak butuh waktu apalagi pemikiran panjang untuk menerimanya. asyik, dapat angpau! begitu kira-kira teriak dalam hati para pemilih. padahal, hal ini bisa berakibat fatal di kemudian hari.

ok, si penerima sogokan--bahkan meskipun akhirnya ia tidak memilih si pemberi sogokan itu--barangkali tidak merasakan apa pun di masa mendatang. misalnya karena ia memang tidak pernah butuh bantuan pemerintah atau memang tidak pernah mau berurusan dengan para pemegang kekuasaan negara. namun, sungguh hal itu dapat menyulitkan orang-orang yang seharusnya menjadi tanggungan pemerintah.

jika anda tidak percaya, silakan datang ke sepuluh lembaga pendidikan, terutama swasta, lebih terutama lagi yang biasanya mengandalkan uluran bantuan pemerintah--bukan lembaga swasta yang menarik pungutan luar biasa besar pada siswanya. saya hampir pasti bisa menjamin bahwa paling tidak separuh dari sepuluh lembaga pendidikan itu pernah mengeluarkan sekian persen bantuan yang diterimanya untuk "broker", entah dari eksekutif, entah dari legislatif, entah sudah melalui berapa tangan dari kedua lembaga itu.

sekali lagi, rasanya memang tak perlu terlalu menyalahkan para "broker" itu. mari perbaiki diri sendiri dengan tidak mau menerima sogokan dalam bentuk apa pun saat pemilu, baik pemilu nasional maupun pemilu daerah. itulah salah satu kekuatan kita untuk melawan korupsi. mungkin banyak cara lain untuk melawan korupsi, tetapi itulah kiranya salah satu fardhu ain yang menjadi kewajiban setiap masyarakat indonesia.

kampung sawah, 24 november 2011

Monday, October 31, 2011

Resmi M.A.!


Alhamdulillah bisa mengikuti Wisuda Pascasarjana Periode I Universitas Gadjah Mada Yogyakarta pada 26 Oktober 2011. Sesuai ijazah yang diterimakan saat itu, "...sehingga kepadanya diberikan gelar Master of Arts (M.A.)...."


Semoga berkah.

Tersono, 31 Oktober 2011