Sunday, July 29, 2012

Meniru




Kekuatan anak kecil adalah meniru. Itu pula yang diperlihatkan jagoanku, Eja. Sekecil apa pun tindakan baru yang dilakukannya, sangatlah membahagiakan kami. Bahkan tindakan-tindakan yang mungkin masuk kategori “merusak”, kadang kita tetap harus memberinya applaus agar ia semakin berani untuk aktif dan bergerak.



Teringat iklan produk bayi beberapa tahun lalu, saat seorang bayi baru bisa berdiri. Tampak dalam iklan televisi itu, setelah merambat meja, ia lalu menarik taplak yang di atasnya terdapat beberapa barang pecah belah. Karena taplak ditarik, barang-barang itu pun jatuh dan menimbulkan suara “pyar” cukup keras. Tentu sang nenek yang melihat ulah si bayi tidak marah. Ia malah senang dan terlihat bangga sambil berucap, “Eee, cucuku sudah bisa berdiri.” 

Begitu pula dengan Eja. Apalagi tindakan-tindakan yang dilakukan Eja biasanya jauh dari kata merusak. Sebut saja saat beberapa waktu lalu, mungkin terhitung 3-4 bulan yang lalu, kami jalan-jalan ke Carefour Mega Center Pekalongan. Setelah capek keliling pusat perbelanjaan tersebut, kami pun membeli cemilan. Tak dinyana, setelah cemilan itu habis, bungkusnya diambil Eja, dan... ajaib! Eja berjalan menuju tempat sampah lalu meletakkan bungkus cemilan itu ke tempat sampah. Kami sendiri heran karena merasa tak pernah mengajari secara langsung. Lebih heran lagi orang-orang lain di sekitar kami; karena Eja memang masih bisa dibilang sangat kecil untuk bisa membuang sampah di tempatnya. Kira-kira saat itu Eja baru berumur 1 tahun lebih 2-3 bulanan.

Sejak itu, tindakan-tindakan Eja yang meniru siapa saja yang dilihatnya menjadi tidak terlalu mengherankan bagi kami. Sebut saja di antaranya tukang sate keliling yang membawa dagangannya di atas kepala. Eja pun dengan fasih menirukannya: membawa sesuatu seperti piring atau mangkok plastik di atas kepala, lalu ia berjalan sambil teriak, “Te... te....” Tentu saja maksudnya adalah sate, tapi baru suku kata terakhir “te” yang bisa ia ucapkan.

Ada pula saat kami menjemur kasur yang bisa diompoli Eja. Maka dengan merengek ia akan meminta alat pemukul kasur yang mirip raket, lalu segera ia tepuk-tepukkan alat itu ke kasur yang tengah dijemur. Di waktu lain, saat melihat anak kecil lain menangis maka ia akan menirukan tangisan itu. Tentu tanpa merasa berdosa dan tanpa sadar bagaimana ia juga masih suka menangis sendiri.

Demikian pula dengan menyikat gigi. Meski saat mandi lalu giginya hendak disikat maka ia menghindar, berontak, dan menangis meraung-raung. Namun, jika melihat sikat gigi tergeletak maka ia akan dengan sendirinya menyikat gigi, tentu saja dengan cara yang belum sempurna.

Ya, kami menjadi semakin sadar bahwa anak kecil memang punya kekuatan besar untuk meniru. Meniru apa saja yang dilihatnya, baik ataupun buruk. Untuk itu, mari kita perlihatkan kepada si kecil segala sesuatu yang baik-baik, agar ia bisa menjadi orang yang baik. Wallahul musta’an.[]

Wonoyoso, Juli 2012

Tuesday, June 12, 2012

Impresi Kata

Menurut KBBI, impresif berarti “dapat memberi atau meninggalkan kesan yg dalam; mengharukan”. Judul ini diambil karena memang hendak menggambarkan beberapa kata yang pernah saya sebutkan dan saya kira cukup membuat impres atau kesan, paling tidak untuk saya sendiri. Bahkan, kalau mau narsis, sepertinya itu juga lumayan berkesan bagi cukup banyak orang. Tidak selalu personal, malah mungkin tidak pernah personal. Ralat: mungkin yang tepat bukan “kalau mau narsis”, melainkan “inilah saatnya narsis!”

Pertama, mengenai sebuah majalah “siluman” bernama Flamboyan. Waktu itu, saya pikir flamboyan sama artinya dengan semacam playboy atau semacamnya. Kisah ini berawal saat saya sedang galau-galaunya memikirkan pelajaran sampai tidak naik kelas dua kali, lalu saya iseng-iseng belajar aplikasi Adobe Photoshop. Awalnya hanya mengedit foto-foto sendiri. Tapi, karena ketagihan, saya mencoba utak-atik foto lebih banyak lagi. Sampai akhirnya muncul ide mencoba belajar membuat cover majalah!

Entah siapa yang menuntun, tiba-tiba jadilah cover sebuah majalah yang membahas gosip-gosip hanya di Kairo. Isu-isu yang tengah hangat berkembang coba saya buatkan judul lalu dimasukkan dan dikumpulkan ke dalam sebuah bahan cover. Supaya lebih mantap, judul-judul ini kemudian dilengkapi foto. Atau, cara kerjanya berkebalikan, cari foto dulu kemudian berpikir-pikir kira-kira judul apa yang cocok ditempelkan pada foto dimaksud.

Nah, untuk melengkapi kata Flamboyan itu, sepertinya perlu tagline yang umumnya memang dilekatkan pada setiap koran atau majalah. Saya pun memilih kata “Cairo in Your Hands”. Dengan harapan, atau angan-angan, atau imajinasi, semua berita yang ada di Kairo pasti terkaver dalam majalah itu. Kira-kira begitu semangatnya. Buat saya yang tidak terlalu tahu bahasa Inggris, terkadang merasa bangga juga bisa membuat rangkaian kata yang konon grammarnya sudah cukup pas itu.

Kedua, saat diminta membuat spanduk untuk bus yang hendak diberangkatkan menuju makam para aulia dan shalihin di Mesir. Tugas ini diberikan oleh lembaga Jam’iyah Ahlit Thoriqoh Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah, sering disingkat JATMANU. Karena saat itu memang saya tengah tinggal di markas PCI NU Mesir.

Diberi tugas mepet dengan hari pemberangkatan, ditambah tidak ada instruksi lebih jelas mengenai apa yang akan ditulis, saya pun bingung. Saya mencoba berpikir-pikir kira-kira apa yang mau ditulis. Kalau sekadar menulis JATMANU, tentu kurang menarik, kurang memberi impres. Kalau ditulis “Ziarah Makam Aulia”, sebagaimana yang ada dalam kop surat panitia, rasanya kaku sekali. Itu juga menjadi seperti yang biasa tertera di bus-bus rombongan ziarah di tanah air. Kurang seru!

Setelah berdiskusi entah dengan siapa saja (lupa), rupanya muncul benang merah bahwa ziarah adalah perjalan suci, atau wisata suci. Kalau diinggriskan, mungkin Holy Tour? Ya, Holy Tour! Sepertinya kata ini cukup menarik. Akhirnya terukirlah kata Holy Tour itu di spanduk yang ditempel di bus atau dibawa saat berfoto-foto. Ah, sayang sekali saya tidak ikut ziarah itu sehingga tidak tampak dalam foto. Tapi, alhamdulillahnya, ternyata kata Holy Tour itu sepertinya masih digunakan sampai kini. Haha, narsis abis!

Ketiga, mengenai kata “Griya Jateng.” Sekitar tahun 2004, ramai dibicarakan di mailing list (pacandu FB sekarang ini sepertinya tidak mengenal istilah yang disingkat milis itu ya?) mengenai akan dibangunnya sebuah gedung untuk kegiatan mahasiswa Jawa Tengah di Mesir. Pembangungan gedung ini didanai oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. 

Melihat antusiasme mahasiswa Jateng menyambut pembangunan gedung itu, saya pun ingin rasanya memberikan impres khusus. Melalui milis, saya coba usulkan gedung itu kelak diberi nama Griya Jateng. Hal itu mengingat baru saja mahasiswa Jatim menamakan gedungnya dengan Graha Jatim. Lalu sebelumnya ada Wisma Nusantara yang didirikan ICMI era Habibie. Ada pula Wisma Duta merujuk pada kediaman Dubes RI di Kairo.

Saya usulkan nama Griya Jateng dengan pemikiran untuk membedakan dengan gedung-gedung itu, juga untuk memudahkan penyebutkan kelak (selama ini Graha berarti Graha Jatim dan Wisma berarti Wisma Nusantara—jarang dirujuk pada Wisma Duta) sehingga cukup menyebut satu kata “Griya” untuk menunjuk gedung pemberian Pemprov Jawa Tengah itu. Tidak perlu menambah satu atau dua kata saat menyebut; misalnya Wisma Jateng atau malah Wisma Jawa Tengah, tentu terlalu panjang. Kata Griya menjadi lebih hemat dan efisien. Juga saya bayangkan dapat menjadi ciri khas tersendiri.

Namun, rupanya usulan saya itu hanya dianggap angin lalu. Sangat sedikit yang menanggapi positif. Bahkan, kemudian ada yang mencandai, nanti gedungnya dinamai “pagupon” saja. Pagupon adalah kandang untuk burung dara bukan? Tentu komentar seperti itu agak menyinggung perasaan saya. Meski tersinggung dengan hal itu, saya sama sekali tidak merasa tersinggung dengan didiamkannya usulan saya ini oleh pihak berwenang. Ya sudah, tidak apa-apa, namanya juga usulan, dipakai syukur, tidak dipakai ya tidak perlu mengamuk ya.

Namun, rupanya di masa depan takdir bicara lain. Usulan saya ternyata tidak benar-benar mati. Secara “tidak sengaja”, pada pertengahan 2005, saya kemudian terpilih sebagai ketua asosiasi mahasiswa Jateng sebagai pihak yang kelak diminta mengelola gedung itu. Ketika pemilihan yang mengantarkan saya menjadi ketua, gedung itu belum benar-benar sempurna. Kira-kira satu setengah bulan berikutnya gedung itu baru akan diresmikan oleh Wakil Gubernur yang akan terbang langsung dari Semarang.

Sebagai ketua, saya pun ikut cawe-cawe mempersiapkan segala keperluan penyempurnaan gedung itu. Di sinilah kekuasaan berbicara. Saat masih menjadi rakyat biasa, usulan saya tidak benar-benar bisa terespons. Namun, saat menjadi “penguasa”, rupanya saya punya keleluasaan lebih untuk menyuarakan usulan.

Saya pun mencoba kembali menghidupkan usulan saya soal Griya Jateng itu. Oleh panitia pembangunan rumah, usulan saya masih ditolak mentah-mentah. Alasannya? Pak Dubeslah yang sejak awal menyebut gedung ini sebagai Wisma Jateng. Saya pun protes, sudah ada dua “wisma” di Kairo, tidak akan menambah impres kalau gedung Jateng juga dinamai Wisma. Saya mendapat jawaban lebih keras daripada yang pertama: berani kamu menentang Dubes? Diam di sini menjadi emas.

Tidak berapa lama kemudian, rupanya harus ada audiensi dengan Dubes mengenai persiapan penyambutan Pak Wagub. Saya sebagai ketua juga kebagian waktu untuk bertemu Dubes membicarakan detail acara dan lainnya. Di saat audiensi inilah saya coba kembali sounding soal penamaan Griya Jateng. Saya beranikan menyatakannya langsung kepada Pak Dubes. Dan, sedikit tidak disangka, rupanya Pak Dubes menyambut baik! Ia justru sangat senang dengan usulan itu. Pak Dubes kebetulan memang menyukai seni dan kreatifitas, jadi terlihat ceria dengan nama baru itu. Jadilah disepakati bahwa nanti namanya adalah Griya Jateng.

Lalu, sebagai penutup, pelajaran yang dapat diambil adalah: rebutlah kekuasaan kalau mau membuat perubahan![]

Wonoyoso, 11 Juni 2012


“Bu, Polisi Kok Kayak Perampok Ya?”


Ini adalah oleh-oleh dari perjalanan keluarga ke Karawang beberapa hari yang lalu. Awalnya saya terdaftar ikut kondangan tersebut, tapi karena pekerjaan sedang banyak, akhirnya absen. Alhamdulillah, meski tidak ikut, dapat oleh-oleh berharga: cerita!

Kisah ini berawal justru saat kondangan berakhir. Tepatnya saat rombongan dalam perjalanan pulang. Melewati Karawang, tampaklah Indramayu yang panturanya amat panjang nan lama itu. Di sinilah setting cerita itu.

Saat tengah melintas di salah satu titik di Indramyu, rupanya sedang ada razia besar-besaran. Nyaris setiap kendaraan yang lewat, selalu diberhentikan dan diperiksa. Apa saja yang terlihat melanggar, maka tentu dijadikan pasal untuk merogoh dompet.

Rombongan keluarga yang menaiki Avanza, awalnya merasa tidak memiliki kesalahan apa pun. SIM dan STNK pengemudi ada; karena biasanya inilah yang menjadi fokus utama saat razia lalu lintas. Lampu-lampu dan asesori lain mobil juga terang masih berfungsi dengan baik karena kendaraannya memang masih cukup bagus.

Namun, rupanya perazia lebih teliti dan pintar. Terlihat satu kesalahan: kelebihan muatan! Ya, karena kendaraan minibus seperti Avanza ternyata harus diisi tak lebih dari delapan penumpang termasuk sopir. Kali ini, Avanza berisi 9 orang, dengan rincian 7 dewasa dan 2 anak-anak. Anak-anak dihitung? Ya, sama saja, kata si perazia!

Itulah hasil analisis paman saya yang menjadi “juru bicara” dengan keluar mobil untuk mempertanyakan alasan kesalahan. Diberi tahu kesalahan seperti itu, paman saya rupanya tidak mau terlalu lama berbelit mengenai kesalahan itu. Langsung saja diakui, daripada bakal dicari-cari kesalahan lain; mungkin tidak ada kotak P3K, mungkin kurang apa lagi, tidak tahu lah. Kira-kira begitu pengalaman paman saya itu.

Supaya lebih cepat, paman saya pun langsung menanyakan berapa denda yang harus dibayarkan. Perazia yang berpakaian seraham polisi itu pun menyebut angka tiga ratus ribu rupiah. Kami yang berangkat dari kampung tentu merasa tiga lembar uang merah itu sangat besar. Karenanya, paman saya coba menawar, 100 ribu bagaimana? Kira-kira hanya ditertawakan. Dua ratus ribu pun masih geleng-geleng.

Pak polisi ngotot dengan angka 300 ribu. Paman saya pun tidak bisa berkutik. Dia selalu ingat: lebih mengalah daripada semakin parah dicari-cari apalagi yang salah. Ya sudah, paman saya buka dompet, ambil beberapa lembar uang biru. Barangkali pak polisi itu tidak mengecek lagi uang yang diterima karena ternyata paman saya hanya menyerahkan lima lembar 50 ribuan, alias hanya 250 ribu. Atau barangkali uang sebesar itu sudah cukup mengingat banyaknya kendaraan yang kena razia?

Begitulah kisahnya. Namun, sebenarnya bukan itu inti pembahasan tulisan ini. Kalimat utama dalam tulisan ini adalah ucapan salah seorang anak kecil dalam Avanza itu, keponakan saya, yang masih kelas 4 SD. Melihat pak polisi mencegat kemudian membiarkan kendaraan berjalan kembali setelah menerima sejumlah uang, keponakan saya berkomentar, “Bu, pak polisi kok kayak perampok ya?”

Ya, begitulah kenyataannya. Begitulah yang dilihat keponakan saya. Mungkin di benaknya selama ini, hasil belajar di sekolah, polisi adalah penolong masyarakat, pengayom masyarakat, gagah berani melawan penjahat, tegas menangkap pencuri. Dan kesan-kesan kebaikan lain yang muncul dari promosi verbal via pelajaran sekolah.

Beberapa waktu sebelumnya, adik ipar saya yang masih TK kecil, diajak jalan-jalan ke kantor polisi oleh pengelola tempatnya belajar. Saya kira, tentu pak atau bu polisi yang ada di kantor polisi akan memperkenalkan tugas dan kesan yang baik bagi anak-anak TK. Dan seperti yang saya bayangkan saat masih kecil, kira-kira semua anak TK akan semakin hormat dengan kegagahberanian para polisi.

Itulah promosi verbal. Namun, kalau kemudian keponakan saya melihat dengan mata kepalanya sendiri kejadian seperti dalam razia itu, bergunakan promosi verbal itu? Kalau kelak adik ipar saya juga mungkin harus melihat tingkah buruk lain dari oknum polisi, mungkinkah dia masih terkesan dengan kegagahberanian pak polisi?[]

Wonoyoso, 11 Juni 2012

Tuesday, May 22, 2012

Menyoal Gelar

Hampir setahun yang lalu, saat dalam perjalanan menuju Jogja, seorang teman kuliah UGM mempertanyakan, “Itu si A kan belum lulus dari Al-Azhar ya, kok di mana-mana namanya diikuti gelar Lc sih?” Saya sendiri bingung menjawabnya. Saya sendiri bingung menjawabnya. Mau membantah, kenyataannya memang demikian adanya. Mau mengiyakan, tentu bakal malu sebagai alumni Al-Azhar.

Saya yakin pertanyaan demikian tidak hanya pernah ditujukan kepada saya. Saya yakin masih banyak teman-teman alumni Al-Azhar yang lain pernah mendapatkan pertanyaan yang sama. Baik dalam konteks (objek orang) yang sama maupun konteks dan objek orang yang berbeda. Atau mungkin, kisah semacam ini tidak hanya mengitari kalangan alumni Al-Azhar. Kalangan perguruan tinggi lain, baik dalam maupun luar negeri, mungkin juga pernah mendapati kenyataan yang sama: seseorang belum atau tidak lulus tetapi mengaku (atau tidak membantah saat disebut) sebagai alumni perguruan tinggi dimaksud. Karena kenyataannya, kelak teman saya yang mempertanyakan si A itu, juga giliran menjadi objek; oleh teman yang lain lagi ia dipertanyakan saat menggunakan dua gelar magister (satu magister di Solo memang sudah ia rengkuh secara resmi, tetapi gelar magister di Jogja belumlah sah ia raih).

Hal-hal semacam ini mungkin sudah biasa terjadi. Namun, kalau mau jujur, tentu kita tidak ingin kisah demikian akan berlanjut tanpa ada batasnya. Memang ada beberapa sudut pandang yang memungkinkan hal ini bisa terjadi. Misalnya saya kita sebut “pelaku pemalsuan gelar” ini si A. Kondisi pertama, si A memang sejak mula menginginkan dirinya disebut dengan gelar tertentu, seperti Lc jika sudah lulus dari Al-Azhar, meskipun ia belum atau tidak pernah lulus dari perguruan tinggi itu. Dalam kondisi ini, apalagi jika sekelilingnya tidak ada seorang pun yang pernah semasa saat belajar di Al-Azhar, bisa jadi ia dengan terang benderang tanpa malu menyebutkan gelarnya dalam setiap penyebutan namanya.

Kondisi kedua, sebenarnya si A tidak pernah mempersoalkan gelar. Ia juga tidak menyebutkan gelar apa pun saat diminta menuliskan namanya sendiri. Namun, saat kemudian orang-orang menyebutnya dengan gelar tertentu, misalnya diimbuhi dengan gelar Lc karena ia pernah kuliah di Universitas Al-Azhar, maka kemudian ia diam saja. Memang sungguh mulia ia tidak mempersoalkan gelar, tetapi tentu menjadi persoalan saat ia membiarkan kebanyakan orang menyebutkan gelar untuknya dengan gelar yang belum pernah ia raih.

Untuk si A semacam ini, saya sarankan sebaiknya sejak dini langsung mengklarifikasi gelar tersebut. Jika ia malu menyebut secara terang-terangan, alangkah baiknya ia sindir para penyebut gelarnya itu sehingga kelak mereka tidak lagi mengikutkan gelar tersebut untuk namanya. Salah satu caranya sudah pernah saya dengar sendiri dari seorang Guru Besar di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Saat saya meminta tanda tangannya dan saya menyebutkan gelar di belakang nama beliau adalah S.U., M.A., beliau dengan bercanda mengatakan, “Wah saya dapat bonus gelar M.A. nih,” karena rupanya beliau hanya pernah mendapatkan S.U., tanpa M.A. Dengan senang hati dan lemah lembut beliau menolak gelar M.A. tersebut karena memang beliau merasa tidak atau belum pernah mendapatkannya.

Kondisi ketiga, jika si A memang sudah hampir pasti mendapatkan gelar tersebut, tetapi belum benar-benar secara resmi mendapatkannya. Kondisi ini memang debatable untuk dibahas. Misalnya jika situasinya adalah S1 Al-Azhar, di mana tidak ada upacara wisuda kelulusan, dan jarak antara pengumuman kelulusan dan penyelesaian berkas ijazah dll biasanya cukup lama, maka dalam hal ini mungkin tidaklah mengapa seseorang mengaku sudah Lc jika namanya dinyatakan najih dalam pengumuman kelulusan itu. Adapun untuk perguruan tinggi di Indonesia, peresmian kelulusan biasanya ditandai dengan wisuda sehingga orang yang belum wisuda sebaiknya tidak mencantumkan gelarnya untuk mengiringi namanya.

Semua tentu berpulang kepada pribadi masing-masing. Hanya saja, mari berhati-hati menyebut gelar ini agar tidak menimbulkan fitnah.[]

Wonoyoso, 21 Mei 2012

Monday, April 02, 2012

Satu-satunya Trik Mendidik Anak-Anak*

Saya punya adik ipar cukup banyak. Maklum, istri adalah si sulung, sementara keluarganya termasuk penganut setia program KB (Keluarga Besar) alias keluarga dengan jumlah anggota yang besar. Salah seorang adik iparku adalah seorang perempuan berusia 11 tahun. Meski belum balig, alhamdulillah dia sudah tidak pernah meninggalkan shalat.

Namun, karena justru merasa belum balig itulah kadang keinginannya untuk meremehkan shalat menjadi begitu besar. Terutama saat shalat subuh, di mana malamnya tidak terbiasa tidur cepat, otomatis paginya agak susah bangun. Tidak jarang dia harus menangis dulu sebelum mau benar-benar bangun dan beranjak menuju kamar mandi untuk bebersih dan wudhu lalu shalat.

Dia akan lebih mudah dibangunkan kalau ada maunya saja. Misalnya saat hari libur, paginya saya dan istri berniat jalan-jalan, sementara dia ingin ikut serta. Dengan syarat bangun pagi untuk ikut diajak, dia pun akan dengan bergegas bangun saat subuh. Atau saat hari-hari tertentu dia harus datang lebih pagi ke sekolah, maka dia meminta dibangunkan lebih awal dan dengan sendirinya dia akan langsung melek meski cuma ditepuk ringan di kakinya.

Suatu ketika, saya baru pulang dari luar kota dengan membawa oleh-oleh cukup langka. Terlebih, oleh-oleh itu berupa makanan yang sangat disukai anak-anak, termasuk sang adik ipar ini. Demi membuat surprise, saya pun diam saja di kamar dan memanggil-manggil namanya. Ia yang tengah asyik bermain dengan bonekanya tampaknya tak menggubris panggilan saya itu.

Dia memang menjawab “dalem” atau semacam kata “ya”, tetapi tidak datang juga. Saya dan istri hanya mesam-mesem di kamar. Jika dia tidak datang, biarlah oleh-oleh ini kami habiskan. Kami terus memanggil-manggilnya, tetapi rekasinya masih sama. Makin lama rasanya agak kesal, saya pun memanggilnya dengan nada sedikit lebih keras. Rupanya ia masih juga tak menghiraukan.

Akhirnya istri saya mendatanginya dan mengiming-iminginya dengan sesuatu yang sangat menarik minatnya. Dia pun dengan tanggap segera datang ke kamar kami. Berpura-pura seperti jinak-jinak merpati, kami pun sempat hanya memamerkan oleh-oleh itu tanpa boleh disentuhnya. Ia pun menjerit-jerit meminta bagian. Setelah beberapa saat bermain-main, akhirnya ia mendapatkan apa yang ia inginkan. Ia mengatakan bahwa jika kami sejak awal memberi tahu adanya oleh-oleh tersebut di dalam kamar, maka tentu ia akan langsung datang saat dipanggil. Nah...

Usai kejadian itu, saya terpikir: memang seperti inilah manusia pada umumnya. Karena tidak melihat langsung seperti apa wujud balasan pahala yang dijanjikan Allah, kita terbiasa untuk tidak segera bergegas melaksanakan perintah-perintah-Nya.

Untuk itu, beberapa saat kemudian kami kembali memanggil si adik ipar. Saya ceritakan kembali runtutan kejadian pemanggilan tadi, lalu saya analogikan hal itu dengan “kisah-kisah pribadi”-nya pada shalat subuh, dan shalat atau ibadah serta perintah orang tua lainnya.

Saya tekankan, bahwa jika ia tahu betapa indah balasan yang akan ia terima ketika bergegas melek saat dibangunkan untuk shalat subuh, atau ketika ia segera mengiyakan saat diminta membantu orang tua, atau ketika ia cepat-cepat beranjak dari depan televisi saat dibimbing untuk belajar, tentu kelak ia akan melaksanakannya tanpa dibangunkan, tanpa diminta, tanpa dianjurkan. Hal itu sama persis dengan: ketika ia tahu ada oleh-oleh enak di dalam kamar maka ia akan langsung datang saat dipanggil. Sama halnya pula dengan: jika kita tahu setelah shalat kita mendapat hadiah A dari Allah, maka saat mendengar azan kita pun pasti langsung bertakbir.

Ia pun mengangguk-angguk. Saya sendiri pun mengangguk-angguk. Betapa kehidupan dunia ini sederhana: kita sudah terlalu sering mendengar janji surga, tetapi karena kita belum melihat surga itu seperti apa keindahannya, maka kita kadang lebih memilih jalan tercepat menikmati surga dunia, entah apa pun bentuknya.

Namun, karena saya tengah menghadapi anak-anak, tentu saya harus sadar dan sabar. Bahwa anak-anak lebih mudah mencerna pelajaran, tetapi juga lebih mudah melupakannya. Terbukti, keesokan harinya ia masih susah juga untuk dibangunkan saat shalat subuh. Jadi, telaten menghadapi anak-anak memang menjadi kuncinya.[]

Wonoyoso, 2 April 2012

*Judul sudah terpengaruh oleh “aliran berlebihan”, karena kalimat yang dimaksud adalah “salah satu trik mendidik anak-anak”