Thursday, September 27, 2012

Kurikulum Antiterorisme


Kurikulum Antiterorisme

Beberapa pekan terakhir ini media cukup sering memberitakan perihal terorisme. Bermula dari penembakan terhadap anggota polisi di Solo, lalu penggerebekan para terduga teroris di Depok Jawa Barat, Solo Jawa Tengah, sampai Madiun Jawa Timur.

Mengiringi berita-berita tersebut, lalu muncul beberapa wacana untuk memperkuat usaha mencegah adanya aksi teror. Entah kebetulan entah tidak, rupanya kegiatan teror tersebut—baik dalam skala nasional maupun internasional—selalu melekat pada kalangan kaum muslimin. Dalam skala antarnegara, Islam dicap sebagai biang utama aksi teror menyusul ambruknya menara kembar WTC di New York akibat ditabrak pesawat yang kemudian dituduhkan dikendarai oleh anggota Al-Qaeda. Nama Al-Qaeda sendiri tentu sangat akrab dengan bahasa Arab, bahasa yang sangat dijunjung di antara kaum muslimin.

Adapun dalam skala nasional, meskipun tidak ada organisasi Islam resmi yang mengaku bertanggung jawab atas teror-teror di tanah air—yang mulai marak sejak Bom Bali I pada 2002, Islam harus menerima kenyataan dijadikan kambing hitam; seakan-akan berada di balik semua teror itu. Dalam hal ini, semua pihak tentunya harus lebih arif. Kalau mau memberikan stigma teror kepada Islam secara umum, tengoklah lebih dahulu kepada organisasi Islam terbesar di tanah air, Nahdlatul Ulama (NU).

NU, di samping ada organisasi Islam besar lain seperti Muhammadiyah dan Persis, dalam beberapa hal dapat dikatakan bisa mewakili. Nyatanya, dalam sejarah NU yang sejak berdiri pada tahun 1926, tak ada satu pun kegiatan teror yang dilakukan oleh—atau sekadar disematkan terhadap—organisasi ataupun personal NU. Kalaupun ada, mungkin terjadi pada masa prakemerdekaan, di mana teror itu bisa disematkan oleh kaum kolonial Belanda. Tentu saja oleh bangsa Indonesia, perlawanan terhadap penjajah, salah satunya yang dimotori oleh KH. Hasyim Asy’ari selaku pendiri NU melalui Resolusi Jihad, tidak bisa dikatakan sebagai terorisme terhadap bangsa ini.

Organisasi-organisasi Islam besar tersebut tak ada satu pun yang terkait secara langsung dengan aksi terorisme di tanah air. Lalu, bagaimana mungkin Islam secara umum harus menanggung cap sebagai agama teror? Tentu ada yang salah dalam pemberian stigma teror atas agama Islam.

Namun, kebetulan pelaku teror, terutama pelaku pengeboman dan perakit bom, rupanya selalu orang yang beragama Islam. Dan kebetulan pula, mereka yang terlibat itu selalu orang yang dianggap memiliki pengetahuan keislaman yang cukup. Dengan demikian, orang di luar Islam lalu mengambil kesimpulan bahwa “kecukupan” pengetahuan keislaman itulah yang mendorong seseorang melakukan aksi teror.

Berangkat dari situ, lalu muncul wacana untuk memberikan sertifikasi terhadap para ulama—setiap orang yang oleh masyarakat dianggap memiliki pengetahuan mencukupi terhadap kedalaman Islam. Atas wacana ini, ada beberapa tanggapan yang pro dan kontra, selain tanggapan adem ayem saja. Tanggapan adem ayem atau biasa saja tampak di antaranya diperlihatkan oleh NU, organisasi Islam terbesar di tanah air. Ketua Umum PBNU, Prof. Dr. Said Aqil Siradj mengungkapkan bahwa sertifikasi ulama mungkin saja dilakukan. Namun, tentu hal itu akan menemui banyak kendala. Hambatan utamanya adalah karena gelar ulama atau kiai merupakan pemberian masyarakat terhadap seseorang karena keilmuan, kealiman, dan peranannya dalam bidang keagamaan di tengah masyarakat.

Wajar saja Kang Said—demikian panggilan akrab Ketua Umum PBNU itu—menanggapi biasa saja wacana sertifikasi ulama itu. Hal itu karena NU sama sekali tidak merasa bahwa aksi teror berasal dari salah satu anggotanya. Sementara itu, rupanya ada beberapa tokoh, baik skala nasional maupun daerah yang ternyata merasa “panas” dengan wacana sertifikasi ulama. Kalangan yang dengan lantang menolak wacana itu merasa bahwa wacana itu hanya untuk memojokkan umat Islam dan para tokohnya. Tentu pandangan ini juga bukan tanpa sebab, karena sebenarnya para pelaku teror, meskipun kebanyakan adalah orang Islam, itu hanyalah sebagian kecil saja.

Wacana lain untuk menanggulangi aksi teror adalah pengadaan kurikulum antiterorisme di sekolah-sekolah. Usulan seperti ini sepertinya mengikuti usulan mengenai pengadaan kurikulum penanggulangan bencana sebagaimana diusulkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Untuk itu, berbagai pihak yang concern dengan pencegahan terorisme mengusulkan pelajaran antiterorisme bagi para pelajar di tanah air.

Sebelum usul ini dibahas lebih jauh oleh para pemangku kebijakan, alangkah baiknya mereka melihat sekeliling dahulu, dalam hal ini fakta bahwa nyaris tidak seorang pun warga atau kader NU yang menjadi terduga apalagi pelaku terorisme. Tidak dapat dibantah pula bahwa sejak berdirinya republik ini, NU rupanya tidak pernah terlihat ingin atau terlibat dalam gerakan yang mengganggu stabilitas nasional. Justru yang ada adalah NU melalui Banser menjadi salah satu tembok kukuh saat bangsa Indonesia menghadapi PKI—terlepas dari kontroversi pandangan bahwa sebagian anggota PKI dilanggar HAM-nya oleh tentara ataupun Banser yang konon dimanfaatkan sebagian pihak untuk memuluskan kekuasaannya.

Dengan fakta semacam ini, perlu ditelisik lebih jauh, sebenarnya apa rahasia NU terlihat begitu setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia, juga terlihat betapa kuat sikap toleransi warganya atas perbedaan yang berkembang di tanah air.

Jika mau mendatangi sekolah-sekolah NU, lalu melihat kurikulumnya, hampir dipastikan terdapat muatan lokal pelajaran ke-NU-an. Cobalah lihat lebih terperinci pelajaran ke-NU-an itu. Rupanya di dalamnya memuat nilai-nilai yang sangat mendukung sikap toleransi dan pengertian sebagai sesama warga Indonesia, bahkan sebagai sesama manusia.

Bahkan sejak tingkat dasar (SD/MI), kurikulum ke-NU-an di setiap tingkatan selalu mengajarkan 4 nilai penting yang dipegang NU. Keempat nilai dasar itu adalah tawassuth (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (berimbang), dan i’tidal (adil). Empat ajaran ini betul-betul shglkhjgghjsh

Karena begitu ditekankannya keempat nilai ini dalam pikiran pelajar di setiap sekolah NU, wajar jika kemudian nyaris tidak ada warga apalagi kader NU menjadi terduga atau pelaku terorisme. Untuk itu, ada baiknya barangkali BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) mendalami lebih lanjut kurikulum ke-NU-an yang antiteror ini. Dengan begitu, diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif pengganti atau pemerkaya kurikulum antiteror yang tengah diwacanakan dimasukkan ke sekolah-sekolah di tanah air.[]

Wonoyoso, September 2012

Thursday, August 23, 2012

Pembentukan IAAI Pekalongan

Untuk kelima kalinya sejak tahun 2007, para alumni Al-Azhar di wilayah Pekalongan dan sekitarnya mengadakan pertemuan dalam rangka halal bi halal menyambut bulan fitri. Tahun ini, pertemuan digelar di Ponpes Syafi’i Akrom, Jenggot Kota Pekalongan pada hari Rabu (22/8/2012) petang.

Dijadwalkan untuk dilaksanakan pukul 18.30, acara baru bisa dimulai pada pukul 19.30 karena para peserta melaksanakan shalat isya berjamaah dahulu di musholla yang tak jauh dari tempat acara.

Sebagaimana umumnya acara reuni dan temu kangen, pertemuan ini pun lebih banyak diisi dengan ramah tamah. Hal itu wajar mengingat sebagian besar peserta sudah lama saling tak bersua dengan peserta-peserta lainnya.

Namun, pertemuan kali ini berbeda dengan empat pertemuan sebelumnya karena terdapat satu mata acara yang cukup “formal”, yaitu upaya pembentukan Ikatan Alumni Al-Azhar Internasional (IAAI) Cabang Indonesia Kantor Perwakilan Pekalongan. Merujuk pada Multaqa II IAAI Indonesia yang digelar pada 7 Juli 2012 lalu di Hotel Mandarin Orienal Jakarta, memang diharapkan muncul perwakilan-perwakilan resmi perkumpulan alumni Al-Azhar di seluruh wilayah Indonesia.

Menyambut hal itu, Yasir Maqosid yang sehari-hari beraktivitas sebagai pengasuh Ponpes Syafi’i Akrom berinisiatif mengumpulkan para alumni Al-Azhar di wilayah Pekalongan di pesantrennya untuk mengadakan halal bi halal sekaligus upaya pembentukan IAAI Kantor Perwakilan Pekalongan. Karena itu, pada pertemuan tersebut dibahas langkah-langkah yang hendak ditempuh dalam rangka menjalin silaturahmi yang lebih terarah melalui wadah IAAI.

Setelah sharing cukup alot, forum memutuskan untuk membentuk sebuah tim berlabel Tim Pembentukan IAAI Pekalongan. Para peserta juga sepakat menunjuk Agus Hidayatulloh (lulusan 2007) sebagai koordinator tim, didampingi Yasir Maqosid (2006) sebagai sekretaris dan Nurul Faizah (2010) sebagai bendahara. Untuk melengkapi keanggotaan tim ini, 5 orang lainnya didaulat sebagai anggota tim, yaitu Mubarok (1997), Ali Burhan (S1 2000 dan S2 2008), Imam Ghazali (2005), Siti Irkhamah (2007), dan Benni Kamalia (2010).

Tugas awal tim ini adalah pendataan para alumni Al-Azhar di wilayah Pekalongan dan sekitarnya. Untuk memudahkan kinerja tim, istilah “Pekalongan dan sekitarnya” diterjemahkan melalui batas teritori 4 kabupaten/kota, yaitu Kota Pekalongan, Kabupaten Pekalongan, Kabupaten Batang, dan Kabupaten Pemalang.

Dalam forum ini sempat juga dibahas mengenai pendanaan awal embrio IAAI. Selama ini, pertemuan-pertemuan halal bi halal selalu ditanggung penuh oleh tuan rumah. Para tuan rumah pertemuan selama ini selalu menolak jika membahas mengenai pendanaan. Hal yang sama juga terjadi pada pertemuan ke-5 ini. Namun, demi menuju organisasi IAAI yang lebih profesional, para peserta lalu mendesak pentingnya pembahasan pendanaan. Setelah berdebat cukup alot, diputuskan bahwa pendanaan awal Tim Pembentukan IAAI Pekalongan ditanggung oleh 8 anggota tim, tentu tanpa menutup kesempatan kepada pihak lain yang hendak berkontribusi, baik secara materi maupun imateri.

Sempat pula muncul ide-ide mengirigi upaya pembentukan IAAI Pekalongan ini. Sebut saja mengenai penerjemahan kata maktab yang secara struktural berada di bawah far’ yang melingkupi sebuah negara. Di Indonesia far’ diterjemahkan sebagai cabang, sedangkan kata maktab, sebagaimana yang didengar langsung oleh salah seorang peserta dari seorang pengurus pusat IAAI Cabang Indonesia, diterjemahkan sebagai kantor. Untuk itu, daerah-daerah yang mendirikan IAAI maka akan dinamakan sebagai IAAI Kantor tertentu (disebutkan nama daerahnya). Salah seorang peserta pertemuan lalu mengusulkan kata maktab itu tidak diterjemahkan letterlijk seperti itu, misalnya mungkin akan tampak lebih familiar diterjemahkan sebagai Kantor Perwakilan. Jika para alumni Al-Azhar di Pekalongan mendirikan IAAI maka, misalnya, nama resminya akan menjadi IAAI Kantor Perwakilan Pekalongan.

Masih banyak lagi ide-ide menarik yang muncul dalam pertemuan itu. Semua ide-ide itu lalu diinventarisasi oleh Tim 8 yang akan mengaplikasikannya secara teknis. Satu hal menarik lainnya dalam pertemuan itu, yaitu kehadiran dua orang wartawan, masing-masing satu dari Radar Pekalongan dan BatikTV. Bahkan, usai acara yang ditutup sesuai jadwal pada pukul 21.30 itu, tiga orang peserta pertemuan langsung diminta take action di depan kamera BatikTV untuk memberikan ceramah singkat untuk mengisi acara siraman rohani di televisi lokal milik Pemkot Pekalongan itu.[]

Wonoyoso, 23 Agustus 2012

Sunday, July 29, 2012

Meniru




Kekuatan anak kecil adalah meniru. Itu pula yang diperlihatkan jagoanku, Eja. Sekecil apa pun tindakan baru yang dilakukannya, sangatlah membahagiakan kami. Bahkan tindakan-tindakan yang mungkin masuk kategori “merusak”, kadang kita tetap harus memberinya applaus agar ia semakin berani untuk aktif dan bergerak.



Teringat iklan produk bayi beberapa tahun lalu, saat seorang bayi baru bisa berdiri. Tampak dalam iklan televisi itu, setelah merambat meja, ia lalu menarik taplak yang di atasnya terdapat beberapa barang pecah belah. Karena taplak ditarik, barang-barang itu pun jatuh dan menimbulkan suara “pyar” cukup keras. Tentu sang nenek yang melihat ulah si bayi tidak marah. Ia malah senang dan terlihat bangga sambil berucap, “Eee, cucuku sudah bisa berdiri.” 

Begitu pula dengan Eja. Apalagi tindakan-tindakan yang dilakukan Eja biasanya jauh dari kata merusak. Sebut saja saat beberapa waktu lalu, mungkin terhitung 3-4 bulan yang lalu, kami jalan-jalan ke Carefour Mega Center Pekalongan. Setelah capek keliling pusat perbelanjaan tersebut, kami pun membeli cemilan. Tak dinyana, setelah cemilan itu habis, bungkusnya diambil Eja, dan... ajaib! Eja berjalan menuju tempat sampah lalu meletakkan bungkus cemilan itu ke tempat sampah. Kami sendiri heran karena merasa tak pernah mengajari secara langsung. Lebih heran lagi orang-orang lain di sekitar kami; karena Eja memang masih bisa dibilang sangat kecil untuk bisa membuang sampah di tempatnya. Kira-kira saat itu Eja baru berumur 1 tahun lebih 2-3 bulanan.

Sejak itu, tindakan-tindakan Eja yang meniru siapa saja yang dilihatnya menjadi tidak terlalu mengherankan bagi kami. Sebut saja di antaranya tukang sate keliling yang membawa dagangannya di atas kepala. Eja pun dengan fasih menirukannya: membawa sesuatu seperti piring atau mangkok plastik di atas kepala, lalu ia berjalan sambil teriak, “Te... te....” Tentu saja maksudnya adalah sate, tapi baru suku kata terakhir “te” yang bisa ia ucapkan.

Ada pula saat kami menjemur kasur yang bisa diompoli Eja. Maka dengan merengek ia akan meminta alat pemukul kasur yang mirip raket, lalu segera ia tepuk-tepukkan alat itu ke kasur yang tengah dijemur. Di waktu lain, saat melihat anak kecil lain menangis maka ia akan menirukan tangisan itu. Tentu tanpa merasa berdosa dan tanpa sadar bagaimana ia juga masih suka menangis sendiri.

Demikian pula dengan menyikat gigi. Meski saat mandi lalu giginya hendak disikat maka ia menghindar, berontak, dan menangis meraung-raung. Namun, jika melihat sikat gigi tergeletak maka ia akan dengan sendirinya menyikat gigi, tentu saja dengan cara yang belum sempurna.

Ya, kami menjadi semakin sadar bahwa anak kecil memang punya kekuatan besar untuk meniru. Meniru apa saja yang dilihatnya, baik ataupun buruk. Untuk itu, mari kita perlihatkan kepada si kecil segala sesuatu yang baik-baik, agar ia bisa menjadi orang yang baik. Wallahul musta’an.[]

Wonoyoso, Juli 2012

Tuesday, June 12, 2012

Impresi Kata

Menurut KBBI, impresif berarti “dapat memberi atau meninggalkan kesan yg dalam; mengharukan”. Judul ini diambil karena memang hendak menggambarkan beberapa kata yang pernah saya sebutkan dan saya kira cukup membuat impres atau kesan, paling tidak untuk saya sendiri. Bahkan, kalau mau narsis, sepertinya itu juga lumayan berkesan bagi cukup banyak orang. Tidak selalu personal, malah mungkin tidak pernah personal. Ralat: mungkin yang tepat bukan “kalau mau narsis”, melainkan “inilah saatnya narsis!”

Pertama, mengenai sebuah majalah “siluman” bernama Flamboyan. Waktu itu, saya pikir flamboyan sama artinya dengan semacam playboy atau semacamnya. Kisah ini berawal saat saya sedang galau-galaunya memikirkan pelajaran sampai tidak naik kelas dua kali, lalu saya iseng-iseng belajar aplikasi Adobe Photoshop. Awalnya hanya mengedit foto-foto sendiri. Tapi, karena ketagihan, saya mencoba utak-atik foto lebih banyak lagi. Sampai akhirnya muncul ide mencoba belajar membuat cover majalah!

Entah siapa yang menuntun, tiba-tiba jadilah cover sebuah majalah yang membahas gosip-gosip hanya di Kairo. Isu-isu yang tengah hangat berkembang coba saya buatkan judul lalu dimasukkan dan dikumpulkan ke dalam sebuah bahan cover. Supaya lebih mantap, judul-judul ini kemudian dilengkapi foto. Atau, cara kerjanya berkebalikan, cari foto dulu kemudian berpikir-pikir kira-kira judul apa yang cocok ditempelkan pada foto dimaksud.

Nah, untuk melengkapi kata Flamboyan itu, sepertinya perlu tagline yang umumnya memang dilekatkan pada setiap koran atau majalah. Saya pun memilih kata “Cairo in Your Hands”. Dengan harapan, atau angan-angan, atau imajinasi, semua berita yang ada di Kairo pasti terkaver dalam majalah itu. Kira-kira begitu semangatnya. Buat saya yang tidak terlalu tahu bahasa Inggris, terkadang merasa bangga juga bisa membuat rangkaian kata yang konon grammarnya sudah cukup pas itu.

Kedua, saat diminta membuat spanduk untuk bus yang hendak diberangkatkan menuju makam para aulia dan shalihin di Mesir. Tugas ini diberikan oleh lembaga Jam’iyah Ahlit Thoriqoh Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah, sering disingkat JATMANU. Karena saat itu memang saya tengah tinggal di markas PCI NU Mesir.

Diberi tugas mepet dengan hari pemberangkatan, ditambah tidak ada instruksi lebih jelas mengenai apa yang akan ditulis, saya pun bingung. Saya mencoba berpikir-pikir kira-kira apa yang mau ditulis. Kalau sekadar menulis JATMANU, tentu kurang menarik, kurang memberi impres. Kalau ditulis “Ziarah Makam Aulia”, sebagaimana yang ada dalam kop surat panitia, rasanya kaku sekali. Itu juga menjadi seperti yang biasa tertera di bus-bus rombongan ziarah di tanah air. Kurang seru!

Setelah berdiskusi entah dengan siapa saja (lupa), rupanya muncul benang merah bahwa ziarah adalah perjalan suci, atau wisata suci. Kalau diinggriskan, mungkin Holy Tour? Ya, Holy Tour! Sepertinya kata ini cukup menarik. Akhirnya terukirlah kata Holy Tour itu di spanduk yang ditempel di bus atau dibawa saat berfoto-foto. Ah, sayang sekali saya tidak ikut ziarah itu sehingga tidak tampak dalam foto. Tapi, alhamdulillahnya, ternyata kata Holy Tour itu sepertinya masih digunakan sampai kini. Haha, narsis abis!

Ketiga, mengenai kata “Griya Jateng.” Sekitar tahun 2004, ramai dibicarakan di mailing list (pacandu FB sekarang ini sepertinya tidak mengenal istilah yang disingkat milis itu ya?) mengenai akan dibangunnya sebuah gedung untuk kegiatan mahasiswa Jawa Tengah di Mesir. Pembangungan gedung ini didanai oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. 

Melihat antusiasme mahasiswa Jateng menyambut pembangunan gedung itu, saya pun ingin rasanya memberikan impres khusus. Melalui milis, saya coba usulkan gedung itu kelak diberi nama Griya Jateng. Hal itu mengingat baru saja mahasiswa Jatim menamakan gedungnya dengan Graha Jatim. Lalu sebelumnya ada Wisma Nusantara yang didirikan ICMI era Habibie. Ada pula Wisma Duta merujuk pada kediaman Dubes RI di Kairo.

Saya usulkan nama Griya Jateng dengan pemikiran untuk membedakan dengan gedung-gedung itu, juga untuk memudahkan penyebutkan kelak (selama ini Graha berarti Graha Jatim dan Wisma berarti Wisma Nusantara—jarang dirujuk pada Wisma Duta) sehingga cukup menyebut satu kata “Griya” untuk menunjuk gedung pemberian Pemprov Jawa Tengah itu. Tidak perlu menambah satu atau dua kata saat menyebut; misalnya Wisma Jateng atau malah Wisma Jawa Tengah, tentu terlalu panjang. Kata Griya menjadi lebih hemat dan efisien. Juga saya bayangkan dapat menjadi ciri khas tersendiri.

Namun, rupanya usulan saya itu hanya dianggap angin lalu. Sangat sedikit yang menanggapi positif. Bahkan, kemudian ada yang mencandai, nanti gedungnya dinamai “pagupon” saja. Pagupon adalah kandang untuk burung dara bukan? Tentu komentar seperti itu agak menyinggung perasaan saya. Meski tersinggung dengan hal itu, saya sama sekali tidak merasa tersinggung dengan didiamkannya usulan saya ini oleh pihak berwenang. Ya sudah, tidak apa-apa, namanya juga usulan, dipakai syukur, tidak dipakai ya tidak perlu mengamuk ya.

Namun, rupanya di masa depan takdir bicara lain. Usulan saya ternyata tidak benar-benar mati. Secara “tidak sengaja”, pada pertengahan 2005, saya kemudian terpilih sebagai ketua asosiasi mahasiswa Jateng sebagai pihak yang kelak diminta mengelola gedung itu. Ketika pemilihan yang mengantarkan saya menjadi ketua, gedung itu belum benar-benar sempurna. Kira-kira satu setengah bulan berikutnya gedung itu baru akan diresmikan oleh Wakil Gubernur yang akan terbang langsung dari Semarang.

Sebagai ketua, saya pun ikut cawe-cawe mempersiapkan segala keperluan penyempurnaan gedung itu. Di sinilah kekuasaan berbicara. Saat masih menjadi rakyat biasa, usulan saya tidak benar-benar bisa terespons. Namun, saat menjadi “penguasa”, rupanya saya punya keleluasaan lebih untuk menyuarakan usulan.

Saya pun mencoba kembali menghidupkan usulan saya soal Griya Jateng itu. Oleh panitia pembangunan rumah, usulan saya masih ditolak mentah-mentah. Alasannya? Pak Dubeslah yang sejak awal menyebut gedung ini sebagai Wisma Jateng. Saya pun protes, sudah ada dua “wisma” di Kairo, tidak akan menambah impres kalau gedung Jateng juga dinamai Wisma. Saya mendapat jawaban lebih keras daripada yang pertama: berani kamu menentang Dubes? Diam di sini menjadi emas.

Tidak berapa lama kemudian, rupanya harus ada audiensi dengan Dubes mengenai persiapan penyambutan Pak Wagub. Saya sebagai ketua juga kebagian waktu untuk bertemu Dubes membicarakan detail acara dan lainnya. Di saat audiensi inilah saya coba kembali sounding soal penamaan Griya Jateng. Saya beranikan menyatakannya langsung kepada Pak Dubes. Dan, sedikit tidak disangka, rupanya Pak Dubes menyambut baik! Ia justru sangat senang dengan usulan itu. Pak Dubes kebetulan memang menyukai seni dan kreatifitas, jadi terlihat ceria dengan nama baru itu. Jadilah disepakati bahwa nanti namanya adalah Griya Jateng.

Lalu, sebagai penutup, pelajaran yang dapat diambil adalah: rebutlah kekuasaan kalau mau membuat perubahan![]

Wonoyoso, 11 Juni 2012


“Bu, Polisi Kok Kayak Perampok Ya?”


Ini adalah oleh-oleh dari perjalanan keluarga ke Karawang beberapa hari yang lalu. Awalnya saya terdaftar ikut kondangan tersebut, tapi karena pekerjaan sedang banyak, akhirnya absen. Alhamdulillah, meski tidak ikut, dapat oleh-oleh berharga: cerita!

Kisah ini berawal justru saat kondangan berakhir. Tepatnya saat rombongan dalam perjalanan pulang. Melewati Karawang, tampaklah Indramayu yang panturanya amat panjang nan lama itu. Di sinilah setting cerita itu.

Saat tengah melintas di salah satu titik di Indramyu, rupanya sedang ada razia besar-besaran. Nyaris setiap kendaraan yang lewat, selalu diberhentikan dan diperiksa. Apa saja yang terlihat melanggar, maka tentu dijadikan pasal untuk merogoh dompet.

Rombongan keluarga yang menaiki Avanza, awalnya merasa tidak memiliki kesalahan apa pun. SIM dan STNK pengemudi ada; karena biasanya inilah yang menjadi fokus utama saat razia lalu lintas. Lampu-lampu dan asesori lain mobil juga terang masih berfungsi dengan baik karena kendaraannya memang masih cukup bagus.

Namun, rupanya perazia lebih teliti dan pintar. Terlihat satu kesalahan: kelebihan muatan! Ya, karena kendaraan minibus seperti Avanza ternyata harus diisi tak lebih dari delapan penumpang termasuk sopir. Kali ini, Avanza berisi 9 orang, dengan rincian 7 dewasa dan 2 anak-anak. Anak-anak dihitung? Ya, sama saja, kata si perazia!

Itulah hasil analisis paman saya yang menjadi “juru bicara” dengan keluar mobil untuk mempertanyakan alasan kesalahan. Diberi tahu kesalahan seperti itu, paman saya rupanya tidak mau terlalu lama berbelit mengenai kesalahan itu. Langsung saja diakui, daripada bakal dicari-cari kesalahan lain; mungkin tidak ada kotak P3K, mungkin kurang apa lagi, tidak tahu lah. Kira-kira begitu pengalaman paman saya itu.

Supaya lebih cepat, paman saya pun langsung menanyakan berapa denda yang harus dibayarkan. Perazia yang berpakaian seraham polisi itu pun menyebut angka tiga ratus ribu rupiah. Kami yang berangkat dari kampung tentu merasa tiga lembar uang merah itu sangat besar. Karenanya, paman saya coba menawar, 100 ribu bagaimana? Kira-kira hanya ditertawakan. Dua ratus ribu pun masih geleng-geleng.

Pak polisi ngotot dengan angka 300 ribu. Paman saya pun tidak bisa berkutik. Dia selalu ingat: lebih mengalah daripada semakin parah dicari-cari apalagi yang salah. Ya sudah, paman saya buka dompet, ambil beberapa lembar uang biru. Barangkali pak polisi itu tidak mengecek lagi uang yang diterima karena ternyata paman saya hanya menyerahkan lima lembar 50 ribuan, alias hanya 250 ribu. Atau barangkali uang sebesar itu sudah cukup mengingat banyaknya kendaraan yang kena razia?

Begitulah kisahnya. Namun, sebenarnya bukan itu inti pembahasan tulisan ini. Kalimat utama dalam tulisan ini adalah ucapan salah seorang anak kecil dalam Avanza itu, keponakan saya, yang masih kelas 4 SD. Melihat pak polisi mencegat kemudian membiarkan kendaraan berjalan kembali setelah menerima sejumlah uang, keponakan saya berkomentar, “Bu, pak polisi kok kayak perampok ya?”

Ya, begitulah kenyataannya. Begitulah yang dilihat keponakan saya. Mungkin di benaknya selama ini, hasil belajar di sekolah, polisi adalah penolong masyarakat, pengayom masyarakat, gagah berani melawan penjahat, tegas menangkap pencuri. Dan kesan-kesan kebaikan lain yang muncul dari promosi verbal via pelajaran sekolah.

Beberapa waktu sebelumnya, adik ipar saya yang masih TK kecil, diajak jalan-jalan ke kantor polisi oleh pengelola tempatnya belajar. Saya kira, tentu pak atau bu polisi yang ada di kantor polisi akan memperkenalkan tugas dan kesan yang baik bagi anak-anak TK. Dan seperti yang saya bayangkan saat masih kecil, kira-kira semua anak TK akan semakin hormat dengan kegagahberanian para polisi.

Itulah promosi verbal. Namun, kalau kemudian keponakan saya melihat dengan mata kepalanya sendiri kejadian seperti dalam razia itu, bergunakan promosi verbal itu? Kalau kelak adik ipar saya juga mungkin harus melihat tingkah buruk lain dari oknum polisi, mungkinkah dia masih terkesan dengan kegagahberanian pak polisi?[]

Wonoyoso, 11 Juni 2012