Sunday, October 15, 2006

Peringatan Nuzulul Quran di KSW Jadi Ajang Silaturahmi



Peringatan Nuzulul Quran biasanya diselenggarakan pada tanggal 17 Ramadhan. Tahun ini, tanggal bersejarah itu bertepatan dengan tanggal 10 Oktober 2006. Sengaja tak ingin bertabrakan dengan peringatan yang diselenggarakan KBRI di Masjid Indonesia Kairo, KSW menggelar peringatan Nuzulul Quran 4 hari setelahnya, Sabtu (14/10) petang.

Bertempat di Aula Griya Jawa Tengah, rangkaian acara diawali dengan khataman Alquran. Sejak pukul 17.00, hadirin yang datang mulai membaca Alquran secara bersama-sama, masing-masing 1 juz. Tepat menjelang magrib, semua sudah selesai membaca 1 juz Alquran. Panitia pun membagi-bagikan kurma dan minuman sirup untuk berbuka.

Saat adzan magrib berkumandang, semua berbuka dengan kurma dan minuman itu. Lalu mereka shalat magrib berjamaah, dilanjutkan dengan shalat gaib yang ditujukan kepada Bpk. Abdul Manaf Siregar, ayahanda dari Bpk. Syaiful Bakhri Siregar, salah seorang penasehat KSW. Kemudian dilanjutkan dengan menikmati makan besar yang menghidangkan menu soto ayam. Sekitar 100-an orang yang hadir pun terlihat berseri-seri menikmati hidangan yang merupakan hasil patungan dari para penasehat KSW itu.

Setelah break shalat dan makan itu, acara dilanjutkan kembali dengan mauizhah hasanah yang merupakan acara inti peringatan Nuzulul Quran, dibawakan oleh Ust. Taufiqurrahman, S.Ag., salah seorang warga KSW senior. Dalam ceramahnya, Pak Taufiq —demikian calon master Universitas Al-Azhar Jurusan Dakwah ini biasa disapa—, mengingatkan kembali betapa pentingnya Alquran bagi kehidupan manusia.

Terlebih lagi, ayat yang pertama kali turun adalah perintah untuk membaca, bukan untuk beribadah. Kenapa demikian? Hal ini tentu bukan tanpa hikmah. Pak Taufiq lalu menjelaskan kronologi dan hikmah di balik turunnya ayat Alquran saat pertama kali diperdengarkan pada Baginda Nabi Muhammad Saw.

Setelah ceramah itu, acara dilanjutkan dengan ramah-tamah bersama beberapa tamu penting yang sudah menyempatkan diri hadir dalam acara yang bertajuk "Peringatan Nuzulul Quran dan Buka Bersama KSW" itu. Kebetulan juga, KSW memiliki seorang anggota Dewan Penasehat baru. Beliau adalah Bpk. Danang Waskito, yang merupakan salah seorang pejabat di KBRI. Pak Danang datang bersama istri dan seorang putrinya. Melalui perkenalannya, Pak Danang berharap silaturahmi antar warga Jawa Tengah di Mesir ini dapat terbina dan terjaga dengan baik. Bahkan Pak Danang berharap kalau ada hadirin yang kelak bertemu di jalan, dapat menyapanya, mengingatkan ikatan silaturahmi yang telah terjalin.

Selain Pak Danang, ada 2 lagi penasehat KSW yang dapat hadir, yaitu Bpk. Edi Wiyono dan Bpk. Harry Widiyanto. Keduanya sudah belasan tahun menjadi penasehat KSW. Hanya saja, saat itu hanya Pak Edi yang berada di Aula Griya Jateng dan sempat memberikan sedikit sambutan, sementara Pak Wid sedang sibuk melihat-lihat pemasangan gebyok Griya Jateng di lantai dasar.

Selain pensehat KSW itu, ada juga tamu istimewa dari Depag RI dan UIN Jogja. Satu orang dari Depag RI adalah Bpk. Muntaha Azhari, yang kebetulan putranya adalah salah seorang anggota KSW. Pak Muntaha sendiri datang ke Mesir dalam rangka memimpin rombongan Indonesia dalam lomba Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat internasional yang setiap tahun digelar di Kairo.

Sementara dari UIN Jogja, terdapat 6 orang. Masing-masing Pak Uki Sukiman, Pak Imam, Pak Ridwan, Pak Zainuddin, Bu Ema Marhumah dan Bu Tuti. Keenam orang tersebut bakal berada di Mesir selama 6 bulan dalam rangka mengumpulkan bahan untuk disertasi doktoral mereka.(aghi)


Bawabah 3, 15 Oktober 2006

Sunday, September 24, 2006

KSW Gagal Lagi Rebut Academic Award





Meski mengantongi 2 nama predikat mumtaz dan 13 nama predikat jayyid jiddan untuk jenjang S1, KSW kembali harus gigit jari dalam perebutan PPMI Academic Award. Seperti tahun sebelumnya, KMM kembali mempertahankan gelar itu setelah mengumpulkan nilai tertinggi. Bahkan, tahun ini KSW tergeser ke peringkat ketiga, setelah HMM berhasil menyodok ke posisi runner-up.

Dalam Malam Anugerah Prestasi dan Wisuda Sarjana yang diselenggarakan DPP-PPMI, Kamis (21/9/2006) di Auditorium Shalih A. Kamil, terlihat beberapa pengurus KSW. Tentu berharap-harap cemas, barangkali dewan juri dapat memberikan nilai tertinggi pada KSW. Sayangnya, ketika tiba saatnya pengumuman, KMM kembali menggondol gelar itu untuk yang keempat kalinya dari lima kali penyelenggaraan. Sementara satu gelar lagi pada tahun 2004 dapat direbut KMNTB.

Kegagalan KSW ini, meski cukup banyak memperoleh poin dalam kategori mahasiswa berprestasi, rupanya terpengaruh oleh banyaknya warga KSW yang gagal naik tingkat. Ditilik dari mahasiswa berprestasi, KSW masih merajai dengan menguasai Wisudawan Terbaik (atas nama M. Abdul Ghofur), Wisudawati Terbaik (Ida Azimahwati), Mahasiswi Tingkat 2 Terbaik (Subi Nur Itsnaeni) dan Pelajar Ma'had Tingkat 1 Terbaik (Abdul Majid).

Sementara, KMM dapat kembali meraih Academic Award karena memang sedikit anggotanya yang tidak bisa naik kelas. Bahkan menurut sebuah sumber, di antara sekitar 30-an anggota keputrian KMM, hanya 1 orang yang rosib. Belum lagi DPD PPMI Zaqaziq yang menjadi DPD Terbaik, ternyata mayoritas warganya adalah anggota KMM.

Sementara itu, untuk kategori senat terbaik, diraih Senat Fakultas Syariah Qonun, sedangkan almamater terbaik berhasil dipertahankan Misykati (MAKN Solo). Menurut data yang terkumpul di DPP PPMI, pada tahun akademik 2005-2006 ini, dari 3976 pelajar/mahasiswa terdapat predikat mumtaz 5 orang (0,15%), jayyid jiddan 85 orang (2,64%), jayyid (13,77%), maqbul (6,46%), manqul (25,00%), tasfiyah (1,99%), rosib (48,81%) serta tidak terdata (1,15%).

Untuk dapat merebut gelar Academic Award, tentunya KSW harus bekerja lebih keras lagi. Terutama pendampingan pada bimbingan belajar untuk mahasiswa tingkat 1. Kalau perlu, jika mau meniru sistem yang digunakan KMM, di setiap rumah selalu ada seorang senior yang dengan intens melihat perkembangan belajar anggota rumahnya. Dengan demikian, dapat menguragi kemungkinan berleha-leha atau sikap meremehkan anggota KSW atas prestasi akademik mereka sendiri.(aghi)


Bawabah III, 24 September 2006

Talkshow Pendidikan Minim Hadirin


Miris, acara yang tadinya digadang-gadang sebagai titik-tolak kesadaran pentingnya prestasi akademik justru minim pengunjung. Bahkan, acara pun jauh molor dari waktu yang ditentukan.

Rabu (20/9/2006) lalu, bertempat di Auditorium Fakultas Kedokteran Universitas Al-Azhar, ICMI Orsat Kairo mengajak PCI-NU, PCIM dan KBRI menggelar acara bertajuk "Talkshow Pendidikan". Acara yang bertemakan "Membangun Kualitas Pendidikan Bangsa" ini sedianya dimulai pukul 18.00, tapi baru pukul 20.30 pembawa acara tampil di panggung.

Sebelum MC memulai acara, terlebih dahulu tim rebana dari PCI-NU Mesir menghibur dan menyedot hadirin untuk masuk ke dalam ruangan acara. Membawakan 3 buah lagu, tim rebana PCI-NU tampil cukup meyakinkan, membawa suasana auditorium yang cukup melompong menjadi lebih meriah.

Dalam sambutannya, pihak penyelenggara menyatakan bahwa sebenarnya bukan hadirinnya yang sedikit, tapi tempatnya yang memang terlalu luas. "Yang datang banyak pun bisa tetap kelihatan sedikit," tambah M. Arifin, MA., Ketua ICMI Kairo sebagai penyelenggara acara. Kontak, pernyataan ini pun mengundang gerr hadirin yang baru berjumlah 78 orang.

Selain sambutan dari penyelenggara, sebelum acara talkshow dimulai juga ada sambutan dari Presiden DPP PPMI, Nur Fuad Shofiyullah. Menurutnya, acara semacam talkshow pendidikan semacam ini sangatlah urgen. Hal ini agar Masiko melek betapa akhir-akhir ini prestasi belajar Masiko cenderung merosot tajam. "Pada 2001, sebuah survei lembaga independen yang bermarkas di Swiss, menyatakan Indonesia berada pada urutan buncit dari 49 negara yang disurvei dalam hal mutu pendidikan," ceritanya.

Ia menambahkan, "Ini berbanding terbalik dengan banyaknya gelar juara yang diraih putra-putri Indonesia dalam setiap olimpiade matematika atau fisika." Hal ini tentu saja tak jauh beda dengan Masiko, dimana yang mendapatkan predikat Mumtaz atau Jayyid Jiddan teramat banyak, tapi jauh lebih banyak lagi yang masih gagal dalam akademis. Maka, adanya talkshow pendidikan bisa dianggap sebagai salah satu alternatif bagus untuk menyadarkan Masiko supaya dapat meningkatkan kualitas akademik.

Atase Pendidikan KBRI Kairo, Drs. Slamet Sholeh, M.Ed., yang memberikan keynote speaker, memaparkan lebih detail prestasi belajar Masisir. Dalam makalahnya yang 4 halaman, disebutkan bahwa dalam 3 tahun terakhir, prestasi kelulusan Masisir tidak pernah melewati angka 50 persen.

Ada banyak hal yang menurutnya mempengaruhi merosotnya prestasi belajar Masisir. Termasuk di dalamnya adalah rendahnya daya juang mahasiswa dalam meyelesaikan studinya. Kalau mau dirunut lebih jauh, tentunya hal ini juga dipengaruhi banyak faktor. Selain itu, sebagian besar Masisir juga belum dapat memanfaatkan atau memanage waktu dengan baik untuk kegiatan yang mengarah pada peningkatan mutu akademik mereka.

Menurut data dari staf Atase Pendidikan KBRI Kairo, selama tahun 2005, hanya ada 40% kegiatan mahasiswa yang mengarah pada bidang akademik. Sisanya kegiatan sosial/politik (20%), kesenian/budaya (25%) dan rekreasi (15%). Sementara tingkat penyelesaian studi Masisir cukup memprihatinkan. Dari 9,37% pada 2003 (lulus 189 orang dari 2016 mahasiswa), kemudian sedikit meningkat tahun berikutnya menjadi 9,62% (235 dari 2442), lalu merosot tajam pada tahun 2005 yang hanya 7,26% (289 dari 3976).

Dalam makalahnya, Atdikbud juga memberikan beberapa alternatif solusi untuk menghadapi permasalahan yang sebenarnya pelik tapi sering dianggap "biasa" oleh Masisir ini. Selain KBRI mendukung pembinaan akademik dan intelektual dengan seminar, bimbingan studi menghadirkan pakar, bedah buku dll, juga pembinaan kesejahteraan seperti apresiasi pada mahasiswa berprestasi, beasiswa dan biaya peneltian serta ujian S2 dan S3.

Setelah keynote speech Atdikbud itu, baru acara inti berupa talkshow dipandu Saiful Bahri, Lc. Dengan mengetengahkan pembicara dari masing-masing ketua ICMI, PCI-NU dan PCIM, talkshow berlangsung gayeng. Masing-masing narasumber mengurai hal-hal yang berkaitan dengan fluktuasi prestasi akademik Masisir. Baik hubungannya dengan banyaknya aktifitas ekstrakurikuler, maupun kebiasaan kurang baik Masisir dalam memanage waktu. Sayang, sesi tanya-jawab hanya diberikan pada 4 hadirin. Walhasil, acara pun buru-buru ditutup karena memang sudah diisyaratkan harus berhenti oleh pengelola gedung.

Sampai acara selesai, yang hadir tercatat hanya ada 124 orang, padahal panitia sebelumnya menyediakan 450 porsi makan malam. Tentu saja, saat pulang ke rumah masing-masing, banyak hadirin yang menenteng makanan yang belum terjamah yang jumlahnya masih ratusan.(aghi)


Bawabah III, 24 September 2006.

Friday, August 25, 2006

Capres Kita, Dua Lawan Satu?


Setahun lalu, pemilu raya PPMI begitu semarak. Calon presdiennya saja ada 4. Seakan tak mau kalah ramai, saya pun iseng-iseng menuliskan sebuah prediksi. Apa yang ada dalam hati saya, berdasarkan pengamatan waktu itu, saya curahkan dalam tulisan. Hasilnya, saya urutkan perkiraan perolehan suara pemilu raya PPMI.

Aneh bin ajaib, secara tidak sengaja, setelah penghitungan suara yang dilakukan beberapa hari setelah tulisan saya muncul, hasilnya benar-benar sesuai dengan prediksi yang saya tulis, persis! Tentu itu suatu kebetulan belaka.

Tahun ini, oleh redaksi Informatika, saya kembali didaulat untuk berpura-pura kembali menjadi
dukun; memprediksi kira-kira siapa pemenang di antara 3 capres PPMI yang ada sekarang ini. Saya mencoba menolak mengingat kesibukan pribadi saya akhir-akhir ini. Apalagi, beberapa hari lagi saya harus memberikan laporan pertanggungjawaban KSW.

Tapi saya pikir, asyik juga rasanya bergelut dengan prediksi, perkiraan atau ramalan semacam itu. Oleh karenanya, saya tetap mencoba mengumpulkan huruf demi huruf, kata demi kata dan menjadi kalimat atau alinea yang kemudian (akan) saya beri judul "Capres Kita, Dua Lawan Satu?".

Barangkali menjadi kekhilafan saya, karena sebelum ini pernyataan saya sudah tampil dalam iklan seorang capres. Namun, seperti tahun lalu, tahun ini pun apa yang saya tulis memang dari pikiran saya sendiri. Menjadi pandangan pribadi saya, pengamatan yang memang sangat subyektif dari apa yang saya lihat selama ini.

Menurut saya, persaingan di antara 3 capres sekarang ini akan tetap seru. Tapi kiranya tahun ini juga tidak jauh beda dengan tahun sebelumnya, bahwa persaingan yang sebenarnya adalah di antara 2 capres saja. Satu kursi persaingan panas barangkali sudah menjadi milik calon nomer 3, Nur Fuad Shofiyullah, yang kampanye dengan jargon andalannya: anti status-quo.

Sementara 1 kursi lagi saya sendiri masih meraba-raba saja antara calon nomer 1 (Ahmad Yani, Lc.) atau nomer 2 (Al-Fakhri). Karena menurut saya, keduanya merupakan representasi dari teman-teman tarbiyah yang selama 4 tahun terakhir ini bisa selalu unggul dalam perebutan PPMI-1.

Berdasarkan pengalaman tahun 2002, dimana saya ikut menjadi panitia pemilu raya, pernah ada 2 calon dari satu kalangan teman-teman tarbiyah itu, tapi nyatanya yang memang benar-benar akan digolkan menjadi penguasa kursi PPMI-1 hanya satu calon saja. Sementara satunya lagi, memang menjadi bahan strategi tersendiri.

Tahun ini, saya kira juga tidak jauh beda strateginya. Apalagi mereka juga punya pengalaman tahun 2004, dimana Suhartono TB., Lc. menjadi calon tunggal presiden PPMI waktu itu. Menurut pengalaman 2004 itu, tentu saja sangat disayangkan tidak ada yang berani melawan Suhartono. Bukan apa-apa, jika terjadi hal yang sama (calon tunggal) ditakutkan legitimasi terhadap presiden terpilih menjadi kurang kuat. Kalau sudah ada saingan, baru legitimasi menjadi semakin kuat, dan tentunya tantangan juga semakin terasa. Nah, di sinilah kemudian —menurut saya— teman-teman tarbiyah ini mengajukan 2 calon, jaga-jaga jika seandainya benar tak ada calon dari orang selain mereka.

Namun ternyata, setelah 2 calon ini mendaftar, ada satu lagi calon yang datang ke PPSU. Jadilah ada 3 calon presiden PPMI periode 2006-2007. Dengan adanya 1 saingan ini, saya yakin mereka punya strategi khusus untuk menghadapi calon terakhir, Nur Fuad.

Menurut hitung-hitungan saya, jumlah kader teman-teman tarbiyah selalu meningkat dari tahun ke tahun. Kalau Suhartono mendapatkan sekitar 400 suara pada 2004, lalu Rio Erismen pada 2005 berhasil mendulang sekitar 600 suara, maka tahun ini, antara Ahmad Yani atau Al-Fakhri saya perkirakan akan mendapatkan suara sekitar 700-800. Jelas sudah, jika tim sukses Nur Fuad hendak menaikkan jagoannya ke kursi PPMI-1, maka harus dapat mengumpulkan suara —jika ingin aman— di atas 800.

Mengapa 800? Karena sudah jamak diketahui bahwa teman-teman tarbiyah amat besar militansinya terhadap calon mereka. Jika sudah mengusung satu nama (sementara yang satu sebagai taktik untuk memecah suara lawan misalnya), maka satu calon itu akan mendapat dukungan penuh dari seluruh kader. Tidak ada yang bisa meragukan itu, terbukti kemampuan mereka dalam menyikat hampir seluruh suara Masisir pada Pemilu Legislatif 2004, Pemilu Raya 2004, Pilpres RI 2004, lalu pemilu Raya 2005. Suara mereka terbukti solid dan tak ada yang bisa menandingi.

Lalu, bagaimana peluang Nur Fuad, apakah sudah tertutup? Bagi saya, belum! Masih ada beberapa varian yang bisa menjadi faktor pendukung kemenangan Ketua IKPM ini. Pertama, kepemimpinannya di IKPM. Saat ini, anggota IKPM berjumlah sekitar 400 orang. Jika rasa memiliki terhadap PM Gontor masih lekat pada para alumninya yang di Mesir ini, maka tim sukses Fuad memiliki kans besar untuk menggiring 400 suara agar memilih Nur Fuad. Tentu kalau dengan 400 suara saja, masih amat jauh langkah untuk bersaing dengan Ahmad Yani atau Al-Fakhri.

Kedua, popularitas Nur Fuad. Dibanding dua calon lain, saya kira Nur Fuad lebih populer. Apalagi, acara Gelar Mahakarya Seni IKPM akhir Maret lalu benar-benar membius Masisir. Sejak saya di Mesir tahun 2001, tak pernah ada acara yang mampu mengundang audien sebanyak Gelar Mahakarya Seni itu. Maka, kalau seluruh hadirin pada Gelar Mahakarya Seni itu bisa kembali datang ke tempat pemungutan suara (TPS) mendukung Nur Fuad, Ahmad Yani dan Al-Fakhri tentu tak bisa hanya mengandalkan suara dari kalangan mereka sendiri.

Ketiga, pengalaman. Sebenarnya, kalau pengalaman di DPP PPMI secara langsung, yang paling unggul adalah Ahmad Yani, karena sekarang pun masih menjabat sebagai salah seorang Menko. Tapi kalau hitung-hitungan pengalaman berkecimpung di organisasi, sesuai informasi yang ada di situs ppmimesir.info, maka Nur Fuad lebih unggul. Kalau lebih mengerucut menjadi top leader organisasi, maka Nur Fuad juga masih unggul, disusul Al-Fakhri yang sebelumnya menjabat Ketua KMM, baru Ahmad Yani.

Keempat, semangat perubahan. Hampir semua maklum bahwa Ahmad Yani atau Al-Fakhri adalah penerus rezim Saiful Bahri, Suhartono dan Rio Erismen. Jika mayoritas Masisir menginginkan suasana yang tidak jauh berbeda dan puas dengan yang selama ini ada, maka kans Nur Fuad yang mengusung terma anti status-quo tentu mengecil.

Tapi kalau mayoritas Masisir ingin perubahan —dan sejauh pengamatan saya selama ini yang menguat adalah itu— maka Nur Fuad punya peluang besar untuk berkantor di 8 Wahran St. Tapi tentu tidak mudah menggiring minimal 800 orang untuk datang ke TPS. Apalagi, selama ini juga sudah amat maklum kalau mereka yang menginginkan perubahan tidak semuanya bertindak konkret dengan mencoblos capres pilihan mereka. Kebanyakan hanya bisa menolak capres tertentu, tapi juga tak datang ke TPS untuk memilih salah seorang yang dapat mereka anggap sebagai agen perubahan mereka.

Nah, di sinilah tantangan tim sukses Nur Fuad agar mampu meyakinkan mereka yang menginginkan perubahan, bahwa jika benar-benar ingin perubahan, Nur Fuad lah sosok yang tepat untuk diberi mandat. Ini bukanlah tugas enteng, karena sekali lagi saya perkirakan bahwa tanpa kampanye pun, Ahmad Yani atau Al-Fakhri kiranya sudah mendapat jaminan minimal memperoleh 700 suara.

Adalah suatu pertarungan hebat, jika tim sukses masing-masing kandidat berebut pada 3000-an suara mengambang. Yang pasti, yang saya harapkan adalah persaingan fair play, menjunjung tinggi demokrasi dan kejujuran. Siapapun calon yang kelak terpilih, semua harus legawa dan ikhlas menerima. Atau, ada yang bersiap jadi oposisi? WalLâhu a‘lam.


*Dimuat dalam buletin informatika, 1 Agustus 2006

Sunday, July 30, 2006

2 Emas Bergengsi ke Griya

Tidak sia-sia para supporter KSW meneriakkan yel-yel sepanjang pertandingan sepakbola dan voli. Pada hari terakhir sekaligus penutupan Indonesian Games VI, KSW mampu mengirimkan delegasinya pada final voli putra dan sepakbola. Adapun voli putri hanya berebut perunggu dengan tim Kemass.

Sabtu (29/7/2006) siang, masyarakat Indonesia di Mesir mulai berjubel di stadion Nadi Syabab Abbasea. Tak ketinggalan warga KSW yang hendak menyemangati para pemainnya dalam mengejar tahta juara umum.

Pertandingan final sepakbola yang dimulai pukul 16.45, menjadi awal berkumpulnya para supporter KSW. Dengan yel-yel yang sudah mereka hafal sejak Java Cup III Februari lalu, warga KSW tiada hentinya memberikan support kepada para atlet di tengah lapangan.

Dengan suntikan semangat yang luar biasa seperti itu, permainan KSW benar-benar kesetanan dan seperti tak kenal lelah mengejar bola. Pemain-pemain Gamajatim, yang menjadi lawan dalam final sepakbola, dipaksa terus menjaga daerah pertahanannya dari gempuran para penyerang dan gelandang KSW.

Pada babak pertama, beberapa peluang didapat para pemain KSW. Sayangnya usaha keras para pemain KSW tetap saja tak membuahkan gol hingga turun minum. Meski nyaris terus menekan sepanjang babak pertama, tetap saja tidak bisa mencetak gol. Bahkan sempat sekali-sekali pemain Gamajatim memperoleh peluang, yang untungnya tak dapat menembus gawang yang dijaga Rikza.

Terus menguasai permainan pada babak pertama, KSW mulai pontang-panting pada babak kedua. Gamajatim mulai bisa mengimbangi permainan apik yang diperlihatkan para pemain KSW di depan sekitar 500 pasang mata. Pada babak kedua ini, kedua tim bergantian menjajal kekuatan pemain belakang lawan atau kiper.

Permainan babak kedua yang cukup berimbang ini, akhirnya tetap berkesudahan kacamata alias 0-0. Pada babak perpanjangan waktu, tetap saja permainan kedua tim tidak banyak berubah. Apalagi babak tambahan hanya memiliki waktu 2X5 menit, tak mengherankan bila kedua tim lebih sering mempermainkan bola di tengah lapangan. Walhasil, hanya sedikit peluang yang diterima kedua tim.

Bahkan pada menit-menit akhir babak kedua perpanjangan waktu, kedua tim langsung mengganti kiper masing-masing. Hal ini tentu saja dimaksudkan agar jika terjadi adu penalti, kiper mereka masih segar. Benar saja, terpaksa harus dilakukan adu penalti untuk menentukan pemenangnya karena sampai wasit meniup peluit panjang kedudukan tetap imbang tanpa gol.

Saat drama adu penalti, para pemain KSW terlihat lebih tenang. Apalagi, pada semifinal, KSW juga berpengelaman menjungkalkan Fosgama melalui adu penalti. Meski begitu, tetap saja para pemain harus benar-benar bisa mengendalikan emosi dan fokus. Hanya saja, di tengah ratusan pasang mata yang melihat drama tos-tosan ini, beberapa pemain terpaksa kehilangan fokus. Hasilnya, 3 pemain KSW gagal mengarahkan bola ke gawang Gamajatim. Namun, berkat penampilan gemilang penjaga gawang KSW, Habib Maulana, ada 4 penendang Gamajatim yang tak berhasil menceploskan bola ke gawang KSW. Bahkan tiga di antaranya sukses ditepis oleh Habib, dan satu lagi melebar ke atas gawang.

Saat kedudukan imbang 3-3, sementara KSW masih memiliki 1 peluang tendangan lagi, Mas Kholid yang kebagian sebagai penendang ke tujuh, kemudian menjadi pahlawan kemenangan karena tendangannya berhasil melewati kiper Gamajatim dan menembus jaring. Tak pelak, pendukung KSW langsung ramai-ramai memeluk Habib. Para pemain pun langsung berpelukan. Semua menyanyikan lagu kemenangan, tapi tetap dalam koridor sopan santun dan tak memancing pihak lawan. Inilah emas pertama KSW dalam ajang Indonesian Games.

Voli Putra-Putri Juga Menang

Pada saat yang hampir bersamaan dengan pertandingan sepakbola, tim voli putri KSW melakukan pertandingan melawan Kemass dalam perebutan juara ketiga. Tim Kemass yang digawangi banyak pemain senior, saat pertandingan semifinal melawan Gamajatim tampil sangat mengesankan. Namun ternyata pada perebutan perunggu ini, tim KSW justru lebih bersinar. Barangkali dukungan supporter yang amat banyak, meski berbagi dengan supporter sepakbola, membuat permainan tim voli putri KSW ikut meningkat. Terbukti, meski tak dinyana sebelumnya, tim KSW berhasil menggebuk Kemass 3 set langsung.

Sebelum penutupan, pertandingan terakhir yang digelar adalah final voli putra KSW melawan Fosgama B. Tim Fosgama yang pemainnya memiliki tinggi badan di atas rata-rata, dari awal mengandalkan smash dan blok akurat. Hanya saja, tidak semua usaha mereka memperoleh nilai. Hal ini karena tim KSW yang dikapteni M. Zaim alias Kidal mampu menerapkan strategi lain untuk menutupi kekurangan tinggi badan rata-rata pemain KSW.

Labib Hilmi, yang sebelumnya melatih tim voli putri KSW, menjadi andalan penyuplai bola untuk di-smash oleh Kidal, Laili, Faruq, Husein, Khomsin atau Akhid. Meski tidak setiap smash atau tipuan KSW menghasilkan poin, KSW tetap bisa mengungguli Fosgama. Apalagi, yel-yel yang selalu didengungkan para penonton tim KSW membahana di lapangan sepanjang pertandingan. Tak pelak, pendukung Fosgama yang awalnya bisa mengimbangi, jadi kalah ramai. Bahkan di set keempat yang menjadi set terakhir, mereka sudah tak ada suaranya lagi. Pertandingan pun berakhir 3-1, lagi-lagi untuk kemenangan delegasi KSW.

Dengan kemenangan voli putra ini, KSW mencatatkan hasil manis, karena pada hari terakhir ini berhasil meraih kemenangan di semua cabang yang ada. Meski voli putri hanya berebut perunggu, tapi tentu saja emas sepakbola dan voli putra tetap amat bergengsi. Dengan demikian, KSW menjadi tim yang paling banyak mengumpulkan medali, dengan 3 emas, 3 perak dan 3 perunggu. Bahkan kalau dilihat lebih jauh, KSW adalah satu-satunya tim yang berhasil meraih semua medali di semua cabang yang ada dalam Indonesian Games.(aghi)

Griya Jateng, 30 Juli 2006