Monday, October 19, 2009

Studium General Grand Mufti Suriah di UGM


Berikut ini rangkuman ceramah umum Grand Mufti Republik Arab Suriah di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Studium General
“Islam Rahmatan Lil Alamin”
Grand Mufti Republik Arab Suriah
Dr. Ahmad Badruddin Hassoun
Bulaksumur, 12 Oktober 2009


* Sambutan Ketua Senat Akademik mewakili Rektor UGM
1. Banyak kesamaan antara Indonesia dan Suriah: lambang negara [burung garuda], warna bendera [merah dan putih], tanggal proklamasi kemerdekaan [17].
2. Harapan penguatan kerjasama di antara dua negara, terutama antara UGM dan lembaga pendidikan di Suriah, dengan campur tangan Grand Mufti selaku salah satu pengambil kebijakan yang memiliki peranan cukup kuat.
3. Grand Mufti diharapkan mau menjadi dosen terbang untuk UGM.

* Keynote Speaker Dubes RI untuk Suriah, Drs. Muzzammil Basyuni
1. Mendatangkan Grand Mufti ke Indonesia bukanlah pekerjaan mudah, tetapi karena permintaan Menteri Agama [secara kebetulan kakak kandung Dubes, bukan bermaksud nepotisme] maka diusahakan semaksimal mungkin.
2. Tidak benar Islam merupakan sumber kekacauan ataupun terorisme.
3. Kalaupun ada penilaian Islam sebagai biang terorisme, mari diluruskan dengan da’wah bil haal, yaitu dengan berjihad menegakkan Islam dengan sebenar-benarnya.
4. Jihad tidaklah identik dengan peperangan, al-jihaadu laa yuraadiful-qatl. Jihad adalah mengeluarkan segenap kemampuan untuk memperjuangkan Islam yang benar, al-jihaadu huwal-juhdu li’izzatil-islam.
5. Indonesia dan Suriah sudah merdeka, sekarang saatnya mendukung negara lain, terutama Palestina, agar mendapatkan kemerdekaan dari penjajahan bangsa lain.

* Kuliah Umum Grand Mufti Dr. Ahmad Badruddin Hassoun
1. Siap menjadi dosen terbang di UGM, bahkan berharap sekaligus diterima sebagai mahasiswa agar juga bisa menimba ilmu di perguruan tinggi ini.
2. Semua agama pasti mengandung dua ajaran utama: kesucian tuhan dan kemuliaan manusia.
3. Semua agama samawi dari Nabi Adam sampai Nabi Muhammad, mengajarkan “menghormati sesama manusia”. Jika semua pemeluk agama, termasuk Islam, Yahudi, dan Kristen, konsisten dengan nilai itu, niscaya tidak ada perang di dunia ini.
4. Sebenarnya hanya ada 2 agama di muka bumi: agama dari tuhan dan agama [buatan] dari manusia. Agama dari tuhan adalah agama samawi, yaitu Islam, Kristen, dan Yahudi. Adapun agama buatan manusia sesungguhnya diawali dengan langkah baik, yaitu memuji kebenaran, lalu mereka membuat simbol-simbol berbentuk dewa atau tuhan yang melambangkan kebaikan, keburukan, dll.
4. Tidak ada istilah “perang suci”. Bagaimana mungkin peperangan yang membunuh manusia-manusia tak berdosa dikatakan suci? Agama mana pun tidak ada yang mengajarkan pembunuhan, karena itu jangan pernah membunuh lalu mengatasnamakan agama.
5. Di Palestina sesungguhnya tidak ada perang antaragama, tidak ada perang antara Islam melawan Yahudi, yang ada hanyalah perang antara pemilik hak melawan kekuatan penjajah.
6. Hati-hati dengan istilah daulah diniyyah atau daulah islamiyyah, negara agama atau negara Islam. Negara yang ada seharusnya adalah daulah insaniyyah, nation state, negara bangsa alias negara yang menjunjung tinggi kemanusiaan. Negara agama meniscayakan tidak boleh ada agama lain di dalamnya, sementara negara bangsa meniscayakan penghormatan hak-hak seluruh manusia, termasuk hak beragama.
7. Fatamorgana daulah islamiyyah sesungguhnya dimunculkan orang-orang penjajah, bukan berasal dari sumber-sumber ajaran agama Islam.
8. Hadits afsyus-salaam (tebarkanlah salam), menunjukkan perintah untuk menebar kedamaian, tidak sekadar menebarkan atau mengucapkan salam, selamat pagi, selamat siang, dst. Karena itu menggunakan kata afsyu, bukan alqus-salaam (sampaikanlah salam).
9. Ketika peristiwa kartun Nabi Muhammad di Denmark, muncul reaksi, kecaman, dan demo di mana-mana. Namun sepertinya itu justru melegitimasi penilaian beberapa kalangan bahwa Islam adalah agama yang beringas. Seharusnya yang dilakukan adalah dialog. Pihak Mufti Suriah sendiri setelah munculnya kartun itu di media Denmark, langsung mengirimkan surat keberatan dan mengajak dialog pemimpin media itu. Dari dialog itu, terkuak bahwa Barat baru mengetahui sedikit tentang Islam, lalu dipublikasikan dengan cara mereka sendiri melalui media-media mereka. Setelah mendapatkan penjelasan tentang Islam dari pihak Mufti Suriah, media Denmark terbuka untuk membuat semacam “ralat”. Hal itu dilakukan dengan memberi kesempatan kepada Mufti Suriah untuk mengampanyekan Islam sesuai pemahaman sebenarnya langsung dari sumber-sumber ajaran Islam. Akhirnya, empat edisi berturut-turut media Denmark itu memublikasikan ajaran Islam yang ditulis oleh kalangan Islam sendiri, dalam hal ini Mufti Suriah.
10. Demikian ahlanya berkaitan dengan peristiwa “salah ucap” Paus Benediktus atas Nabi Muhammad yang dianggap menyinggung perasaan umat Islam. Ucapan Paus ini pun memunculkan demonstrasi di mana-mana, terutama negara-negara berpenduduk mayoritas muslim. Tetap saja aksi-aksi semacam itu kurang mengena terhadap pelaku salah ucap itu. Oleh pihak Mufti Suriah, Paus diajak berdialog. Mufti Suriah lalu menunjukkan agar Paus membuka-buka terjemahan dari buku Syama’il Muhammadiyah. Mufti Suriah sendiri mengetahui bahwa buku-buku itu sudah ada terjemahannya di perpustakaan Vatikan. Setelah membuka buku itu, Paus mengakui kesalahannya dan mengajukan permohonan maaf.[]

RSUD Batang, 17 Oktober 2009

No comments: