Sunday, September 04, 2016

haji filipina


suatu pagi, ditemani secangkir teh, ngobrol dengan seorang muslim filipina. tiba-tiba ia menanyakan kabar 177 calon jamaah haji indonesia yang "terdampar" di manila. menurut versinya, selain calon jamaah haji dari indonesia, rupanya ada 7 nama lain dari malaysia. kasusnya sama: menggunakan paspor filipina.

ia sendiri, yang telah melakukan ibadah haji tiga kali saat bekerja di arab saudi pada 2007-2010, menyatakan bahwa umat muslim filipina tak masalah jika ada kaum muslimin indonesia hendak berangkat haji dari filipina. tak dijelaskan lebih lanjut apakah memang peminat atau orang yang mampu haji dari filipina angkanya masih di bawah kuota yang diberikan pemerintah arab saudi.

intinya, ia sebagai sesama muslim mempersilakan warga indonesia untuk berangkat haji dari negaranya. saat dipertanyakan bahwa hal itu melanggar peraturan-peraturan antarnegara, ia malah menantang: lebih tinggi mana aturan Allah dengan aturan negara?

hmm.. baiklah. saya pun coba jelaskan bahwa masalahnya sebenarnya tak sesederhana itu. ia sempat menanyakan, kenapa warga indonesia itu bisa ketahuan di bandara manila? kenapa bukan syekhnya (semacam kiai atau ustadz yang menjadi ketua kelompok pembimbing haji) saja yang maju saat ditanya-tanya oleh petugas bandara?

nah, di sinilah rupanya kuncinya. ia mungkin mengira ini hanyalah masalah ibadah: ada orang yang ingin beribadah tapi dihalang-halangi oleh negara. saya pun mencoba jelaskan sebatas pengetahuan, bahwa 177 warga indonesia ini bukannya pergi secara "baik-baik" melalui syekh sebagaimana lazimnya jamaah haji dari filipina. kuat dugaan bahwa mereka ini dimanfaatkan oleh oknum atau kriminal yang hendak mengeruk keuntungan dari niat ibadah mereka. memang belum terendus atau belum dibuka siapa saja yang terlibat. semoga saja tidak melibatkan orang-orang yang selama ini dianggap sebagai "alim" atau "syekh" di filipina. semoga saja betul-betul hanya melibatkan mereka yang sehari-hari mengejar harta sehingga mudah bagi umat islam untuk berlepas diri dari tindakan tidak terpuji ini.

saya kemudian menanyakan bagaimana umumnya jamaah haji filipina mengatur perjalanannya. secara sederhana, ia menjelaskan bahwa biasanya warga muslim filipina yang hendak menunaikan haji mendatangi syekh. syekh pun bisa dititipi untuk jasa pembuatan paspor. selanjutnya, syekh yang akan berkoordinasi dengan "muslim affairs" (lembaga resmi di bawah pemerintahan filipina) di manila untuk pengurusan haji itu. dari situ nanti akan diurus visanya ke kedutaan besar arab saudi di manila.

dari obrolan ini, saya mendapat kesan bahwa muslim filipina sebenarnya menyambut baik jika warga muslim indonesia hendak berangkat haji dari filipina. lalu, mungkinkah itu?

mungkin saja, tentu dengan konsekuensi yang adil. misalnya, jangan mau enaknya saja menggunakan paspor filipina tapi tidak mau kehilangan kewarganegaraan indonesia. artinya, jika memang ngebet hendak melakukan haji, lalu tak sabar menunggu antrean haji indonesia, silakan dipelajari tata cara menjadi warga filipina, asal siap kehilangan kewarganegaraan indonesia.

sebenarnya filipina mengakui dwikewarganegaraan. tapi mari ikuti aturan tanah air bahwa indonesia tidak (setidaknya hingga saat ini) mengakui kewarganegaraan ganda. masih ngotot soal dwikewarnegaraan? silakan sampaikan aspirasi kepada wakil rakyat di senayan :)

so, bisa saja memiliki paspor filipina dengan risiko kehilangan paspor indonesia. sehingga kelak, saat semua berjalan mulus, termasuk ibadah hajinya, kemudian ingin kembali tinggal di indonesia, jangan mengeluh saat harus mengurus izin tinggal di indonesia secara rutin dengan paspor filipinanya.

saya pribadi, tetap menjadi warga indonesia adalah pilihan nomor satu. mungkin sangat subjektif, tapi soal keamanan, kebebasan berekspresi, kemudahan berinteraksi, saya masih merasa indonesia lebih baik. jadi, marilah bertanggung jawab atas semua pilihan kita. semua pilihan pasti ada konsekuensinya. jangan hanya memilih dan berharap enak-enaknya saja :)

iligan city, 4-9-16

Saturday, September 03, 2016

Seberapa Buruk Pengelolaan Negeri Ini?

belakangan ini muncul postingan betapa ambruknya pengelolaan negeri ini. sebagian didasarkan fakta, tapi sebagian juga tidak kuat data/faktanya.

kita bisa menyikapi hal itu dengan dua cara.

cara pertama, tidak usahlah percaya dengan postingan-postingan semacam itu. apalagi yang data/faktanya tidak jelas. sangat mungkin penulisnya hanya sedang mengumpulkan dukungan politis untuk mendongkel penguasa yang ada. oke kalau namanya penguasa itu pasti ada salahnya. tapi mendongkelnya di tengah jalan sepertinya tidaklah bagus.

betul kita punya pengalaman "cukup baik" saat gus dur diimpeach kemudian seterusnya tidak perlu ada pertumpahan darah akibat pendongkelan itu. tapi apakah semua pendukung presiden sama seperti pendukung gus dur. apakah semua penguasa sama seperti gus dur yang saat dijungkalkan, kemudian melihat para pendukungnya siap angkat senjata untuk mempertahankan kekuasaan itu, malah bilang: pulanglah kalian.

cara kedua, kita percaya saja dengan postingan itu, terutama jika datanya memang jelas. tapi hanya menyalah-nyalahkan orang lain, juga bukan suatu hal yang bagus karena tak memunculkan solusi jelas. lalu bagaimana? ya mari kebobrokan itu, kalau memang terlihat nyata, segera diperbaiki.

caranya? lihat satu persatu masalah kebobrokannya. lihat pula sekecil apa pun hal yang bisa dilakukan untuk diperbaiki. kata aa gym, mulai dari yang terkecil, mulai dari diri sendiri, mulai sekarang juga! mulai dari yang terkecil, artinya jangan bermimpi terjadi perubahan besar kalau hal-hal kecil tidak diperbaiki.

mulai dari sendiri artinya jangan bermimpi seluruh negeri ini akan baik, sehat, pinter, makmur, kalau kita sendiri tidak sempurna. mulai dari sekarang menunjukkan bahwa semuanya butuh proses. mulainya dari sekarang, tapi hasilnya nanti dulu, tergantung seberapa besar usaha kita, sekarang ini!

jadi ya, tidak terlalu berguna ya hanya mengeluh. mari lawan kebobrokan itu!

iligan city, 3-9-16

Saturday, August 27, 2016

islam untuk dki-1

islam untuk dki-1

saya adalah orang yang tak alergi jika dki dipimpin oleh ahok. tapi sebagai santri, rasanya saya juga berkewajiban untuk berusaha menampilkan bahwa "oke ahok memiliki prestasi, tapi kami juga punya deretan nama yang tak kalah baik".

maka kemudian muncullah dalam benak cara-cara mengalahkan ahok. sebenarnya lebih tepatnya cara memenangkan dki-1 dan kekalahan ahok adalah bonusnya. kekalahan ahok dijadikan akibat, dengan sebab kemenangan kita.

1. jangan fokus pada gerakan ahok dan pendukungnya. biarkan mereka berjalan atau hanya diam, sementara kita kerjakan langkah kita, jangan hanya diam. fokuslah pada persiapan sendiri: siapkan calon terbaik. pendukung ahok sudah sedemikian rapi dan sudah jauh-jauh hari melangkahkan kaki, sementara kita masih jalan di tempat, atau bahkan baru berpikir mau melangkah menggunakan kaki yang mana. sungguh kontradiktif dengan keinginan menggebu untuk "menampilkan islam sebagai terbaik dan terdepan" (ingat, bukan "menyingkirkan ahok").

2. ada perbedaan mencolok antara "menampilkan islam sebagai terbaik dan terdepan" dan "menyingkirkan ahok". jika kita hanya ingin "menyingkirkan ahok" maka, kalau dalam sepak bola, kembali kita hanya fokus menampilkan permainan defensif. tak sempat menyerang, kecuali hanya melalui serangan balik, itu pun kalau sempat. adapun jika kita kedepankan "menampilkan islam sebagai terbaik dan terdepan" maka kita akan lebih peduli pada menampilkan kebaikan-kebaikan, serta menambal kelemahan-kelemahan kita. dengan sendirinya, kesempurnaan semakin didekati, dan jika itu berhasil, sudah otomatis islam betul terbaik dan terdepan, serta ahok akan tersingkir.  jadi, "tersingkirnya ahok" adalah bonus, jangan dijadikan tujuan.

3. saring calon-calon kandidat muslim, misalnya sandiaga uno, risma, dan anies baswedan. nama lain tentu saja bisa ditambahkan. ketiga nama ini muncul secara subyektif saja.

sandiaga uno
+ sudah ada dukungan resmi pengusung, gerindra, disusul dpw pkb (mesti menunggu surat resmi dpp tentunya)
+ santun
+ muslim taat, konon rajin puasa senin-kamis juga
+ pengalaman sukses memimpin perusahaan
- dukungan partai belum cukup
- belum ada pengalaman birokrasi/pemerintahan
--> cari tambahan dukungan partai
--> cari calon wakil yang berpengalaman di bidang pemerintahan/PNS; tonjolkan kemampuan manajerial (meski beda konteks, antara birokrasi/pemerintahan dan swasta, tentunya ada kesamaan tantangan "mengatur banyak orang")

risma
+ sukses memimpin surabaya dalam 6 tahun terakhir
- belum genap setahun mengucap sumpah sebagai walikota surabaya periode kedua

anies baswedan
+ kalem
+ berpengalaman memimpin dan memajukan organisasi yang cukup besar: universitas paramadina dan kemendikbud (meski hanya 20 bulan)
+ sedang "menganggur"
- belum ada partai yang menyatakan siap mendukung

ketiga nama ini tidak harus dipilih satu. mari berpikir logis saja, menyatukan suara umat islam pada masa sekarang sangatlah sulit, atau malah seperti nyaris mustahil, apalagi di masa-masa awal kontestasi. terlalu banyak orang yang ingin maju sendiri, atau memajukan pilihannya sendiri. rasionalnya, ketiganya bisa sama-sama maju, tentu asal masing-masing memiliki syarat yang cukup untuk mendaftar: didukung partai atau gabungan partai dengan jumlah minimal 22 kursi di DPRD DKI.

hanya saja, jika sejak awal sudah ada kesepakatan bersama untuk mengusung satu nama saja, mungkin memang akan lebih baik. namun, melihat begitu cairnya pergerakan politik di jakarta, muncul 2-3 nama lawan ahok menjadi sangat masuk akal. munculnya lebih dari satu nama mungkin memang akan membuat plus-minus sih: satu nama terlihat lebih solid, tetapi juga akan semakin mengesankan ahok "dikeroyok". di indonesia, kesan dikeroyok kadang malah mendatangkan simpati, terutama dari swing voters.

so, menghindari "simpati gratis" untuk lawan politik dengan membuat 2-3 nama untuk diajukan bisa menjadi alternatif pilihan. hanya, memang risikonya juga cukup besar: jangan-jangan ahok bisa langsung mendapat 50% plus satu suara. di sinilah kejelian para pembuat keputusan diuji. maka tak mengherankan jika hingga kini PDI-P tak jua memutuskan apakah akan mendukung ahok, mengusung calon sendiri, atau bergabung dengan partai lain--terlepas dari kelebihan sebagai satu-satunya partai yang memiliki kemampuan untuk mengusung calon secara mandiri.

mudah dilihat, sungguh tidak sederhana menyiapkan "islam terbaik dan terdepan" untuk DKI-1 ini. maka sepertinya tak akan dalam waktu dekat pula kita dapati nama-nama definitif dari "deretan nama yang lebih baik dari petahana". semua terus berproses di tangan para pemegang kuasa (kursi) itu. kita hanya bisa meminta dan mengarahkan mereka untuk memilih nama-nama terbaik dari kita itu. dan harus tetap diingat bahwa kita tidak bisa mencegah pemilik kursi lainnya yang telah menetapkan pilihan yang tak sesuai harapan kita.

4. jika sudah ada nama definitif untuk maju dalam pilkada, maka saatnya untuk terus menaikkan pamornya. konon, cara merebut kekuasaan adalah dengan naikkan diri dan menjatuhkan orang lain. itu di politik secara umum. tapi jika hendak membawa islam dalam politik, mari kita gunakan cara-cara islam: menaikkan diri tanpa menjatuhkan orang lain. penuhi medsos dengan kebaikan. jauhkan diri dari mengurusi orang lain.

dalam berpolitik pun, fitnah tetap diharamkan oleh islam. bahkan islam juga mengajarkan untuk menutupi aib orang lain. maka jangan senang saat mendengar kabar tentang aibnya orang lain. turut menyebarkannya adalah dosa: jika aib itu benar maka termasuk ghibah, dan jika aib itu salah malah jatuhnya menjadi fitnah. naudzu billah min dzalik.

kembali lagi: fokus pada perbaikan diri, atau menyebarkan kebaikan diri untuk menstimulus kebaikan-kebaikan berikutnya. berpikirlah bahwa kalaupun ahok tidak pantas menjadi gubernur, itu bukan karena dia bermata sipit, bukan pula karena tidak/belum bersyahadat, melainkan karena: ini loh calonku lebih baik, jauh lebih baik! jadi mari tunjukkan kebaikan itu. kebaikan islam. islam yang ramah kepada nonmuslim. islam yang adil memberi kesempatan kepada nonmuslim untuk fastabiqul khoirot juga.

5. proporsional juga perlu dikedepankan. jika masih juga tak tahan untuk mengirim kritikan (semoga bukan cacian) kepada pemimpin petahana, sebaiknya jangan menahan diri juga untuk bisa mengakui capaian yang ada. klaim 1 juta KTP (terlepas belum ada pembuktian riil di lapangan) menunjukkan bahwa cukup banyak juga yang mengakui hasil kinerjanya. faktanya, tidak ada satu pun kandidat yang berani atau mampu mengumpulkan jumlah dukungan KTP yang sama, bagaimana pun caranya. semua pemimpin patut mendapat pujian untuk kinerja baiknya, juga kritik atas kinerja buruknya. sebagai rakyat, kita hanya perlu menyikapinya secara proporsional. hanya memujinya adalah racun baginya, sementara hanya mengkritik, apalagi mencaci, adalah racun bagi kita.

6. jalin komunikasi yang baik dengan siapa pun. tidak ada gunanya memusuhi kandidat atau pendukung lawan. terutama kepada para kandidat, sangat penting rasanya untuk memperlihatkan "kemesraan" dengan para kandidat lainnya. karena jika satu saja kalimat negatif atas lawan keluar dari muncul salah saut kandidat, maka otomatis satu kalimat itu akan bergaung beribu atau bahkan berjuta kali sesuai jumlah pendukungnya. sebaliknya, jika kata-kata adem yang muncul dari para kandidat maka hangatlah suasana kontestasi.

7. the last but not least, setelah semua ikhtiar, kita hanya bisa berdoa. saat palu KPU akan diketok nanti, saat ikhtiar dan doa "tertutup", maka saatnya untuk berpasrah. siapa pun yang terpilih, termasuk jika itu adalah orang yang sangat tidak kita inginkan untuk terpilih, ya harus kita hormati. sudah tidak ada lagi ikhtiar dan doa untuk berebut kursi, kecuali disiapkan untuk 5 tahun mendatang. bahkan yang terpilih pun, asal bukan incumbent, mungkin juga langsung bersiap untuk kontestasi periode berikutnya!

8. sandi, risma, anies, ahok, ya, AHOK, atau siapa pun yang terpilih, mari kita dukung, atau setidaknya biarkan ia bekerja selama 5 tahun. jika kita masih sakit hati juga rasanya, acuhkan saja ia. merecokinya, termasuk membahas kekurangan-kekurangannya, apalagi yang sifatnya belum terkonfirmasi, hanya akan menambah rasa sakit hati. na'udzu billah min dzalik.

menutup tulisan ini, mari resapi pesan KH Ulin Nuha Arwani Kudus: jadilah pemimpin yang ditaati atau pengikut yang taat; janganlah menjadi orang ketiga yang sering berkeluh kesah atau tidak sabar.

iligan city, 27-8-16

islam dan politik

sebenarnya saya bukan orang yang terlalu bergairah membicarakan politik-islam. tapi melihat fenomena belakangan ini makin banyak yang getol membawa-bawa islam di kancah politik nasional, rasanya bikin gatel untuk ikut sekadar sumbang kata.
islam, sebuah agama yang agung. sempurna, tak ada kekurangannya. jadi jika ada yang melihat kekurangan dalam islam, mari pikirkan lagi: yang tidak sempurna islamnya atau pemeluk islamnya?
jika ada cacian kepada seseorang, apakah itu diajarkan islam? jika ada fitnah kepada seseorang, apakah itu ajaran islam? jika ada menyalah-nyalahkan orang, apakah itu nilai islam?
jelas tidak!
jika kita, umat islam, di sebuah tempat yang mayoritas penduduknya pemeluk islam, mari tunjukkan islam yang sempurna! islam yang tak mencaci. islam yang tak memfitnah. islam yang jujur. islam yang adil: adil kepada semua makhluk. jangankan pemeluk agama lain, kepada binatang yang tak beragama pun kita harus adil.
selangkah demi selangkah itu harus ditempuh. memperbaiki dari bawah; dari yang terkecil, dari diri sendiri, dan dari sekarang juga. jika tiba-tiba membawa jargon "(orang) islam yang terbaik, islam harus di depan" maka akan ditertawakan, karena dilihat oleh orang kebanyakan: kok islam memfitnah, kok islam mencaci, kok islam tidak adil, kok islam tidak jujur? maka jatuhlah pilihan orang-orang itu kepada "orang lain", yang "terlihat" jujur, adil, tidak memfitnah, tidak mencaci.
membangun itu dari menata bata demi bata yang ditata, batu demi batu, bahkan kerikil demi kerikil. kecuali membangun untuk roro jonggrang.


iligan city, 26-8-16

Tuesday, August 09, 2016

Ayo Belajar Ngaji, Sekarang!

Usai tadarus Al Quran tadi malam, teman dari Brunei Darussalam menyampaikan rasa terima kasihnya karena telah diajak bersama-sama rutin membaca Al Quran. Setiap malam pun sebenarnya ia juga mengucapkan terima kasih, konon karena senang bacaannya ada yang mengoreksi. Namun, tadi malam rasa terima kasihnya seperti berbeda.

Rupanya ia kemudian menceritakan bahwa pada usianya yang menginjak 46 tahun pada 2017 ini, sebenarnya ia baru benar-benar mau dan mampu membaca Al Quran hanya dalam setahun belakangan ini. Bisa dibayangkan, warga dewasa dari sebuah negara yang berasaskan Islam, rupanya ada yang tidak bisa membaca Al Quran.

Kilas balik kehidupannya, sebenarnya saat kecil dulu ia sempat belajar ugama (agama). Pagi di sekolah formal, sore di sekolah ugama atau di Indonesia barangkali bisa disejajarkan dengan madrasah diniyyah ataupun taman pendidikan Al Quran. Ia juga mengungkapkan bahwa di sekolah pagi pun ada pelajaran ugama, tetapi sangat terbatas. Nyaris persis seperti umumnya sistem pendidikan di Indonesia, ya?

Sayangnya, ia akui, saat belajar ugama di sore hari, ia tak merasa bersemangat. Suka membolos, dan ujung-ujungnya tingkat satu pun tak bisa dilewatinya. Ya, belum genap satu tahun, ia tak melanjutkan sekolah ugama. Mungkin tidak terlalu penting untuk menelisik lebih jauh kenapa sampai berhenti sekolah ugama sehingga tingkat satu pun—dari enam tingkat dasar yang seharusnya dilalui—tidak bisa ia lewati.

Akan ada banyak alasan, mungkin, sama seperti sebagian juga teman-teman kita, orang Indonesia, negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, yang juga memilih atau dihadapkan untuk tidak melanjutkan madrasah diniyyah. Tidak ada yang perlu disalahkan. Jika kita adalah orang tua maka salahkanlah diri kita kenapa tidak memaksa anak-anak kita menuntaskan belajar mengajinya. Jika kita adalah anak-anak, remaja, atau dewasa yang merasa bertanggung jawab, maka salahkan diri kita kenapa tidak memaksa diri sendiri untuk belajar dasar-dasar agama. Bukan karena didesak orang tua, bukan pula karena didesak peraturan negara, misalnya. Ini kebutuhan kita, kebutuhan keluarga kita, yang ujung-ujungnya dapat memberikan manfaat untuk lingkungan yang lebih besar, termasuk negara.

Kembali ke cerita Brunei. Pada masa kecilnya tahun 1970-an, belajar di sekolah ugama pada sore hari tidak diatur oleh negara. Baru pada tahun-tahun belakanganlah, menurutnya, anak-anak diwajibkan untuk belajar ugama di sore hari, setelah belajar formal (baca: umum) di pagi hari. Tidak dijelaskan lebih lanjut mengenai peran negara yang mengatur kewajiban belajar ugama itu, juga bagaimana implikasi dan hasilnya kemudian.

Hanya saja, menurutnya, anak-anak Brunei zaman sekarang lebih beruntung dengan kewajiban itu. Tidak seperti dirinya yang baru sadar untuk mau belajar ugama, setidaknya membaca Al Quran, saat usia menginjak 45 tahun. Diakuinya tidak mudah juga untuk belajar Al Quran di tengah pembagian waktu untuk 3K yang selama ini menghiasi dan terasa sudah memenuhi atau mencukupi hidupnya: keluarga, kerja, kawan. Jika tidak dibarengi dengan tekad kuat, susah baginya untuk betul bisa mampu membaca Al Quran seperti keadaan saat ini, meski diakuinya masih juga banyak yang harus dikoreksi.

Di usianya yang 45 tahun, ia kembali belajar a-ba-ta-tsa. Dimarahi guru ngajinya berkali-kali adalah hal biasa. Terlihat juga bahwa guru ngajinya terkadang tampak kesal karena kesulitan membedakan tsa-sa-sya-sha atau dhad-zha’. Tertatih-tatih seperti itu, tetapi tetap ia jalani dengan tekun. Hasilnya, dalam setahun ini, konon ia telah mengkhatamkan Al Quran 3 kali. Saya hanya bisa mendorongnya untuk terus membaca Al Quran, tetapi saya ingatkan juga bahwa membaca Al Quran seyogianya harus ada gurunya, tidak bisa lulus serta lancar a-ba-ta-tsa dan seluk-beluknya kemudian sendirian mengkhatamkan Al Quran secara mandiri. Ia pun sempat terlihat kaget, namun kemudian berterima kasih atas nasihat itu.

Dulu, baginya, tidak bisa membaca Al Quran pun rasanya biasa saja. Di militer Brunei, setiap kesatuan sebenarnya ada tadarus rutin yang harus diikuti semua personel. Namun, ada saja cara mengakalinya kalau memang hendak mengelak. Misalnya, ia tetap mengikuti acara tadarus itu, tetapi saat samping kanannya selesai membaca, mikrofon diterimanya dan langsung diberikan lagi kepada samping kirinya untuk melanjutkan. Berbuat begitu karena malu, katanya, sebab menyadari diri tidak lancar membaca Al Quran. Hal ini menunjukkan betapa jika tidak ada tekad kuat dari dalam diri sendiri, memang tidak akan ada jalan untuk belajar dan memperbaiki diri.

Saat menceritakan kisahnya, ia berkali-kali menyebutkan kata penyesalan. Menyesal kenapa baru saat berusia 45 tahun menyadari bahwa membaca Al Quran adalah kewajiban. Baru menyadari membaca Al Quran mampu mendamaikan hati dan pikiran. Berkali-kali pula saya semangati bahwa lebih baik menyesal saat ini (atau tahun lalu) kemudian memperbaikinya daripada tidak ada penyesalan sama sekali.

Tidak ada kata terlambat. Tidak ada kata habis. Selagi napas masih dikandung badan, kesempatan belajar harus dimanfaatkan, betapa pun malunya saat ini. Lebih baik malu saat ini daripada tidak ada perbaikan. Sebaik apa pun bacaan kita saat ini, yakinlah bahwa masih ada bahkan banyak yang lebih baik lagi bacaannya. Mungkin juga sebaik-baik bacaan kita saat ini masih mengandung kesalahan, maka sebaiknya terus bertanya kepada yang lebih ahli.[]

Iligan City, 9 Agustus 2016