Saturday, January 26, 2013

Sekdilu XXXVII


Setelah melewati tahapan demi tahapan seleksi yang cukup melelahkan tenaga, pikiran, dan hati, tibalah saat berkumpul dengan teman-teman baru. Kamis (24/1/2013) siang menjadi deadline bagi peserta yang dinyatakan lulus seleksi CPNS Kemlu T.A. 2012. Sorenya, langsung diadakan acara pertama berupa perkenalan singkat dan briefing dari Direktur Sekolah Dinas Luar Negeri (Sekdilu) atau sebut saja “bos” untuk memudahkan.

Menurut bos, idealnya yang datang haruslah mewakili semua provinsi yang ada di tanah air. Namun, faktanya, dari tahun ke tahun, yang masuk hanya dari situ-situ saja. UI, Unpad, UGM, Unair. Jakarta, Bandung, Semarang, Yogya, Surabaya. Nyaris semua dari Jawa. Mungkin ada satu dua dari luar Jawa. Tapi sangatlah minim.

Tahun 2012, 60 kursi disediakan untuk formasi diplomat. Namun, dari 35 provinsi yang ada, tidak ada separuh yang memiliki “wakil”. Begitulah fenomena yang terjadi dari tahun ke tahun. Wajar saja, seluruh ujian dilakukan di Jakarta. Saat pendaftaran online, yang tentu saja bisa diakses dari belahan mana pun di dunia, tercatat 23 ribu lebih pendaftar. Tapi jumlahnya langsung mengecil menjadi sekitar 3000 saja saat ujian pertama di Jakarta.

Memang itu sudah melalui seleksi berkas. Namun, kalaupun 23 ribu orang itu lolos berkas semua, kira-kira tidak akan semuanya datang ke Jakarta. Bagaimana beratnya peserta dari pojok Aceh atau ujung Papua, harus datang ke Jakarta tiga kali untuk ujian, ditambah satu kali untuk daftar ulang jika lulus sampai tahap akhir.

Untuk itu, dari 59 orang Sekdilu angkatan 37—seharusnya 60, tapi satu mengundurkan diri—ini, 5 di antaranya merupakan peserta yang disaring melalui jalur khusus. Jalur ini merupakan kebijakan untuk memberikan kesempatan pemerataan pengabdian bagi talenta muda Indonesia yang jauh dari ibukota negara. Lima orang itu dari Aceh, Palangkaraya, Palu, Kendari, dan Manokwari.

Penguji dari Kemlu mendatangi langsung kota-kota itu, bekerjasama dengan perguruan tinggi setempat untuk menyeleksi calon-calon diplomat. Mata ujian yang dihidangkan rupanya sama dengan yang di Jakarta, tetapi dengan waktu yang lebih singkat. Di Jakarta antara 6-7 hari terpecah dalam 3 sesi (ujian tulis dasar dan substansi pada September; ujian bahasa pada Oktober; dan ujian psikologi serta lisan substansi pada November), tetapi di kota-kota itu hanya 2 hari.

Dua hari untuk semua mata ujian itu tentu menguras tenaga dan pikiran. Namun, kelebihannya adalah efisiensi waktu dan biaya. Baik biaya penguji maupun biaya peserta ujian. Yang pasti, asas pemerataan ini sangat penting agar stigma awal “Kemlu dari situ-situ saja” dapat diubah menjadi lebih baik: Kemlu dari seluruh Indonesia.

Keuntungan langsung bagi peserta Sekdilu 37 ini, dapat bertukar pikiran dengan berbagai macam latar belakang budaya, bahasa, selain pendidikan dan pengalaman. Keragaman ini sangat dibutuhkan untuk memperkaya wawasan duta bangsa saat ditugaskan di mancanegara, agar tidak ada salah persepsi bahwa Indonesia hanya Jawa atau yang dekat-dekat ibukota saja.[]

Anggrek 301, 19 Feb 2013

Thursday, December 20, 2012

Dari Pekalongan, Kembali ke Jakarta via Jogja


Domisili di Pekalongan, tetapi kembali ke Jakarta harus melalui Yogyakarta. Padahal, Yogya ada di sebelah tenggara Pekalongan, sedang Jakarta ada di barat Pekalongan. Namun, begitulah perjalanan kehidupan yang harus dilalui.

Tiga belas bulan tinggal di Jakarta, Februari 2008-Maret 2009 meninggalkan kesan cukup mendalam. Suka dan duka mewarnai perjalanan tiga belas bulan  itu. Sungguh-sungguh berkesan. Banjir, macet, dan polusi adalah hal yang paling menjengkelkan. Dan ketiganya adalah prototip Jakarta.

Jarak dan ketiga prototip Jakarta itu hanyalah merupakan tantangan, bukan hambatan. Atau hambatan yang dijadikan tantangan. Kini tantangan itu harus kembali untuk dihadapi. Diawali dengan berkelana di Yogya untuk melanjutkan kuliah di KTT UGM. Mulai September 2009, Alhamdulillah lulus Agustus 2011, lalu wisuda Oktober 2012.

Setahun berikutnya ada kesempatan, atau tantangan, balik ke Jakarta. Kali ini bukan swasta, melainkan rekrutmen CPNS Kementerian Luar Negeri. Menjadi diplomat adalah impian saat kuliah di Cairo dulu. Bercengkerama dengan para homestaff KBRI Cairo terasa menarik, lalu seperti ingin menarik diri untuk “bergabung” dengan korps mereka.

Itu pula salah satu alasan melanjutkan kuliah di Yogya. Dengan hanya S1, usia sudah habis untuk mendaftar CPNS Kemlu. Jadi, harus S2! Terima kasih kepada M. Najibul Khairi dan Wira Kautsari yang senantiasa “memanas-manasi” enaknya kuliah di KTT UGM. Bandingannya adalah dengan pekerjaan saat itu: editor di penerbit Jakarta.

Kuliah di Yogya berpendapatan (beasiswa) 1,5 juta, kerja berpendapatan 1,4 juta. Kuliah masuk paling 4-5 kali seminggu, itu pun hanya 2-4 jam di kampus tiap datangnya. Kerja masuk 5, bahkan belakangan 6 kali seminggu, mulai jam 8 pagi sampai jam 5 sore, belum kalau lembur. Siapa yang tidak ngiler?

Tapi sebenarnya kalau kondisi kantor masih mengasyikkan, saya tetap tak akan memilih kuliah lagi. Tapi itulah jalan hidup. Keluar kantor Maret 2009. Daftar S2 April 2009. Diumumkan diterima tanpa beasiswa Juli 2009. Eh, rupanya dapat beasiswa pada pengumuman September 2009. Ayo ke Yogya!

Dan rupanya ijazah Yogya itulah yang mengantarkan kembali langkah ke Jakarta yang: macet, banjir, polusi. Apa pun, profesi diplomat adalah impian. Seberat apa pun tantangan, siap dihadapi; cieeeeee…. :D

Yah, itulah yang terjadi. Sekarang, setelah daftar ulang ke Pejambon (5/12/12), lega rasanya. Lega sekali setelah melalui tahapan-tahapan tes yang begitu menguras tenaga. Dan… rasa yang paling terasa tentunya keberuntungan. Ya, tanpa keberuntungan, kiranya berat untuk dapat mengambil bagian dari 60 kursi yang tersedia. Walhamdulillah.[]

Wonoyoso, 19 Des 2012

Tuesday, November 20, 2012

Kisah Antikorupsi (1)

AB menyelesaikan S2-nya di Universitas Al-Azhar, sebagaimana ia mendapatkan gelar Lc.-nya. Sesaat setelah sidang tesis, ia pun mendatangi pembimbing utamanya. Sebagai rasa terima kasih, ia juga menyiapkan sejumlah uang untuk diberikan kepada sang pembimbing. Namun, sang pembimbing menolak dengan halus.

AB tak patah arang. Ia bertekad betul-betul bisa memberikan sejumlah uang itu kepada sang profesor. Maklum, selama bertahun-tahun di Al-Azhar, ia selalu mendapat beasiswa. Nyaris tak pernah mengeluarkan uang sepeser pun untuk keperluan pembelajarannya, apalagi uang yang kemudian diterimakan kepada dosen-dosennya.

Sebagai orang Indonesia yang menjunjung tinggi adat ketimuran, ia pun berniat mengucapkan terima kasih sekaligus berharap sang pembimbing mau menerima sejumlah uang. Tentu tidak sebagai suap atau semacamnya, karena toh nilai sidang tesis juga sudah keluar. Juga tidak ada kongkalikong sebelum sidang tesis antara dirinya dengan pembimbing utama untuk mengarahkan agar kelak dapat nilai tinggi.

Sidang tesis berjalan sebagaimana mestinya. Tidak ada intervensi atau arahan sedikit pun untuk menjadikan sidang tersebut menguntungkan salah satu pihak. Semua berjalan natural tanpa skenario. Artinya, memang tidak ada celah untuk terjadinya serah terima “uang terima kasih”.

Namun, tentu bukan itu niat AB. Ia ingin berterima kasih bukan karena nilai yang diterima saat sidang, atau berkat lancarnya jalannya sidang. Ia berterima kasih hanya karena merasa sang pembimbing telah betul-betul membimbingnya dengan baik, tulus, dan memberikan banyak manfaat. Sementara di sisi lain, AB merasa tak pernah mengeluarkan sesen pun untuk keperluan itu.

Karena itu, tekadnya betul-betul bulat untuk menyerahkan uang itu. Setelah ditolak pada kesempatan pertama, AB pun mencari siasat bagaimana uangnya itu bisa diterimakan kepada sang pembimbing utama. AB kemudian punya ide; memberikan hadiah mushaf, lalu uang itu dimasukkan ke dalam mushaf.

Setelah membeli mushaf, AB menghubungi pembimbing utama untuk diperkenankan sowan ke rumahnya. Pembimbing utama membolehkan, tetapi dengan syarat kedatangannya itu tidak untuk memberikan uang. AB setuju.

Pada hari yang ditentukan, AB sowan ke rumah pembimbing, tentu dengan membawa mushaf sebagai hadiah itu. Setelah berbasa-basi, AB mengeluarkan hadiah dan hendak menyerahkannya kepada sang profesor. Dengan halus, lagi-lagi profesor menolaknya. Menurut profesor, apa yang dilakukannya dalam membimbing selama ini sudah merupakan tugas dan kewajibannya, sehingga sama sekali tidak memiliki hak mendapatkan hadiah itu.

AB berkeras menyerahkan mushaf itu. Dengan memohon betul-betul, AB mengatakan bahwa hadiah itu diberikan dengan sangat ikhlas. Justru dengan ditolaknya hadiah itu, AB mengatakan akan merasa kecewa. Mendengar permohonan tulus seperti itu, sang profesor mulai luluh. Ia pun menyatakan siap menerima mushaf itu, tentu dengan syarat bahwa mushaf itu diberikan tidak ada kaitannya sama sekali dengan sidang tesis yang baru dijalankan. AB mengangguk.

Alhamdulillah, demikian pikiran AB saat pulang dari kediaman profesor. Sesampainya di rumah, hati AB pun terasa lega karena berhasil menyerahkan hadiah beserta uang sebagai bentuk rasa terima kasihnya.

Tak lama kemudian, muncul kejutan luar biasa. Kriiiing..., telpon genggam AB berdering. Ia pun segara mengangkatnya. Rupanya dari sang pembimbing utama. Dengan penuh sopan santun seperti biasa, AB menjawab panggilan itu. Tak disangka tak dinyana, rupanya sang profesor menelpon dengan kemarahan luar biasa. Melalui telpon itu, AB dimarahi habis-habisan karena berani-beraninya menyelipkan uang dalam mushaf yang diterima sang profesor.

Profesor juga mengingatkan kembali bahwa ia tak bisa menerima sepeser pun uang dari anak didiknya. Ia juga mengungkapkan bahwa pihak universitas telah memberikan anggaran tertentu kepada setiap pembimbing. Untuk itu, haknya sudah tercukupi, tidak perlu lagi mendapatkan tambahan dari pihak mahasiswa.

Satu hal yang paling mengagetkan adalah sang profesor mengancam jika uang dalam mushaf itu tak segera diambil, nilai yang sudah keluar saat sidang tesis justru akan dihapus! Tentu saja kata-kata pembimbing utama ini sangat menakutkan. AB pun bergegas mengambil kembali uang yang telah dengan sangat ikhlas ia siapkan untuk diberikan kepada sang pembimbing.[]

Wonoyoso, 18 Nov 2012

Friday, October 26, 2012

Daurah Tadribiyyah

Tajuk lengkap acara ini adalah "Daurah Tadribiyyah li Mu'allimii al-Lughah al-Arabiyyah li Ghair an-Nathiqin biha bi Kitab al-'Arabiyyah Baina Yadaik"

Hotel Dafam, Pekalongan
18-22 Oktober 2012

---underconstruction---




18 okt 2012
===
thoriqoh/metode:
-qawa'id wa tarjamah
-sam'iyyah syafahiyah
-mubasyiroh
-ittisholiyah
-intiqo'iyah

=====
pengajaran shout
-ta'rif
-tamyiz
-tajrid


19 okt 2012
====

pembelajaran bhs arab utk pemula
-cara lama:huruf-kalimat-hiwar
cara baru:
awal2 jgn ajari baca-tulis, ckup dengar dan ucapkan dulu
cara baru lbh cpt

=====


pembelajaran mufrodat
-bnyk dipake
-sesuai kbutuhan pndidikan
-sesuai jenjangnya
-utk dgunakan sbg sarana berhubungan dg org lain
-fusha

cara terangkan mufrodat:
-tunjuk brg
-tunjuk gmbar
-tamtsil makna
-tamtsil daur
-lawan kata
-padan kata
-sebut anggota/bagian2nya (kluarga=suami, istri, anak)
-isytiqaq kalimat
-terangkn dg b.arab
-ulangi bacanya
-cari di kamus!

langkah:
-taqdim/'ardh, melalui gambar, kalimat, dialog, bacaan.pastikan SEMUA siswa paham
-tadrib
-taqwim,


tujuan
1. bs mengucapkan
2. paham makna
3. bs mnggunakan dlm kalimat

======

tarkib: fungsi tanpa teori, utk pemula, diajarkan scr tdk lgsg
qawaid: fungsi dg teori, bukan utk pemula, diajarkan scr langsung


qa'idah
1. ta'limiyyah
: utk pelajar
2. ilmiyyah: utk para ahli/pakar
1. ta'limiyyah
: belajar bahas
2. ilmiyyah: belajar ttg bhs
1. ta'limiyyah
: tdk perlu tafshil
2. ilmiyyah: perlu tafshil
1. ta'limiyyah
: sarana belajar
2. ilmiyyah: tujuan belajar


================
20 okt 2012

kemampuan2 sbg tujuan ta'lim istima'
-bs membeda2kan suara huruf
-bs berdialog
-

langkah2 ta'lim istima' mukatstsaf
-siapkan siswa: tutup buku, tutup pintu spy tdk ada suara lain
-jgn baca bukunya sblm mndengar
-pelan2
-pastikan mereka paham, dg cara tanya mereka
-jgn hanya pastikan membeda2kan suara huruf, tp jg hrs pastikan paham atas makna kata/kalimat


====
maharatul kalam

langkah pengajaran
1. dialog2 yg jwbnya tertentu: masmuk? min aina anta?
2. dialog2 yg jwbnya luas: madza ta'kul?
3. mmbuat kata/kalimat tertentu/trbatas: shif ash-shuwar at-taliyah, qul asma' ma fish-shuwar
4. mmbuat kata/kalimat bebas: shif al-jawwa fi baladik, kaifa taqdhi uthlah usbu'iyyah

penting:
-pilih tema yg diketahui siswa
-buat kelompok, spy ksmptn mencoba brbicara lbh merata/bnyk
-pastikan menambah kemampuan bicara, bukan menambah pengetahuan
-pilih tema yg ada di sktr kita dr kejadian2 pnting
-smangati mereka agar mau bicara, salah tdk apa2, yg pntging brani, jgn takut dan jgn malu
-jgn potong bicara mereka d tngah ngomong, mskipun salah
***sbisa mgkn buat dialog2 yg hakiki, bukan buatan spt dlm buku
***pembelajaran tdk hrs slalu dlm kelas
***sesekali ada tamu ke kelas yg ngajak bicara bhs arab
***ksh tugas ktmu dosen trtntu dan ngomong bhs arab

pengajar jgn bnyk ngomong, siswa yg hrs bnyk ngomong

=======
21 okt 2012

latihan2
penting skali!
tanpa latihan, tdk dpt diketahui sejauh mana hasil pengajarn

tingkatan latihan:
1. tadrib aali: jawaban tertera
2. tadrib makna: jwbn tertentu, didahului bacaan/sima'ah, siswa hrs ditanya satu2 (tdk mgkn per klompok)
3. tadrib ittishal, ha huwal hadaf: prtanyaan dg jwbn luas/bebas, shg ada pngmbangan pngetahuan baru melalui prbdaan jwbn2 di antara para siswa

tadrib makna:
-baiknya ajukan soal dg kata/kalimat yg brbeda dg bacaan, jgn sama persis, biar jelas pemahamannya
-satu prtanyaan utk bnyk siswa, jgn cuma satu siswa

=====

maharatul qiraah

langkah2 qiraah mukatstsafah:
1. persiapan, pastikan smua siswa siap, tdk sibuk sndiri2
2. baca dg suara pelan
3. bikin latihan2
4. terangkan makna2 baru
5. baca dg suara keras, jika ada wktu (dmulai dg siswa yg paling baik)
6. PR

langkah2 qiraah hurrah/muwassa'ah: (biasanya di luar kelas, mgkn perpus, rmh/pr dll)
1. kasih siswa pemikiran umum
2. arahkan siswa membaca dan memahami, scr global saja
3. tnyakan ksulitan
4. arahkan utk diskusi
5. sesekali buatkan acara khusus brbhs arab, lalu dsuruh buat resume/ringkasan apa yg dipahami dr acara itu

=======

ujian harus:
1. tetap, tak lekang wktu dan tempat
2. jujur dan objektif
3. mudah dilaksanakan
4. bs mmbedakan

macam2 ujian brdasar tujuan:
1. ujian prsiapan
2. ujian pembagian kelas
3. ujian hasil belajar, bukan soal lulus atau tdk
4. ujian mlihat kmmpuan seseorg, mahir di bidang/unsur mana
5. ujian kemampuan berbahasa (smua bidang)

====
maharatul kitabah

marhalah:
1. rasm huruf
2. ta'bir muqayyad/muwajjah/muhaddad
3. ta'bir hurr

yg prlu diperbaiki dlm kesalahan kitabah hanya:
1. kesalahan berulang
2. kesalahan yg mmbuat tdk dpt dipahaminya kitabah


===============

22 okt 2012

manusia mengingat:
20% dr apa yg didengar
30% dr yg dilihat
50% dr yg didengar skaligus dilihat

manusia belajar:
83% dr penglihatan
11% dr pendengaran

===============

penutupan

ibnu taimiyyah:
man takallama bil arabiyyah fahuwa arabiyyun


Thursday, September 27, 2012

Kurikulum Antiterorisme


Kurikulum Antiterorisme

Beberapa pekan terakhir ini media cukup sering memberitakan perihal terorisme. Bermula dari penembakan terhadap anggota polisi di Solo, lalu penggerebekan para terduga teroris di Depok Jawa Barat, Solo Jawa Tengah, sampai Madiun Jawa Timur.

Mengiringi berita-berita tersebut, lalu muncul beberapa wacana untuk memperkuat usaha mencegah adanya aksi teror. Entah kebetulan entah tidak, rupanya kegiatan teror tersebut—baik dalam skala nasional maupun internasional—selalu melekat pada kalangan kaum muslimin. Dalam skala antarnegara, Islam dicap sebagai biang utama aksi teror menyusul ambruknya menara kembar WTC di New York akibat ditabrak pesawat yang kemudian dituduhkan dikendarai oleh anggota Al-Qaeda. Nama Al-Qaeda sendiri tentu sangat akrab dengan bahasa Arab, bahasa yang sangat dijunjung di antara kaum muslimin.

Adapun dalam skala nasional, meskipun tidak ada organisasi Islam resmi yang mengaku bertanggung jawab atas teror-teror di tanah air—yang mulai marak sejak Bom Bali I pada 2002, Islam harus menerima kenyataan dijadikan kambing hitam; seakan-akan berada di balik semua teror itu. Dalam hal ini, semua pihak tentunya harus lebih arif. Kalau mau memberikan stigma teror kepada Islam secara umum, tengoklah lebih dahulu kepada organisasi Islam terbesar di tanah air, Nahdlatul Ulama (NU).

NU, di samping ada organisasi Islam besar lain seperti Muhammadiyah dan Persis, dalam beberapa hal dapat dikatakan bisa mewakili. Nyatanya, dalam sejarah NU yang sejak berdiri pada tahun 1926, tak ada satu pun kegiatan teror yang dilakukan oleh—atau sekadar disematkan terhadap—organisasi ataupun personal NU. Kalaupun ada, mungkin terjadi pada masa prakemerdekaan, di mana teror itu bisa disematkan oleh kaum kolonial Belanda. Tentu saja oleh bangsa Indonesia, perlawanan terhadap penjajah, salah satunya yang dimotori oleh KH. Hasyim Asy’ari selaku pendiri NU melalui Resolusi Jihad, tidak bisa dikatakan sebagai terorisme terhadap bangsa ini.

Organisasi-organisasi Islam besar tersebut tak ada satu pun yang terkait secara langsung dengan aksi terorisme di tanah air. Lalu, bagaimana mungkin Islam secara umum harus menanggung cap sebagai agama teror? Tentu ada yang salah dalam pemberian stigma teror atas agama Islam.

Namun, kebetulan pelaku teror, terutama pelaku pengeboman dan perakit bom, rupanya selalu orang yang beragama Islam. Dan kebetulan pula, mereka yang terlibat itu selalu orang yang dianggap memiliki pengetahuan keislaman yang cukup. Dengan demikian, orang di luar Islam lalu mengambil kesimpulan bahwa “kecukupan” pengetahuan keislaman itulah yang mendorong seseorang melakukan aksi teror.

Berangkat dari situ, lalu muncul wacana untuk memberikan sertifikasi terhadap para ulama—setiap orang yang oleh masyarakat dianggap memiliki pengetahuan mencukupi terhadap kedalaman Islam. Atas wacana ini, ada beberapa tanggapan yang pro dan kontra, selain tanggapan adem ayem saja. Tanggapan adem ayem atau biasa saja tampak di antaranya diperlihatkan oleh NU, organisasi Islam terbesar di tanah air. Ketua Umum PBNU, Prof. Dr. Said Aqil Siradj mengungkapkan bahwa sertifikasi ulama mungkin saja dilakukan. Namun, tentu hal itu akan menemui banyak kendala. Hambatan utamanya adalah karena gelar ulama atau kiai merupakan pemberian masyarakat terhadap seseorang karena keilmuan, kealiman, dan peranannya dalam bidang keagamaan di tengah masyarakat.

Wajar saja Kang Said—demikian panggilan akrab Ketua Umum PBNU itu—menanggapi biasa saja wacana sertifikasi ulama itu. Hal itu karena NU sama sekali tidak merasa bahwa aksi teror berasal dari salah satu anggotanya. Sementara itu, rupanya ada beberapa tokoh, baik skala nasional maupun daerah yang ternyata merasa “panas” dengan wacana sertifikasi ulama. Kalangan yang dengan lantang menolak wacana itu merasa bahwa wacana itu hanya untuk memojokkan umat Islam dan para tokohnya. Tentu pandangan ini juga bukan tanpa sebab, karena sebenarnya para pelaku teror, meskipun kebanyakan adalah orang Islam, itu hanyalah sebagian kecil saja.

Wacana lain untuk menanggulangi aksi teror adalah pengadaan kurikulum antiterorisme di sekolah-sekolah. Usulan seperti ini sepertinya mengikuti usulan mengenai pengadaan kurikulum penanggulangan bencana sebagaimana diusulkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Untuk itu, berbagai pihak yang concern dengan pencegahan terorisme mengusulkan pelajaran antiterorisme bagi para pelajar di tanah air.

Sebelum usul ini dibahas lebih jauh oleh para pemangku kebijakan, alangkah baiknya mereka melihat sekeliling dahulu, dalam hal ini fakta bahwa nyaris tidak seorang pun warga atau kader NU yang menjadi terduga apalagi pelaku terorisme. Tidak dapat dibantah pula bahwa sejak berdirinya republik ini, NU rupanya tidak pernah terlihat ingin atau terlibat dalam gerakan yang mengganggu stabilitas nasional. Justru yang ada adalah NU melalui Banser menjadi salah satu tembok kukuh saat bangsa Indonesia menghadapi PKI—terlepas dari kontroversi pandangan bahwa sebagian anggota PKI dilanggar HAM-nya oleh tentara ataupun Banser yang konon dimanfaatkan sebagian pihak untuk memuluskan kekuasaannya.

Dengan fakta semacam ini, perlu ditelisik lebih jauh, sebenarnya apa rahasia NU terlihat begitu setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia, juga terlihat betapa kuat sikap toleransi warganya atas perbedaan yang berkembang di tanah air.

Jika mau mendatangi sekolah-sekolah NU, lalu melihat kurikulumnya, hampir dipastikan terdapat muatan lokal pelajaran ke-NU-an. Cobalah lihat lebih terperinci pelajaran ke-NU-an itu. Rupanya di dalamnya memuat nilai-nilai yang sangat mendukung sikap toleransi dan pengertian sebagai sesama warga Indonesia, bahkan sebagai sesama manusia.

Bahkan sejak tingkat dasar (SD/MI), kurikulum ke-NU-an di setiap tingkatan selalu mengajarkan 4 nilai penting yang dipegang NU. Keempat nilai dasar itu adalah tawassuth (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (berimbang), dan i’tidal (adil). Empat ajaran ini betul-betul shglkhjgghjsh

Karena begitu ditekankannya keempat nilai ini dalam pikiran pelajar di setiap sekolah NU, wajar jika kemudian nyaris tidak ada warga apalagi kader NU menjadi terduga atau pelaku terorisme. Untuk itu, ada baiknya barangkali BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) mendalami lebih lanjut kurikulum ke-NU-an yang antiteror ini. Dengan begitu, diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif pengganti atau pemerkaya kurikulum antiteror yang tengah diwacanakan dimasukkan ke sekolah-sekolah di tanah air.[]

Wonoyoso, September 2012