Sunday, August 22, 2010

Hadits Fase-Fase yang Dialami Manusia

1. Shahih Bukhari

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ وَكَّلَ فِي الرَّحِمِ مَلَكًا فَيَقُولُ يَا رَبِّ نُطْفَةٌ يَا رَبِّ عَلَقَةٌ يَا رَبِّ مُضْغَةٌ فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَخْلُقَهَا قَالَ يَا رَبِّ أَذَكَرٌ أَمْ أُنْثَى يَا رَبِّ شَقِيٌّ أَمْ سَعِيدٌ فَمَا الرِّزْقُ فَمَا الْأَجَلُ فَيُكْتَبُ كَذَلِكَ فِي بَطْنِ أُمِّهِ.

Artinya:
Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Sesungguhnya Allah swt. mengutus seorang malaikat untuk diserahi (mengurus) setiap rahim. Malaikat itu berkata, 'Wahai Tuhanku, ada setetes mani (di rahim).' Malaikat itu berkata lagi, 'Wahai Tuhanku, ada segumpal darah.' Malaikat itu berkata lagi, 'Wahai Tuhanku, ada segumpal daging.' Ketika Allah swt. berkehendak untuk menciptakannya (manusia), malaikat itu berkata, 'Wahai Tuhanku, (manusia ini akan Engkau ciptakan sebagai) laki-laki atau perempuan? Dia akan ditakdirkan sebagai orang yang sengsara aau bahagia? Bagaimana rezekinya? Kapan kematiannya?' Segala hal yang berkaitan dengan itu semua sesungguhnya sudah ditetapkan sejak manusia ada di perut ibunya." (HR. Bukhari)

2. Shahih Bukhari

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ حَدَّثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوقُ إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَبْعَثُ اللَّهُ إِلَيْهِ مَلَكًا بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ فَيُكْتَبُ عَمَلُهُ وَأَجَلُهُ وَرِزْقُهُ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ ثُمَّ يُنْفَخُ فِيهِ الرُّوحُ فَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُ الْجَنَّةَ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُ النَّارَ.

Artinya:
Abdullah (bin Mas'ud) meriwayatkan bahwa Rasulullah saw.—beliau orang yang jujur dan dapat dipercaya—bersabda, "Sesungguhnya (benih) setiap orang dari kalian ada di dalam perut ibunya selama empat puluh hari, lalu menjadi segumpal darah, juga selama empat puluh hari, lalu menjadi segumpal daging, juga selama empat puluh hari. Kemudian Allah mengutus seorang malaikat untuk mencatat ketetapan empat hal baginya, yaitu (1) amal perbuatannya, (2) kematiannya, (3) rezekinya, dan (4) kesengsaraan atau kebahagiaannya. Setelah itu, janin itu diberi roh (jiwa). Sesungguhnya jika seorang laki-laki yang selama hidupnya senantiasa menjalankan amal selayaknya para ahli neraka sehingga jarak antara dirinya dan neraka itu hanya tinggal sejengkal langkah, tetapi dalam catatan ketentuan (yang sudah ada sejak ia di dalam perut ibunya) itu ia ditetapkan melakukan amal perbuatan ahli surga, lalu ia melakukan perbuatan itu ( di akhir hidupnya) maka ia akan dimasukkan ke dalam surga. Sesungguhnya jika seorang laki-laki yang selama hidupnya senantiasa menjalankan amal selayaknya para ahli surga sehingga jarak antara dirinya dan surga itu hanya tinggal sejengkal langkah, tetapi dalam catatan ketentuan (yang sudah ada sejak ia di dalam perut ibunya) itu ia ditetapkan melakukan amal perbuatan ahli neraka, lalu ia melakukan perbuatan itu (di akhir hidupnya) maka ia akan dimasukkan ke dalam neraka." (HR Bukhari)

3. Shahih Muslim

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوقُ إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا ثُمَّ يَكُونُ فِي ذَلِكَ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَكُونُ فِي ذَلِكَ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ فَوَالَّذِي لَا إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا.

Artinya:
Abdullah (bin Mas'ud) meriwayatkan bahwa Rasulullah saw.—beliau orang yang jujur dan dapat dipercaya—bersabda, "Sesungguhnya (benih) setiap orang dari kalian ada di dalam perut ibunya selama empat puluh hari, lalu selama empat puluh hari pula ia menjadi segumpal darah, lalu selama empat puluh hari pula ia menjadi segumpal daging. Kemudian Allah mengutus seorang malaikat kepadanya. Roh pun ditiupkan kepada benih itu, lalu ditetepkanlah kepadanya empat hal, yaitu (1) rezekinya, (2) kematiannya, (3) amal perbuatannya, dan (4) kesengsaraan atau kebahagiaannya. Demi Dzat yang tiada tuhan selain diri-Nya, sesungguhnya jika seseorang di antara kalian yang selama hidupnya senantiasa menjalankan amal selayaknya para ahli surga sehingga jarak antara dirinya dan surga itu hanya tinggal sejengkal langkah, tetapi dalam catatan ketentuan (yang sudah ada sejak ia di dalam perut ibunya) itu ia ditetapkan melakukan amal perbuatan ahli neraka, lalu ia melakukan perbuatan itu ( di akhir hidupnya) maka ia akan dimasukkan ke dalam neraka. Sesungguhnya jika seseorang di antara kalian yang selama hidupnya senantiasa menjalankan amal selayaknya para ahli neraka sehingga jarak antara dirinya dan neraka itu hanya tinggal sejengkal langkah, tetapi dalam catatan ketentuan (yang sudah ada sejak ia di dalam perut ibunya) itu ia ditetapkan melakukan amal perbuatan ahli surga, lalu ia melakukan perbuatan itu ( di akhir hidupnya) maka ia akan dimasukkan ke dalam surga." (HR Muslim)

4. Musnad Ahmad

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ مَرَّ يَهُودِيٌّ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يُحَدِّثُ أَصْحَابَهُ فَقَالَتْ قُرَيْشٌ يَا يَهُودِيُّ إِنَّ هَذَا يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ فَقَالَ لَأَسْأَلَنَّهُ عَنْ شَيْءٍ لَا يَعْلَمُهُ إِلَّا نَبِيٌّ قَالَ فَجَاءَ حَتَّى جَلَسَ ثُمَّ قَالَ يَا مُحَمَّدُ مِمَّ يُخْلَقُ الْإِنْسَانُ قَالَ يَا يَهُودِيُّ مِنْ كُلٍّ يُخْلَقُ مِنْ نُطْفَةِ الرَّجُلِ وَمِنْ نُطْفَةِ الْمَرْأَةِ فَأَمَّا نُطْفَةُ الرَّجُلِ فَنُطْفَةٌ غَلِيظَةٌ مِنْهَا الْعَظْمُ وَالْعَصَبُ وَأَمَّا نُطْفَةُ الْمَرْأَةِ فَنُطْفَةٌ رَقِيقَةٌ مِنْهَا اللَّحْمُ وَالدَّمُ فَقَامَ الْيَهُودِيُّ فَقَالَ هَكَذَا كَانَ يَقُولُ مَنْ قَبْلَكَ.
Artinya:
Abdullah meriwayatkan bahwa seorang Yahudi lewat di depan Rasulullah saw. Orang Yahudi itu tengah berbincang-bincang dengan teman-temannya. Seorang Quraisy bertanya kepada orang Yahudi itu, 'Wahai orang Yahudi, orang ini (Rasulullah saw.) menyangka bahwa dirinya adalah seorang nabi.' Orang Yahudi menjawab, 'Kalau begitu, aku akan menanyakannya tentang sesuatu yang hanya diketahui oleh nabi.' Orang Yahudi itu pun mendatangi Rasulullah saw., lalu duduk di dekat beliau, kemudian berkata, 'Wahau Muhammad, dari apakah manusia diciptakan?' Rasulullah saw. menjawab, 'Wahai orang Yahudi, setiap manusia diciptakan dari campuran antara mani laki-laki dan mani perempuan. Mani laki-laki merupakan mani yang tebal (keras, kuat), darinya tumbuh tulang dan sel saraf. Adapun mani perempuan merupakan mani yang lembut (halus), darinya tumbuh daging dan darah.' Orang Yahudi itu lalu berdiri dan berkata, 'Begitulah jawaban para nabi sebelum dirimu.'" (HR Ahmad)

[]

Tuesday, July 27, 2010

Hadits tentang Keutamaan Surah-Surah di dalam Al-Qur`an

إِنَّ لِكُلِّ شَيْءٍ قَلْبًا وَقَلْبُ الْقُرْآنِ يس وَمَنْ قَرَأَ يس كَتَبَ اللَّهُ لَهُ بِقِرَاءَتِهَا قِرَاءَةَ الْقُرْآنِ عَشْرَ مَرَّاتٍ.

Rasulullah saw. bersabda, "Sesungguhnya segala sesuatu itu memiliki jantung, sementara jantung al-Qur`an adalah surah Yasin. Barang siapa yang membaca surah Yasin maka Allah swt. mencatat bahwasanya ia telah membaca al-Qur`an sebanyak sepuluh kali." (HR. Tirmidzi)


عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّهُ سَمِعَ رَجُلًا يَقْرَأُ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ يُرَدِّدُهَا فَلَمَّا أَصْبَحَ غَدَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ وَكَأَنَّ الرَّجُلَ يَتَقَالُّهَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ

Abu Sa'id al-Khudri meriwayatkan bahwa ia mendengar seorang laki-laki membaca surah al-Ikhlash secara berulang-ulang. Keesokan paginya, Abu Sa'id memberitahukan hal itu kepada Rasulullah saw. dan mengungkapkan bahwa laki-laki itu masih menganggap bahwa ia membaca (mengetahui) terlalu sedikit dari al-Qur`an. Rasulullah saw. pun bersabda, "Demi Dzat yang jiwaku ada dalam genggaman-Nya, sesungguhnya surah al-Ikhlash itu bobotnya sama dengan sepertiga al-Qur`an." (HR. Malik)


سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ أَقْبَلْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَمِعَ رَجُلًا يَقْرَأُ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَبَتْ فَسَأَلْتُهُ مَاذَا يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ الْجَنَّةُ

Abu Hurairah meriwayatkan, "Aku pernah bersama Rasulullah saw. dan mendengar seorang laki-laki membaca surah al-Ikhlash. Beliau pun bersabda, 'Wajib baginya.' Aku bertanya, 'Wajib bagaimana wahai Rasullullah?' Beliau menjawab, 'Wajib baginya surga.'" (HR. Malik)

عَنْ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ أَنَّهُ أَخْبَرَهُ أَنَّ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ وَأَنَّ تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ تُجَادِلُ عَنْ صَاحِبِهَا

Humaid bin Abdurrahman bin Auf meriwayatkan bahwa surah al-Ikhlash bobotnya sama dengan sepertiga al-Qur`an dan bahwa surah al-Mulk akan menjadi juru debat (pembela) bagi orang yang membacanya. (HR. Malik)


...قَالَ أَتُحِبُّ أَنْ أُعَلِّمَكَ سُورَةً لَمْ يَنْزِلْ فِي التَّوْرَاةِ وَلَا فِي الْإِنْجِيلِ وَلَا فِي الزَّبُورِ وَلَا فِي الْفُرْقَانِ مِثْلُهَا قَالَ نَعَمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَيْفَ تَقْرَأُ فِي الصَّلَاةِ قَالَ فَقَرَأَ أُمَّ الْقُرْآنِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا أُنْزِلَتْ فِي التَّوْرَاةِ وَلَا فِي الْإِنْجِيلِ وَلَا فِي الزَّبُورِ وَلَا فِي الْفُرْقَانِ مِثْلُهَا وَإِنَّهَا سَبْعٌ مِنْ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ الَّذِي أُعْطِيتُهُ

...Rasulullah saw. bertanya (kepada Ubai bin Ka'ab), "Apakah kamu mau aku ajarkan tentang satu surah al-Qur`an yang tidak diturunkan dalam kitab Taurat, Injil, maupun Zabur? Tidak ada pula surah lain di dalam al-Qur`an yang menyerupainya." Ubai menjawab, "Tentu saja, wahai Rasulullah." Beliau lalu bertanya, "Apa yang kamu baca ketika melaksanakan shalat?" Ubai menjawab bahwa ia membaca surah al-Fatihah. Rasulullah saw. kemudian bersabda, "Demi Dzat yang jiwaku ada dalam genggaman-Nya, itulah surah yang tidak diturunkan dalam kitab Taurat, Injil, maupun Zabur? Tidak ada pula surah lain di dalam al-Qur`an yang menyerupainya. Surah al-Fatihah itu merupakan tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan merupakan pembuka bagi al-Qur`an yang diberikan kepadaku." (HR. Tirmidzi)

لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ وَإِنَّ الْبَيْتَ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ الْبَقَرَةُ لَا يَدْخُلُهُ الشَّيْطَانُ
"Janganlah kalian jadikan rumah kalian seperti kuburan (sepi). Sesungguhnya rumah yang di dalamnya dibacakan surah al-Baqarah tidak akan dimasuki setan." (HR. Tirmidzi)

لِكُلِّ شَيْءٍ سَنَامٌ وَإِنَّ سَنَامَ الْقُرْآنِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ وَفِيهَا آيَةٌ هِيَ سَيِّدَةُ آيِ الْقُرْآنِ هِيَ آيَةُ الْكُرْسِيِّ
"Segala sesuatu itu memiliki puncak, sementara puncak al-Qur`an adalah surah al-Baqarah. Di dalam surah al-Baqarah ini terdapat ibu (tuan putri) dari semua ayat al-Qur`an, yaitu ayat kursi." (HR. Tirmidzi)

مَنْ قَرَأَ حم الْمُؤْمِنَ إِلَى { إِلَيْهِ الْمَصِيرُ } وَآيَةَ الْكُرْسِيِّ حِينَ يُصْبِحُ حُفِظَ بِهِمَا حَتَّى يُمْسِيَ وَمَنْ قَرَأَهُمَا حِينَ يُمْسِي حُفِظَ بِهِمَا حَتَّى يُصْبِحَ
"Barang siapa yang membaca surah al-Mu`min (Ghafir) ayat 1—3 dan ayat kursi pada pagi hari maka ia akan dijaga sampai sore hari dan barang siapa yang membaca keduanya pada sore hari maka ia akan dijaga sampai pagi hari." (HR. Tirmidzi)

مَنْ قَرَأَ الْآيَتَيْنِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ فِي لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ
"Barang siapa yang membaca dua ayat terakhir surah al-Baqarah maka itu sudah cukup baginya." (HR. Tirmidzi)

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ كِتَابًا قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ بِأَلْفَيْ عَامٍ أَنْزَلَ مِنْهُ آيَتَيْنِ خَتَمَ بِهِمَا سُورَةَ الْبَقَرَةِ وَلَا يُقْرَأَانِ فِي دَارٍ ثَلَاثَ لَيَالٍ فَيَقْرَبُهَا شَيْطَانٌ
"Sesungguhnya Allah swt. telah mencatat (memastikan atau menentukan) sejak dua ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi bahwa Dia akan menurunkan dua ayat yang menjadi penutup surah al-Baqarah. Jika dua ayat itu dibaca di sebuah rumah selama tiga hari berturut-turut maka rumah itu tidak akan didekati setan." (HR. Tirmidzi)

بَيْنَمَا رَجُلٌ يَقْرَأُ سُورَةَ الْكَهْفِ إِذْ رَأَى دَابَّتَهُ تَرْكُضُ فَنَظَرَ فَإِذَا مِثْلُ الْغَمَامَةِ أَوْ السَّحَابَةِ فَأَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تِلْكَ السَّكِينَةُ نَزَلَتْ مَعَ الْقُرْآنِ أَوْ نَزَلَتْ عَلَى الْقُرْآنِ
"Ada seorang laki-laki yang tengah membaca surah al-Kahfi lalu tiba-tiba ia melihat kudanya menghentak-hentakkan kakinya, kemudian sebuah awan atau mendung menaungi ia dan kudanya. Laki-laki itu pun segera mendatangi Rasulullah saw. dan menceritakan apa yang telah ia alami. Rasulullah saw. lalu bersabda, 'Itulah ketenangan yang turun bersama al-Qur`an.'" (HR. Tirmidzi)

مَنْ قَرَأَ حم الدُّخَانَ فِي لَيْلَةٍ أَصْبَحَ يَسْتَغْفِرُ لَهُ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ
"Barang siapa yang membaca surah ad-Dukhan pada suatu malam maka akan ada tujuh puluh ribu malaikat meminta ampunan untuknya. " (HR. Tirmidzi)

مَنْ قَرَأَ حم الدُّخَانَ فِي لَيْلَةِ الْجُمُعَةِ غُفِرَ لَهُ
"Barang siapa yang membaca surah ad-Dukhan pada malam Jumat maka dosa-dosanya akan diampuni. " (HR. Tirmidzi)

ضَرَبَ بَعْضُ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خِبَاءَهُ عَلَى قَبْرٍ وَهُوَ لَا يَحْسِبُ أَنَّهُ قَبْرٌ فَإِذَا فِيهِ إِنْسَانٌ يَقْرَأُ سُورَةَ تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ حَتَّى خَتَمَهَا فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي ضَرَبْتُ خِبَائِي عَلَى قَبْرٍ وَأَنَا لَا أَحْسِبُ أَنَّهُ قَبْرٌ فَإِذَا فِيهِ إِنْسَانٌ يَقْرَأُ سُورَةَ تَبَارَكَ الْمُلْكِ حَتَّى خَتَمَهَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هِيَ الْمَانِعَةُ هِيَ الْمُنْجِيَةُ تُنْجِيهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ
Ada seorang sahabat Rasulullah saw. memasang tenda di atas kuburan karena ia tidak tahu bahwa di bawah tendanya adalah kuburan. Ia baru menyadari setelah melihat seseorang membaca surah al-Mulk hingga selesai. Ia pun kemudian mendatangi Rasulullah saw. dan berkata, "Wahai Rasulullah, aku memasang tenda di atas kuburan karena sebelumnya aku tidak tahu kalau itu adalah kuburan. Aku baru menyadarinya setelah melihat seseorang membaca surah al-Mulk hingga selesai." Rasulullah saw. lalu bersabda, "Surah al-Mulk itu bisa menjadi penahan (siksaan bagi mayit). Surah itu juga menjadi penyelamat yang bisa menyelamatkan mayit dari siksa kubur." (HR. Tirmidzi)

إِنَّ سُورَةً مِنْ الْقُرْآنِ ثَلَاثُونَ آيَةً شَفَعَتْ لِرَجُلٍ حَتَّى غُفِرَ لَهُ وَهِيَ سُورَةُ تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ
"Sesungguhnya ada satu surah di dalam al-Qur`an yang terdiri dari tiga puluh ayat. Surah itu akan memberikan syafaat kepada seorang laki-laki yang membacanya sampai laki-laki itu diampuni dosa-dosanya. Surah itu adalah surah al-Mulk." (HR. Tirmidzi)

مَنْ قَرَأَ إِذَا زُلْزِلَتْ عُدِلَتْ لَهُ بِنِصْفِ الْقُرْآنِ وَمَنْ قَرَأَ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ عُدِلَتْ لَهُ بِرُبُعِ الْقُرْآنِ وَمَنْ قَرَأَ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ عُدِلَتْ لَهُ بِثُلُثِ الْقُرْآنِ
"Barang siapa yang membaca surah az-Zalzalah maka ia dianggap telah membaca setengah al-Qur`an. Barang siapa yang membaca surah al-Kafirun maka ia dianggap telah membaca seperempat al-Qur`an. Barang siapa yang membaca surah al-Ikhlash maka ia dianggap telah membaca sepertiga al-Qur`an." (HR. Tirmidzi)

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِرَجُلٍ مِنْ أَصْحَابِهِ هَلْ تَزَوَّجْتَ يَا فُلَانُ قَالَ لَا وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا عِنْدِي مَا أَتَزَوَّجُ بِهِ قَالَ أَلَيْسَ مَعَكَ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ قَالَ بَلَى قَالَ ثُلُثُ الْقُرْآنِ قَالَ أَلَيْسَ مَعَكَ إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ قَالَ بَلَى قَالَ رُبُعُ الْقُرْآنِ قَالَ أَلَيْسَ مَعَكَ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ قَالَ بَلَى قَالَ رُبُعُ الْقُرْآنِ قَالَ أَلَيْسَ مَعَكَ إِذَا زُلْزِلَتْ الْأَرْضُ قَالَ بَلَى قَالَ رُبُعُ الْقُرْآنِ قَالَ تَزَوَّجْ
Sesungguhnya Rasulullah saw. pernah bertanya kepada seorang laki-laki, "Apakah kamu sudah menikah, wahai fulan?" Laki-laki itu menjawab, "Demi Allah, aku belum menikah, wahai Rasulullah. Aku memang tidak memiliki apa-apa untuk sekadar dijadikan mahar." Rasulullah saw. bertanya, "Tidakkah kamu hafal surah al-Ikhlash?" Laki-laki itu menjawab, "Ya, aku hafal." Beliau menimpali, "Itu sepertiga al-Qur`an," lalu bertanya lagi, "Tidakkah kamu hafal surah an-Nashr?" Laki-laki itu menjawab, "Ya, aku hafal." Beliau menimpali, "Itu seperempat al-Qur`an," lalu bertanya lagi, "Tidakkah kamu hafal surah al-Kafirun?" Laki-laki itu menjawab, "Ya, aku hafal." Beliau menimpali, "Itu seperempat al-Qur`an," lalu bertanya lagi, "Tidakkah kamu hafal surah az-Zalzalah?" Laki-laki itu menjawab, "Ya, aku hafal." Beliau menimpali, "Itu seperempat al-Qur`an," lalu melanjutkan, "Kalau begitu menikahlah!" (HR. Tirmidzi)

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَقْرَأَ بِالْمُعَوِّذَتَيْنِ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ
Uqbah bin Amir berkata, "Rasulullah saw. memerintahkan aku agar aku senantiasa membaca surah al-Falaq dan surah an-Nas setiap kali selesai melaksanakan shalat (fardhu)." (HR. Tirmidzi)

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الْعِيدَيْنِ وَفِي الْجُمُعَةِ بِسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى وَهَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ قَالَ وَإِذَا اجْتَمَعَ الْعِيدُ وَالْجُمُعَةُ فِي يَوْمٍ وَاحِدٍ يَقْرَأُ بِهِمَا أَيْضًا فِي الصَّلَاتَيْنِ
Ketika shalat dua hari raya dan shalat jumat, Rasulullah saw. membaca surah al-A'la dan surah al-Ghasyiyah. Jika hari raya bertepatan dengan hari Jumat maka beliau tetap membaca dua surah tersebut saat shalat id maupun shalat jumatnya. (HR. Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa`i, dan Ahmad)

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْرَأُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فِي صَلَاةِ الصُّبْحِ الم تَنْزِيلُ وَ هَلْ أَتَى عَلَى الْإِنْسَانِ وَفِي صَلَاةِ الْجُمُعَةِ بِسُورَةِ الْجُمُعَةِ وَالْمُنَافِقِينَ
Sesungguhnya ketika shalat shubuh pada hari Jumat, Rasulullah saw. membaca surah as-Sajdah dan surah al-Insan. Adapun saat shalat jumat beliau membaca surah al-Jumu'ah dan surah al-Munafiqun. (HR. Nasa`i)

Tuesday, June 15, 2010

Korupsi di Sekitar Kita (2)

Seorang teman bekerja pada lembaga pemerintah yang salah satu tugasnya adalah memberikan lisensi kepada perusahaan swasta untuk mengeluarkan produk tertentu. Aku percaya bahwa ia memiliki integritas yang baik dan kiranya tidak termasuk orang yang mudah tergiur dengan harta—demi mempertahankan idealismenya.

Ia hafal Al-Qur`an, dan hafalannya itu memang sangat berguna untuk menunjang tugas-tugasnya. Selain karena memang lembaga pemerintah itu mewajibkan—atau paling tidak mengutamakan—mereka yang sudah hafal Al-Qur`an.

Suatu ketika sebuah perusahaan seluler A meminta lisensi untuk mengeluarkan salah satu produknya yang berisi muatan Al-Qur`an. Lembaga pemerintah itu pun segera mengecek software dimaksud. Tentu saja sang teman tadi kebagian tugas. Entah apa tugas spesifiknya, tetapi intinya adalah bahwa software Al-Qur`an yang akan ditanam pada ponsel keluaran perusahaan A tadi harus sesuai dengan ajaran Islam.

Setelah diteliti secara mendalam, diputuskan bahwa produk perusahaan A itu layak mendapatkan lisensi dari lembaga pemerintah dimaksud. Entah sekadar sebagai rasa terima kasih ataukah ada maksud lain, perusahaan A tadi memberikan "oleh-oleh" kepada lembaga pemerintah itu berupa sekian unit produk yang sudah berlisensi tadi. Karena jumlahnya cukup banyak, hampir semua karyawan pun kebagian ponsel itu, termasuk sang teman tadi. Alhamdulillah, senangnya dapat bonus....

Namun, di sinilah masalah mulai muncul. Hal ini berkaitan saat beberapa waktu kemudian, perusahaan B juga mengajukan permohonan untuk lisensi yang seirama dengan perusahaan A tadi. Penelitian pun dilakukan oleh lembaga pemerintah tadi. Walhasil, software untuk produk perusahaan B tadi juga dinyatakan layak mendapatkan izin untuk diperbanyak.

Manusiawi memang ketika para karyawan lembaga pemerintah itu menjadi berharap akan mendapatkan perlakuan dari perusahaan B sebagaimana diperlakukan oleh perusahaan A. Mereka pun seakan melewati hari demi hari di belakang meja kantor dengan menunggu kedatangan wakil dari perusahaan B dengan menenteng "oleh-oleh".

Namun, setelah ditunggu sekian lama ternyata tidak ada seorang pun dari perusahaan B datang lagi untuk bagi-bagi hape. Kekecewaan pun tak pelak menaungi wajah para karyawan lembaga pemerintah itu. Sialnya, hal itu diungkapkan pada orang lain, mungkin sekadar ingin curhat. Ia mengatakan, "Perusahaan A itu bagus, mau bagi-bagi hape yang sudah kita beri lisensi. Beda banget sama perusahaan B yang tidak tahu terima kasih; sudah diberi lisensi tapi seperti tidak tahu saja 'aturan main'nya."

Loh, kenapa bisa jadi begini? Hadiah yang tadinya diharapkan sekadar menjadi bonus kok berubah jadi bahan untuk menjelek-jelekkan pihak lain? Jangan-jangan, kalau kelak ada perusahaan B itu meminta lisensi lagi, bakal mendapatkan perlakuan yang tidak adil—semisal dipersulit atau malah tidak diberi lisensi sebagaimana mestinya. Atau bahkan nanti kalau perusahaan C datang maka sejak awal sudah diberi syarat: mau bagi-bagi produknya gak?

Mungkin semacam ini ya namanya gratifikasi. Wajar saja kalau kemudian gratifikasi ini diharamkan karena memang bisa—dan potensinya sangat besar—untuk mengubah kinerja seseorang, termasuk membuatnya tidak ikhlas bekerja.[]


Wonoyoso, 6 Juni 2010

Friday, May 21, 2010

Ketundukan Santri

Pekan lalu, saya mengunjungi sebuah pesantren besar di Jawa Timur. Bertepatan dengan hari Jumat, ibadah shalat jumat pun dilaksanakan di masjid kompleks pesantren tersebut. Tidak ada yang beda dengan masjid kaum nahdliyin pada umumnya, yang pada pukul 11 hari Jumat masjid sudah disesaki jamaah, yang kemudian bersama-sama membaca zikir.

Hanya saja, beberapa saat sebelum bedug tanda waktu shalat masuk dibunyikan, terlihat pemandangan yang jarang atau malah tidak pernah tampak di masjid lain. Shaf jamaah yang tadinya rapat dari depan hingga belakang di dekat pintu, tiba-tiba terbuka.

Hal itu didahului dengan suara tepukan salah seorang santri, lalu tiba-tiba barisan shaf paling belakang membuka sekira cukup dilewati 1-2 orang, lalu diikuti shaf yang di depannya, lalu depannya, lalu depannya lagi, begitu seterusnya sampai shaf paling depan. Tidak itu saja, santri yang berada di dekat shaf yang terbuka itu pun lalu berebutan meletakkan sajadahnya di shaf-shaf yang terbuka.

Rupanya hal itu membentuk semacam jalan dari pintu masjid di belakang hingga bagian masjid di shaf terdepan. Jika diukur, barang kali jalan itu bisa dilalui sekitar dua orang secara berjejeran. Jalan tersebut pun dilengkapi sajadah yang tertata rapi (atau minimal agak rapi) layaknya jalan seorang raja; yang terhampar dengan karpet merah membentang.

Tidak lama kemudian, seseorang tampak berjalan dengan agak cepat melalui "jalan" tersebut. Para jamaah—yang hampir semuanya santri—pun tampak menundukkan kepala mereka saat orang itu melewati shaf-shaf demi shaf dari belakang hingga ke depan. Hmmm... rupanya yang baru lewat itu adalah seorang kiai. Kiai yang tentu sangat dihormati oleh para santrinya.

Fenomena seperti ini barangkali sebenarnya sudah umum terjadi di kalangan pesantren. Ketundukan dan penghormatan yang begitu besar dari seorang santri terhadap kiainya tentu bukan barang aneh di pesantren. Walaupun, di luar sana, bisa saja akan muncul pro-kontra mengenai hal itu.

Pada zaman modern sekarang ini, ketundukan semacam itu mungkin dianggap sebagai pengkultusan individu yang tidak perlu. Bisa saja hal itu malah dianggap sebagai semacam "perbudakan". Namun begitu, tentu saja penghormatan seperti itu bukan tidak mengandung nilai positif. Dalam kitab-kitab klasik, dijelaskan bahwa seorang penuntut ilmu diwajibkan menghormati gurunya. Tentu hal ini merupakan nilai positif yang tidak terbantahkan, bahkan oleh ilmuwan modern sekalipun. Terhadap semua orang kita memang harus hormat, apalagi kepada orang yang memberikan dan menularkan ilmu kepada kita.

Hanya saja, penerjemahan atas penghormatan ini bisa bermacam-macam. Di kalangan pesantren, penghormatan diterjemahkan dengan tatacara seperti fenomena di atas itu; tentu sah-sah saja. Di tempat lain, mungkin ada penerjamahan yang lain sama sekali—berbeda jauh dengan implementasi penghormatan seperti terjadi di pesantren Jawa Timur itu; tentu juga sah-sah saja. Bahkan sesama pesantren pun memiliki tatacara yang berbeda dalam menerjemahkan "kewajiban menghormati guru" itu. Tidak ada yang perlu dipermasalahkan dalam hal perbedaan penerjemahan itu.


Ruang Kuliah KTT, 20 Mei 2010

Thursday, April 15, 2010

Kehilangan

Tidak ada yang tahu kapan kita kehilangan siapa, atau kapan siapa kehilangan kita. Semua terjadi seakan begitu cepat. Belum genap sebulan menikmati bulan madu, ternyata harus menguji hati atas kenyataan pahit.

Ahad pagi, 28 Maret 2010, saya dapat telpon bahwa sakit liver Bapak kambuh. Segera setelah mendapat kabar itu, saya bersama istri pun bergegas menuju terminal untuk mudik. Perjalanan sekitar lima jam mengantarkan kami ke pelukan orang tua. Saat itu rumah sangat ramai karena bertepatan ada peringatan haul wafat kakek kami.

Konon, liver Bapak kambuh karena memaksakan diri turut serta dalam mempersiapkan segala hal yang berkaitan dengan peringatan haul yang biasanya memang dibumbui pengajian dengan undangan cukup banyak. Bapak bahkan memaksa panitia agar undangan para tokoh masyarakat diantarkan langsung oleh Bapak; padahal dokter melarang Bapak bergerak terlalu banyak.

Seminggu sebelum pelaksanaan peringatan haul, Bapak memang tampak sangat sehat. Tak mengherankan jika beliau dengan begitu semagat mengantarkan satu demi satu undangan ke rumah tokoh-tokoh masyarakat di berbagai desa, beberapa juga di luar kecamatan dalam artian dengan jarak yang tidak dekat.

Mungkin akibat kecapaian mengantar surat itu, kaki dan perut Bapak membengkak. Keluarga pun khawatir terhadap kesehatan Bapak. Satu per satu anggota keluarga melarang Bapak meneruskan persiapan kepanitiaan. Namun, karena Bapak tidak merasa sakit, beliau pun tetap meneruskan mengantar undangan. Bahkan, belanja beberapa keperluan juga tetap dilakukan oleh Bapak.

Pada Sabtu, alias satu hari menjelang acara peringatan haul, Bapak ke pasar membeli beberapa keperluan acara. Itu pun ternyata dengan embel-embel membelikan sepeda untuk cucu. Surprise, begitu mungkin rancangan beliau. Hujan yang mengguyur sejak bakda zuhur membuat Bapak basah kuyup saat pulang.

Keluarga pun ketar-ketir dengan kesehatan Bapak. Benar saja, malam harinya, Bapak menggigil dan mengeluh kesakitan. Semalaman sampai tidak bisa tidur. Badan pun semakin membengkak. Keluarga semakin ketar-ketir, tetapi saat disarankan dibawa ke rumah sakit, Bapak menggeleng, bahkan menolak.

Entah kenapa, saat tiba acara peringatan haul, Bapak tampak kembali bugar menerima tamu. Memang saat selesai menerima tamu, Bapak memang minta dituntun untuk kembali ke ruang tidur.

Beberapa saat kemudian, saya bersama istri tiba di rumah. Alhamdulillah, Bapak tampak ceria seakan tidak merasakan sakit parah. Saat kami tanya, Bapak pun mengaku tidak apa-apa (sehat). Kembali saya menyarankan agar Bapak dibawa ke rumah sakit, beliau tetap menolak.

Malamnya, saya bersama keluarga bermusyawarah. Diputuskan bahwa Senin pagi mau tidak mau Bapak harus dibawa ke rumah sakit. Saat pagi tiba di Senin hari, Bapak pun hendak kami tuntun menuju kendaraan. Namun, Bapak kembali tegas menolak, "Tidak ada biaya," kata Bapak. Jawaban yang tentu membuat kami menangis, walau kami sangat menyadari bahwa Bapak memang tidak pernah mau merepotkan orang. Kami lalu segera mengatakan kepada beliau bahwa anak-anak masih memiliki cukup uang untuk merawat Bapak di rumah sakit.

Bapak pun pasrah saat digotong ke dalam mobil, lalu tampak duduk tenang di jok tengah. Kami pun merasa lega saat itu.

Sampai di rumah sakit sekitar pukul setengah sepuluh, kondisi Bapak masih tampak biasa. Begitu sampai tengah hari. Namun, menjelang pukul empat, tiba-tiba kondisi Bapak drop. Keluarga pun segera dikabari. Saya dan istri, juga Mas Hakim dan istri, yang tadinya menunggu rumah pun segera menuju ke rumah sakit.

Sesampai kami di rumah sakit, sekitar pukul setengah enam, Bapak memang sudah tidak sadarkan diri, bahkan bernapas pun harus ditopang alat bantu. Satu per satu anggota keluarga pun bergantian melantunkan kalimat thayyibah di telinga Bapak, sambil memegangi tangan atau bagian lain tubuh beliau. Saat tiba waktu maghrib, giliran saya berada di dekat wajah Bapak, memegangi tangan beliau, sambil membisikkan zikir di telinga beliau; sementara yang lain melaksanakan shalat maghrib.

Tidak sampai sepuluh menit kemudian, saya melihat denyut nadi Bapak semakin mengendur. Sangat jelas dalam bayangan, bahkan hingga saat ini, betapa sedikit demi sedikit, pelan-pelan, "napas" Bapak berjalan dari dada, leher, hingga terakhir wajah beliau tidak bergerak sama sekali. Jantung saya pun berdebar-debar, lalu berlari menuju ruang perawat.

Saat dua perawat datang, mereka segera mengecek denyut nadi di tangan Bapak. Sama seperti yang terus mereka lakukan sejak pukul empat sore hingga beberapa saat sebelum giliran saya berada di dekat Bapak.

"Sudah berapa menit?" tanya perawat. "Baru beberapa saat," jawab Ibu. "Inna lillah wa inna ilaihi raji'un. Enam lebih sepuluh menit. Diikhlaskan ya Pak, Bu...." Entah kenapa, seperti tidak percaya, saya bertanya kepada Ibu, "Kenapa Bu?" Ibu menjawab, "Bapak sudah tidak ada." Saya pun memeluk Ibu erat-erat....

....
.....
......
........

Inna lillah wa inna ilaihi raji'un. Saya pun tidak menyangka saya diberi kesempatan mudik ternyata untuk mengucapkan salam perpisahan dengan Bapak. Allahummaghfir lahu warhamhu wa 'afihi wa'fu 'anhu.[]


Ruang Kuliah KTT, 20 Mei 2010