Friday, January 03, 2014

Dalmas, Keahlian Baru Diplomat 37

Selama ini jamak diketahui bahwa tugas-tugas diplomat terangkum dalam lima hal: representing, negotiating, promoting, protecting, danreporting. Namun, satu lagi tugas yang harus diemban dan membutuhkan “keahlian khusus” kiranya bakal (barangkali) diwajibkan—seiring prioritas perlindungan WNI di visi-misi Kemlu, yaitu tugas pengendalian massa (dalmas).
 
Kalau dulu polisi selalu diandalkan untuk mengendalikan massa, sehingga muncul satuan polisi dalmas, maka di KJRI Jeddah periode Oktober-November 2013 para diplomat mudalah yang tampil terdepan untuk menenangkan massa. Sebenarnya ada 13 personel dari Mabes Polri yang diperbantukan di KJRI Jeddah pada masa-masa itu, tetapi ke-13 korps bhayangkara itu lebih ditekankan untuk mengamankan area kantor KJRI Jeddah dan menjadi “penyusup” (intelijen) di tengah-tengah setiap kerumunan WNI overstayers (WNIO) di Jeddah.
 
Sementara itu, sepuluh diplomat muda yang tengah magang senantiasa berada di garis terdepan menghadapi kerumunan massa. WNIO dapat diklasifikasikan menjadi dua kelompok besar: (i) yang ingin terus bekerja sehingga mencari majikan lalu membawa majikannya ke KJRI untuk mengurus perjanjian kerja, paspor, dan izin tinggal; serta (ii) yang ingin pulang ke tanah air sebelum masa amnesti berakhir 3 November.
 
Menghadapi para WNIO kelompok kedua lebih “seram” karena kelompok pertama pada umumnya sudah memiliki kepastian masa depan dengan adanya pegangan (majikan) baru, sedangkan kelompok kedua di tengah-tengah kegalauan, antara rindu tanah air dan undocumented. Di sisi lain, birokrasi di Arab Saudi tidak mudah ditembus untuk mempermudah kepulangan para WNIO ini. Jadilah para WNIO ini mudah kalap saat dihadapi dan mereka tidak mendapat apa yang dituntut. Dengan segala cara, WNIO ini merengek-rengek minta dilayani paling awal dan langsung jadi, padahal dia datang belakangan, tak berdokumen lengkap, bahkan dokumen yang ada kadang tidak sesuai jatidirinya.
 
Menyebalkan
Belum lagi adanya calo yang berkeliaran. Biasanya mereka ini paling rajin bertanya. Rasanya bukan untuk mencari kejelasan, melainkan hanya ingin mengganggu fokus kerja kita. Satu orang calo kadang “harus” dilayani 2-3 orang di antara kita, hingga tak terasa siang atau petang sudah menjelang. Kata ajian mereka adalah “seandainya….” Itu karena mereka hendak menanyakan untuk klien-kliennya, yang parahnya kadang dia tidak tahu pasti keadaan kliennya. Yang penting untung berat! Kita pun harus menghadapi dengan ajian pemungkas: saya tidak mau berandai-andai, lakukan sesuai prosedur, kalau ada masalah baru hubungi kami. Tanya-jawab dengan WNIO pun kemudian dibatasi 5 menit tiap orang; karena yang hendak bertanya sungguhan juga seabreg.
 
Selain kelakuan calo berkewarganegaraan nusantara itu, masalah pelik lainnya adalah menghadapi petugas imigrasi Saudi. Karakter mereka yang bossy dan keras kepala sungguh menyebalkan. Kalaupun pimpinan mereka sudah bertekad mempermudah, rupanya petugas-petugas di lapangan ini mau seenaknya sendiri. Pernah suatu malam kita tongkrongi mereka dari magrib (sesuai arahan bos mereka untuk lembur). Dalam 2 jam, mereka berhasil menyelesaikan 10 nomor mauquf. Lambat nian. Namun, jam-jam berikutnya kita akali dengan “mengambil alih” posisi mereka.
 
Berbekal gadget terbaru, pulsa ratusan riyal, laptop, dan (oh no!) “hadiah-hadiah” lainnya, mereka mempersilakan kita mengoperasikan komputer. Hasilnya? Empat jam kita bisa selesaikan 1017 nomor mauquf! Beruntung malam itu tidak ada calo yang datang. Biasanya kalau ada calo, para petugas itu dengan sigap bekerja di depan komputer mengurus klien khusus itu. Konon, calo berani membayar 2000 riyal untuk 1 klien. Terjawablah kenapa petugas itu ogah-ogahan melayani kita yang “hanya” berbekal ID Card consulate general. Itu pula salah satu sebab yang membuat pengurusan nomor mauquf harus mengurus 2-3 minggu, padahal semestinya bisa dikerjakan 1-2 hari (dengan asumsi WNIO menjadi klien terbanyak, di atas negara-negara lain seperti Ethiopia, Bangladesh, Pakistan dll).
 
Mengharukan
Tidak semua WNIO tak punya hati atau hanya mementingkan diri sendiri. Ada juga di antara mereka yang penurut, sadar telah menyalahi aturan, dan penyabar. Bahkan, lebih dari itu, saat-saat mereka tahu kita membutuhkan sesuatu hal, mereka pun membantu. Pernah saat salah seorang peserta magang sendirian mengatur antrean ratusan WNIO di loket biometrik, keadaan berubah kacau karena WN asing overstayers mengacak-acak antrean rapi WNIO. Ada pula beberapa WNIO bandel yang hendak memotong antrean. Berbekal megaphone berbatrei penuh, ia pun berusaha menenangkan keadaan. Beberapa waktu kemudian, 2 orang teman peserta magang datang, ia pun meminta air. Tak dinyana, beberapa WNIO yang tengah mengantre malah langsung mengeluarkan air mineral mereka dan menyodorkannya. Mereka seperti berebut agar air mineral merekalah yang dipilih untuk diambil dan diminum.
 
Hari yang sama, menginjak tengah malam (hari itu bekerja dari Kamis pukul 7 pagi sampai Jumat pukul 3 dinihari, nonstop!), tiba-tiba datang seorang WNIO membawa plastik berisi beberapa kotak jus. “Terima kasih telah membantu kami,” ujarnya. Rupanya ia sudah selesai proses biometrik, pergi keluar dan kembali lagi membawakan jus-jus itu untuk kami. Padahal kami yakin ia sudah ada di wilayah tarheel itu sejak pagi hari dan malam hari baru selesai. Namun, walhamdulillah, dia masih bisa bersyukur dan berbagi dengan kami. Mungkin ia bisa melihat masih ada ratusan lagi yang (juga dari pagi) dengan sabar menunggu antrean biometrik. Semoga dia tidak merepotkan diri; semoga ia termasuk TKI yang tabungannya banyak.
 
Melelahkan
Dua hari terakhir masa amnesti, kami diberi tugas untuk menelpon 1.671 WNIO yang sudah mendaftar exit tapi tak bisa dilanjutkan karena aparat Saudi sudah menutup pelayanannya. Sebagian dengan legowo menerima berita itu dan mau menunggu arahan KJRI berikutnya. Namun, ada pula yang histeris menangis melalui telpon itu, menyatakan sudah rindu berat dengan keluarga di tanah air. Lebih sedih lagi, sebagian di antara mereka mengaku mendengar ajakan untuk berkumpul ke KJRI tanggal 4 November (hari pertama setelah amnesti). Beruntung mereka akhirnya mau mendengarkan penjelasan kami sehingga urung datang. Berbusa-busa mulut kami dibuat menelpon itu. Belum lagi rupanya nomor ponsel kami cepat menyebar di antara WNIO sehingga selain menelpon juga menjawab telpon untuk menjelaskan hal yang sama kepada mereka. Kami memang tidak menggunakan telpon kantor karena keterbatasan waktu sekaligus pesawat telpon.
 
Hanya saja, 1.671 itu rupanya baru sedikit dibanding WNIO yang sudah terdata oleh KJRI. Masih ada ribuan lagi WNIO yang dengan mudah digiring oleh entah siapa untuk berkumpul di bawah jembatan layang jalan Palestina (kubri syari’ filistin). Dengan iming-iming “pulang gratis”, mereka pun dalam sekejap menguasai kubri. Betapa pendek logika mereka: datang ke kubri akan mengantar mereka sampai kampung halaman!
 
Kubri itu berada di tengah kota nan ramai. Nyaris tiap sopir taksi di Jeddah pun tahu, “Orang Indonesia ada apa kumpul di kubri?” Pimpinan KJRI pun mencari solusi mengatasi ini. Bukan apa-apa, melainkan keberadaan mereka menyebabkan jalanan Jeddah semakin macet. Setelah berkoordinasi dengan pihak kepolisian dan imigrasi, aparat Saudi memperbolehkan mereka dibawa ke tarheel (Rudenim) baru di Syumaesi. Ya iyalah, justru awalnya aparat Saudi berjanji akan menangkapi setiap overstayers¸warga negara mana saja, lalu dibawa ke Syumaesi dan dideportasi. Ini artinya WNIO menyerahkan diri dengan berada di kubri itu. Untuk tidak membiarkan WNIO telantar kelamaan dan juga membantu mempermudah aparat Saudi, KJRI menyewa 55 bus untuk mengangkut 3.561 WNIO dari kubri ke Syumaesi. “Dimanjakan” demikian, WNIO di tempat masing-masing pun tak mau kalah. Keesokan harinya, kubri sudah sesak lagi dengan 2.477 WNIO. Butuh 36 bus untuk mengangkut mereka.
 
Mengatur ribuan WNIO itu ke dalam bus juga tak seperti membalik telapak tangan. Nyaris setiap mereka merasa paling berhak masuk bus duluan. Repotnya lagi, bawaan mereka juga koper-koper besar seperti orang pulang haji. Dengan telaten kita pun turut membantu mengangkat tas-tas itu, terutama milik ibu-ibu. Dalam hal ini, insiden kecil sempat terjadi, yaitu saat salah seorang ibu protes, “Tas saya jangan dilempar-lempar begitu dong.” Peserta magang pun menimpali, “Ibu kira kita pelayan hotel?” Bukan apa-apa, waktu kita sempit, tenaga terbatas, dikejar-kejar WNIO yang berdesak-desakan hendak maju duluan. Kalau harus menata tas seperti bellboy hotel, bisa semakin kacau antrean yang ada.
 
Tidak mau membuat WNIO manja lagi, sore hari kedua pun KJRI menugaskan 5 orang peserta magang untuk “menduduki” kubri dari siang hingga sore. Tugasnya adalah memberi tahu setiap WNIO yang datang agar  kembali ke rumah saja. Toh, Syumaesi, seperti penjelasan aparat Saudi, sudah penuh. Memang disiapkan untuk menampung 35.000 orang, tetapi rupanya baru siap untuk 3.000 penghuni. Bukan WNIO kalau tidakngeyel. Mereka pun tak terima dengan penjelasan kami. Ironisnya, sebagian WNIO itu mengira mereka masuk ke dalam bus-bus itu lalu menuju bandara, pulang ke tanah air. Bahkan, salah seorang di antara mereka sempat melempar sebuah batu kecil dan mengenai salah satu peserta magang. Stay cool
 
Hari ketiga, KJRI menyediakan bus di tarheel lama saja, dengan pertimbangan area lebih luas sehingga memudahkan pengaturan dan jauh dari keramaian sehingga tidak mengganggu jalanan dan keseharian penduduk setempat. Berkat “kebiasaan” dalmas mengatur ribuan WNIO itu, hari ketiga pun berjalan lebih lancar. Mengatur 1.283 orang ke dalam 19 bus terasa lebih ringan.
 
Hari berikutnya, peserta magang diperbantukan di tarheel Syumaesi. Tugas utama adalah memonitor perkembangan para WNIO yang ada di rudenim tersebut. Rupanya distribusi konsumsi di rudenim belum terlalu baik. Wajar, mengingat rupanya rudenim tersebut baru siap menampung 3.000 orang, sementara orang Indonesia saja sudah ada 7.321, belum lagi warga negara lain yang juga “berhak” menghuni. Jadilah peserta magang mengangkat makanan, air mineral, dan obat-obatan ke ruang-ruang tahanan.
 
Nah, rupanya sebagian mereka bisa menyelundupkan ponsel ke dalam ruang tahanan itu. Sebagian mereka pun tahu nomor kita. Jadilah (lagi-lagi) kita sebagai pelampiasan. Telpon, sms. “Pak, saya pingin pulang cepet.” “Pak, saya belum makan.” “Pak, saya pingin keluar dan kerja lagi saja.” “Pak, tolong keluarkan kami dari sini.” “Pak, teman saya ponselnya disita.” Kita jelaskan lagi bahwa Syumaesi adalah rudenim, kawasan khusus yang bahkan sebenarnya kita tidak boleh masuk sama sekali. Jadi kalau KJRI bisa memasukkan sebagian makanan, meskipun kurang, ya sebaiknya tetap disyukuri. Beruntung, sepekan berikutnya tidak ada lagi keluhan-keluhan itu. Barangkali pihak rudenim sudah lebih siap menghadapi lebih banyak oversyaters.
 
Memilukan
Bayangan kita atas TKI yang minta dipulangkan adalah terintimidasi, tak bisa berbuat apa-apa, dandanan seadanya, dan wajah memelas. Sifat terakhir memang selalu tampak, entah dibuat-dibuat atau memang asli. Namun, rupanya di antara mereka ada yang berdandan menor. Malah, pernah suatu ketika saat hendak masuk ke dalam pesawat, sesuai aturan adalah tahanan imigrasi tidak boleh membawa tas tentengan. Artinya barang berharga pun harus masuk bagasi, atau dikenakan di badan. Rupanya di antara WNIO itu ada yang membuka kopernya, lalu mengeluarkan beberapa gelang emas. Bergemerincinglah lengannya dengan kilauan-kilaun perhiasan itu. Mungkin ia takut di bagasi tidak terlalu aman.
 
Ada pula yang tiba-tiba pingsan karena tak lolos screening di bandara. Rupanya ia menjadi DPO kriminal. Setelah ditelusuri, dengan lemas ia mengaku pernah dilaporkan majikan karena mencuri. Ia membela diri; bukan mencuri, melainkan melarikan diri karena dilecehkan secara seksual oleh majikan. Lagi-lagi ia pingsan. Kerudungnya pun disingkapkan agar ia mendapat udara lebih banyak. Rupanya telinganya penuh tindik. Saat sadar kembali, ia mengaku beberapa kali diajak mesum majikan. Awalnya, ia dipersilakan menelpon keluarga di tanah air, tetapi harus melalui telpon di kamar pribadi majikan. Di situlah ia digerayangi. Berapa kali itu terjadi? Dengan santai ia mengaku, “Berulang kali….” Loh? Parahnya lagi, seorang laki-laki, lebih muda, awalnya selalu bersamanya, diakui sebagai suaminya, setelah tahu TKW ini tidak mungkin terbang, tiba-tiba ia berjalan begitu saja meninggalkannya. Ia pun pingsan lagi, mengakui bahwa laki-laki itu bukan suaminya.
 
Kisah lebih memilukan didapat dari seorang WN Arab Saudi yang beristrikan seorang Sunda. WN Saudi ini dengan baik hati menjemput kami di penginapan untuk singgah ke rumahnya. Penganan, makanan, dan minuman beragam pun disuguhkan untuk kami. Inilah gambaran WN Saudi yang baik hati. Di tengah menikmati hidangan, ia bercerita mengenai plus-minus keberadaan TKI. Ia mengakui bahwa TKI banyak yang baik, tapi tak sedikit pula yang jahat, atau sekadar kurang beruntung. Ia lalu memperlihatkan beberapa video di youtube tentang kebejatan para TKI. “Kulla yaum disko fil-bait.” Setiap hari menari-nari saja di rumah. Rupanya, ia menengarai bahwa saat majikan tidak di rumah, sebagian TKI mengundang teman-temannya untuk menari-nari dengan gaya dan dandanan sensual. Video lainnya menampilkan TKI yang dengan terkekeh dan secara murah meriah digerayangi WN Bangladesh.
 
Menyarankan
Dengan kondisi demikian komplikatif, keyakinan untuk melindungi para WNIO itu sempat goyah. Namun, sebagaimana pesan-pesan Pak Konjen, kita harus mengedepankan rasa empati dan kemanusiaan. Betapa pun mereka salah, mereka adalah warga negara Indonesia yang berhak mendapat perlindungan. Bukan melindungi kesalahan mereka, melainkan melindungi hak-hak mereka sebagai warga negara. Toh sebagian mereka juga adalah korban trafficking yang bahkan tak tahu batas-batas kewenangan negara. Namun, ke depan harus disiapkan reward and punishment agar tak ada lagi WNIO yang mempermainkan aparat dengan cerita bertele-tele. Mereka yang dengan tulus menceritakan kisah peliknya harus segara ditolong, sementara mereka yang terbukti berbohong bisa mendapatkan penundaan layanan.[]

Radio Dalam, 5 Des 2013

Wednesday, December 04, 2013

DOA PERPISAHAN KAPUSDIKLAT

Bismillah, hamdalah, shalawat.
Allahummaj’al jam’ana hadza jam’an marhuma, wa tafarruqana mim ba’dihi tafarruqan ma’shuma.
Ya  Allah,  jadikanlah pertemuan  kami  ini  sebagai pertemuan yang Engkau rahmati,  dan  perpisahan  kami   setelah  ini , perpisahan yang Engkau jaga dan Engkau pelihara.
Rabbana adkhilna mudkhala shidqin wa akhrijna mukhraja shidqin waj’al lana mil ladunka sulthanan nashira.
Ya Allah, masukkanlah kami dengan cara masuk yang baik dan benar, keluarkanlah kami dengan cara keluar yang baik dan benar, serta jadikanlah jabatan/kekuasaan yang Engkau berikan kelak bisa menolong kami di kemudian hari.
Ya Allah, saat ini kami berkumpul, dalam rangka pelepasan Bapak Kapusdiklat kami tercinta, orang tua kami, sekaligus guru kami, Bapak Duta Besar Hazairin Pohan. Kami mohon, kiranya acara ini berada dalam ridha-Mu.
Ya Allah, dengan tiada terasa, masa bakti Bapak Duta Besar Hazairin Pohan sebagai Kepala Pusdiklat Kemlu, secara resmi mendekati ujungnya. Kami sangat mencintai beliau. Kami sangat bangga dengan beliau. Kami sangat banyak mendapat bimbingan dan arahan dari beliau. Kami akan sangat kehilangan dengan berakhirnya masa tugas beliau di sini.
Oleh karena itu, ya Allah, jadikanlah acara pelepasan ini sebagai pelepasan secara formal semata. Jadikanlah acara perpisahan ini sebagai perpisahan dalam makna organisatoris belaka. Hati kami telah begitu menyatu dengan hati beliau.
Ya Allah, janganlah cerai-beraikan hati kami, hanya karena berakhirnya masa bakti beliau. Kami mohon, ya Allah, peliharalah persaudaraan dan kekeluargaan di antara kami dengan beliau, langgengkanlah kehangatan dan keakraban di antara kami dengan beliau, serta jadikanlah hubungan selanjutnya, antara kami semua dengan beliau, sebagaimana hubungan kami saat ini yang penuh dengan kedamaian dan kemesraan.
Kami mohon, ya Allah, limpahkanlah kepada beliau, umur yang panjang, kesehatan yang prima, kehidupan yang berkah, serta ketenangan dan kebahagiaan yang sejati. Limpahkanlah kepada kami semua, taufik dan hidayah-Mu, sehingga kami semua mendapatkan kebahagian di dunia dan kebahagiaan di akhirat.
Rabbana atina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina ‘adzaban nar. Wa adkhilna ma’al abrar ya aziz ya ghaffar ya rabbal alamin. Shalawat. Salam.

Caraka Loka, 29 November 2013

Friday, November 29, 2013

KJRI Imbau WNIO di Rudenim Saling Pengertian

Ribuan WNIO yang ditahan di Rudenim Syumaisi kini berada di bawah kewenangan pemerintah Arab Saudi. Namun, mengingat persiapan awal yang hanya akan menampung 3000 warga asing ilegal, distribusi makanan dari pemerintah Saudi kepada tahanan pun agak tersendat. Apalagi, warga Indonesia saja jumlahnya hampir mencapai angka 8.000.

Karena itu, pihak KJRI Jeddah menyiapkan bahan makanan tambahan untuk dapat dibagikan kepada WNIO yang ada di Rudenim Syumaisi. Air mineral, makanan, dan obat-obatan secara bergantian dibagikan ke blok-blok tahanan yang dihuni WNIO.

Sayangnya, terkadang pembagian makanan tidak dikoordinir langsung oleh sipir. Sipir di beberapa blok memang memperbolehkan petugas KJRI untuk membagikan langsung ke tangan WNIO, sementara di blok lainnya dibagikan oleh para sipir itu.

Sayangnya, beberapa kejadian menunjukkan sipir hanya menaruh makanan di dekat pintu, lalu para tahanan mengambil makanan sendiri-sendiri. Dalam hal ini, sangat disayangkan karena beberapa WNIO mengeluh tidak kebagian jatah, padahal jumlah yang dibawakan sudah disesuaikan dengan jumlah penghuni blok tersebut. 

Tadi malam, Jumat (8/11), malah ada satu blok yang berisi 68 orang kekurangan sampai 24 box nasi. Hal itu disinyalir karena ada beberapa WNIO yang mengambil jatah temannya.

Untuk itu, KJRI mengimbau para WNIO untuk mengedepankan tenggang rasa kepada sesama, terlebih sama-sama tengah berada dalam tahanan yang tidak memungkinkan untuk membeli makanan atau jajanan.[]

kjrijeddah, 9 nov 2013

Wednesday, November 27, 2013

KJRI Tenangkan WNI Overstayers di Jeddah

Sejak menjelang berakhirnya masa amnesti di Arab Saudi (3/11), KJRI Jeddah terus berusaha menenangkan para WNI overstayer (WNIO) di Jeddah. Mengingat banyak info liar yang beredar di antara masyarakat WNIO, KJRI menugaskan sedikitnya 10 orang staf untuk menelpon WNIO agar mereka tetap tenang meskipun masa amnesti sudah berakhir.

Dalam telpon itu, WNIO diberi tahu mengenai kebijakan Arab Saudi terhadap warga asing overstayer. Sesuai pengumuman resmi pemerintah Saudi, warga asing overstayer yang ditangkap akan dibawa ke Rudenim Syumaisi. Perwakilan-perwakilan atau konsul negara asing pun sudah diajak untuk melihat rudenim tersebut, sekitar 40 km dari Jeddah menuju Mekkah. 

Rudenim tersebut sama sekali tidak terlihat seperti penjara, sebagaimana dikhawatirkan para WNIO, tetapi lebih mirip penampungan, dilengkapi ranjang tingkat, selimut, dan kipas angin, bahkan sebagian gedung menggunakan AC.

Untuk itu, WNIO yang tidak sempat menyelesaikan dokumen pemutihannya sampai akhir amnesti, tidak perlu takut atau panik. Apalagi, konsul-konsul negara asing juga diberi ruang kantor di area rudenim seluas 500 hektar itu. Dengan demikian, KJRI Jeddah dapat lebih mudah membantu menyiapkan dokumen WNIO yang akan dideportasi.

Penelponan itu perlu dilakukan untuk meng-counter isu-isu tak berdasar mengenai "pemulangan gratis" atau "pemenjaraan" bagi WNIO. 

Selain penelponan itu, nomor hp ke-10 petugas itu juga dengan cepat tersebar di antara para WNIO. Ke-10 petugas itu pun dengan telaten menjawab satu persatu WNIO penelpon yang umumnya sempat mendengar isu-isu liar yang disebarkan orang-orang tak bertanggung jawab.[]

kjrijeddah, 7 Nov 2013

Monday, September 16, 2013

Satpol PP, Pungli

Kami adalah panitia 4000 Salam ASEAN, upaya pencatatan rekor MURI untuk salam terpanjang di dunia. Salam itu dilaksanakan dengan menautkan 4000 orang dengan mengelilingi Monas. Acara ini sebenarnya untuk menyosialisasikan ASEAN Community 2015 yang sudah ada di depan mata. Indonesia, juga Jakarta sebagai ibukota ASEAN, tentu harus siap menghadapi ASEAN Community yang meniscayakan seperti sudah tidak ada lagi batas di antara negara-negara anggota ASEAN itu.

Sabtu (14/9/2013) petang, panitia sudah mulai berdatangan ke Monas. Sayangnya, saat hendak loading barang-barang kebutuhan acara, seperti panggung, tenda, kursi, sound system dll, terkendala penjagaan ketat Satpol PP yang selalu ada di setiap gerbang. Penjagaan seperti ini tentu bagus untuk memastikan Monas nyaman dikunjungi semua warga Jakarta dan para turis.

Namun, ada yang aneh dalam hal itu. Penjagaan ketat memang mutlak diperlukan, tetapi sayangnya Satpol PP yang berjaga itu justru mempermainkan kewenangannya. Hal itu dilakukan dengan menarik pungutan kepada siapa saja yang kendaraannya hendak diperbolehkan memasuki area Monas. Satpol PP tidak peduli dengan apakah mereka itu memiliki surat izin penggunaan Monas (dari UPT Monas) ataukah tidak. 

Lebih parah lagi, di atas jam 1 dinihari, gerbang Monas di sisi Istana Negara justru “diberikan” kepada para preman. Mereka pun menjaga gerbang tanpa seragam apa pun, lalu memungut lembar demi lembar rupiah kepada siapa pun yang kendaraannya hendak masuk ke area Monas, baik motor maupun mobil. Saya sendiri sekitar jam 1.30 berjalan melewati para preman itu, mendengar salah seorang di antara mereka berkata, “Baru 400 ribu nih, 100 ribu lagi ya.” Itukah angka yang akan diberikan sebagai “retribusi” kepada penguasa gerbang sebenarnya yang sehari-hari berseragam hijau?

Kami selaku penyelenggara acara yang telah menyewa sesuai aturan UPT Monas menolak membayar kepada Satpol PP saat hendak memasukkan kendaraan yang membawa peralatan-peralatan acara. Sebagai bukti, personel-personel kami selalu membawa kopi surat izin penggunaan Monas. Satpol PP yang ada di lapangan, ketika disodori surat itu, selalu berkilah, “Kami hanya menjalankan perintah atasan, kendaraan Kemlu tidak diperbolehkan masuk.” Rupanya para anak buah ini begitu taat (atau takut?) kepada atasan mereka. 

Beberapa saat kemudian, ada kendaraan lain dari penyelenggara event lain yang juga menggunakan Monas Minggu (15/9/2013) pagi. Kendaraan tersebut pun dengan leluasa memasuki Monas setelah menyebutkan nama penyelenggara event kepada petugas Satpol PP. Hmmm, rupanya ada perlakuan berbeda. Untuk memastikan bagaimana aturannya, kami segera menelpon pihak UPT Monas. Oleh UPT Monas, diyakinkan bahwa sudah tidak perlu ada lagi biaya apa pun selain biaya sewa tempat area Monas. 

Lalu, kenapa Satpol PP tidak memperbolehkan kendaraan Kemlu a.k.a. panitia 4000 Salam ASEAN memasuki area Monas?

Kami pun menemui bos para Satpol PP di situ, berinisial JS, Kasi Ops Pam Monas, yang sudah sempat kami temui Kamis (12/9/2013) siang. Dalam pertemuan itu, JS agak menyalahkan kami, “Kan sudah saya bilang kita harus koordinasi lagi sebelum Bapak-Ibu sekalian loading barang.” Koordinasi apa lagi? “Kita kan mengamankan acara Bapak-Ibu, ya anak buah saya butuh dana untuk itu,” jawabnya setelah mbulet mengungkapkan beberapa istilah “koordinasi”.  Oh, koordinasi artinya dana.

Sebelumnya, JS memang meminta kami menemuinya lagi sebelum kami akan datang ke Monas mempersiapkan acara. Pada pertemuan Kamis siang, JS dengan penuh antusias menyatakan siap membantu acara kami. Siap mengamankan acara yang rencananya memang dihadiri Gubernur Jokowi. JS juga mengaku siap melakukan sterilisasi di sekitar panggung 4000 Salam ASEAN. Namun, setelah itu JS meminta kami menemuinya di tempat lain, baiknya di luar kantornya, untuk “koordinasi” lagi sebelum loading barang keperluan acara.

Kami pun berkomitmen menolak pemberian dana pengamanan itu. Kami yakin itu adalah pungli yang harus dihindari, baik oleh pemungut maupun calon korban. Kami yakinkan JS bahwa acara kami sudah dikoordinasikan dengan Pemprov bahkan Gubernur DKI Jokowi. Dengan wajah ketus, JS lalu memperbolehkan kendaraan-kendaraan Kemlu memasuki area Monas. Termasuk saat dinihari melewati gerbang Monas sisi Istana Negara yang dijaga preman, alhamdulillah tidak ada kendala apa pun. Sementara kami melihat sopir-sopir kendaraan event lain tetap saja memberikan salam tempel kepada para preman penjaga gerbang itu.

Imbas kami menolak memberikan “dana koordinasi” itu kami rasakan ketika Minggu pagi acara kami hendak berlangsung. Rupanya tidak ada satu pun petugas Satpol PP, sebagaimana dijanjikan JS sebelumnya, di sekitar acara kami. Kami pun menghubungi JS via telpon, di menjawab “Petugas kami terbatas, hanya bisa menjaga gerbang saja.” OK, begitu cara Satpol PP di Monas bekerja ya.

Kami pun berinisiatif membujuk para PKL yang sudah telanjur berjualan di sekitar panggung. Dengan hati-hati, kami meminta mereka bergeser sedikit ke kanan atau kiri sekiranya tidak terlalu mencolok terlihat dari panggung dan tenda tamu VIP (termasuk perwakilan negara-negara anggota ASEAN). Lagi pula, area tempat berjualan PKL itu memang bakal digunakan untuk salam ASEAN mengelilingi Monas bagi tamu VIP.

Syukurlah, sebagian besar PKL itu mau mengerti. Karena mereka sendiri sadar sebenarnya berjualan di area Monas merupakan bentuk perlawanan terhadap ketentuan. Kami sendiri tidak mau terlalu tegas apalagi keras menghadapi mereka. Termasuk saat salah satu di antara mereka ngedumel ketika kami minta bergeser. Bahkan, ada seseorang yang menakut-nakuti kami, “Bapak ini siapa, kok berani-beraninya meminta PKL pindah. Nanti kalau ada PKL yang kalap bagaimana? Satpol PP saja kadang dilawan. Hati-hati nanti Bapak dipukul pedagang yang marah.” Kami tetap menghadapi mereka ini dengan senyuman—sempat ketar-ketir juga mendengar cerita itu sih. Tapi lebih dari itu, acara 4000 Salam ASEAN harus sukses!

Beruntung, hingga berakhirnya acara, tidak ada kejadian apa pun yang menyulitkan bergulirnya acara. Rekor MURI pun bisa dicatat. Hanya saja, kami tetap concern dengan upaya pungli yang dilakukan Satpol PP itu. Pungli harus dilawan![]

Raflesia Dua, 16-9-13