Thursday, August 04, 2016

Kunjungan Kehormatan kepada Para Big Boss MILF


Usai mendapatkan induction training di Headquarter IMT, kontingen Indonesia segera menyebar ke pos masing-masing di 4 kota berbeda. Sebelum berpencar, sebagaimana kelaziman, kami pun melakukan kunjungan kehormatan atau biasa disebut dalam bahasa kerennya sebagai courtesy call kepada MILF Leadership di markas besar mereka, Camp Darapanan, Sultan Kudarat, Maguindanao, pada 11 Juli 2016.

Camp Darapanan, menurut penuturan salah satu anggota MILF, awalnya merupakan kediaman pribadi Alhaj Murad Ibrahim, Chairman MILF. Setelah ditunjuk sebagai Chairman MILF kemudian harus menerima banyak tamu, baik dari dalam maupun luar negeri, kediaman itu disulap menjadi apa yang disebut selevel dengan “istana kepresidenan MILF”. Dari jalan besar menuju Camp Darapanan kini tampak sangat rapi dan kokoh.

Cor jalan tersebut tampak masih baru. Saat ditanyakan kepada anggota MILF yang mendampingi kami, ia membenarkan bahwa Pemerintah Filipina memang baru saja memadatkan jalan tersebut. Padahal, jalan itu sepertinya bukan jalan umum, melainkan jalan yang hanya menuju Camp Darapanan. Hal itu terbukti dengan beberapa checkpoint terlihat dan tampak dijaga oleh para tentara berseragam Bangsamoro Islamic Armed Forces (BIAF).

Tentara BIAF-MILF yang setia menjaga Camp Darapanan

Memasuki Camp Darapanan, layaknya “istana kepresidenan”, tampak para penjaga keamanan bersenjata lengkap. Seragam mereka mungkin tak betul-betul seragam selayaknya tentara suatu negara, mengingat setiap atribut, termasuk persenjataan, dibeli oleh para tentara itu secara mandiri. Militansi lah yang membuat para tentara ini terlihat selalu siaga menjaga “istana” pimpinan mereka.

Jangan membandingkan “istana kepresidenan MILF” ini dengan Istana Negara di Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta, tentu saja, yang berada di jantung kota. “Istana kepresidenan MILF” ini tampak sederhana. Saya membayangkan posisinya mirip dengan tengah pedesaan tempat saya tumbuh di Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Hanya, sedikit lebih sepi karena sekaligus sebagai ruang komando MILF secara keseluruhan yang tentu dijaga secara ketat dan tak sembarang orang bisa memasuki kawasan itu.

Dari jalan utama menuju Camp Darapanan, kanan kiri tampak kebun rindang. Kadang juga melewati hamparan sawah yang cukup luas. Paling mencolok adalah pohon-pohon kelapa. Jika membuka jendela mobil, angin sepoi-sepoi terasa begitu memanjakan kulit dan badan, meski cuaca tampak terik. Cuaca boleh terik, tapi dengan lebatnya pepohonan, termasuk cukup lebat juga di pinggiran sawah yang kadang dilalui, membuat pancaran sinar matahari tak terasa begitu “mengancam”.

Saat tiba di Camp Darapanan, kontingen Indonesia disambut dengan hangat oleh para big boss MILF. Hadir pada pertemuan itu di antaranya Alhaj Murad Ibrahim (Chairman), Ibrahim Ja’far (1st Vice-Chairman for Political Affairs), Toks Ibrahim (Chief of Staffs), Al Sheikh Abuhuraira Abdurrahman Udasan (Mufti Bangsamoro), dan Aleem Nour (unsur pimpinan MILF yang juga menjadi Direktur Grand Mosque Sultan Hassanal Bolkiah Cotabato City). Dua nama terakhir merupakan para ulama MILF alumni perguruan tinggi Arab Saudi. Sementara itu, 2nd Chairman, Aleem Malik Sulaiman (yang masa mudanya dihabiskan untuk belajar di Sudan, Mesir, dan Libya dan dilanjutkan bergerilya di hutan-hutan Mindanao) tidak dapat hadir karena sehari-hari posisinya di Marawi City, salah satu basis MILF di Mindanao Barat, sekitar 7 jam perjalanan darat.

Dalam pidato penyambutannya, Toks Ibrahim kagum dengan cerita-cerita tentang Indonesia. Di antaranya, mengenai kisah jenderal-jenderal Indonesia yang begitu peduli dengan anak buahnya. Melindungi sekaligus menaungi mereka. Adapun Chairman Murad menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasihnya atas partisipasi aktif Indonesia dalam IMT. Menurutnya, IMT dibentuk sejak 2003 pada masa Presiden Gloria Arroyo dengan tujuan memastikan ketenangan dan ketenteraman di grass root untuk mendukung proses perdamaian antara MILF dan Pemerintah Filipina.

Chairman Murad juga memberikan update mengenai pertemuan terakhirnya dengan Duterte yang memperkuat keyakinannya akan komitmen Duterte untuk menyelesaikan Bangsamoro Basic Law dan proses perdamaian. Menurut pengamatannya, IMT selama ini sangat membantu untuk menjaga atmosfer yang bagus demi terjaminnya kelancaran proses perundingan perdamaian. Di akhir sambutannya, Chairman Murad menyatakan kesiapannya untuk bekerja sama dengan IMT, khususnya kontingan Indonesia. Chairman Murad pun mempersilakan kontingan Indonesia untuk menghubunginya atau jajarannya jika membutuhkan bantuan MILF dalam hal apa pun.[]

Iligan City, 4 Agustus 2016

Kunjungan Kehormatan kepada Para Big Boss MILF


Usai mendapatkan induction training di Headquarter IMT, kontingen Indonesia segera menyebar ke pos masing-masing di 4 kota berbeda. Sebelum berpencar, sebagaimana kelaziman, kami pun melakukan kunjungan kehormatan atau biasa disebut dalam bahasa kerennya sebagai courtesy call kepada MILF Leadership di markas besar mereka, Camp Darapanan, Sultan Kudarat, Maguindanao, pada 11 Juli 2016.

Camp Darapanan, menurut penuturan salah satu anggota MILF, awalnya merupakan kediaman pribadi Alhaj Murad Ibrahim, Chairman MILF. Setelah ditunjuk sebagai Chairman MILF kemudian harus menerima banyak tamu, baik dari dalam maupun luar negeri, kediaman itu disulap menjadi apa yang disebut selevel dengan “istana kepresidenan MILF”. Dari jalan besar menuju Camp Darapanan kini tampak sangat rapi dan kokoh.

Cor jalan tersebut tampak masih baru. Saat ditanyakan kepada anggota MILF yang mendampingi kami, ia membenarkan bahwa Pemerintah Filipina memang baru saja memadatkan jalan tersebut. Padahal, jalan itu sepertinya bukan jalan umum, melainkan jalan yang hanya menuju Camp Darapanan. Hal itu terbukti dengan beberapa checkpoint terlihat dan tampak dijaga oleh para tentara berseragam Bangsamoro Islamic Armed Forces (BIAF).

Tentara BIAF-MILF yang setia menjaga Camp Darapanan

Memasuki Camp Darapanan, layaknya “istana kepresidenan”, tampak para penjaga keamanan bersenjata lengkap. Seragam mereka mungkin tak betul-betul seragam selayaknya tentara suatu negara, mengingat setiap atribut, termasuk persenjataan, dibeli oleh para tentara itu secara mandiri. Militansi lah yang membuat para tentara ini terlihat selalu siaga menjaga “istana” pimpinan mereka.

Jangan membandingkan “istana kepresidenan MILF” ini dengan Istana Negara di Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta, tentu saja, yang berada di jantung kota. “Istana kepresidenan MILF” ini tampak sederhana. Saya membayangkan posisinya mirip dengan tengah pedesaan tempat saya tumbuh di Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Hanya, sedikit lebih sepi karena sekaligus sebagai ruang komando MILF secara keseluruhan yang tentu dijaga secara ketat dan tak sembarang orang bisa memasuki kawasan itu.

Dari jalan utama menuju Camp Darapanan, kanan kiri tampak kebun rindang. Kadang juga melewati hamparan sawah yang cukup luas. Paling mencolok adalah pohon-pohon kelapa. Jika membuka jendela mobil, angin sepoi-sepoi terasa begitu memanjakan kulit dan badan, meski cuaca tampak terik. Cuaca boleh terik, tapi dengan lebatnya pepohonan, termasuk cukup lebat juga di pinggiran sawah yang kadang dilalui, membuat pancaran sinar matahari tak terasa begitu “mengancam”.

Saat tiba di Camp Darapanan, kontingen Indonesia disambut dengan hangat oleh para big boss MILF. Hadir pada pertemuan itu di antaranya Alhaj Murad Ibrahim (Chairman), Ibrahim Ja’far (1st Vice-Chairman for Political Affairs), Toks Ibrahim (Chief of Staffs), Al Sheikh Abuhuraira Abdurrahman Udasan (Mufti Bangsamoro), dan Aleem Nour (unsur pimpinan MILF yang juga menjadi Direktur Grand Mosque Sultan Hassanal Bolkiah Cotabato City). Dua nama terakhir merupakan para ulama MILF alumni perguruan tinggi Arab Saudi. Sementara itu, 2nd Chairman, Aleem Malik Sulaiman (yang masa mudanya dihabiskan untuk belajar di Sudan, Mesir, dan Libya dan dilanjutkan bergerilya di hutan-hutan Mindanao) tidak dapat hadir karena sehari-hari posisinya di Marawi City, salah satu basis MILF di Mindanao Barat, sekitar 7 jam perjalanan darat.

Dalam pidato penyambutannya, Toks Ibrahim kagum dengan cerita-cerita tentang Indonesia. Di antaranya, mengenai kisah jenderal-jenderal Indonesia yang begitu peduli dengan anak buahnya. Melindungi sekaligus menaungi mereka. Adapun Chairman Murad menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasihnya atas partisipasi aktif Indonesia dalam IMT. Menurutnya, IMT dibentuk sejak 2003 pada masa Presiden Gloria Arroyo dengan tujuan memastikan ketenangan dan ketenteraman di grass root untuk mendukung proses perdamaian antara MILF dan Pemerintah Filipina.

Chairman Murad juga memberikan update mengenai pertemuan terakhirnya dengan Duterte yang memperkuat keyakinannya akan komitmen Duterte untuk menyelesaikan Bangsamoro Basic Law dan proses perdamaian. Menurut pengamatannya, IMT selama ini sangat membantu untuk menjaga atmosfer yang bagus demi terjaminnya kelancaran proses perundingan perdamaian. Di akhir sambutannya, Chairman Murad menyatakan kesiapannya untuk bekerja sama dengan IMT, khususnya kontingan Indonesia. Chairman Murad pun mempersilakan kontingan Indonesia untuk menghubunginya atau jajarannya jika membutuhkan bantuan MILF dalam hal apa pun.[]

Iligan City, 4 Agustus 2016

Wednesday, August 03, 2016

2nd Lanao Region Stakeholders Meeting


Pada tanggal 21 Juli 2016, TS2 menyelenggarakan 2nd Lanao Region Stakeholders Meeting di TS2 Residence. Pertemuan ini dihadiri oleh wakil-wakil dari PNP, AFP, GPH CCCH, MILF AHJAG, MILF LMT, MILF CCCH, JCMP, GPH LMT, Non-violence Peace Force/NP (CSO), Direktur Pangkadait (CSO), Chairman MOGOP.

Di awal pertemuan, AFP menyebutkan bahwa pihaknya terkadang kesulitan dalam operasi penegakan hukum, misalnya saat mengejar local terrorist group (LTG), seperti Maute Brothers, yang saat dikejar justru memasuki wilayah yang dikuasai MILF. AFP bahkan merasa bahwa MILF terkesan melindungi LTG seperti Maute Brothers itu.

MILF menolak dikatakan melindungi LTG, bahkan menegaskan bahwa MILF juga memiliki kepentingan yang sama untuk memberantas LTG. Terkait keberadaan Maute Brothers di Butig, MILF tidak dapat berbuat banyak karena Maute Brothers telah sejak lama menguasai wilayah itu. MILF juga mempersilakan AFP jika hendak memberantas Maute Brothers yang kebetulan markasnya tidak jauh dari wilayah kekuasaan MILF. Bahkan, MILF sudah pernah meminta kewenangan untuk juga memberantas Maute, tetapi justru belum ada tanggapan/izin dari AFP.

Suasana sempat memanas di antara AFP dan MILF, sebelum terpotong oleh coffee-break. Saat menikmati hidangan di tengah coffee-break, para peserta berbaur dan berbincang santai sehingga suasana mencair kembali.

Di sisi lain, MILF juga mendengar adanya laporan bahwa sebenarnya Maute sengaja “diciptakan dan dipelihara” oleh AFP sehingga kawasan tersebut tampak tidak stabil yang pada akhirnya melegitimasi AFP untuk terus mengawasi kawasan tersebut. Menanggapi hal ini, AFP menyatakan bahwa kabar itu hanyalah rumor dan meminta semua pihak untuk tidak memercayai rumor tersebut.

Adapun NP menyoroti masih bertambahnya jumlah internally displaced persons (IDPs) di daerah-daerah konflik. NP pun meminta MILF dan AFP turut peduli menangani IDPs ini. Dalam hal ini, AFP dan MILF sama-sama menyatakan bahwa IDPs tidak menjadi kewenangan mereka dan menyarankan agar NP dapat membuat permintaan resmi kepada pemerintah daerah setempat agar menanganinya. Demikian halnya dengan kasus terjadinya pembakaran beberapa gedung sekolah.

NP juga menyampaikan concern-nya mengenai tentara dari kalangan anak-anak. NP mengklaim pernah mendapatkan laporan verbal baik dari AFP maupun MILF mengenai anak-anak yang menjadi tentara di kawasan Lanao. Hanya saja, laporan verbal tersebut tidak pernah ditindaklanjuti dengan laporan resmi. Jika betul ditemukan adanya pelanggaran rekrutmen tentara anak-anak, NP mengharapkan agar secepatnya dibuatkan laporan resmi kepada mereka sehingga bisa ditindaklanjuti.

TSL saat menyimpulkan jalannya pertemuan menyatakan bahwa isu-isu yang mengemuka diharapkan dapat diselesaikan pihak-pihak terkait. TSL menegaskan bahwa pihaknya, sesuai mandat IMT, tidak dapat bertindak proaktif, melainkan hanya reaktif. Karena itu, IMT khususnya TS2 tidak berencana menginisiasi pertemuan MILF-AFP untuk menyelesaikan kasus-kasus yang mereka hadapi. Meskipun demikian, TSL menegaskan pihaknya berharap dapat berpartisipasi dan juga siap memfasilitasi seandainya kedua belah pihak sepakat untuk mengadakan pertemuan-pertemuan untuk menjembatani perbedaan-perbedaan pemahaman yang ada.[]

Iligan City, 31 Juli 2016

Silaturahmi ke 103rd Base Command MILF





Inilah kali kedua memasuki camp militer MILF. Sebelumnya, pada patroli pertama 19 Juli 2016, berkesempatan melihat-lihat camp Bilal di Munai, yang dikomandoi salah satu “jenderal” MILF penuh karisma, Commander Abdullah “Bravo” Makapaar. Namun, saat itu Camp Bilal sangat sepi dan tidak tampak sebagai pusat pelatihan milier, lebih terlihat sebagai perkampungan penduduk sipil biasa; jalan yang masih tanah liat dan minus pemenuhan listrik. Konon, camp tersebut memang masih layer terluar dari bagian pusat pelatihan militer. Adapun untuk mencapai tempat pelatihan dalam arti sebenarnya masih harus berjalan kaki berjam-jam lamanya.

Kali ini, 25 Juli 2016, berkesempatan memasuki Camp Ali bin Abi Thalib, juga layer terluarnya dan bahkan camp ini baru dibangun dikhususkan untuk menerima tamu-tamu pihak eksternal; tidak dikhususkan sebagai tempat pelatihan militer. Berada di tengah pegunungan dan mesti turun dari mobil dan berjalan kaki sekitar 1 km untuk mencapainya, camp ini dalam waktu dekat sepertinya akan segera terjangkau oleh jalan beraspal atau berbeton. Tampak pembangunan di sepanjang jalan menuju camp ini terus dikebut.

Oleh para anggota MILF, jalan ini disebut dikerjakan oleh para kontraktor yang ditunjuk oleh Pemerintah Filipina. Camp ini sendiri terletak di dekat jalan tembus baru—betul-betul menembus hutan lebat—antara Marawi City ke arah Wao City. Sebelumnya, jika dari Marawi hendak pergi ke Wao maka harus berputar ke arah utara dulu, lanjut ke timur, baru ke selatan menuju Wao. Kini, dengan adanya jalan baru ini, yang sementara baru bisa dilalui kendaraan bermotor saat jauh dari musim hujan, cukup lurus saja ke selatan dari Marawi menuju Wao.

Saat bulan April lalu rombongan Head of Mission IMT memasuki camp ini, bahkan jalan kaki ditempuh lebih jauh yakni sekitar 4 km, dikali dua karena saat berangkat dan pulang demikian adanya. Kini, dengan pengebutan pemadatan jalan itu, saat berangkat memang harus berjalan 1 km, tetapi pulangnya bisa langsung naik mobil dari dalam camp karena para driver mampu mengendalikan jalan tanah liat itu. Tentu saja harus dengan ekstra hati-hati.

Ketika sampai di 103rd Base Command MILF yang terletak di Municipality Maguing, tepatnya Barangay Dilimbayan, rombongan TS2 IMT langsung disambut dan dikalungi semacam medali oleh Aleem Mujahid M Dima-Ampao, komandan base command ini, dan jajarannya. Berikutnya, upacara militer ala Bangsamoro Islamic Liberation Front/BIAF-MILF dilaksanakan, sementara rombongan IMT dipersilakan naik ke panggung. Upacara militer dimulai dengan teriakan komandan upacara dengan slogan-slogan jihad muslim: Allahu ghoyatuna, al-qur’anu dusturuna, ar-rasulu qudwatuna, dst.

Selesai upacara militer, para tamu dari IMT yang terdiri dari TS2 dan Non-violence Peace-force (NP) ini dipersilakan singgah di kediaman Aleem Mujahid yang berada di belakang aula tempat pertemuan—yang juga biasa digunakan sebagai masjid. Di kediaman Aleem Mujahid ini, para tamu disuguhi sarapan. Beberapa anggota rombongan yang berpuasa pun, demi menghormati tuan rumah, terpaksa membatalkan puasa Senin itu. Mungkin karena rombongan TS2 IMT semuanya beragama Islam, suasana tampak sangat akrab, nyaris tanpa kekakuan atau formalitas.

Setelahnya, semua menuju aula pertemuan di mana sekitar 200 anggota BIAF/MILF telah menunggu. Tidak terlalu banyak yang disampaikan TS2 dalam pertemuan ini karena TS2 memang “sekadar” hendak melihat perkembangan situasi. Kol. Romi selaku TS Leader hanya menyampaikan perkenalan singkat, mengingat 3 dari 4 anggota TS2 yang hadir baru pertama kali ini berkesempatan silaturahmi ke Camp Ali bin Abi Thalib. Kol. Romi juga menegaskan bahwa IMT akan berusaha sekuat tenaga agar perdamaian di Moro homeland segera tercapai.

Pertemuan ini lebih dimanfaatkan oleh NP yang datang untuk memberikan memberikan penyuluhan mengenai hukum humaniter internasional dan penegasan kembali komitmen semua pihak, termasuk MILF, mengenai pencegahan rekrutmen anak-anak menjadi anggota militer. Selain itu, NP mempresentasikan substansi United Nations Convention on Protection of the Child (UN CPC).

NP sempat memancing usia berapakah anak-anak dianggap sudah melewati masa larangannya menjadi tentara. Sebagian anggota BIAF menyebut angka 15, ada juga 16 dan 17 tahun. NP pun kembali mengingatkan bahwa baru saat melewati usia 18 tahunlah seseorang boleh diajak bergabung dengan pasukan militer. Tidak semua percakapan di antara NP dan anggota MILF itu mudah dimengerti, mengingat sebagian besar percakapan mereka menggunakan bahasa lokal, Maranao. Kebetulan, dari 4 personel NP yang hadir, 3 di antaranya merupakan warga asli Mindanao. Hanya satu yang berasal dari luar, dan jauh sekali, Finlandia.

Selain ditemui oleh Base Commander, Aleem Mujahid M Dima-Ampao, rombongan IMT juga ditemui atasannya, yakni Commander Jannati Mimbantas, Komandan MILF North Eastern Mindanao Front (NEMF), yang selevel dengan Commander Bravo sebagai Komandan MILF North West Mindanao Front (NWMF). Pada pertemuan ini, Commander Jannati menginformasikan kepada para anggotanya bahwa MILF pada 12 Juli 2016 di Davao City telah menyepakati kerja sama dengan Pemerintah Filipina perihal pemberantasan peredaran narkoba. Dengan kesepakatan ini, BIAF memiliki kewenangan untuk turun tangan langsung dalam melawan individu ataupun geng-geng yang terlibat penyalahgunaan narkoba.

Dari pengamatan pada pertemuan itu, terlihat anggota BIAF, setidaknya yang hadir saat itu, didominasi kalangan orang-orang tua, dengan umur berkisar 50-60 tahun. Senjata yang mereka tenteng pun—yang dibeli oleh mereka masing-masing karena menjadi anggota BIAF ini sendiri merupakan langkah sukarela atas panggilan jihad—tampak tidak terlalu sophisticated. Konon, senjata mereka dibeli dari anggota militer Filipina, yang pada beberapa kesempatan justru menjadi pihak yang mereka hadapi di medan pertempuran.

Selain kalangan orang tua, tampak menonjol juga para tentara berjilbab, bahkan banyak juga bercadar, yang tergabung dalam MILF-Bangsamoro Islamic Women Auxiliary Brigade (BIWAB). Hanya saja, para anggota BIWAB ini tidak aktif menjadi peserta upacara sambutan militer, hanya menjadi penonton seperti tamu lainnya. Demikian pula tidak tampak di antara mereka yang menenteng senjata api. Konon, anggota BIWAB ini lebih banyak diandalkan di balik panggung pertempuran, seperti penyediaan logistik dan penanganan kesehatan. Namun, menurut pengakuan security IMT yang berasal dari MILF, para anggota BIWAB ini juga dibekali pelatihan militer selayaknya kaum laki-laki. Tentunya pelatihan mereka terpisah, hanya instrukturnya yang juga terdiri dari sebagian laki-laki.

Dominasi kalangan tua di BIAF ini dapat ditengarai sebagai indikasi mengendurnya semangat atau militansi generasi muda MILF. Atau, bisa jadi para generasi muda MILF kini memandang bahwa menjadi tentara yang konotasinya adalah berperang sudah tidak relevan lagi saat ini. Hal ini bisa menjadi pisau bermata dua: jika perdamaian tercapai maka itu sangat bagus dan mudah untuk langkah demiliterisasi, tetapi di sisi lain akan menjadi kerugian bagi MILF seandainya di masa depan harus terjadi kontak senjata lagi dengan pihak luar. Tentu saja harapannya adalah yang pertama: perdamaian permanen tercapai dan biarlah yang menjadi tentara mengikuti jalan persatuan bersama militer Pemerintah Filipina. []

Illigan City, 26 Juli 2016

Bagaimana Menyikapi Perbedaan



Umur tak pernah bohong. Demikian yang saya rasakan saat membaca Alquran dengan mushaf kecil. Kini mata sungguh tak nyaman saat membaca mushaf berukuran kira-kira kurang dari 7x10cm itu, bahkan terasa sakit. Menyesal juga kenapa Alquran Madinah seukuran kertas A5 yang ada di rumah 2 buah tidak dibawa salah satunya. Beruntung masih membawa tablet, ukuran cukup ideal jika untuk membaca Alquran. Namun, sepertinya akan lebih sehat jika bisa mengurangi interaksi mata dengan pancaran sinar dari barang elektronik.

Alhamdulillah, seorang teman dari Brunei kemudian menawarkan meminjami sebuah Alquran seukuran A5, atau sedikit lebih besar. Dengan senang hati saya menerimanya, dengan harapan semoga makin banyak yang tertular kebaikan: yang membaca Alquran berpahala, yang meminjamkan mushaf juga berpahala.

Hanya saja, saat baru mulai membaca surah Yasin, terasa seperti ada “kejanggalan”. Seingat saya, pada ayat kelima, saya biasa membaca tanziilal-aziizir-rahiim, tetapi saya dapati harakat yang tertera pada mushaf Brunei ini adalah dhammah pada huruf lam, menjadi tanziilul-aziizir-rahiim. Saya pun tetap membaca tanziilal-aziizir-rahiim, seperti yang saya biasa baca dengan mushaf-mushaf yang selama ini saya tahu. Saya berpikir, jangan-jangan typo dan lolos dari pemeriksaan sebelum pencetakan. Karena saya yakin mushaf ini tentu sudah melewati pemeriksaan lembaga berwenang, sebagaimana di Indonesia dilakukan oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran di bawah Kemenag RI, apalagi di halaman depan jelas tertulis sebagai mushaf dari Sultan Brunei, tentu tidak sembarangan dicetak dan didistribusikan.

Pada ayat-ayat berikutnya, rupanya terasa lagi “kejanggalan-kejanggalan” lain, yang terdekat adalah dua kata saddan pada ayat ke-9 surah Yasin itu, di mana di mushaf Brunei ini tertulis suddan dengan sin yang dhammah. Saya pun mulai berpikir, sepertinya apa yang terlihat ini bukan typo, ini ada unsur “kesengajaan”. Hal yang sama juga terjadi di surah lain, misalnya saat membaca surah Alkahfi, baru ayat kedua sudah langsung merasakan “kejanggalan”, di mana biasa membaca mil ladunhu, tiba-tiba cukup jauh berubah menjadi mil ladunihii.

Karena saya rasa saya masih bisa mengingat dan yakin dengan bacaan tanziilal, saddan, ladunhu, dll, maka saya pun membaca sesuai dengan yang saya ingat dan yakin itu. Meskipun saya bukan orang yang hafal Alquran, mengingat ini adalah surah-surah yang sangat sering dan biasa dibaca, baik sendiri maupun beramai-ramai, maka saya yakin dengan bacaan saya—mengabaikan harakat dan tanda baca yang tertera pada mushaf Brunei itu. Untuk membaca surah-surah lain yang tidak sesering surah-surah itu, saya pun menggunakan mushaf di tablet—menghindari kekurangyakinan atau kekurangtepatan cara baca.

Setelah selesai membaca Yasin dan Alkahfi itu, saya penasaran untuk lebih mengetahui seluk-beluk mushaf Brunei ini. Di cover dengan sangat jelas tertulis: bir-rasmil-utsmani. Saya pikir selama ini di Indonesia, juga Mesir dan Arab Saudi, rasm inilah yang paling mudah dijumpai. Atau lebih tepatnya saya sebenarnya juga penasaran seperti apakah rasm yang lain. Sejauh apa perbedaannya. Mushaf Brunei ini, rupanya juga menggunakan rasm yang sama, menandakan sesama rasm utsmani pun bisa terjadi perbedaan, dalam hal ini harakat atau tanda baca.

Tulisan lain yang cukup mencolok di cover adalah: mushaf al-waatsiq billah, jalalatis sulthan hasanal bulqiyah, mu’izziddiin wad daulah, sultan dan yang dipertuan negara brunei darussalam. Tak ada yang salah dalam hal ini. Tentu saja mushaf Raja Abdul Aziz atau Raja Salman Saudi, juga mushaf Sultan Brunei, pasti sama-sama telah melewati pemeriksaan ketat sebelum dicetak dan diedarkan. 

Kemudian baru ada tulisan lain, yang sepertinya kalah mencolok dengan tulisan-tulisan lainnya, yaitu: biriwaayati syu’bah ‘an ‘ashim, bacaan riwayat Syu’bah dan ‘Ashim. Sepertinya di sini kuncinya. Teringat kembali pelajaran-pelajaran dasar mengenai qiraah sab’ah di Madrasah TBS Kudus dulu. Mungkin sangat dasar, tetapi mungkin tidak terlalu dasar juga. Satu yang pasti hanyalah bahwa saya kurang mendalami atau kurang memahami pelajaran itu (untuk guru tercinta yang mengajari kami qiraah sab’ah, K.H. Muhammad Manshur, lahul-faatihah).

Sedikit membuka ingatan, di otak muncul adanya keterangan tentang 7 imam qira’ah (bacaan) yang disepakati oleh para ulama akan validitas dan kesahihan riwayat bacaannya sampai kepada Baginda Rasulullah saw. Ke-7 imam itu memiliki setidaknya masing-masing dua penerus yang tiap penerus itu memiliki perbedaan-perbedaan bacaan. Dengan demikian, setidaknya ada 14 qira’ah atau cara baca yang berbeda-beda, tetapi kesemuanya insyaAllah sama-sama benar, sahih, dan valid.

Klarifikasi

Untuk meyakinkan diri, saya coba hubungi teman yang bekerja di Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran Kemenag RI yang kantornya ada di kawasan Taman Mini Indonesia Indah. Saya juga mintakan pendapat kepada teman yang sudah hafal Alquran 30 juz sejak kelas 5 SD, lulusan Madrasah TBS dan Pondok Tahfidz Yanbu’ul Quran Kudus. Saya kirimkan capture foto mushaf Brunei itu dan menanyakan pendapatnya. Menurut keterangan keduanya, mushaf-mushaf yang banyak beredar di Indonesia umumnya didasarkan dari bacaan riwayat Hafsh dari ‘Ashim. Adapun mushaf Brunei ini tertera merupakan riwayat Syu’bah dari ‘Ashim.

Dengan demikian, perbedaan tanda baca, juga terkadang ada perbedaan huruf, ini merupakan turunan dari perbedaan perawi bacaan. Karena belajar dari satu imam, yaitu Imam Ashim, maka Imam Syu’bah dan Imam Hafsh ini tidak terlalu kentara perbedaan bacaannya. Jika dilihat lebih lanjut, sepertinya memang tidak terlalu banyak perbedaan antara mushaf Brunei riwayat Syu’bah ini dengan mushaf-mushaf riwayat Hafsh yang banyak beredar di Indonesia. Jika mau satu persatu membuka setiap halaman mushaf Brunei riwayat Syu’bah ini, jelas tidak setiap halaman ada perbedaan dengan mushaf Hafsh.

Beruntung mushaf Brunei yang dipinjamkan ke saya ini tertera biriwayati Syu’bah sehingga menjadi clue yang sangat membantu untuk menelusuri “kejanggalan” seperti yang saya rasakan. Seandainya tidak tertulis biriwayati Syu’bah itu, barangkali saya mesti mengeluarkan keringat lebih banyak untuk memecahkan kunci perbedaan ini.

Di kesempatan berikutnya, teman Brunei ini membawa mushaf Brunei lainnya. Saya lihat cover-nya ada perbedaan. Memang sama-sama diterbitkan oleh Sultan Brunei, tetapi kali ini mencantumkan biriwayati Hafsh ‘an ‘Ashim. Isinya pun persis seperti mushaf yang lebih banyak beredar di Indonesia. Apresiasi patut diberikan kepada Sultan Brunei yang mau mencetak mushaf dengan beragam riwayat. Hal ini kiranya dapat memperkaya khazanah keilmuan Alquran di Brunei.

Tashih

Dari kejadian ini, saya menyimpulkan bahwa kita memiliki dua pilihan saat melihat mushaf yang “rasanya” berbeda atau ada yang janggal menurut kita. Tentu saja pilihan ini berwujud setelah ditelusuri kesahihan mushaf tersebut. Untuk kita yang tinggal di Indonesia, kita percaya otoritas Lajnah Pentashihan Alquran. Jika mushaf tersebut sudah mendapatkan surat tanda tashih resmi dari lajnah tersebut, insyaAllah dapat kita percayai validitasnya.

Pengecekan tanda tashih perlu dilakukan karena tidak semua mushaf lokal yang ada di pasaran tanah air mencantumkan tanda tashih ini. Memang, tidak adanya tanda tashih bukanlah tanda pasti bahwa mushaf tersebut tidak valid. Namun, berdasarkan pengalaman pribadi, saya pernah mendapati adanya kesalahan cukup fatal pada mushaf yang tidak mencantumkan tanda tashih, padahal dikeluarkan oleh penerbit spesialis Alquran, yang menginduk pada kelompok penerbit besar yang dikenal banyak menerbitkan buku-buku keislaman.

Sebenarnya, selain tanda tashih yang dikeluarkan Lajnah Pentashihan Alquran Kemenag RI itu, beberapa penerbit mushaf di Indonesia juga terkadang secara mandiri mencari tashih dari para ulama pakar bacaan Alquran. Secara substansi, hal itu tidaklah masalah, yang terpenting adalah bahwa mushaf yang dicetak dan didistribusikan di masyarakat umum itu sudah betul-betul diperiksa dan divalidasi oleh para ahlinya.

Kembali kepada dua pilihan saat melihat mushaf yang “rasanya” berbeda atau ada yang janggal menurut kita, maka mungkin dapat dipilih salah satu untuk konsistensi. Pertama, membaca sesuai hafalan atau ingatan yang ada, dengan syarat betul-betul yakin. Dalam arti, karena mungkin belum betul-betul hafal di luar kepala atas suatu ayat atau surah atau juz Alquran, maka membacanya akan terbantu dengan memegang mushaf dengan “rasa berbeda” itu. Saat menemukan atau merasakan perbedaan itu maka yang dipegang adalah yang sesuai hafalan atau ingatan atas dasar keyakinan. Dengan demikian, dapat mengabaikan tanda baca yang tertera pada mushaf yang tengah dipegangnya.

Kedua, mengabaikan semua hafalan dan ingatan yang selama ini ada di otak, untuk kemudian berpegang teguh dengan semua tanda baca yang ada pada mushaf “berbeda” yang tengah dibacanya. Asalkan diterapkan secara konsisten, tentunya tidak masalah. Suatu hal yang selayaknya dihindari adalah mencampuradukkan hafalan dan tanda baca mushaf “berbeda”. Misalnya, pada awal ayat berpegang pada hafalan, tetapi saat terjadi perbedaan berikutnya malah berpegang pada tanda baca mushaf “berbeda” itu.

Sederhananya, bila pada awal membaca mengikuti bacaan riwayat Syu’bah, maka seterusnya, atau setidaknya sampai satu surah, selayaknya membaca atas riwayat Syu’bah. Jika membacanya di muka umum dan hendak membaca dengan riwayat berbeda-beda, ada baiknya pula menjelaskan dengan riwayat apa ia sedang membaca. Jangan sampai malah membingungkan pendengar karena seakan-akan hanya melihat inkonsistensi dari lahiriah bacaannya.

Menyikapi Perbedaan

Jika permasalahan ini dapat dibahas lebih lebar, dalam hal melihat setiap perbedaan maka kita harus dapat mengurainya dengan kepala dingin. Bahwa tidak semua hal yang berbeda dengan pemahaman kita itu selalu salah. Bahkan, belum tentu juga pemahaman atau ilmu yang kita miliki 100% benar dan bebas dari kesalahan. Bisa jadi, pemahaman kita benar dan pemahaman yang berbeda itu juga sama benarnya. Seperti kasus mushaf Syu’bah dan mushaf Hafsh ini.

Jika sedang tidak waras, bisa saja saya akan dengan mudah menyalahkan mushaf Brunei itu. Misalnya ketika berlaku sombong karena merasa sudah cukup lama belajar di Kudus, kota yang cukup terkenal dengan tradisi ilmu Alqurannya, maka bisa jadi akan berpikiran: mushaf Brunei ini pasti tidak diteliti sebelum dicetak. Itulah laku sombong yang harus dihindari. Kasus saya ini tentu saja sombong dengan kebodohan. Karena kalau betul—tidak hanya merasa—lama belajar di Kudus, tentu setidaknya pernah mendengar sekelumit pelajaran qira’ah sab’ah dan ujung-ujungnya akan mengklarifikasi perbedaan yang ada.

Saat terdapat perbedaan di antara dua hal, kiranya dapat disimpulkan tiga kemungkinan, yaitu keduanya benar, keduanya salah, atau salah satunya benar dan salah satunya salah. Dalam hal ini, mengingat semakin luasnya ilmu yang ada di dunia ini, dan nyaris mustahil bagi kita menguasai semuanya, maka satu sikap paling mudah diambil jalur amannya adalah: tidak mudah menyalahkan orang lain.

Boleh menganggap ilmu yang kita miliki benar, tetapi jangan sampai saat melihat orang lain yang berbeda pemahaman maka langsung mengecapnya salah. Kembali ke tiga kemungkinan di atas. Dengan kunci “tidak mudah menyalahkan orang lain” inilah diharapkan dapat meyakinkan orang-orang yang terkadang mengungkapkan keluhannya, “Saya ingin belajar Islam, tetapi Islam yang manakah, sepertinya Islam itu banyak, saya malah menjadi bingung.”

Dengan demikian, keluhan orang itu dapat diubah menjadi, “Saya melihat banyak warna dalam Islam, dan karena saya baru belajar satu warna maka saya yakini satu warna ini sebagai kebenaran. Adapun warna lainnya, saya harus belajar jauh lebih dalam lagi untuk mengomentarinya. Bisa jadi saya tidak punya cukup waktu bahkan untuk sekadar mendalami luasnya samudra ilmu satu warna ini sehingga cukuplah bagi saya untuk memegang satu warna tanpa menyalahkan warna lain.”

Sabda Rasulullah saw.—sebagian meyakini sebagai perkataan tabi’in—menyebutkan bahwa perbedaan di antara umat Islam adalah merupakan rahmat. Dengan demikian, setiap perbedaan yang ada harus disikapi secara bijak. Perbedaan dianggap sebagai bentuk kasih sayang Allah, bukan sumber perpecahan. Lagi-lagi kembali kepada tiga kemungkinan di atas. Ujung-ujungnya, apalagi melihat kemungkinan ketiga bahwa bisa jadi salah satunya adalah salah, dan misalnya yang salah adalah pemahaman yang tengah kita yakini, maka ada baiknya kita terus belajar. Terus mendalami ilmu yang masih sebagian kecil saja kita raih, daripada sibuk menyalahkan pemahaman atau praktik yang berbeda dari orang lain.[]

Iligan City, 1 Agustus 2016