Sunday, December 31, 2006

10 Ekor Hewan Kurban di KBRI Cairo


Cairo, Sabtu (30/12/2006) pagi. Hawa dingin sekitar 12 derajat celcius yang menutupi udara, tak menyiutkan nyali mahasiswa dan masyarakat Indonesia untuk berbondong-bondong mendatangi KBRI di kawasan Garden City. Sejak pukul 7.30 atau sekitar setengah jam dari terbitnya matahari, banyak rombongan keluarga maupun yang datang sendiri-sendiri mulai memenuhi pelataran parkir yang disulap jadi tempat shalat.

Setengah jam kemudian, meski udara sangat dingin dan setiap mulut berbicara mengeluarkan asap semacam kabut, arena shalat idul adha sudah dipenuhi jamaah. Maka tepat pukul 08.00, sesuai jadwal shalat idul adha masyarakat Indonesia di Cairo dimulai. Bertindak sebagai imam adalah Ust. Taufikurrahman, S.Ag., bapak tiga anak asal Tegal yang sedang menyelesaikan pendidikan S2-nya di Universitas Al-Azhar.

Setelah shalat 2 rakaat yang diikuti ratusan orang, khutbah idul adha disampaikan oleh Ust. Zain An-Najah, MA., calon doktor yang berasal dari Klaten. Dalam khutbahnya, pria yang mengenyam pendidikan S1-nya di Madinah, Arab Saudi ini menguraikan ayat-ayat Alquran yang ada pada surat Al-Shaffat ayat 99-111.


Sesuai dengan gayanya yang cukup nyentrik, satu demi satu ayat itu dijelaskan, menceritakan perjalanan Nabi Ibrahim dalam mengorbankan anak kesayangannya Nabi Ismail, sesuai perintah Allah. Mulai dari doa-doa Nabi Ibrahim yang terus dipanjatkan selama puluhan tahun untuk mendapatkan anak. Kemudian setelah diberi putra yang saleh dan baik, tiba-tiba mendapatkan mimpi bahwa sang ayah menyembelih putranya itu.


Padahal mimpi seorang nabi adalah wahyu ilahi, yang artinya harus dilaksanakan. Setelah Nabi Ibrahim menceritakan hal itu, Nabi Ismail dengan tegar dan sabar siap menerima wahyu itu, dan meminta ayahnya untuk tak ragu melaksanakan wahyu yang telah diterimanya. Sungguh besar cobaan yang diterima Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, namun atas keyakinan pada Allah, semuanya dijalani dengan kesabaran.

Semua cerita ini barangkali sudah banyak didengar, namun dengan uraian yang runtut, Ust. Zain mampu menceritakannya dengan penuh penghayatan. Bahkan tiap ayat diterangkan kesimpulan atau hikmah yang harus diambil manfaatnya bagi umat Islam.

Setelah shalat dan khutbah idul adha, dilanjutkan ramah-tamah antar masyarakat Indonesia di Cairo. Disediakan banyak nasi kotak untuk disantap bersama. Meski panitia sudah menyediakannya dengan jumlah banyak, namun kian siang yang datang kian banyak. Walhasil, yang datang belakangan terpaksa tidak kebagian nasi kotak.

Sekitar pukul 10.30, pemotongan hewan kurban dilakukan di halaman belakang Wisma Duta. Panitia berhasil mengumpulkan cukup banyak hewan kurban. Terdiri dari 3 ekor sapi dan 7 ekor kambing, termasuk kiriman dari mantan kepala perwakilan RI di Cairo, Duta Besar Prof. Dr H. Bachtiar Aly, MA. Daging hewan kurban ini lalu dibagikan pada para mahasiswa yang sebagian diminta menunggui dan membantu prosesi pemotongan.[]

Bawabah Tiga, 31 Desember 2006

1 comment:

Anonymous said...

bukannya gak kebagian nasi kotak tapi emang terbatas persediaannya... hehehe
jauh2 dateng ke KBRI hanya dapat capeknya aja,,
salam..