Tuesday, August 09, 2016

Ayo Belajar Ngaji, Sekarang!

Usai tadarus Al Quran tadi malam, teman dari Brunei Darussalam menyampaikan rasa terima kasihnya karena telah diajak bersama-sama rutin membaca Al Quran. Setiap malam pun sebenarnya ia juga mengucapkan terima kasih, konon karena senang bacaannya ada yang mengoreksi. Namun, tadi malam rasa terima kasihnya seperti berbeda.

Rupanya ia kemudian menceritakan bahwa pada usianya yang menginjak 46 tahun pada 2017 ini, sebenarnya ia baru benar-benar mau dan mampu membaca Al Quran hanya dalam setahun belakangan ini. Bisa dibayangkan, warga dewasa dari sebuah negara yang berasaskan Islam, rupanya ada yang tidak bisa membaca Al Quran.

Kilas balik kehidupannya, sebenarnya saat kecil dulu ia sempat belajar ugama (agama). Pagi di sekolah formal, sore di sekolah ugama atau di Indonesia barangkali bisa disejajarkan dengan madrasah diniyyah ataupun taman pendidikan Al Quran. Ia juga mengungkapkan bahwa di sekolah pagi pun ada pelajaran ugama, tetapi sangat terbatas. Nyaris persis seperti umumnya sistem pendidikan di Indonesia, ya?

Sayangnya, ia akui, saat belajar ugama di sore hari, ia tak merasa bersemangat. Suka membolos, dan ujung-ujungnya tingkat satu pun tak bisa dilewatinya. Ya, belum genap satu tahun, ia tak melanjutkan sekolah ugama. Mungkin tidak terlalu penting untuk menelisik lebih jauh kenapa sampai berhenti sekolah ugama sehingga tingkat satu pun—dari enam tingkat dasar yang seharusnya dilalui—tidak bisa ia lewati.

Akan ada banyak alasan, mungkin, sama seperti sebagian juga teman-teman kita, orang Indonesia, negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, yang juga memilih atau dihadapkan untuk tidak melanjutkan madrasah diniyyah. Tidak ada yang perlu disalahkan. Jika kita adalah orang tua maka salahkanlah diri kita kenapa tidak memaksa anak-anak kita menuntaskan belajar mengajinya. Jika kita adalah anak-anak, remaja, atau dewasa yang merasa bertanggung jawab, maka salahkan diri kita kenapa tidak memaksa diri sendiri untuk belajar dasar-dasar agama. Bukan karena didesak orang tua, bukan pula karena didesak peraturan negara, misalnya. Ini kebutuhan kita, kebutuhan keluarga kita, yang ujung-ujungnya dapat memberikan manfaat untuk lingkungan yang lebih besar, termasuk negara.

Kembali ke cerita Brunei. Pada masa kecilnya tahun 1970-an, belajar di sekolah ugama pada sore hari tidak diatur oleh negara. Baru pada tahun-tahun belakanganlah, menurutnya, anak-anak diwajibkan untuk belajar ugama di sore hari, setelah belajar formal (baca: umum) di pagi hari. Tidak dijelaskan lebih lanjut mengenai peran negara yang mengatur kewajiban belajar ugama itu, juga bagaimana implikasi dan hasilnya kemudian.

Hanya saja, menurutnya, anak-anak Brunei zaman sekarang lebih beruntung dengan kewajiban itu. Tidak seperti dirinya yang baru sadar untuk mau belajar ugama, setidaknya membaca Al Quran, saat usia menginjak 45 tahun. Diakuinya tidak mudah juga untuk belajar Al Quran di tengah pembagian waktu untuk 3K yang selama ini menghiasi dan terasa sudah memenuhi atau mencukupi hidupnya: keluarga, kerja, kawan. Jika tidak dibarengi dengan tekad kuat, susah baginya untuk betul bisa mampu membaca Al Quran seperti keadaan saat ini, meski diakuinya masih juga banyak yang harus dikoreksi.

Di usianya yang 45 tahun, ia kembali belajar a-ba-ta-tsa. Dimarahi guru ngajinya berkali-kali adalah hal biasa. Terlihat juga bahwa guru ngajinya terkadang tampak kesal karena kesulitan membedakan tsa-sa-sya-sha atau dhad-zha’. Tertatih-tatih seperti itu, tetapi tetap ia jalani dengan tekun. Hasilnya, dalam setahun ini, konon ia telah mengkhatamkan Al Quran 3 kali. Saya hanya bisa mendorongnya untuk terus membaca Al Quran, tetapi saya ingatkan juga bahwa membaca Al Quran seyogianya harus ada gurunya, tidak bisa lulus serta lancar a-ba-ta-tsa dan seluk-beluknya kemudian sendirian mengkhatamkan Al Quran secara mandiri. Ia pun sempat terlihat kaget, namun kemudian berterima kasih atas nasihat itu.

Dulu, baginya, tidak bisa membaca Al Quran pun rasanya biasa saja. Di militer Brunei, setiap kesatuan sebenarnya ada tadarus rutin yang harus diikuti semua personel. Namun, ada saja cara mengakalinya kalau memang hendak mengelak. Misalnya, ia tetap mengikuti acara tadarus itu, tetapi saat samping kanannya selesai membaca, mikrofon diterimanya dan langsung diberikan lagi kepada samping kirinya untuk melanjutkan. Berbuat begitu karena malu, katanya, sebab menyadari diri tidak lancar membaca Al Quran. Hal ini menunjukkan betapa jika tidak ada tekad kuat dari dalam diri sendiri, memang tidak akan ada jalan untuk belajar dan memperbaiki diri.

Saat menceritakan kisahnya, ia berkali-kali menyebutkan kata penyesalan. Menyesal kenapa baru saat berusia 45 tahun menyadari bahwa membaca Al Quran adalah kewajiban. Baru menyadari membaca Al Quran mampu mendamaikan hati dan pikiran. Berkali-kali pula saya semangati bahwa lebih baik menyesal saat ini (atau tahun lalu) kemudian memperbaikinya daripada tidak ada penyesalan sama sekali.

Tidak ada kata terlambat. Tidak ada kata habis. Selagi napas masih dikandung badan, kesempatan belajar harus dimanfaatkan, betapa pun malunya saat ini. Lebih baik malu saat ini daripada tidak ada perbaikan. Sebaik apa pun bacaan kita saat ini, yakinlah bahwa masih ada bahkan banyak yang lebih baik lagi bacaannya. Mungkin juga sebaik-baik bacaan kita saat ini masih mengandung kesalahan, maka sebaiknya terus bertanya kepada yang lebih ahli.[]

Iligan City, 9 Agustus 2016

No comments: