Sunday, March 11, 2007

Puncak Almamater Days Kurang Menggigit


Kreatifitas baru dimulai lagi oleh Masisir. Kali ini, 10 almamater bersatu-padu membuat acara gabungan. Dimulai dari pekan olahraga yang diselenggarakan selama tiga hari pada akhir Februari lalu, acara puncak sebenarnya direncanakan di hari terakhir penyelenggaraaan. Tapi karena sewa lapangan dengan waktu terlalu terbatas, jadwal tak bisa berjalan sempurna.

Terlanjur memiliki persiapan cukup jauh, akhirnya puncak perayaan bertajuk Almamater Days in Collaboration with AFE Care ditunda hingga bulan Maret. Maka pada Jumat (9/3/2007) sore kemarin, Almamater Days pun kembali digelar, kali ini dengan bangga panitia menuliskan sebagai "Almamater Days Return".

Tapi, lagi-lagi batas waktu penyewaan auditorium menjadi kendala. Bahkan rangkaian acara pun terpaksa dilalui dengan kesan tergesa-gesa. Sejak awal, penyelenggara acara terlihat kaku, kikuk dan tidak merasa enjoy membawakan satu demi satu rangkaian acara. Maklum, Masisir yang selama ini terbiasa memulai acara seusai shalat magrib dan baru selesai sekitar pukul 23.00, kali ini harus memulai acara tepat setelah shalat ashar dan harus usai pukul 21.00.

Keinginan panitia agar hadirin bisa datang tepat setelah ashar, harus dihadapi dengan sabar. Bahkan beberapa saat menjelang adzan magrib, pengunjung belum dapat memenuhi Auditorium Fakultas Kedokteran Al-Azhar yang memang lumayan besar itu.

Sebelum datang waktu magrib, sembari menunggu hadirnya penonton, acara utamanya adalah pengumuman pemenang berbagai lomba Almamater Days dan pembagian hadiah. Almamater FISMABA (Pesantren Bahrul Ulum, Jombang, Jawa Timur) berhak tampil sebagai juara umum setelah memenangi emas sepakbola, catur putra dan tenis meja putra.

Saat adzan magrib tiba, acara pun dihentikan seraya memberikan waktu bagi hadirin dan panitia untuk shalat berjamaah. Setelah itu, acara pun digelar kembali. Sekitar pukul 18.30, MC resmi membuka acara dengan membaca basmalah. Dilanjutkan dengan sambutan dari ketua panitia Abdullah Yazid, lalu Drs. Agus Salim selaku Kuasa Usaha ad interim KBRI Cairo dan Nur Fuad sebagai Presiden PPMI. Sementara dari pihak Agla Family Express (AFE) sebagai mitra panitia penyelenggara, diwakili direkturnya, Viki Ardana, menyampaikan beberapa kalimat sebagai ucapan syukur dapat berbagi dengan penyelenggara dan peserta Almamater Days.

Acara inti yang dikemas dengan model talkshow, menghadirkan 10 orang ketua mewakili almamaternya masing-masing. Karena saking banyaknya narasumber talkshow itu, MC kocak Agla pun terlihat kewalahan menguasai penuh jalannya acara. Kalaupun masih terlihat sisi-sisi menarik dari seorang MC handal sekelas Agla, tampilnya 10 orang langsung dalam satu waktu di satu panggung tetap mengurangi greget acara.

Pertanyaan-pertanyaan yang terlontar dari MC atau presenter jadi kurang fokus. Tentu saja hal ini menjadi sisi kelemahan tersendiri. Bahkan salah seorang pengunjung ada yang nyeletuk barangkali sebaiknya dari sekian banyak narasumber itu dipecah menjadi tiga atau empat bagian, sehingga tidak sekaligus tampil yang justru menjadikan acara kurang bisa dinikmati.

Sambil jalannya talkshow, setelah tanya-jawab antara presenter dan para ketua almamater itu, diselingi dengan penampilan-penampilan yang sengaja diminta dari masing-masing almamater. Mendapat kesempatan pertama kali tampil adalah pantun berantai dari almamater IKARUS (Pesantren Raudlatul Ulum, Sakatiga, Sumsel).

Setelah itu berturut-turut tampil nasyid Shohwatus Salam (IKMAS Assalam Solo, Jateng), rebana (FISMABA), beladiri (IKRH Arraudlatul Hasanah, Medan, Sumut), musikalisasi puisi (IKBAL Baitul Arqam Bandung), tari kombinasi (IKPM Darussalam Gontor, Jatim), marawis (IKPMA Attaqwa Bekasi, Jabar) dan kembali diakhiri dengan pantun berantai.

Sayangnya, dari sekian banyak hiburan yang ditampilkan, tidak semuanya hadir dalam kondisi seratus persen. Masih tampak di sana-sini hal-hal yang perlu dibenahi. Penonton pun tidak dapat memberikan applause sepanjang jalannya acara. Bahkan satu-dua penampilan terkesan tampil apa adanya, sehingga tampak kurang greget dan kurang menggigit.

Di antara tampilan yang terlihat dapat banyak merebut hati penonton adalah tari kombinasi (tarkom) IKPM. Meski tarkom hampir selalu hadir dalam setiap acara hiburan Masisir, tapi munculnya kreasi baru di setiap penampilan membuat pengunjung tak jemu memberikan applause panjang. Bahkan boleh dibilang tarkom adalah cerminan profesionalisme hiburan Masisir.

Selain itu, rebana FISMABA juga cukup membuat hadirin terkesima. Alunan musik khas rebana yang memang jarang terlihat di acara-acara hiburan Masisir, mengundang decak kagum para penonton. Ditambah dengan lagu yang dibawakan sudah tak terlalu asing di telinga para mahasiswa, suara sayup-sayup beberapa pengunjung pun tampak terdengar ikut menyanyikannya.

Tepat di penghujung acara, beberapa menit menjelang pukul 21.00, grup band Bluetooth tampil membawakan dua buah lagu. Sayangnya, karena pihak pengelola gedung sudah memberi isyarat waktu penyewaan habis, hadirin pun tak dapat menikmati alunan musik yang dimainkan Bluetooth. Apalagi, cek sound yang dilakukan personil Bluetooth juga cukup memakan waktu. Walhasil, lagu kedua justru menjadi pengiring jalannya hadirin menuju pintu keluar. Bahkan MC pun tak sempat menutup acara saat penonton membubarkan diri. Penyelenggara acara-acara berikutnya yang kelak akan menggunakan Auditorium Fakultas Kedokteran tentu harus mempersiapkan diri lebih matang agar tak kembali mengecewakan hadirin.[]

Bawabah Tiga, 11 Maret 2007

No comments: