Wednesday, April 12, 2006

KSW Sebagai Duta Jawa Tengah di Timur Tengah

Sejarah KSW

Kelompok Studi Walisongo (KSW) bermula dari sebuah forum diskusi yang dikenal dengan Hadits al-Ahad. Saat itu forum ini adalah forum diskusi keagamaan yang memfasilitasi bermacam kegiatan seperti, penulisan makalah, diskusi berbahasa Arab, penerjemahan koran, dll. Sebagai sebuah forum diskusi keagamaan, memang pada awalnya sangat diminati oleh banyak aktifis yang tidak hanya didominasi orang-orang yang berkultur Jawa. Bahkan para aktifis keagamaan dari Negara tetangga seperti Malaysia juga ikut mengeksiskan Hadits al-Ahad.

Forum ini mula-mula beranggotakan 13 orang yang terdiri dari berbagai aktifis di Nusantara, meskipun mayoritas anggotanya adalah orang Jawa. Hal inilah yang sepertinya mengilhami munculnya ide untuk membentuk sebuah organisasi bernama Kelompok Studi Walisongo. Di antara para aktifis yang sempat memprakarsai terbentuknya Kelompok Studi Walisongo adalah; Munawir Abdurrahim, A. Tohirin, Syarifuddin Abdullah (Sulawesi), Amal Fathullah, Bahruni Inas (Kalimantan), Noor Kholis Mukti, Zuhid Mukhson, Jakfar Rosyidi, Sobri Agung (Palembang), Maktum Jauhari (Madura), Anas Maulana, Jakfar Busyiri (Madura), Nuruddin Marbo (Kalimantan), Joban (Jawa Barat), Abdul Manan (Sulawesi) dan Sujadi.

Tahun 1987 adalah peralihan PPI menjadi HPMI, masa peralihan inilah yang barangkali ikut mempengaruhi terbentuknya Kelompok Studi Walisongo. Saat itu orang-orang Jawa belum memiliki perwakilan atau utusan yang mengatasnamakan sebagai organisasi kedaerahan Jawa di HPMI. Nampaknya hal ini menumbuhkan kekhawatiran bahwa kelompok ini akan bersifat kesukuan dan kemudian disibukkan dengan urusan-urusan sosial kemasyarakatan Jawa, serta menggeser permasalahan akademis.

Dilema yang terjadi adalah kebutuhan berkiprah di HPMI dan ketakutan terjerumus dalam kesukuan yang primordial. Maka pada pertemuan perdana di kediaman Bapak Abdul Manan Utsman, pada tanggal 31 Jan 1987 M / 1 Jumadi Tsaniyah 1407 H diputuskan 3 konsensus umum sebagai jalan keluar dari dilema di atas dan selanjutnya Hadits al-Ahad berubah menjadi Kelompok Studi Walisongo, & dalam bahasa Arab diterjemahkan menjadi Usrah al-Auliya at-Tis’ah.

Saat itu, KSW beranggotakan masyarakat dari berbagai daerah di nusantara. Tiga konsensus umum yang hari itu diputuskan adalah:
1. Agar organisasi ini menonjolkan akademis, bukan semangat sosial.
2. Diharapkan tidak terlalu bersifat “kesukuan” sehingga kelompok ini tidak hanya orang Jawa.
3. Diharapkan selalu tanggap terhadap perkembangan sosial politik di tanah air.

Namun konsensus ini mulai pudar, ketika dinamika Kairo “memaksakan” terbentuknya organisasi-organisasi kedaerahan lain, sehingga para aktifis KSW pun juga aktif di kekeluargaannya masing-masing. Di samping itu sebagian “senior” KSW sebagai saksi sejarah juga mulai pulang ke tanah air, dan “terpaksa” KSW semakin mengecil, didominasi masyarakat Madura, Jawa Timur, Jogjakarta dan Jawa Tengah.

Pada tahun 1993 terbentuk FOSGAMA (Forum Silaturahmi Keluarga Madura). Kemudian pada tahun 1997 sebagian anggota dari Jawa Timur berinisiatif untuk memisahkan diri, karena tidak ada kesepakatan argumentasi, terutama alasan ukhuwah dan persatuan masyarakat Jawa. Maka, meskipun terbentuk GAMA JATIM (Keluarga Masyarakat Jawa Timur), saat itu sekitar 50% aktifis KSW dari masyarakat Jawa Timur tetap memilih maslahat untuk tidak memisahkan diri hingga sekarang. Anggota tercatat sekarang telah mencapai 371 orang (sekitar 80% berasal dari Jawa Tengah), menempatkan KSW sebagai kekeluargaan dengan anggota terbanyak saat ini. Secara de jure, menurut peta organisasi mahasiswa Indonesia di Kairo, KSW diakui sebagai pusat berkumpulnya mahasiswa Jawa Tengah, meski secara de facto anggotanya juga berasal tidak hanya dari Jawa Tengah.

Sekilas Hasil Konkret Kegiatan KSW

Meski menurut sejarah KSW adalah organisasi diskusi atau kajian, namun seiring perkembangan zaman dan melihat kondisi Masiko, dari tahun ke tahun rasanya semakin banyak kegiatan non-akademik yang diselenggarakan KSW. Bahkan harus diakui, pada masa tertentu, KSW terkadang seperti terlena dengan kegiatan non-akademik. Namun yang pasti, dari setiap periode kepengurusan selalu ada hasil konkret yang membedakan keunggulan antar generasi. Sebut saja pada 2 periode terakhir.

Pada periode 2003-2004, KSW dapat mencetak buku hasil diskusi rutin dwi mingguan, berjudul Diskursus Kontekstualisasi Pemikiran Islam. Buku setebal 212 halaman ini merupakan salah satu hasil nyata apa yang sudah dilakukan mahasiswa Jawa Tengah yang sedang menimba ilmu di Kairo ini. Ke depan, bukan tidak mungkin untuk kembali mengkodifikasikan hasil-hasil kajian rutin, dengan meningkatkan kajian pada tataran tematis, dalam rangka meningkatkan mutu pembelajaran.

Sementara periode 2004-2005, yang dikomandoi oleh Sdr. Rois Mahfudz, KSW atas bantuan Dubes RI Pof. Dr. Bachtiar Aly, MA. juga atas perhatian dan jasa besar Gubernur Jawa Tengah H. Mardiyanto, dapat mewujudkan impian memiliki rumah sebagai sekretariat sendiri secara permanen. Bahkan lebih dari itu, rumah yang ada ternyata juga memiliki nilai amat tinggi sebagai pusat pelatihan keterampilan dan juga "showroom" wisata-budaya Jawa Tengah. Adalah kebahagiaan tak terkira bagi mahasiswa Jawa Tengah di Kairo khususnya, dan seluruh warga KSW pada umumnya, Gubernur memiliki rasa perhatian yang amat besar terhadap warganya yang berada jauh di negeri gurun pasir ini.

Pengelolaan Rumah Daerah Jawa Tengah

Yang sekarang perlu menjadi perhatian KSW tentunya adalah bagaimana mengelola amanah yang amat besar ini secara profesional. Sebagai bahan pertimbangan, mungkin kita dapat menengok pengalaman yang sudah dijalani oleh ICMI Orsat kairo dengan Wisma Nusantara-nya, dan Gamajatim dengan Graha Jatim-nya.

ICMI Orsat Kairo, yang mendapat amanah dari ICMI Pusat berupa gedung 5 lantai di bilangan Rabea el-Adawea, dalam pengelolaannya menunjuk satu badan khusus yang terpisah dari struktur ICMI. Pada praktiknya, ICMI hanya menjadi badan pengawas, bersama dengan DPP PPMI Mesir dan KBRI Kairo, dalam hal ini diwakili oleh Atase Pendidikan dan Kebudayaan. Dengan badan pengurus yang diawasi oleh tiga lembaga ini, Wisma Nusatara dapat mencapai perkembangan cukup pesat. Terbukti, aula Wisma Nusantara tiap harinya hampir tak pernah istirahat digunakan untuk acara mahasiswa. Sementara hotelnya, juga dapat menarik income lumayan besar. Dalam hal ini, ICMI Pusat terlihat sama sekali tidak mencampuri pengelolaan Wisma Nusantara, semuanya diserahkan pada ICMI Kairo dibantu dua lembaga tadi.

Contoh kedua adalah Gamajatim. Warga Jawa Timur boleh berbangga karena mereka adalah pihak pertama yang mendapatkan bantuan dari Pemda, merunut pada ide Duta Besar soal pengadaan rumah daerah di Kairo ini. Gamajatim menamakan bantuan Pemda berupa sebuah flat di kawasan Hay Tasi ini sebagai Graha Jatim. Dengan 3 kamar penampilan futuristik, Graha ini dijadikan sebagai hotel. Dalam pengelolaannya, Gamajatim membentuk badan semi otonom. Melalui badan semi otonom ini, Graha Jatim dikelola secara profesional dan sebagian hasilnya diperuntukkan bagi kegiatan Gamajatim itu sendiri. Bahkan pada Agustus lalu, Gamajatim dapat membagi-bagikan sembako pada para anggotanya, sekadar hasil dari pengelolaan Graha Jatim itu. Badan semi otonom pengelola Graha Jatim ini, secara struktur tetap di bawah Gamajatim. Sementara pihak Pemda Jatim sendiri sama sekali sudah tidak turut campur dalam pengelolaannya.

Melihat dua contoh di atas, Rumah Daerah Jawa Tengah (RDJT) kiranya tidak harus meniru persis salah satu di antaranya. Apalagi, kondisi —terutama fisik, fasilitas dan kegunaan— yang ada pada RDJT amat berbeda dengan Wisma Nusantara dan Graha Jatim. RDJT, selain memiliki 5 kamar hotel, juga memiliki aula dan showroom. Ini jelas merupakan hal baru di Kairo, terutama dengan bakal adanya Tourisme Information Centre (TIC). Sebagai ujung tombak promosi pariwisata Jawa Tengah di Kairo khususnya dan mungkin Timur Tengah pada umumnya, TIC ini tentunya harus dikelola secara modern.

KSW Sebagai Duta Jateng

Timur Tengah adalah salah satu sumber terbesar penghasil minyak. Dengan hasil minyak itu, banyak negara-negara Teluk Arab menjadi negeri petro dolar bergelimang harta. Sayang, kebanyakan tanah mereka justru tandus dan gersang. Dengan padang pasir di sejauh mata memandang, banyak dari mereka mencari tempat rekreasi yang 'hijau'. Salah satu sasaran empuk mereka adalah negara-negara Asia Tenggara. Malaysia dengan promosi begitu gencar, hingga saat ini dapat disebut sebagai contoh yang paling baik dalam penguasaan pasar wisata di Timur Tengah.

Selama ini, yang dikenal luas oleh kalangan Timur Tengah mungkin hanya Malaysia dan Singapura, mengingat besarnya alokasi dana mereka untuk promosi wisata di Timur Tengah ini. Indonesia, jika ingin menyamai mereka mungkin butuh waktu panjang, selain butuh dana promosi yang tentu tidak kecil. Padahal dari segi alam, tentunya Indonesia menyimpan potensi wisata dan budaya yang tak kalah dari Malaysia dan Singapura. Asal mau mempromosikan potensi alam yang dimiliki, bukan tidak mungkin Indonesia —atau Jawa Tengah khususnya— dapat mendatangkan turis Timur Tengah untuk berlibur.

Nah, sebagai wujud sense of belonging terhadap tanah air, mahasiswa Indonesia di Kairo sebenarnya banyak juga yang dapat diandalkan untuk memperkenalkan wisata-budaya Indonesia. Hanya mungkin kurangnya koordinasi dengan induk pemerintahan di tanah air yang cukup menjadi kendala. Oleh karena itu, tanpa bermaksud tinggi hati, KSW menawarkan diri untuk menjadi duta wisata Jawa Tengah di Kairo khususnya, bahkan tidak menutup kemungkinan mengincar pasar Timur Tengah pada umumnya.

Hal ini bukannya tidak mungkin, tapi memang butuh kejelian dan perhatian serius. Salah satu hal yang membuat KSW berani memimpikan hal ini adalah karena Mesir merupakan salah satu objek terbesar dalam pariwisata. Banyak turis Timur Tengah berlibur ke kota-kota di seantero Mesir, jadi kiranya terbuka luas jalan bagi Jawa Tengah untuk promosi wisata-budaya daerah pada pasar Timur Tengah dengan membangun fasilitas TIC di Kairo.

Dengan asumsi promosi wisata-budaya ke pasar mancanegara butuh biaya besar, maka jika mampu mendayagunakan mahasiswa Indonesia di Kairo ini sebagai salah satu corongnya tentu dapat menekan biaya itu. Tanpa mengurangi keterbatasan yang ada, KSW insya Allah siap membantu Pemda Jawa Tengah untuk mempromosikan wisata-budaya daerah.

Masa Depan TIC

Pada tataran praksisnya, gambaran awal adalah promosi lewat website. KSW saat ini telah memiliki website mandiri yang isinya kegiatan-kegiatan organisasi. Kalau kemudian juga dimanfaatkan untuk promosi wisata-budaya Jawa Tengah, tentu akan makin menarik. Memang, selama ini website ini banyak dikunjungi oleh mahasiswa saja. Jika ingin diperluas manfaatnya sebagai salah satu corong TIC, kiranya tinggal mempromosikan alamat website yang ada pada warga Timur Tengah. Suatu hal yang tak terlampau sulit kiranya, mengingat sumberdaya anggota KSW yang menguasai ilmu teknologi informasi ini cukup mapan. Ke depan, KSW akan dengan senang hati menerima masukan dari Pemda Jateng mengenai materi yang akan ditampilkan di website. Atau jika misalnya Pemda Jateng lebih berkenan agar TIC memiliki website tersendiri, KSW siap membantu membangun dan mengelola website dimaksud. Hal yang mungkin agak menjadi kendala mungkin terjemah materi ke dalam bahasa Inggris, sementara bahasa Arab kiranya bisa tertangani oleh KSW.

Pada tataran berikutnya, bukan tidak mungkin kita dapat menggelar semacam "JatengExpo" untuk promosi wisata-budaya kita. Jika materi, bahan dan fasilitas nanti dapat terpenuhi atas kerjasama Pengurus KSW—Pengelola RDJT/Griya—Pemda Jateng misalnya, akan sangat memungkinkan pagelaran "JatengExpo" dapat ditampilkan pada musim panas mendatang (mungkin Juli 2006). Pada awal Agustus lalu, Keluarga Pelajar Jakarta (KPJ) berhasil menampilkan suasana khas Betawi di Kairo, dengan mahasiswa Indonesia di Kairo sebagai objeknya. Kalau misalnya ada dukungan penuh dari Pemda, tentu KSW akan makin bersemangat menggelar program acara serupa (bisa berbentuk seperti "JatengExpo" itu), atau malah lebih dikembangkan dengan menggaet objek hingga warga Mesir.

Sementara pada tataran berikutnya lagi, kalau TIC dapat berjalan stabil seperti yang diharapkan, bisa jadi para petugas di TIC perlu mendapatkan training khusus dari Pemda Jateng, demi peningkatan kualitas kerja. Tapi yang pasti, apa yang ada dulu cukup digunakan secara maksimal. Kalau kiranya mendapat respon bagus dari pasar, baru dapat dipikirkan kelanjutan tingkat profesionalismenya, baik peningkatan kualitas manajemen, pengelolaan dan mungkin juga honor.

Itu sekadar gambaran dari apa yang kiranya dapat diberikan oleh KSW untuk kemajuan Jawa Tengah. Sementara TIC ini, secara mapan sudah dapat diterapkan di belahan bumi yang lain, tentunya Pemda Jawa Tengah dapat mengkombinasikan pengalaman yang ada itu dengan usulan program yang dapat kami berikan.[]

No comments: