Monday, April 10, 2006

Menunggu Sosialisasi Pemilu


Tak lama lagi bangsa Indonesia bakal 'berpesta' (lagi). Entah, kata 'pesta' itu benar-benar sesuai dengan bayangan kita atau tidak. Selama ini, kita tentu akan gembira mendengar kata 'pesta'. Selalu ada dalam benak kita, senyum cerah seluruh partisipan yang ada dalam suatu pesta.

Bisa jadi, kali ini lain. Rasa waswas malah menyelimuti hati sebagian kita. Sebagian lagi asyik bergelut berkampanye menyambut pemilu 2004 yang tinggal hitungan hari itu. Di sisi lain, ada juga yang acuh tak acuh dengan pesta demokrasi ini.

Sebagai kaum terpelajar, tentu kita bisa berpikir untuk menentukan pilihan pada hari pencoblosan nanti. Sekali lagi, hari pencoblosan, bukan saat kita mencoblos. Karena bisa saja, ada di antara kita yang merasa tidak menemukan pilihan cukup memuaskan untuk menitipkan suara kita. Asal bukan karena malas ataupun merasa paling benar dan baik, kita tentu harus menghormati sikap itu.

Pun demikian, masih hangat terngiang di telinga, pesan Bpk. A. Thoyfoer, Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, betapa golput sebenarnya kurang mendidik. Dalam sebuah dialog kecil, beliau memang mengatakan menghargai pendapat golput. Namun, jika kemudian berkampanye pada masyarakat untuk memilih golput, sebaiknya jangan. Hal itu dapat menggiring masyarakat untuk berpikir bahwa seluruh parpol/caleg tidak ada baiknya. Ujung-ujungnya, bisa jadi ada yang berpendapat tak ada yang lebih baik kecuali diri sendiri.

Itulah salah satu fenomena yang bakal menambah hingar-bingar pesta kita itu. Tentu akan banyak fenomena lain yang akan semakin meramaikan pesta demokrasi pertama di tanah air pada abad 21 ini. Mudah-mudahan saja, keramaian-keramaian yang muncul akan benar-benar membuat kita terhibur, tidak malah membuat kita dan bangsa kita makin jatuh tersungkur.

Di luar itu, untuk pemilu kali ini, sebenarnya ada hal penting yang patut menjadi perhatian kita. Sebagian mungkin sudah tahu, dalam pemilu 2004 ini terdapat perbedaan-perbedaan mendasar dengan pemilu sebelumnya. Yang paling terdengar gemanya dan mungkin hampir setiap orang sudah tahu adalah bakal digelarnya pemilihan presiden secara langsung. Sudah sekian puluh tahun negara kesatuan Republik Indonesia berdiri, baru kali ini akan ada pemilihan presiden dilakukan secara langsung.

Secara umum, masyarakat Indonesia memang tahu itu. Namun secara teknis pelaksanaan, sepertinya KPU masih perlu bekerja keras agar tidak banyak kartu suara blangko, atau malah menjadikan masyarakat makin bingung dan ujung-ujungnya memilih tidur di rumah atau tetap beraktivitas di tempatnya masing-masing, daripada harus berpikir panjang untuk mengikuti setiap tahapan pemilihan yang mungkin memang agak sedikit 'njlimet'.

Bayangkan, sejak pemilu pertama kali pada tahun 1955 —meski penulis tidak sempat menyaksikan dengan mata kepala sendiri— rasanya bangsa Indonesia begitu mudah mengikuti setiap tahapan pemilihan. Paling-paling, hanya sekali saja masuk dalam tempat pemungutan suara (TPS), sudah, setelah itu cukup mengikuti perkembangan selanjutnya. Memang, kebanyakan tidak dapat merasakan langsung secara frontal hasil pilihan mereka yang telah mereka pilih, untuk 'mewakili' mereka di lembaga legislatif. Pada lima kali pemilu terakhir orde baru, sebagian masyarakat baru 'benar-benar' merasakan dampak ikut pemilu, antara diberi angpao, atau malah dipukuli. Tentu, itu baru namanya 'benar-benar' merasakan dampak pemilu. Yang jelas, selama delapan kali pemilu masa Indonesia merdeka, para pemilih pada dasarnya tidak harus berpikir keras ketika melihat kertas suara.

Namun pada pemilu kali ini, pemilih harus berjuang keras agar tidak terkelabui oknum tak bertanggungjawab. Pada tahap awal, yang pada pemilu sebelumnya pemilih hanya cukup menusuk satu tanda gambar, sekarang harus juga memilih nama caleg yang memang tercantum di kertas suara. Jadi, kalau memang ingin memberikan keterwakilan suara pada seseorang (merasa tidak cukup tenang hanya dengan memeilih parpol), pada pemilu kali ini, keinginan itu lebih mendapat jaminan. Tentu saja, itu jika sosialisasi pemilu benar-benar merata pada keseluruhan pemilih.

Memang, sebenarnya ada 'pilihan' lain yang lebih memudahkan pemilih untuk tidak berpusing ria. Dalam ketentuan disebutkan, jika pemilih memang tidak mengenal sama sekali para caleg, diperbolehkan hanya memilih tanda gambar partai. Namun sebaliknya, jika hanya memilih nama caleg tanpa menusuk satu pun tanda gambar partai, suara itu dinyatakan tidak sah. Di sinilah salah satu kelemahan sistem pemilihan semi-langsung tersebut. Tentu saja, hal ini bisa saja dimanfaatkan parpol peserta pemilu untuk lebih mudah berkampanye: cukup coblos tanda gambar saja, agar suara Anda tak sia-sia! Ujung-ujungnya, akan dengan mudah partai tinggal menentukan caleg definitif dan jadi anggota legislatif sesuai keinginan (pimpinan) partai masing-masing.

Itu hanya sekelumit saja di antara perbedaan pemilu sekarang dengan pemilu-pemilu sebelumnya. Penulis berharap banyak pada Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) di Mesir untuk lebih giat mensosialisasikan segala 'tetek-bengek' pemilu 2004 ke seluruh lapisan masyarakat Kairo. Bukankah semua yang berhak memilih —tanpa kecuali seorang pun— berhak mendapatkan informasi akurat mengenai pemilu 2004?◘


*Tulisan ini dimuat dalam buletin Prestasi KSW, Maret 2004

No comments: