Friday, April 14, 2006

Temus Kairo Harus Lulusan S1

Bagaimana jadinya kalau empat orang tokoh nasional duduk dalam satu panggung? Hal langka ini terjadi di Kairo, Kamis malam (13/4). Tepatnya di lapangan parkir KBRI Kairo, keempat orang yang semuanya alumni Al-Azhar ini berdialog dengan masyarakat Indonesia di Mesir. Keempatnya baru saja mengikuti temu alumni Al-Azhar seluruh dunia yang pertama kalinya diselenggarakan pada tahun ini, bertempat di JW Marriott Hotel Suez St., Cairo.

Prof. Dr. Quraish Shihab, MA., Dr. KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, MA., Prof. Dr. Huzaimah Tahido Yanggo, MA. dan Dr. Nursamad Kamba, MA. mengajak hadirin yang sebagian besar masih berstatus mahasiswa Al-Azhar, baik strata satu maupun dua, agar memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Maklum, belakangan makin terasa banyak mahasiswa yang terlena berleha-leha tidak cepat-cepat meyelesaikan studinya dengan berbagai macam alasan.

Empat orang tokoh itu masing-masing memberikan wejangannya di depan sekitar 500-an hadirin. Kesempatan pertama diberikan moderator kepada Prof. Dr. Quraish Shihab, MA. Mantan Rektor IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang juga pernah menjabat sebagai Duta Besar RI di Kairo ini menceritakan bahwa eksistensi alumni Al-Azhar di Indonesia kurang terasa.

Penulis buku best seller “Membumikan Al-Qur’an” ini menjelaskan bahwa keunggulan alumni Al-Azhar dan Timur Tengah pada umumnya adalah dalam dua hal: bahasa Arab dan pengetahuan agama. Karena memang Mesir dan Timur Tengah merupakan pusat kedua bidang itu. Naifnya, belakangan mahasiswa Indonesia yang belajar di Al-Azhar kurang memperhatikan hal ini. “Jadi ketika pulang ke tanah air, tanpa membawa dua hal ini, ya sia-sia saja,” ujarnya menyayangkan.

Sekadar napak tilas, ahli tafsir yang datang ke Kairo sejak tahun 1978 ini menjelaskan bahwa saat kuliah dulu, dirinya jarang bergaul dengan sesama orang Indonesia. Hal ini sesuai pesan dari dosennya, yang khawatir jika terlalu banyak bergaul dengan mahasiswa satu negara, bahasa Arabnya kelak tidak berkembang.

Pada kesempatan kedua, Dr. Abdullah Syukri Zarkasyi, MA. mengingatkan mahasiswa agar giat mencari ilmu. “Kalau di Mesir tidak mencari apa-apa, terus juga tidak berbuat apa-apa, ya tidak akan memperoleh apa-apa,” ujar kiai yang baru saja mendapatkaan bintang kehormatan dari Presiden Mubarak ini. Di Pondok Modern Gontor yang dipimpinnya sejak 1985, banyak tertera tulisan, “Ke Gontor Apa yang Kau Cari?” Hal ini dimaksudkan agar setiap santri ingat tujuan datang ke Gontor. Begitupun mahasiswa yang datang ke Kairo, diharapkan selalu memperbaharui niatnya setiap saat; rethinking, “Ke Mesir apa yang kau cari?”

Sementara Prof. Dr. Huzaimah Tahido Yanggo, MA. memulai pembicaraannya dengan mengklarifikasi nama belakangnya yang ditulis “Tanggo” oleh panitia di background acara. Lebih lucu lagi, oleh panitia temu alumni Al-Azhar seluruh dunia, nama belakangnya itu ditulis “Manggo” yang berarti buah mangga. Kontan hal ini membuat hadirin tertawa terpingkal-pingkal.

Mantan Dekan Fakultas Syariah IIQ Jakarta ini memberikan semangat agar mahasiswa bisa segera menyelesaikan studinya dan segera pulang ke tanah air. Menurut salah seorang Guru Besar UIN Jakarta ini, dirinya menyelesaikan studi S2 dan S3nya dengan cukup cepat. Bahkan, saking bangganya sampai hafal bahwa selama di Kairo membutuhkan waktu 7 tahun 1 bulan dan 17 hari untuk memperoleh gelar magister dan doktor dari Al-Azhar.

Tidak jauh berbeda dengan tiga pendahulunya, Dr. Nursamad Kamba, MA. yang memperoleh kesempaan terkahir berbicara menyatakan bahwa mahasiswa Kairo harus meningkatkan kualitas intelektual. Mantan Atdikbud KBRI Kairo ini juga menginformasikan bahwa Menteri Agama Maftuh Basyuni sudah mengambil inisiatif untuk menghentikan pengiriman mahsiswa yang belajar studi Islam ke Barat. Hal ini terkait dengan makin maraknya trend liberalisme yang muncul di Indonesia.

Informasi penting lainnya yang disampaikan kepada mahasiswa Kairo adalah berkaitan dengan persoalan tenaga musiman haji (temus). Diceritakannya, ketika evaluasi haji nasional baru-baru ini, peraih gelar doktor dalam bidang filsafat ini mengatakan dirinya sempat dipanggil Menteri Agama yang memberikan kabar buruk bagi mahasiswa Kairo. “Temus Kairo tahun 1427 nanti cukup 10 orang tenaga penerjemah saja,” ujarnya menirukan ucapan Menteri Agama. Sebagai bawahan Menag, ketika itu Dr. Nursamad diam saja.

Namun, saat Menag berkesempatan datang ke Jeddah beberapa waktu kemudian, dirinya yang menjabat Kepala Badan Urusan Haji (BUH) Jeddah sejak pertengahan tahun lalu itu menjelaskan betapa pentingnya jatah temus bagi Kairo. “Setelah berdialog panjang lebar, akhirnya Manteri Agama mau mempertahankan jatah 100 orang untuk temus Kairo,” ujarnya sambil tersenyum. Namun, sebagai ‘imbalan’nya kelak mekanisme temus Kairo perlu mendapatkan beberapa perubahan. “Barangkali untuk tahun depan temus akan disyaratkan minimal lulusan strata satu,” tambahnya.

Setelah semua pembicara menyampaikan sambutannya, moderator membuka sesi dialog. Sayangnya, karena keterbatasan waktu, hanya ada 5 orang penanya yang dipersilakan menyampaikan uneg-unegnya. Setelah sesi tanya-jawab itu selesai, acara dengan format lesehan itupun ditutup sekitar pukul 22.00.[]


Griya Jateng, 14 April 2006

2 comments:

Sindbad said...

Trims infonya... Rajin2 nulis info seputar Kairo yooo.. ! Kalo bisa jangan cuma yang bersifat berita .. tulis juga isu2 yang lagi panas di Cairo .. khususnya yang berkaitan dengan mahasiswa indo di Cai... Blogmu tak add ke blogku.. Massalaamah..

Agus Hidayatulloh said...

makasih tuk comment n everything... kl nulis berita saya pernah belajar, tapi untuk nulis isu2, barangkali saya mesti maish harus belajar daro nol mohon adoa lah biar bsia segera belajar.. ajarin doong ;-)